Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Mobil berwarna hitam metalik itu memasuki garasi yang dibuka oleh salah satu penjaga yang berbadan tegap. Sesekali mata pria itu menatap pengemudi mobil yang fokus memarkirkan mobilnya. Pria tegap itu berkali-kali menggerakkan bola matanya mencari perhatian si pengendara mobil. Namun pria itu sepertinya tidak menyadari sedikitpun kode yang diberikan pria yang membuka pintu garasi. Sampai ketika sebuah deringan telepon dari dalam ruangan garasi terdengar sangat nyaring disaat mesin mobil mulai berhenti.


Pria pengemudi itu mengangkat tatapannya dengan sedikit terkejut dan mengedarkan pandangannya. Tanpa sengaja dia melihat bayangan dibalik tumpukan kardus di sudut ruangan. Dan dia baru menyadari tatapan pria penjaga rumah itu yang menyorot tepat ke matanya dan memberi kode agar segera pergi dari tempat itu. Pria itu seolah mengerti. Dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan segera memundurkan kembali mobilnya menuju keluar garasi.


Dibelakang mobil, Nerrow mencoba untuk mendekat. Namun gerakan mobil yang cepat cukup membahayakan dirinya. Sepertinya pria dalam mobil itu tidak akan segan untuk menabrak Nerrow jika saja pria itu tidak melompat kesamping.


Dalam sekejap mobil itu sudah keluar dari garasi. Decitan suara ban yang beradu dengan aspal terdengar sangat ngilu ketika mobil itu berbelok tajam dan melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.


"Sial!!" Denis melompat dari persembunyiannya. Matanya menyorot tajam kearah pria yang membuka pintu garasi tadi.


"Berikan kunci motor lo!! Cepat!!" Dengan gugup pria itu merogoh saku jaketnya dan memberikan kunci motornya pada Denis. Dengan kasar Denis mengambil kunci itu dan segera menaiki motor yang ada disana.


"Urusan kita belum selesai!" Jarinya menunjuk lurus pria itu. "Urus mereka bang. Gue mau ngejar mobil tadi!" Katanya pada Jack. Setelah itu dia langsung melesat meninggalkan tempat itu menggunakan motor milik pria itu.


Mata Denis yang tajam terus bergerak mencari mangsanya yang melarikan diri sebelum sempat disergap. Dia sudah mengingat-ingat nomor mobil itu sejak mobil itu mulai memasuki garasi. Sebenarnya posisinya tadi sudah sangat aman dan tak mungkin pria dimobil itu akan tahu kalau ada orang yang bersembunyi didalam garasi. Denis yakin, pria yang membuka pintu itu telah berkhianat padanya dengan memberitahu pengemudi mobil itu. Padahal sebelumnya Denis sudah mengancam pria itu agar jangan memberi tahu keberadaannya disana dengan cara apapun. Tapi rupanya ancamannya tidak berguna sama sekali.


Awalnya dia memiliki sedikit harapan akan segera bisa mengetahui keberadaan papanya Alex jika dia bisa menyergap orang yang berada didalam mobil tadi. Walaupun pengemudi mobil itu bukanlah orang yang sedang diburunya, namun kecurigaan bahwa orang itu ada hubungannya dengan Bisma dan Tania semakin menguat setelah melihat mobil itu malah kabur dari rumah itu. Kalau dia tidak ada hubungannya dengan sebuah kejahatan, lalu kenapa dia harus melarikan diri begitu dia tahu didalam garasi itu ada orang lain selain para penjaga itu?


Denis mengawaskan pandangannya tak mau sampai kehilangan mobil yang sedang dicarinya. Keberuntungan ternyata masih berpihak padanya ketika dia tiba-tiba melihat sebuah mobil yang sama persis dengan mobil yang sedang dicarinya. Namun apa itu? Sebuah mobil polisi lalu lintas ada disebelahnya. Sepertinya mobil itu baru saja diberhentikan oleh polisi. Mengingat bagaimana mobil itu melaju, ada kemungkinan dia diberhentikan polisi karena menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.


