
Menjelang tengah malam mobil yang dikendarai Alex memasuki halaman sebuah rumah dengan penjagaan yang cukup ketat. Alex cukup salut melihat kesigapan anak buahnya, walaupun sudah tengah malam tapi mereka masih siaga ditempat yang sudah ditentukan. Keberadaan mereka tidak terlalu ketara karena Alex tidak mau mereka akan menjadi bahan perhatian dari warga sekitar.
Disekitar rumah nampak sepi. Ditambah lagi dengan letak rumah yang berjauhan dengan tetangga terdekat. Semakin membuat rumah itu nampak seakan tidak berpenghuni. Namun, begitu mobil Alex berhenti, seorang pria datang menghampirinya.
Dengan sigap pria itu membukakan pintu mobil untuk Alex dan berdiri menunggu hingga pria itu keluar dari dalam mobilnya.
Tanpa bicara apapun Alex langsung melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu. Di sofa ruang keluarga nampak Denis sedang duduk menyandar dengan matanya yang terpejam. Bibir tipisnya nampak sedikit terkuak.
Langkah Alex memelan sambil matanya terpaku melihat Denis yang sedikit berantakan. Ada desiran halus didadanya melihat Denis yang sedang tidur dengan wajah innocent-nya.
Alex meremas rambutnya dengan gusar. Memejamkan matanya sesaat sambil menetralkan perasaannya. Mencoba mengenyahkan pikiran gila yang semakin hari semakin terasa menyiksanya.
'Aku harus segera bertemu dengan psikiater.' Gumamnya pada dirinya sendiri.
"Denis!" Dia memanggil orang yang nampaknya sangat keletihan itu.
Tidak perlu mengulang panggilannya karena Denis langsung terbangun. Dia memijit kedua sudut matanya. Kemudian melihat kepada Alex dengan mata menyipit. Mungkin masih merasa silau oleh sinar lampu karena matanya baru terbuka.
"Lo baru datang?" Tanyanya dengan suara sedikit serak. Tanpa disadari oleh Denis, Alex meremas jemarinya sendiri.
"Dimana dia?" Tak menghiraukan pertanyaan Denis, Alex segera mencari orang yang sangat dia ingin temui saat ini. Bukan karena rindu, tapi karena dia ingin menuntaskan segala urusan yang mengganggunya sesegera mungkin.
Denis merogoh saku jaketnya mengeluarkan sebuah kunci. Dagunya menunjuk kamar yang berada tidak jauh dari sana sambil menyerahkan kunci itu ke tangan Alex.
Alex segera menuju kamar yang ditunjuk oleh Denis. Membuka pintu kamar dengan menggunakan kunci yang diberikan oleh Denis.
"Alex..!" Seorang pria yang berada di dalam kamar itu meluru mendekati Alex. Namun tatapan tajam mata Alex dan juga gerakan tangan Alex yang memberi isyarat kepadanya untuk menghentikan langkahnya, membuat langkah pria itu terhenti. Namun matanya menyiratkan penyesalan dan kesenduan.
"Katakan kepadaku, dimana kamu sembunyikan kedua orang itu?" Suara Alex rendah dan berat. Mengabaikan tatapan mengiba pria itu.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena sudah membuat mereka melarikan diri darimu. Tapi sekarang aku tidak tahu mereka ada dimana." Suaranya terdengar lirih. Namun tidak cukup membuat hati Alex tersentuh.
Alex menyeringai mendengar ucapan pria, yang sayangnya, ditakdirkan menjadi adiknya itu.
"Kamu pikir aku percaya dengan bualanmu itu? Dia mamamu, tentu saja kamu akan membelanya dan menyembunyikannya dariku." Alex menggeram. Kalau saja tidak ada hubungan darah dengan pria itu, ingin rasanya dia menghajar pria itu.
"Aku tidak bohong. Ketika mereka berhasil bebas, mereka lari kearah yang berbeda denganku. Alex, percayalah padaku. Kau boleh melakukan apa saja padaku asal kau mau memaafkan aku."
Alex tersenyum sinis. Sedikitpun tidak ada rasa percaya yang tersisa didalam hatinya. Reno hanya sedang mencari perhatiannya saja. Entah apa yang sedang dia rencanakan. Alex harus mengetahuinya dengan segera.
"Lalu kenapa kau kembali kesini? Kenapa tidak kabur bersama mereka? Apa kau kehabisan uang?" Tanya Alex sinis. Reno menelan ludah sesaat. Menekan amarah yang sebenarnya begitu mengganjal didalam dadanya. Hinaan yang sengaja dilontarkan Alex sangat menyakiti harga dirinya. Namun dia harus bersabar menghadapi Alex, dia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya.
"Aku ingin bertemu dengan papa. Bagaimanapun juga, papamu adalah papaku juga. Aku juga ingin meminta maaf padamu karena..aku sadar selama ini, aku bersikap kurang baik padamu." Reno menundukkan pandangannya. Kemudian menatap Alex dengan tatapan sayu mencari simpati pria itu.
