
Kehidupan berjalan sebagaimana yang sudah seharusnya terjadi. Seberat apapun sebuah keadaan, jika belum dijalani, hanya akan menjadi sebuah beban pada pandangan mata. Namun setelah semuanya dimulai untuk dijalani, maka semuanya akan terasa lebih mudah dan mengalir seperti air yang mencari jalannya menuju lautan. Begitulah cara Tuhan dalam memberikan cobaan kepada hamba-Nya. Sedikit demi sedikit dan semakin meningkat levelnya setiap waktu, sesuai dengan kemampuan dari masing-masing insan.
Keadaan Tania masih belum ada perubahan yang berarti setelah dirawat di rumah Alex. Dia belum bisa diajak bicara secara serius. Hanya ocehan yang tidak berguna yang dia ucapkan setiap kali diajak bicara. Tatapan matanya nyalang dan tidak fokus.
Pun begitu saat dia sedang sendiri. Seringkali dia berbicara sendiri. Awalnya hanya gumaman pelan, namun lama kelamaan suaranya akan semakin lantang dan tidak menentu.
Apa yang dia ucapkan adalah tentang kesalahannya dimasa lalu. Nama Bisma seringkali terucap dari bibirnya. Kadang dia menyebut nama Reno, putranya. Setelah puas mengoceh, dia akan mengakhirinya dengan tangisan yang pilu seolah sangat menyesali semua yang pernah terjadi.
Denis yang seringkali memerhatikan wanita itu dari kejauhan, merasa trenyuh melihat keadaan Tania seperti itu. Dia semakin menyadari bahwa, dalang dari semua kejahatan yang dilakukan Tania adalah pria yang bernama Bisma, ayah biologisnya.
Ada perasaan kasihan yang menyelusup dalam hati Denis setiap kali melihat keadaan Tania. Namun kemudian rasa bencinya kepada pria yang bernama Bisma itu malah semakin bertambah setiap hari.
Satu hal yang sangat disukai oleh Denis saat memperhatikan Tania adalah, ketika Alex datang dan mengajak wanita itu berkomunikasi. Alex nampak begitu penuh perasaan dalam memperlakukan Tania. Tak jarang dia menyuapi Tania saat wanita itu menolak untuk makan kepada perawatnya.
Alex bersungguh-sungguh dalam merawat mantan mama tirinya itu. Dan dalam kenyataannya, Alex tidak pernah menganggap wanita itu sebagai mantan mamanya. Rasanya sangat tidak pantas jika sebutan itu ia sematkan kepada wanita yang pernah menjadi istri dari papanya. Bagi Alex, mama tetaplah mama. Walaupun dia pernah berbuat jahat terhadap dirinya dan juga terhadap papanya, namun Alex bertekad untuk bisa memaafkan wanita itu.
"Tuhan saja Maha Pemaaf. Bagaimana mungkin kita sebagai makhluknya tidak bisa saling memaafkan dengan sesama makhluk." Katanya saat Denis kembali mengingatkan tentang sepak terjang Tania beberapa waktu silam.
Jika sudah demikian jawabannya, Denis tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu, Alex juga menjaga perasaannya. Karena sesungguhnya Alex juga tahu, siapa penjahat yang sebenarnya.
Siang ini Denis sedang berada di rumah mamanya. Rania nampak sangat senang dengan kehadiran putrinya itu. Dia mengajak Denis untuk makan siang bersamanya. Hidangan istimewa telah dia persiapkan untuk menjamu putri kesayangannya.
"Gimana, Sayang. Apa kamu sudah isi?" Rania bertanya saat mereka sudah berada di meja makan. Andres juga hadir karena dia memang sudah biasa makan siang di rumah, kecuali jika ada hal yang memang tidak bisa dia tinggalkan di kantornya. Sedangkan Davin, baru beberapa hari yang lalu dia kembali ke Singapura untuk melanjutkan pendidikannya.
"Isi apa?" Denis mengerutkan keningnya, tidak paham dengan pertanyaan mamanya. Dia menyuapkan nasi ke mulutnya sambil menunggu jawaban dari mamanya.
"Isi debay dong sayang. Masa isi batu sih." Rania terkikik geli merasa lucu dengan ucapannya sendiri. Sedangkan Denis semakin bingung mendengar ucapan mamanya seperti itu.
"Debay itu apa?"
Ckck!!
Andres berdecak. Ia mengulum senyum sambil menikmati hidangan yang ada. Walaupun dia tidak ikut bicara, namun dia mengikuti percakapan antara istrinya dan Denis sejak tadi.
"Ya, ampun Sayang. Debay pun enggak tahu." Rania mengeringkan matanya dengan senyuman tertahan di bibirnya.
"Apa?"
Sepertinya Denis benar-benar tidak tahu.
__ADS_1
"Dede bayi, Icha sayang. Wanita yang sudah menikah, sangat lumrah jika menanti kehamilan setelah menikah." Rania tersenyum.
"Apa??"
Kedua mata Denis membulat.
"Kenapa kamu kaget begitu? Setiap wanita menginginkan dirinya hamil suatu saat nanti. Begitupun denganmu."
"Tapi itu.."