Denis menepikan motor yang ditungganginya. Merogoh handphone yang terus berbunyi didalam saku celananya. Deringan itu juga yang tadi membuat pria pengendara mobil itu melarikan diri. Denis merutuki dirinya sendiri kenapa tidak mengganti ke mode senyap di handphonenya.


Matanya kembali mengawasi mobil yang pengendaranya masih diinterogasi oleh polisi.


"Hallo? Alex?"


"Gue lagi ngikutin mobil nih. Urusan lo udah beres belum?" Denis berbicara sambil terus memperhatikan mobil yang masih berurusan sama polisi itu. Nampaknya polisi itu sedang menulis identitas sang pengendara mobil. Jaraknya yang cukup jauh membuat Denis agak kesulitan dalam melihat wajah pengendara mobil itu.

__ADS_1


"Baiknya lo cari alasan biar lo bisa mengulur waktu mereka. Lo jangan nyerah gitu aja. Gue bakal terus bantuin lo." Denis kembali berbicara pada Alex.


Didepan sana polisi nampaknya sudah menyelesaikan urusannya dengan pengendara mobil berwarna hitam itu. Meninggalkan mobil hitam itu yang kemudian melaju dibelakangnya.


Denis menyudahi pembicaraannya dengan Alex. Segera dia memasukkan handphone kedalam saku celananya dan menghidupkan mesin motornya. Matanya yang tajam terus mengawasi mobil yang sudah berada jauh di depan sana dan bergabung dengan kendaraan lain.


Tergesa Denis melajukan motornya untuk meninggalkan tempat itu. Namun sebuah jeritan membuat dia mengerem motornya secara mendadak. Seorang gadis yang mau menyeberang jalan hampir saja tertabrak oleh motor Denis. Perhatian Denis teralihkan. Beberapa orang yang berada disekitar tempat itu segera berdatangan dan mengerubungi tempat kejadian.


"Lo gapapa?" Denis menatap gadis itu yang malah tertegun menatap Denis. Wajahnya pucat, mungkin masih terkejut dengan kejadian barusan.


"Mas Denis?"


Denis mengerutkan keningnya. Menelisik wajah gadis didepannya dan dia cukup terkejut melihat siapa yang sekarang sedang berdiri dihadapannya.


"Mariana?"


Melihat interaksi dua orang yang hampir saja terlibat insiden tak diinginkan membuat orang-orang yang sudah berkerumun langsung membubarkan diri. Tinggallah Denis dan Mariana ditempat itu yang hampir tak mempedulikan keadaan disekitar mereka.


"Mariana, sorry. Gue lagi buru-buru. Gue harus pergi sekarang." Denis kembali menyalakan mesin motornya. Mobil yang sedang dibuntutinya sudah menghilang dari pandangan matanya.


"Tunggu, Mas!" Mariana berusaha menahan motor Denis agar tidak pergi begitu saja. Namun Denis benar-benar harus segera pergi dari sana. Dia tidak mau kalau sampai harus kehilangan mobil yang sedang dibuntutinya.


"Mariana, gue harus pergi sekarang." Tanpa mempedulikan Mariana, Denis segera meninggalkan tempat itu. Mariana meneriakan nama Denis dan masih berdiri disana sambil menatap Denis yang sudah semakin jauh.


"Oh iya. Aku lupa. Aku harus memberitahu mamanya mas Denis." Mariana segera mengeluarkan handphonenya. Mengambil foto Denis yang sudah menjauh dari tempat dia berdiri. Kemudian mencari nama mamanya Denis di kontak ponselnya.


"Ya ampun, kenapa susah sekali menghubungi mamanya mas Denis." Mariana menggumam sendiri, merasa kesal karena berulang kali menghubungi mamanya Denis namun sepertinya handphone wanita itu tidak aktif. Akhirnya Mariana menyerah. Dia pikir mungkin nanti dia bisa menghubungi wanita itu. Dia memasukkan lagi handphonenya dan melangkahkan kakinya menuju sebuah cafe diseberang jalan yang merupakan tempat dia mengais rezeki.

