
Dalam perjalanan menuju tempat yang telah diberitahukan oleh anak buahnya, Alex kembali mendapat panggilan telepon. Dia segera memasang wireless earphone dan berbicara dengan anak buahnya.
"Apa??" Suaranya terdengar keras membuat Denis menoleh dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Alex nampak panik dan menambah kecepatan kendaraannya.
"Kalian tahan mereka! Jangan sampai mereka lolos!" Perintahnya dan dia kembali fokus dengan jalanan yang dilaluinya. Untunglah jalanan lengang karena waktu sudah lewat tengah malam. Mobil yang dikendarai Alex melesat tanpa hambatan.
"Ada apa?" Tanya Denis setelah melihat Alex sudah berhenti bicara dengan anak buahnya.
"Ternyata papaku disembunyikan dirumah itu. Sekarang mereka bermaksud memindahkannya. Aku harus secepatnya sampai disana sebelum mereka membawa pergi papaku." Mata Alex tajam menatap jalanan.
Denis tidak bicara lagi. Dia sedikit khawatir melihat Alex yang seperti kesetanan membawa mobil. Walaupun dia pembalap, tapi kalau orang lain yang membawa, ternyata dia merasa sedikit gentar. Rasanya lebih baik kalau dia saja yang membawa mobil daripada Alex yang sekarang kelihatan jelas ada dalam keadaan panik.
Fikiran Denis juga terus bertanya-tanya bagaimana bisa papanya Alex berada dirumah itu. Dia sangat yakin sudah memeriksa setiap sudut rumah itu. Semua pintu dan jendela dia periksa. Namun tidak ada tanda-tanda kalau papanya Alex ada disana. Atau mereka sedang mengerjainya dan juga Alex?
Dalam waktu singkat mereka sudah sampai ditempat yang dituju. Nampak perkelahian sedang berlangsung. Sepertinya itu merupakan perkelahian antara anak buah Alex dan orang-orang yang dikatakan akan membawa pergi Arga Dinata dari tempat itu. Dua orang pria yang sebelumnya pernah berkelahi dengan Denis ada diantara mereka.
Denis dan Alex segera turun dari mobil dan menghampiri tempat orang-orang itu beradu otot.
Sebuah mobil ambulan ada disana. Alex segera memeriksanya. Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati Arga Dinata berada didalamnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sepertinya ambulan itu telah bersiap untuk pergi dari tempat itu saat anak buah Alex datang menggagalkan rencana orang-orang suruhan Bisma.
"Papa!!" Pekik Alex dengan suara yang gemetar. Dengan panik dia memeriksa papanya. Pria itu masih hidup, walaupun dalam keadaan hilang kesadarannya.
"Kita harus segera bawa papamu ke rumah sakit." Denis segera menyuruh Alex untuk masuk ke dalam ambulan. Dia sendiri segera masuk ke kursi pengemudi dan menghidupkan mobil ambulan itu.
Dengan kecepatan tinggi Denis melajukan kendaraan itu. Dalam sekejap saja kendaraan itu sudah tiba disebuah rumah sakit terdekat.
Alex segera memanggil perawat yang sedang berjaga untuk segera menangani papanya. Dengan sigap para perawat segera membawa Arga Dinata memasuki ruang IGD.
"Aku gak akan pernah memaafkan orang-orang yang sudah bikin papaku seperti ini." Alex menggeram dengan penuh amarah. Matanya sembab menahan kesedihan dan kemarahan karena melihat kondisi papanya yang sangat memprihatinkan. Dia merasa frustasi saat ini.
Denis hanya terdiam. Matanya menatap Alex penuh rasa simpati. Namun bibirnya kelu walau sekedar untuk mengucapkan kata-kata penghibur untuk pria disampingnya.
Alex kemudian menelepon seseorang.
"Jangan sampai Bisma dan Tania lolos! Cari mereka sampai dapat!!" Perintahnya dengan tegas. Wajahnya mengeras dengan sorot mata tajam. Dengan kasar dia menghapus cairan yang membasahi sekitar matanya.
"Aku harus bikin perhitungan sama kedua keparat itu." Alex mendengus kasar.
"Tenanglah. Anak buah lo pastinya bisa diandalkan. Sekarang yang penting papa lo sudah ada bersama lo. Fokus saja dengan kesehatan papa lo."
Denis menepuk bahu Alex untuk menenangkan pria itu. Alex tidak menggubris ucapan Denis. Dia kembali menghubungi seseorang.
"Gimana dengan visa Bisma dan Tania? Apa? Sial!!" Alex bangkit dari duduknya. Menggusar rambutnya dengan kekesalan tingkat tinggi.
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Sepertinya mereka akan berangkat pagi ini."
"Kenapa lo harus sepanik itu. Serahkan semuanya sama gue. Gue akan tanganin orang-orang itu."
