
Pagi yang cerah. Matahari bersinar dengan benderang ketika jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Panasnya sudah terasa mencubit permukaan kulit setiap insan yang berada dibawah cahayanya. Seberkas sinarnya menerobos masuk ke sebuah kamar dilantai dua milik Alex. Sesosok tubuh yang terbaring menelungkup menggeliat tatkala wajahnya terkena cahaya yang menyilaukan dari balik gorden yang sengaja disibakkan oleh seorang pria yang sedang berdiri disana.
Didekat jendela, Alex berdiri menyandar kedinding dengan kedua tangan terlipat didada. Matanya menatap Denis yang masih tidur tidak terganggu dengan kehadirannya.
Alex menghela napas seraya mengurai tangannya. Dia berjalan mendekat kearah pembaringan. Duduk ditepinya dan menatap lekat wajah Denis, wanita tomboy yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
Perlahan jemarinya menyentuh rambut dikening Denis. Sungguh tak disangka dia bisa bersanding dengan Denis dipelaminan. Mengingat lagi waktu yang telah mereka lewati bersama, Alex sangat bersyukur kini dia dapat bersatu dengan gadis itu.
Tadi malam dia sangat panik setelah Denis pergi meninggalkannya ditempat pesta. Sebenarnya dia sudah mempersiapkan sebuah kamar di hotel itu untuk dia tempati bersama Denis sebagai pasangan pengantin baru. Namun karena masalah yang terjadi tadi malam, membuat Denis gusar dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Alex menyusul Denis ke rumah Rania. Namun ternyata Denis tidak berada di sana. Dia mencoba menelepon Denis namun tidak diangkat. Dia kemudian teringat akan Jack dan kawan-kawan. Dia berpikir mungkin Denis pergi ke tempat mereka.
Menyusuri jalanan yang mulai sepi karena menjelang tengah malam, Alex mengarahkan mobilnya menuju bengkel tempat Jack dan teman-temannya biasa mangkal. Membutuhkan waktu yang cukup lama walaupun dia sudah memacu mobilnya diatas kecepatan rata-rata.
Namun dia harus menelan kecewa saat tiba di sana. Dia tidak menemukan Denis. Dia malah harus mendengarkan luapan kemarahan dari Jack yang tidak terima dengan perlakuan Damian kepada dia dan teman-temannya. Dia rupanya masih kesal dan sangat dendam kepada Damian.
Alex segera pergi dari tempat Jack karena tidak ingin membuang banyak waktu di sana. Diperjalanan dia menelepon Rania. Menanyakan barangkali Denis sudah kembali.
"Mungkin dia pergi kerumahmu. Apa kamu sudah mencarinya di sana?" Pertanyaan Rania membuat Alex tersadar dan segera mengarahkan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Dia tidak terpikir sama sekali kalau Denis akan pergi kerumahnya dalam keadaan penuh amarah seperti tadi. Diperjalanan dia menelepon penjaga rumah menanyakan kemungkinan Denis berada di sana. Dan jawaban dari penjaga rumahnya membuat dia bisa bernapas lega.
Saat dia tiba dirumahnya, Alex langsung menuju kamar yang biasa ditempati oleh Denis. Namun ternyata Denis mengunci pintu kamarnya dan tidak mau menemuinya.
Alex pasrah. Setidaknya dia merasa tenang karena ternyata Denis ada dirumah dalam keadaan baik-baik saja. Alex menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada didekat tangga. Membaringkan tubuhnya yang baru terasa sangat letih dan sekarang dia merasa sangat mengantuk. Tidak lama kemudian dia sudah terlelap dengan wajah mengarah ke pintu kamar tempat Denis berada.
Saat Alex terbangun di pagi hari, hal pertama yang diingatnya adalah Denis. Dia segera beranjak menuju pintu kamar Denis. Memutar handle pintu dengan harapan Denis sudah membuka kunci pintu kamarnya. Ternyata pintu sudah tidak terkunci.