__ADS_1


*****


Andres baru saja menjabat tangan seorang pengusaha muda yang baru saja membuat kesepakatan bisnis dengannya. Seorang anak muda yang tampan dan berbakat. Putra dari seorang pengusaha ternama yang sangat disegani didunia bisnis.


"Saya sangat beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan anda." Genggaman tangan pria itu terasa sangat kuat ditangan Andres. Senyuman tersungging dibibir keduanya.


"Saya lebih tersanjung lagi bisa berbisnis dengan penerus Arga Dinata. Saya sering mendengar nama ayah anda dan juga kakak anda yang terkenal itu. Sayang sekali saat ini saya tidak dapat bertemu langsung dengan beliau."


"Atas nama papa saya, saya mohon maaf. Beliau tidak dapat menghadiri rapat yang sangat penting ini karena kesehatan beliau yang tidak memungkinkan. Mungkin lain waktu beliau akan menyempatkan diri untuk bertemu dengan anda." Pria muda itu adalah Reno. Dia berbicara dengan sopan kepada pria yang sudah menjadi partner bisnisnya itu. Andres tersenyum. Dia sangat terkesan dengan pembawaan Reno saat itu.


"Maafkan saya karena tidak tahu kalau pak Arga Dinata sedang tidak sehat. Saya juga turut berduka atas meninggalnya putra sulung pak Arga Dinata. Saya dengar kabar itu tapi belum sempat bertemu dengan pak Arga Dinata secara langsung untuk mengucapkan bela sungkawa."


Reno tersenyum miris. Bukan sekali dia mendapat ucapan seperti itu. Walau kejadian itu sudah cukup lama berlalu, namun masih saja ada orang yang membahasnya jika bertemu dengannya. Kadang dia merasa bosan mendengar ucapan itu. Namun dia harus menjaga imej dihadapan orang-orang, apalagi orang sekelas Andres yang merupakan rekan bisnis yang sangat penting.


Dia juga tahu kalau orang-orang lebih mengenal Alex daripada dirinya. Dia juga tahu kalau papanya akan lebih mempercayakan urusan penting seperti saat ini kepada Alex daripada kepada dirinya.


"Mungkin saya harus mengklarifikasi satu hal pada anda saat ini." Reno mengambil napas dalam-dalam. Bagaimanapun juga, akhirnya orang-orang akan tahu yang sebenarnya.


Andres mengernyitkan dahinya. Menatap pria muda dihadapannya dengan penasaran.


"Mengklarifikasi? Tentang apa?"


"Kakak saya. Anda mungkin pernah mendengar kalau dia sudah meninggal karena kecelakaan. Namun ternyata dia selamat dalam kecelakaan itu dan kini dia sudah kembali ke rumah. Kami sangat bersyukur untuk itu."


"Alex selamat dalam kecelakaan?" Andres nampak sangat terkejut.


"Ya. Kakak saya sekarang sudah kembali. Tapi masih ada beberapa hal yang harus dia selesaikan, sehingga dia belum bisa bertemu dengan anda. Mungkin ke depan, anda akan lebih sering bertemu dengan kakak saya daripada dengan saya." Reno tersenyum tipis. Dia kemudian mengakhiri basa-basi yang cukup membuat moodnya memburuk. Dia pamit dari tempat itu dan segera meninggalkan Andres yang masih termangu disana. Dia masih terkejut mendengar pernyataan Reno bahwa kakaknya selamat dari kecelakaan yang telah dikabarkan merenggut nyawanya.

__ADS_1


Banyak sekali pertanyaan dibenak Andres. Namun dia kemudian tersadar, kalau semua itu bukanlah urusannya. Dia cukup senang mendengar putra Arga Dinata yang telah dinyatakan meninggal itu, ternyata masih hidup.


*****


__ADS_2