"Kamu yakin?"
"Tentu saja. Lo disini aja jaga papa lo. Gue akan nyuruh orang buat nemenin lo disini."
Alex memandang Denis sesaat seolah sedang menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dia lakukan. Denis hanya menganggukan kepala ketika Alex menatapnya lekat untuk meyakinkannya.
"Gue pergi sekarang. Jaga diri lo baik-baik." Entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Denis. Alex mengangguk dan membiarkan Denis pergi meninggalkannya.
Setelah kepergian Denis, Alex segera menelepon beberapa orang yang dia yakini bisa membantunya menahan Bisma dan Tania dari meninggalkan negeri ini untuk melarikan diri darinya.
Alex tak akan membiarkan kedua orang itu lolos dari dirinya. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal akan perbuatan yang telah mereka lakukan.
*****
Anak buah Alex dan Denis berhasil menggagalkan keberangkatan Bisma dan Tania keluar negeri. Dua orang itu sekarang berada dalam sebuah mobil dengan pengawalan yang ketat anak buah Alex. Denis duduk di kursi depan disamping pengemudi. Sesekali matanya melirik kaca spion memastikan dua orang yang duduk di kursi belakang diam tak membuat ulah.
Mereka membawa Bisma dan Tania ke sebuah rumah yang telah ditunjuk oleh Alex sebagai tempat untuk menyekap Bisma dan Tania sementara waktu.
"Jadi, kalian ingin berbulan madu ke Switzerland? Maaf sekali aku sudah menggagalkan niat kalian." Sarkas Alex. Wajahnya mengeras menatap sepasang kekasih yang tidak tahu malu itu.
"Maafkan mama, Alex. Mama benar-benar menyesal. Mama akan melakukan apapun agar kamu memaafkan mama.." Suara Tania mendayu dengan airmata yang mengucur deras membasahi pipinya.
"Mama?? Apa kau masih pantas untuk dipanggil mama? Dan ya, pastinya kau tidak pernah menganggapku sebagai anak selama ini. Jadi jangan lagi menyebut kata itu dengan mulutmu!!" Hardik Alex. Tangannya mengepal erat menahan amarah yang membuncah didadanya.
"Maafkan kesalahan mama selama ini, Alex. Mama tahu mama salah. Hukumlah mama. Hukumlah sesuai keinginanmu. Mama tidak akan menolak apapun perlakuanmu pada mama.." Wanita itu menjatuhkan tubuhnya diatas lutut. Mencoba meraih kaki Alex. Namun Alex segera mundur. Tak sudi rasanya tubuhnya disentuh oleh tangan kotor wanita itu.
"Jangan pernah menyentuhku, wanita ******!!"
"Alex!! Jangan pernah memanggil mamaku dengan sebutan itu!!" Sebuah teriakan terdengar membuat semua orang menoleh kearah sumber suara. Reno datang dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia langsung mendekati Tania dan membantu wanita itu untuk berdiri.
"Jangan pernah merendahkan mamaku dengan cara seperti ini, Alex!!" Matanya menyorot tajam kearah Alex yang cukup terkejut dengan kehadiran Reno disana.
Tidak jauh dari mereka, Bisma menyunggingkan senyuman licik melihat kehadiran Reno disana. Saat ini dia memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi otaknya terus berputar mencari cara untuk bisa melepaskan diri dari cengkeraman Alex
"Aku tidak merendahkan mamamu. Tapi dia yang sudah merendahkan dirinya sendiri!" Alex menunjuk wanita yang sedang tersedu didalam pelukan Reno.
"Ingatlah. Bagaimanapun juga, dia yang sudah merawatmu sejak kecil. Dia sudah menyayangimu seperti anaknya sendiri. Dia sudah membagi kasih sayangnya antara kita berdua. Jangan hanya melihat kesalahan yang telah diperbuatnya. Ingat juga semua kebaikan yang pernah dia berikan kepadamu."
__ADS_1
Alex tersenyum miring mendengar pembelaan Reno atas mamanya.
"Aku tidak mau berdebat denganmu, Reno. Kau katakan apa saja yang ingin kau katakan. Aku tidak akan terpengaruh sama sekali. Wanita iblis ini tetap harus merasakan akibat dari perbuatannya. Dia yang sudah membuat papaku menderita. Dia berkhianat didepan papaku sendiri. Dia juga yang telah dengan sengaja membuat papa menjadi manusia yang tidak berdaya. Dia! Wanita ini dan dan juga kekasihnya itu yang telah membuat papa lumpuh dan terbaring ditempat tidur selama bertahun-tahun!" Alex mendekati Bisma yang sedang dipegangi oleh dua orang anak buahnya. Dia melayangkan sebuah tinjuan keperut pria itu dengan sekuat tenaga. Membuat Bisma mengeluarkan erangan yang tertahan. Tubuhnya merunduk menahan sakit akibat sodokan tangan Alex.
