Rahasia Denis

Rahasia Denis
Lima Puluh Satu


__ADS_3

Rasanya canggung sekali ketika Denis melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu. Dua hari dia meninggalkan rumah ini. Sunyi yang dia dapatkan. Beberapa penjaga yang bertugas diluar membiarkannya masuk dengan bebas kedalam rumah ini karena tahu siapa Denis dan apa hubungannya dengan sang pemilik rumah. Semua orang tahu kalau dia sahabat dekat dari sang pemilik rumah. Yah, persahabatan yang sudah ternoda. Tanpa diketahui oleh siapapun.


Keadaan rumah sangat lengang. Penghuni satu-satunya yang ada entah sedang berada dimana. Apakah dia masih meratapi kepergian papanya?


Para asisten rumah tangga tidak ada yang berada didalam rumah utama setelah pekerjaan mereka selesai. Hanya akan masuk jika diperlukan atau memang dipanggil oleh tuan mereka.


Denis terus melangkah dengan hati-hati sambil menajamkan pandangannya. Memindai semua tempat. Jangan sampai dia bertemu dengan orang yang selama dua hari ini dia hindari. Hatinya belum siap kalau harus bertemu dengan Alex.


Melewati ruang kerja Arga Dinata yang sekarang menjadi ruang kerja Alex, dia mendengar suara orang yang sedang bicara disana. Denis menghentikan langkahnya tidak jauh dari pintu ruang kerja yang tidak tertutup sempurna. Bukan bermaksud untuk menguping, namun dia merasa penasaran dengan ucapan orang yang berada disana.


"Om senang akhirnya kamu mengambil keputusan ini. Tapi apa kamu yakin dengan keinginan kamu untuk melamar putri om?" Suara berat seorang pria didalam sana membuat Denis menajamkan pendengarannya. Orang itu sedang bicara sama siapa? Siapa akan melamar siapa?


"Saya yakin om. Seharusnya saya melakukan ini dari dulu." Itu suara Alex. Denis tertegun. Jantungnya seakan berhenti. Untuk sesaat dia seakan lupa bagaimana cara bernafas yang benar.


"Om tahu sejak lama Viola mengagumimu. Dia sangat berharap bisa hidup bersama denganmu. Om juga sangat senang jika kalian bisa menikah. Om percaya padamu." Lelaki yang sedang bicara dengan Alex terdengar sangat bahagia. Jadi, dia papanya Viola. Mungkin sekarang wajahnya sedang penuh dengan senyuman.


Cukup. Itu saja sudah cukup bagi Denis untuk tidak mendengarkan kelanjutan obrolan mereka. Dengan hati-hati dia melanjutkan langkahnya. Menapaki satu demi satu anak tangga menuju kamarnya dengan kaki yang terasa berat.


"Denis!"


Langkah kaki Denis terhenti. Memejamkan matanya sesaat sebelum menoleh kearah sumber suara.


Alex berdiri didepan pintu ruang kerjanya yang berada tidak jauh dari tangga yang sedang ditapaki Denis. Rupanya dia melihat kelebat tubuh Denis dari celah pintu yang terbuka.


Alex memberi isyarat agar Denis kembali turun. Dia sendiri kembali masuk setelah melihat Denis membalikkan tubuhnya dan menuruni anak tangga.


Seorang pria paruh baya berdiri disampingnya. Sepertinya dia sudah mau pergi dari sana.


"Om pulang dulu kalau begitu. Kabari om jika kamu sudah menemukan tanggal yang pas untuk pertunangan kalian."


Untuk sesaat mata kelam Alex menghujam manik mata Denis yang tidak sengaja sedang terarah padanya. Untuk sedetik mata keduanya beradu. Namun Alex segera mengalihkannya kepada pria yang sejak tadi bersamanya.


"Iya, om. Nanti saya akan diskusikan masalah ini dengan Viola."


"Tidak usah terburu-buru. Om tahu kamu masih dalam keadaan berkabung." Pria itu mengusap bahu Alex dan kemudian menepuknya pelan.


"Saya ingin secepatnya melamar Viola, om."


"Baiklah. Om senang mendengarnya."


Setelah itu, pria yang merupakan papanya Viola benar-benar pergi setelah pamit sekali lagi kepada Alex.


Denis masih mematung ditempatnya berdiri ketika Alex menyuruhnya untuk duduk.


"Denis!"


"Eh. Ya?"

__ADS_1


Alex menghela nafas. Menatap Denis dengan mata elangnya. Tidak ada senyuman dibibir itu. Denis merasa sikap Alex sangat berbeda. Aura dingin sangat terasa saat ini. Ditambah lagi degupan jantung Denis yang sangat dikhawatirkan bisa terdengar oleh Alex karena terasa begitu keras.


"Kamu dari mana dua hari tidak ada dirumah? Handphone tidak aktif. Semua orang tidak ada yang tahu kamu pergi kemana." Itu bukan pertanyaan seorang sahabat kepada orang yang baru saja dia temui. Tapi seperti seorang majikan kepada anak buahnya yang lalai dalam menjalankan tugasnya. Denis dapat merasakan perbedaannya.


Denis memicingkan matanya menatap Alex.


"Kenapa? Lo nyari gue?"


"Tentu saja. Kamu tinggal dirumahku kalau kamu lupa. Seharusnya kamu memberi tahu seseorang jika ingin pergi dari rumah ini. Jadi tidak akan ada yang mengkhawatirkanmu."


