
Setelah makan malam disebuah rumah makan sederhana dikawasan danau, Alex mengajak Denis untuk pulang. Tidak ada penolakan dari gadis itu. Dia kelihatan lebih pendiam dari biasanya. Tatapannya sering terlihat kosong dan jauh menerawang.
Alex hanya bisa menghela nafas melihat Denis yang nampak semakin sedih setelah pertemuannya dengan Bisma. Entah apa yang mereka bicarakan. Alex tidak ingin menanyakannya terlalu detil karena dia tahu Denis tidak akan mau menceritakannya.
Mobil menyusuri jalanan dengan kecepatan sedang. Dengan keduanya yang diam tanpa kata yang terucap. Sampai disebuah tempat yang mendekati jalan menuju rumah Alex gadis itu membuka suara.
"Gue mau ketemu sama wanita itu." Cukup jelas terdengar ditelinga Alex. Dan dia memahami siapa yang dimaksud oleh gadis itu.
"Baik. Kita akan kesana sekarang." Mobil melaju melewati jalanan yang menuju rumah Alex. Perlu beberapa menit lagi untuk sampai ditempat yang dimaksud oleh Denis.
Tidak ada pertanyaan apapun dari mulut Alex. Dia tidak mau Denis berubah pikiran kalau dia terlalu banyak bertanya.
Mobil yang dikendarai Alex akhirnya tiba didepan sebuah rumah yang cukup megah. Alex mematikan mesinnya dan menunggu reaksi dari gadis yang duduk disampingnya.
Seorang penjaga mendekati mobil untuk mengetahui siapa yang bertamu saat hari sudah cukup larut.
Alex menurunkan kaca mobilnya sehingga penjaga itu dapat melihat siapa yang ada didalam mobil.
"Oh. Pak Alex dan nona Icha." Penjaga itu mengangguk sopan. Sebenarnya dia sangat terkejut melihat putri majikannya berada disana saat ini. Namun dia cukup tahu diri untuk tidak terlalu ikut campur urusan majikannya.
Pria itu rupanya cukup mengenal Alex dan tentu saja sangat mengenal Denis.
"Bapak sama Ibu ada?" Tanya Alex.
"Ada. Silakan pak. Saya akan memberitahu mereka kalau ada Pak Alex dan Nona Icha disini."
"Tidak usah." Denis menukas cepat. Segera dia turun dari mobil sebelum pria itu pergi untuk melakukan apa yang diucapkannya. Alex mengikuti langkah Denis. Keduanya berjalan menuju pintu rumah yang tinggi menjulang.
Denis memasuki rumah itu walau nampak dengan langkah yang sedikit ragu. Diruangan lebih dalam lagi, sepertinya ruang keluarga, dua orang pemilik rumah terpaku melihat siapa yang datang.
Rania, sang pemilik rumah, menatap tak percaya siapa yang baru saja dilihatnya. Tersadar dari keterpakuannya, dia mendekati Denis perlahan dengan airmata yang secara spontan meluruh dikedua pipinya.
"Sayang, kamu ada disini?" Langkahnya terhenti tepat didepan Denis. Tangannya yang gemetar terangkat perlahan menyentuh wajah Denis yang diam tak berekspresi. Namun dia tidak mengelak ketika jari wanita itu menyentuh pipinya. Seiring sentuhan tangan itu, mata Denis terpejam perlahan. Merasakan halusnya jemari tangan wanita itu menyentuh kulit wajahnya.
Seakan ada gelombang kecil yang dihasilkan dari sentuhan itu yang merambat kesekujur tubuh Denis. Darahnya seakan tersirap oleh kekuatan sentuhan seorang wanita yang seharusnya dipanggil mama.
Kedua tangan Denis terkepal dikedua sisi tubuhnya. Ada satu kekuatan yang mendorongnya untuk menyambut sentuhan itu. Namun Denis menahannya sekuat tenaga.
"Ini benar-benar kamu, sayang. Mama tidak sedang bermimpi kan?" Mengusap wajah Denis dan kemudian mengusap rambutnya yang pendek. Meneliti setiap jengkal wajah putrinya dengan tatapan yang nanar terselimuti kabut airmata.
Tak ada penolakan dari gadis itu membuat Rania memberanikan diri untuk merengkuh tubuh Denis dalam pelukan. Mendekapnya erat dan membenamkan wajahnya di bahu Denis. Postur tubuh Denis yang lebih tinggi darinya membuat pucuk kepala Rania hanya sampai bahu gadis itu.
Raungan Rania terdengar memenuhi seluruh ruangan yang hening dimalam itu. Setelah beberapa saat, tangisannya mereda. Rania menjauhkan tubuhnya. Meraih lagi wajah Denis dan mendaratkan ciuman diwajah itu bertubi-tubi.