Denis hanya memperhatikan semua yang terjadi didalam ruangan itu. Dia tidak ingin ikut campur dengan Alex yang sedang melampiaskan kemarahannya. Dia hanya berdiri dan berjaga-jaga bila sewaktu-waktu dirinya dibutuhkan.
Drama lain disudut sana Reno sedang berusaha menenangkan mamanya. Dia nampak marah kepada Alex. Tapi dia juga sadar mamanya memang sudah sangat keterlaluan. Apalagi mamanya sampai ingin melarikan diri bersama pria lain. Ingin sekali Reno memarahi mamanya, namun melihat kondisi wanita itu saat ini, dia tidak tega melakukannya.
"Kamu ingin menyalahkan mama, Reno? Lakukanlah..mama memang sangat bersalah. Mama pantas mendapatkan kebencian dari kalian.." Wanita itu terisak. Reno mengusap lembut bahu mamanya. Bagaimanapun juga, wanita itu adalah orang yang sudah melahirkan dia kedunia ini. Reno dapat merasakan perlakuan berbeda mamanya kepada dirinya dan Alex. Mamanya lebih mengutamakan dirinya dibandingkan dengan Alex. Beberapa kali juga dia melihat pembelaan mamanya didepan papanya saat dia melakukan kesalahan.
Tak dapat dipungkiri, rasa kasih sayang mamanya begitu besar kepadanya. Dia juga tidak dapat menyalahkan mamanya yang selingkuh dengan pria lain disaat papanya tidak bisa memberikan kepuasan lahir kepada mamanya. Reno dapat memahami itu.
Disudut lain, Alex kembali meluapkan amarahnya dengan menghujani Bisma dengan pukulan dan tinjuan. Bisma sudah dilepas oleh anak buah Alex. Namun dia tidak berdaya untuk melawan. Darah segar menetes dari sudut bibirnya dan juga dari hidungnya.
Tania menjerit ketika melihat keadaan kekasihnya yang sudah sangat mengkhawatirkan.
"Hentikan Alex! Tolong hentikan!" Tania meraung. Di sisa tenaganya dia berlari menghampiri Bisma yang sudah ambruk dilantai dengan wajah yang babak belur. Dirangkulnya tubuh pria itu melindunginya dari amukan Alex.
Melihat hal tersebut, Alex semakin kalap. Dia hampir saja melayangkan pukulannya kepada Bisma yang berada dalam pelukan Tania kalau saja tidak dicegah oleh Denis.
"Cukup, Lex. Dia hampir mati. Jangan kotori tangan lo dengan cara membunuh ******** itu." Denis menarik tangan Alex dan menahannya.
"Aku tidak akan melepaskan mereka berdua." Dengan kebencian yang luar biasa, Alex menunjuk kedua orang itu.
"Lepaskan mamaku, Alex. Dia hanya dihasut oleh pria ******** itu. Maafkanlah mama, Lex. Kumohon." Dengan berat hati Reno mengucapkan kata-kata itu. Sangat bertentangan dengan batinnya yang sangat ingin melawan Alex. Namun untuk saat ini, dia berada di posisi yang kurang menguntungkan jika harus berkonfrontasi dengan saudaranya itu. Walaupun dia sebenarnya membawa anak buahnya sendiri sebagai cara mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Namun sebisa mungkin dia harus bisa mengambil hati saudaranya itu.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mamamu, Reno. Dia harus mendapatkan hukuman karena sudah mengkhianati papa. Dia juga telah bekerja sama dengan lelaki iti untuk melenyapkanku!"
"Aku yakin mama tidak sadar melakukan itu. Semua itu pasti ulah Om Bisma yang sudah mencuci otak mama." Reno tetap bersikeras membela mamanya.
"Aku tidak peduli semua itu." Alex mendengus. Tanpa mengalihkan tatapannya dari Tania dan Bisma, dia memberi perintah pada anak buahnya untuk memasukkan kedua orang itu ke dalam ruang bawah tanah.
"Jangan sampai mereka lolos!!" Perintahnya dengan keras.
"Lex! Jangan lakukan itu sama mama!!" Reno tetap berusaha untuk menghalangi niat Alex. Namun pria itu tak bergeming dengan keputusannya.
"Kau ingin menemani mereka didalam sana? Oke. Masukkan dia juga ke dalam sana!!"
"Lex!! Aku ini adikmu! Apa kau lupa?" Reno berteriak keras ketika tubuhnya ditarik oleh dua orang pria berbadan kekar. Alex sendiri tak menghiraukan semua itu. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.
Denis hanya menggelengkan kepala melihat semua yang terjadi dihadapannya. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari Alex. Kemarahan sudah membutakan mata hatinya.
*****
__ADS_1