"Lo khawatir sama gue?"


"Aku yang membawamu kemari. Aku bertanggung jawab atas dirimu selama kamu berada disini. Sama seperti yang lainnya."


"Gue bukan anak kecil yang selalu harus meminta ijin kalau ingin pergi." Entah apa yang membuat dia begitu kesal dengan ucapan Alex. Hatinya terasa begitu sakit.


"Bukan seperti itu. Seenggaknya kamu belajar untuk menghargai orang yang ada disekitar kamu. Kalau kamu memutuskan untuk tinggal disini, kamu harus mematuhi peraturan yang ada disini. Kamu tidak bisa seenak kamu sendiri."


"Lo tahu, gue gak suka ada yang mengatur hidup gue. Lo gak perlu susah-susah buat ngatur gue. Gue akan keluar dari rumah ini. Terima kasih karena lo, sudah berbaik hati nampung gue disini selama ini."


Tanpa menunggu jawaban dari Alex, Denis membalikkan tubuhnya keluar dari ruangan itu. Melanjutkan langkahnya yang tertunda menaiki anak tangga.


Sesampainya dikamar, dia meraih tas ransel teman setianya yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Dimasukkannya barang pribadinya kedalam tas ransel lusuh itu.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar dan dia tahu siapa pelakunya tanpa menoleh kearah sana.


"Ya. Gue gak mau terus menerus jadi parasit buat lo."


Alex terdiam. Hanya matanya yang tajam menatap Denis.


"Gue gak ngambil satupun barang lo. Kalau lo mau periksa tas gue, silakan."


Alex merapatkan giginya.


"Kamu mau pergi kemana?" Dia mengabaikan ucapan Denis yang sinis.


"Itu bukan urusan lo. Gue cuma mau berterima kasih karena selama ini lo sudah memberikan tempat tinggal buat gue."


Denis menaikkan tas ke punggungnya. Tanpa menunggu reaksi Alex, dia segera berlalu melewati Alex yang masih menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Aku tidak menyuruhmu pergi dari sini. Kau boleh tinggal selama yang kau mau!" Kata Alex dengan suara yang sedikit keras.


Langkah Denis yang hampir melewati pintu, terhenti. Hanya sesaat. Dia kembali melangkah tanpa menoleh sedikitpun.


"Kamu mau keluar dari rumah ini?" Viola menghadang langkahnya diujung tangga. Matanya menatap sayu pura-pura sedih melihat Denis membawa tas dipunggungnya. Denis tersenyum miring. Tentu saja dia tahu gadis itu sedang bersandiwara dihadapannya.


Tanpa menghiraukan gadis itu, Denis melewatinya dan mulai menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Biarkan dia pergi, sayang. Mungkin dia merasa tidak nyaman tinggal dirumah sebesar ini." Terdengar suara gadis itu dibelakangnya. Melalui sudut matanya dapat Denis lihat ada Alex disamping gadis itu.


Alex menepis tangan Viola yang merengkuh lengannya. Tapi Viola kembali menahan lengan pria itu.


"Mau kemana? Papa bilang kamu ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting padaku."


"Tidak sekarang. Aku masih banyak pekerjaan. Permisi." Alex meninggalkan gadis itu menuju ruang kerjanya yang ada dilantai bawah.


"Aku akan menemanimu." Viola mengikuti langkah pria itu.


Alex menghentikan langkahnya dengan sedikit gusar.


"Aku tidak ingin diganggu. Silakan kamu kembali kalau aku sudah tidak terlalu sibuk." Setelah itu dia masuk kedalam ruangannya dan segera menutup pintunya tanpa memberi kesempatan kepada Viola untuk mengikuti langkahnya.


Viola mematung didepan daun pintu yang sudah menutup.


Tidak lama kemudian Faisal yang merupakan asisten pribadi Alex datang. Dia masuk kedalam ruang kerja Alex setelah sebelumnya menganggukan kepalanya dengan sopan kepada Viola yang masih berdiri disana.


"Dia masih ada diluar?"


Tanya Alex ketika Faisal sudah dekat dengannya.


"Masih. Sepertinya dia tidak akan pergi begitu saja."


Alex memejamkan matanya. Dipijitnya dahinya dengan perasaan yang bercampur aduk. Apakah keputusannya untuk bertunangan dengan Viola itu sudah tepat? Hatinya tidak ingin melakukan. Tapi mulutnya sudah mengatakan kepada papanya Viola bahwa dia akan secepatnya melamar Viola.


"Kamu tahu kemana Denis pergi?" Tanyanya tanpa membuka matanya.


"Saat ini dia belum menuju ke suatu tempat tertentu. Mungkin nanti malam kita baru bisa tahu."


Alex tidak menyahut. Matanya masih terpejam.


"Bagaimana dengan Reno?" Setelah beberapa saat.


"Pak Yunus sudah mengingatkan bahwa Reno memiliki hak penuh atas warisan yang telah menjadi haknya. Kita mungkin akan bermasalah dengan hukum apabila mempersulitnya."


"Jadi?"


"Untuk saat ini, kita biarkan dia bebas. Lagipula bukan hal yang sulit untuk mengawasi dia. Siapa tahu, dengan demikian kita malah akan mendapatkan Tania dan Bisma secepatnya."


Alex membuka kelopak matanya.


"Aku tidak mau dia masuk ke perusahaan."


"Kita bisa menekannya. Dan untuk saat ini, dia tidak punya pilihan lain."


******

__ADS_1


__ADS_2