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu dan Alex belum ..." Rania melanjutkan ucapannya dengan menggerakkan jari tangannya mengisyaratkan sesuatu yang dapat dimengerti oleh Denis. Wajah Denis memerah. Merasa malu dengan ucapan mamanya yang sedikit vulgar menurutnya sedangkan disana ada Andres yang ikut menyimak pembicaraannya dengan sang mama.
"Anggap saja saya enggak ada." Andres seolah bisa membaca pikiran Denis. Dia mengibaskan tangannya sambil tetap fokus dengan makanannya.
"Tapi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika kamu hamil nanti." Andres tertawa kecil. Denis sampai terbatuk begitu mendengar ucapan Andres.
"Pastinya sangat lucu dan menggemaskan. Mama jadi enggak sabar menantikan saat-saat kamu hamil nanti, Sayang." Rania menimpali sambil tertawa, tak dihiraukannya wajah Denis yang merah padam.
Telepon Rania yang tergeletak berdampingan dengan piring nasinya tiba-tiba berbunyi nyaring.
Rania segera meraih ponselnya dan saat melihat siapa yang meneleponnya, keningnya seketika bertaut. Dia bangkit dari tempat duduknya dan memohon ijin untuk menjawab telepon itu.
"Siapa?" tanya Andres.
"Ibu," jawab Rania. "Dia mengundang kita makan malam dirumahnya malam ini. Kamu juga harus datang. Bersama suamimu." Ucapannya kemudian ditujukan kepada Denis.
"Dalam rangka apa?" tanya Denis.
"Katanya pengen kumpul aja. Sejak pernikahan kamu waktu itu, kita sekeluarga belum bertemu satu sama lain. Semua sibuk dengan urusan masing-masing."
"Tapi aku masih malas bertemu dengan om Damian."
"Mama tahu. Mungkin nenek sengaja bikin acara ini biar kamu dan om kamu bisa berbaikan."
Denis terdiam sesaat setelah mendengar ucapan mamanya.
"Tapi, acaranya mendadak begini. Aku enggak tahu, apa Alex bisa atau enggak datang nanti malam."
"Kamu telepon saja, kasih tahu dari sekarang kalau nanti malam ada acara makan malam dirumah nenek."
__ADS_1
"Aku akan coba. Mudah-mudahan dia tidak ada acara yang lain," sahut Denis.
"Sayang sekali Davin sudah kembali ke Singapura. Kalau enggak, kita bisa kumpul rame-rame, kan," ujar Rania kemudian.
"Gimana keadaan mama tirinya Alex? Bukankah dia tinggal dirumah kalian sekarang ini?" tanya Andres setelah selesai menghabiskan makanannya.
"Belum ada perubahan," jawab Denis.
"Apa dia betul-betul mengalami gangguan jiwa atau hanya pura-pura saja?"
"Sepertinya dia memang benar-benar gila. Hasil dari pemeriksaan dokter ahli jiwa juga begitu. Makanya, proses hukumnya ditangguhkan."
"Kasihan sekali, akibat dari keserakahan akan harta, jadinya seperti itu," ujar Rania dengan suara lirih. "Padahal apa kurangnya dia itu, Arga Dinata sangat menyayanginya dan melimpahi dia dengan harta. Tapi begitulah, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, kejahatan yang dia lakukan memang sepantasnya mendapatkan balasan yang setimpal."
"Dan orang yang paling bertanggung jawab untuk hal itu adalah pria selingkuhannya itu," kata Denis dengan kesal.
"Ya. Dia memang harus bertanggung-jawab untuk semuanya. Dialah biang keladi dari semua itu." Rania menimpali. Tatapannya sendu ketika menatap Denis.
"Maafkan mama. Kamu harus menerima kenyataan bahwa pria itu adalah papamu."
"Mama tidak perlu meminta maaf. Kita tidak bisa merubah kenyataan. Walaupun sangat berat untuk menerima kenyataan itu, namun semuanya sudah terjadi." Denis menghela napas pelan. "Aku ingin seperti Alex, dia bisa menerima kesalahan mamanya dan mau memaafkannya, walaupun kesalahannya sangat fatal. Dia sudah berbesar hati untuk merawat mama tirinya itu dan menerima dia seutuhnya."
"Apa kamu juga sudah memaafkan papamu?"
"Entahlah. Aku harus mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Alex selalu mendorongku untuk menemui pria itu dan memaafkannya. Tapi, aku belum siap untuk melakukan itu."
"Mama yakin, suatu hari nanti, kamu akan bisa memaafkan papamu. Seburuk apapun dia, dia tetaplah papamu. Tak akan ada yang bisa merubah hal itu."
"Ya. Hanya saja, aku juga harus menerima kenyataan pahit lainnya. Kalau Reno adalah putra dari pria itu."
"Alex pasti sangat terluka saat mengetahui hal itu pertama kali."
"Ya. Sama seperti aku. Aku juga sangat terkejut. Sampai-sampai, aku berniat untuk membatalkan pernikahanku dengan Alex waktu itu, 'kan?"
Rania menghela napas dalam-dalam. Dapat dirasakannya beban yang mendera batin putrinya selama ini. Bertubi-tubi dan pastinya sangat menyakiti perasaannya.
"Mama harap, setelah ini kamu akan mendapatkan kebahagiaan kamu selamanya. Mama yakin, Alex merupakan orang yang paling tepat untuk kamu."
Denis hanya bisa tersenyum tipis.
__ADS_1
******