Tidak jauh dari adegan itu berlangsung, Andres dan Alex sama-sama menyentuh ujung mata mereka yang basah. Sangat terharu melihat interaksi pertama antara ibu dan anak itu tanpa penolakan dari Denis.
Setelah puas melampiaskan kebahagiaannya, dituntunnya tangan Denis menuju sofa. Mereka duduk bersisian dengan Denis masih diam membiarkan semua perlakuan Rania kepada dirinya.
"Mama senang sekali kamu datang kemari. Bagaimana keadaanmu? Apa lukamu sudah sembuh?" Rania tak melepaskan tangannya dari tangan Denis. Meskipun nampak jelas kalau Denis sangat canggung dengan sikapnya, namun sepertinya Rania tak ingin melepaskan kesempatan yang langka ini.
"Sudah lebih baik." Sahut Denis. Pelan namun dapat didengar dengan jelas oleh Rania.
Rania tersenyum. Bahagia sekali mendapatkan jawaban yang normal dari putrinya. Biasanya Denis akan menjawab dengan ketus dan sinis. Tapi malam ini, seperti ada angin yang datang dari surga menyejukkan hati semua orang yang ada disana. Senyumanpun tercetak diwajah Andres dan Alex. Hanya wajah datar Denis yang masih belum menunjukkan ekspresi kebahagiaan. Tapi setidaknya, ada satu kemajuan dalam hubungan antara ibu dan anak itu.
"Apa kalian sudah makan malam? Mama akan siapkan.."
__ADS_1
"Aku sudah makan.." Denis menukas cepat. Matanya yang bening menatap Alex seolah meminta dukungan atas ucapannya.
Alex tersenyum. Kepalanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Denis.
"Benar bu Rania. Kami baru saja selesai makan malam dan langsung kemari." Matanya lekat menatap Denis. Untuk sesaat kedua matanya beradu dan itu dilihat jelas oleh Rania dan Andres.
"Apa kamu mau mama tunjukkan sesuatu?" Pertanyaan Rania membuat tatapan Denis teralihkan.
"Apa?"
Alih-alih menjawab, Rania malah melirik ke arah Andres dengan senyuman dibibirnya. Anggukan kecil dari Andres membuat Denis merasa penasaran.
Dia diam sesaat dengan sedikit kerutan diujung alisnya. Kemudian mengangguk dan itu membuat senyuman Rania semakin lebar.
"Ayo." Rania bangkit dan menarik tangan Denis. Diikuti Andres dan Alex, mereka beriringan menuju kehalaman samping. Disana ada garasi yang berukuran cukup besar menyimpan beberapa buah mobil milik Andres dan Rania yang berjejer rapi.
"Disini." Rania menarik tangan Denis menuju barisan koleksi motor milik Andres.
Denis terpana menatap salah satu motor yang terpajang disana. Sebuah motor Ninja warna merah kesayangannya. Lebih dari satu tahun yang lalu motor itu dia jual kepada seorang temannya saat dia melarikan diri dari rumah. Uang hasil penjualan motor itu dia belikan motor yang lebih murah dan sisanya dia gunakan sebagai bekal dia berpetualang jauh dari keluarganya.
Langkah Denis mendekati motor itu. Menyentuhkan tangannya dan mengusap pelan motor yang nampak sangat terawat itu.
"Saat kamu tidak pulang beberapa hari, mama mencarimu. Mama baru sadar kalau mama tidak ingin kehilanganmu. Semua orang mencarimu hingga kami menemukan motormu dengan pemilik barunya. Dia menceritakan kalau kamu menjual motor ini padanya. Kami terus mencarimu. Sayang sekali, saat itu kamu sudah pergi entah kemana. Semua temanmu tidak ada yang tahu." Rania berucap dengan suara parau.
"Mama meminta papa Andres buat membeli kembali motor ini. Mama yakin kamu pasti akan kembali ke rumah ini. Dan harapan mama ternyata terkabul hari ini. Kamu pulang kembali kerumah ini. Mama harap, kamu tidak akan meninggalkan mama lagi. Ini adalah rumahmu. Tempatmu untuk kembali."
Denis tidak kuasa lagi untuk menahan dirinya. Dia memeluk tubuh Rania dan menjatuhkan wajahnya dibahu wanita itu.
"Mama." Desisnya pelan didekat telinga wanita itu. Rania memejamkan matanya. Merasakan kenikmatan tersendiri saat mendengar Denis mengucapkan kata itu.
"Katakan lagi sayang. Mama sangat rindu mendengar panggilan darimu."