Alex langsung memasuki kamar Denis. Nampak gadis itu masih tidur di atas pembaringan. Alex tersenyum.
Dia menuju gorden kamar dan menyibakkannya. Menatap wajah Denis yang sedikit terganggu dengan cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Namun ternyata dia tidak terbangun.
Alex beranjak mendekati gadis itu. Duduk ditepi pembaringan dan menyentuh rambut gadis itu.
Mata Denis terbuka perlahan. Memicing menatap pria yang sedang memperhatikannya.
"Alex." Suaranya agak serak.
"Selamat pagi, Sayang." Alex melemparkan senyuman manisnya dengan tatapan yang begitu dalam seolah ingin menyelami seluruh pikiran dan perasaan gadis itu.
Denis mendudukkan dirinya di atas pembaringan.
"Selamat pagi."
"Harusnya kita terbangun di kamar hotel pagi ini." Alex tersenyum dengan tatapan nakal menelisik wajah Denis.
"Kenapa lo tidur di sofa?"
"Kamu tidak membiarkan aku masuk ke kamar."
"Lo bisa tidur di kamar Lo sendiri."
Cup!!
Sebuah ciuman mendarat di bibir Denis. Mata Denis membeliak. Dia memundurkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa kaget begitu? Harusnya aku bisa mendapatkan lebih dari sekedar ciuman kalau saja kamu tidak mengunci pintu kamar tadi malam."
Semburat warna merah merayapi wajah Denis. Tentu dia mengerti arah dari ucapan Alex.
"Minggir. Gue mau mandi."
Dengan gugup Denis beranjak turun dari tempat tidur. Belum sempat kakinya menyentuh lantai, Alex sudah menarik tangannya dan menyentakkan tubuh gadis itu hingga terjerembab di atas pembaringan.
Alex menahan kedua tangan Denis di kedua sisi tubuhnya. Tubuh Alex berada di atas tubuh Denis dalam jarak yang begitu dekat.
"Setelah ini, akan aku pastikan tidak pernah ada 'lo-gue' diantara kita. Aku tidak suka mendengarnya."
Alex mengikis jarak antara wajahnya dan wajah Denis. Denis memalingkan wajahnya hingga bibir Alex hanya bisa menyentuh pipi Denis.
"Lepasin, Alex!"
Denis berusaha melepaskan kedua tangannya dari pegangan tangan Alex.
"Kenapa harus aku lepasin? Kamu harus dihukum karena tadi malam sudah membiarkan aku tidur diluar."
"Salah lo sendiri kenapa tidur disana. Lo punya kamar sendiri."
Alex kembali mendaratkan bibirnya. Sasaran utamanya adalah bibir Denis. Namun gadis itu menggerakkan kepalanya berusaha mengelak dari ciuman Alex.
Alex tidak menyerah. Dia terus menggoda Denis dengan terus mendaratkan ciumannya apapun yang dia dapatkan.
Sebuah ketukan dipintu membuat aktifitas Alex terhenti. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Denis dengan segera mendorong tubuh Alex yang hampir sepenuhnya berhasil menindih tubuhnya.
Setengah meloncat Denis turun dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa?" tanyanya kepada seorang asisten rumah tangga yang berdiri didepan pintu.
******
"Vio?" Alex menyapa seorang wanita cantik yang sedang menghirup wangi bunga di taman belakang.
Viola membalikkan tubuhnya. Senyuman tipis membayang di sudut bibirnya.
"Alex."
"Kapan kamu datang dari Paris?"
Alex menyalami gadis itu.
"Maaf aku terlambat menghadiri pernikahan kamu." Viola menundukkan wajahnya sesaat. menyembunyikan garis kesenduan yang terpancar di kedua bola matanya. Mungkin dia ingin menyembunyikannya. Namun sekuat apapun dia berusaha, dia tidak berhasil melakukannya.