"Apa menurutmu aku akan percaya semua yang kamu katakan?"
"Apa kamu lupa kalau selama kamu tidak ada dirumah akulah yang sudah merawat papa?" Reno menimpali pertanyaan yang Alex ajukan.
Reno memijit keningnya dengan putus asa. Tidak tahu lagi harus bicara apa terhadap Alex. Namun tekadnya telah bulat untuk terus berusaha mendapatkan kepercayaan Alex kembali.
"Aku..aku tidak tahu kelakuan mamaku selama ini. Aku pikir, mama merawat papa dengan baik. Percayalah, aku sangat marah begitu tahu kalau mama dan om Bisma memiliki hubungan khusus. Selama ini aku sangat mempercayai mereka. Sama seperti kamu percaya sama mereka. Aku sangat malu setelah tahu yang sebenarnya. Untuk itulah aku ingin bertemu dengan papa, aku ingin meminta maaf padanya. Tolong ijinkan aku bertemu dengan papa."
"Percuma saja kamu minta maaf. Saat ini papa tidak bisa apa-apa. Dia dalam keadaan kritis. Dan itu semua karena mama kamu dan kekasihnya itu!!" Alex berteriak diakhir kalimatnya. Dia menghantamkan tinjunya ke tembok hingga buku jarinya berdarah.
"Kalau sampai papa tidak selamat, maka begitu juga dengan mamamu dan kekasihnya itu!"
Alex keluar dari kamar itu setelah mengucapkan kalimat ancaman. Ditutupnya pintu dengan keras dan menguncinya dari luar. Kemudian dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Tak dihiraukannya suara Reno yang memanggil namanya dari balik pintu.
Denis yang tak melewatkan sedikitpun semua adegan didalam kamar, segera beranjak mengambil kotak P3K. Duduk disebelah Alex dan meraih tangan kanan Alex yang terluka.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia membersihkan luka dibuku jari Alex. Tak ada ringisan kesakitan ketika Denis mencuci luka itu dengan alkohol. Dia hanya terdiam dan menatap tangannya yang sedang diobati oleh Denis. Nafasnya yang masih terdengar memburu. Entah karena amarahnya yang belum tuntas atau ada hal lain yang membuatnya begitu.
Denis kembali menyimpan kotak P3K ke tempat asalnya setelah dia selesai mengobati luka ditangan Alex.
"Tidurlah sebentar. Lo pasti belum tidur sedikitpun." Ucap Denis pelan.
"Aku harus kembali ke rumah sakit." Alex mengepalkan jarinya yang baru saja diobati oleh Denis. Terasa kaku dan perih tentunya.
"Besok pagi saja. Sekarang sebaiknya lo istirahat."
Alex terdiam sesaat. Menimbang-nimbang ucapan Denis barusan. Sepertinya memang dia butuh istirahat. Ini hampir dini hari.
Menurut dengan ucapan Denis, akhirnya Alex merebahkan tubuhnya diatas sofa. Dia tidak mau ke kamar walaupun Denis sudah menyuruhnya untuk tidur di kamar.
Denis sendiri duduk di sofa yang lain. Memainkan handphone di tangannya sambil sesekali melirik Alex yang sudah terlelap dalam tidurnya.
*****
Rasanya baru sekejap Alex memejamkan mata ketika handphone di saku celananya terus menerus berbunyi. Entah deringan yang keberapa, dengan terpaksa Alex mengambil benda itu. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, dia menjawab panggilan itu.
"Apa??" Seperti tersengat aliran listrik, tubuh Alex langsung tegak dari posisinya. Dengan rambut yang berantakan dia beranjak dari dalam ruangan. Denis yang masih terjaga sangat terkejut melihat Alex yang kelihatan sangat panik. Bahkan setengah berlari pria itu sudah keluar dari rumah dan memasuki mobilnya.
"Lex!!" Hampir saja Alex menabrak Denis yang menyusulnya keluar dari dalam rumah. Untunglah Alex mengerem mobilnya tepat waktu. Wajahnya begitu terkejut ketika melihat Denis yang ada didepan mobilnya.
Tanpa mempedulikan Alex, Denis membuka pintu mobil disebelah Alex dan menyuruhnya untuk pindah ke kursi penumpang. Dia merasa sangat berbahaya kalau Alex menyetir dalam keadaan panik seperti itu. Tanpa bantahan, Alex segera pindah dan Denis duduk dibelakang kemudi.
"Rumah sakit?"
"Ya."
__ADS_1
Mobilpun melaju dalam kecepatan tinggi membelah jalanan yang cukup sepi. Tidak ada percakapan selama perjalanan. Keduanya sama-sama menatap jalanan yang mereka lalui. Hanya saja Alex nampak begitu gelisah, menunggu tiba di rumah sakit rasanya terlalu lama, walaupun Denis sudah mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata.
*****