Tidak ada yang tidak terharu menyaksikan adegan itu. Lagi-lagi Andres dan Alex mengusap sudut mata mereka yang basah.
Andres mendekati dua orang yang masih berpelukan.
"Selamat datang kembali dirumah ini, Denis."
Denis menghapus airmatanya sebelum melepaskan pelukannya.
"Tinggallah disini mulai malam ini." Rania pun sudah menghapus sisa airmata dipipinya.
Denis menatap Alex seolah meminta pendapat pria itu melalui sorot matanya. Alex membalas tatapan itu dengan lembut. Senyuman manis tersungging dibibirnya. Dia mengangguk memberi keyakinan pada gadis tomboy yang sudah menambat hatinya itu.
"Ya. Kamu harus tinggal bersama keluargamu. Dirumah inilah seharusnya kamu berada." Alex tersenyum dengan tatapan tak lepas dari gadis itu.
Wajah Denis meredup. Aura dingin kembali meliputinya. Entah kenapa dia merasa tidak suka dengan ucapan Alex.
"Baiklah. Mulai malam ini, aku akan tinggal disini." Ujarnya cukup terdengar oleh semua yang ada disana. Rania tersenyum bahagia mendengarnya. Begitu juga dengan Andres. Namun Alex berbeda. Dia merasa ada sesuatu dibalik ucapan itu. Perasaannya menjadi tidak enak.
Dia menatap Denis. Tapi gadis itu melengoskan wajahnya. Menghindari mata Alex yang menyelidiknya penuh tanya.
"Ayo kita kembali ke dalam." Rania memutuskan kecanggungan diantara dua anak muda itu.
"Sudah terlalu malam. Saya mau pamit pulang." Dengan berat hati Alex mengatakan itu. "Tapi, boleh saya bicara berdua dengan Denis?"
__ADS_1
Rania tertawa pelan. Ternyata begini rasanya memiliki anak gadis. Senang sekali saat ada seorang pemuda meminta ijin untuk ngobrol dengan anak gadisnya.
"Silakan. Tapi jangan dibawa pulang ya." Rania mengerling menggoda Alex.
"Tidak sekarang.." Alex meladeni candaan Rania.
Rania dan Andres berlalu dari tempat itu meninggalkan Denis dan Alex berdua.
Alex menancapkan tatapannya diwajah Denis saat Rania dan Andres melangkah pergi. Denis melarikan pandangannya, menghindari tatapan Alex.
Alex mendekati Denis.
"Kamu marah padaku?"
"Tidak."
"Kamu tidak suka tinggal dengan mamamu?"
"Tidak."
"Tidak?"
"Maksudku, aku mau tinggal dengan mereka."
"Tapi?"
"Tidak ada tapi."
"Tapi aku yang tidak rela karena harus berjauhan darimu."
"Pembohong." Denis melengoskan wajahnya dengan seringai sinis dibibirnya.
"Aku tidak bohong. Hanya saja untuk saat ini, mamamu lebih berhak atas dirimu. Aku tidak punya hak untuk menahanmu dirumahku. Kecuali.."
Alex menggantung kalimatnya membuat Denis menoleh kepadanya dengan mata menyipit.
"Kecuali apa?"
"Kecuali...kalau kita sudah menikah."
"Apa?" Hampir Denis terlonjak mendengar ucapan Alex.
"Kamu tidak ingin menikah denganku?" Tatapan Alex sangat serius.
"Lo gila.."
"Aku serius. Denisha Nathania Adiwijaya, maukah kamu menikah denganku?"
"Lo.."
Alex membungkam mulut Denis dengan cepat. Mata Denis membulat menatap wajah Alex yang begitu dekat tak berjarak.
"Saat ini aku mengantarkanmu kemari karena mereka adalah orangtuamu. Tapi tidak lama lagi, aku akan membawamu ke rumahku sebagai istriku." Bisik Alex didepan bibir Denis. Dikecupnya lagi dengan singkat bibir itu diujung kalimatnya.
"Masuklah. Aku harus segera pulang." Alex mengusap bibir Denis dengan ibu jarinya. Mengecupnya lagi beberapa kali dengan gemas. Sebelum akhirnya dia berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
Dari dalam mobil Alex memberi isyarat kepada Denis agar masuk kedalam rumah. Dia tidak akan pergi dari sana sebelum melihat Denis masuk. Kira-kira begitu dia memberi kode kepada Denis. Dengan patuh Denis membalikkan tubuhnya memasuki rumah yang telah lama dia tinggalkan. Menyibakkan tirai kaca untuk melihat mobil Alex yang mulai meninggalkan halaman rumah itu.
*****