"Maafkan aku. Aku sudah berjanji untuk menjadi teman baikmu, tapi nyatanya aku tidak bisa," ucapnya sendu.
"Aku selalu menjadi temanmu sampai kapanpun. Kamu sudah seperti adik bagiku. Kamu boleh datang kapan saja ke rumah ini. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu."
Viola menarik napas pelan. Memenuhi rongga dadanya dengan oksigen. Berusaha menopang hatinya agar lebih kuat dalam menerima kenyataan.
"Terima kasih, Alex." Seulas senyum dia perlihatkan. "Aku datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua."
__ADS_1
"Terima kasih."
Alex tersenyum tulus. Dirangkulnya bahu Viola. Viola menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
"Aku turut bahagia atas kebahagiaan yang kamu dapatkan."
"Terima kasih. Kamu akan selalu menjadi bagian dari kebahagiaanku." Alex mencium pucuk kepala Viola dengan tulus.
Dari atas balkon kamar, Denis menatap pemandangan di bawah sana dengan tatapan yang tajam dan napas sedikit tertahan.
Tiba-tiba ponsel Alex berbunyi. Dia melepaskan rangkulannya di bahu Viola dan segera menjawab panggilan teleponnya.
"Apa? Baiklah, aku akan segera kesana."
Alex berbalik kearah Viola. Menatap gadis cantik itu penuh sesal.
"Maafkan aku. Aku harus segera pergi ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit?"
"Mama Tania."
"Apa yang terjadi dengannya?"
"Aku juga tidak tahu. Barusan Faisal yang meneleponku. Dia juga baru dapat kabar dari pengacaraku. Informasinya hanya seperti itu."
"Aku akan menemanimu ke sana."
Alex mengangguk. Gegas dia menuju mobilnya diikuti oleh Viola dan meninggalkan rumah itu.
*****
Alex menatap wajah pucat wanita yang telah mengkhianatinya selama bertahun-tahun itu. Hilang sudah kecantikan dan kemewahan yang biasa dia perlihatkan selama ini. Tubuhnya kurus dan ringkih. Kulitnya kusam tidak terawat.
Ada kepedihan yang mencubit hati Alex tatkala memandang wanita itu. Bagaimanapun juga, dia pernah hidup bersama-sama dengan wanita itu selama bertahun-tahun. Sejak dia kecil. Dia sudah menganggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri.
Kalau saja dia tidak mengetahui kebejatan wanita itu, saat ini, pasti dia masih menyayangi wanita itu dan menghormatinya selayaknya seorang anak kepada ibunya.
Sayang sekali, noda yang telah diciptakan oleh wanita itu, sangat menyakiti perasaan Alex.
"Apa yang terjadi?"
Viola yang berdiri disampingnya bertanya pelan. Saat ini mereka sedang berada didepan ruang perawatan Tania.
"Dokter bilang asam lambungnya tinggi. Dia juga sangat depresi selama berada dipenjara. Jiwanya sangat terpukul dan tidak bisa menerima kalau dirinya dipenjara. Dokter menyarankan agar dia ditangani oleh seorang psikiater. Polisi pun menyarankan seperti itu."
Pak Wisnu, pengacara Alex yang menjawab.
"Apa dia bisa mendapatkan perawatan yang semestinya? Bagaimana dengan proses hukumnya?" Alex bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari tubuh yang terbujur lemah didalam ruang perawatan dari balik pintu kaca.
Pengacara kemudian menjelaskan secara rinci apa saja yang bisa mereka lakukan untuk menangani Tania.
Alex menghela napas. Dia memang masih marah kepada wanita itu. Namun saat ini, dia tidak bisa lepas tangan atas kelangsungan hidup wanita itu. Wanita itu tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dirinya. Semarah apapun dia pada Tania, rasa kemanusiaannya terusik setelah melihat keadaan Tania yang sangat memperihatinkan.
__ADS_1
*******