Rahasia Denis

Rahasia Denis
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Hingga malam Alex masih terjaga disamping tempat pembaringan Arga Dinata. Matanya tak mau terpejam sedikitpun. Sesekali dia memeriksa ponselnya untuk mengetahui perkembangan pencarian tiga orang yang sudah melarikan diri dari sekapannya.


Denis sedang bersama anak buah Alex. Menyisir beberapa tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian Bisma, Tania dan Reno.


Pukul sepuluh malam Alex merasa perutnya meminta hak untuk diisi. Alex menatap papanya yang masih berada dalam posisi yang sama. Dia merasa sedikit bimbang kalau harus meninggalkan papanya seorang diri di dalam kamar itu.


Diteleponnya seorang anak buahnya untuk masuk menggantikan dirinya. Tidak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam ruangan.


"Aku mau makan di kantin sebentar. Tolong kamu jaga papaku, jangan sampai kamu meninggalkannya sedikitpun." Kata Alex kepada pria itu.


"Apa perlu saya belikan makanan dan membawanya kemari?" Anak buahnya menawarkan bantuan. Alex menggeleng pelan. Sebenarnya dia ingin menggerakkan kakinya yang terasa kaku karena terus duduk menjaga papanya. Dia juga butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya yang terasa kusut karena berbagai masalah yang menimpanya.


"Aku mau makan dikantin rumah sakit. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku." Ujarnya seraya beranjak meninggalkan tempat itu.


Anak buahnya mengangguk patuh dan duduk di tempat Alex duduk sebelumnya. Diluar ruangan dua orang pria yang sama bertugas menjaga ruangan Arga Dinata nampak berdiri di samping pintu. Mereka mengangguk hormat ketika Alex keluar dari ruangan.


Kantin yang berada di lantai dasar rumah sakit menjadi tujuan Alex. Setelah memesan makanan, Alex duduk disebuah meja yang berada di sudut ruangan. Hanya ada beberapa pengunjung kantin saat itu. Kebanyakan orang-orang yang memakai seragam putih. Mungkin perawat dan juga dokter yang mendapat giliran jaga malam.


Alex mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Denis.


"Kamu dimana?" Tanyanya begitu tersambung.


"Gue lagi dirumah yang kemaren. Lo tahu? Reno ada disini sekarang."


"Apa? Reno?"


"Dia meminta untuk bertemu sama lo. Tapi kita tahan dulu dia disini."


"Lalu Bisma dan Tania dimana?"


"Reno bilang tidak tahu. Dia bilang mereka terpisah. Apa lo percaya?"


Alex terdiam sesaat. Rahangnya mengeras tanpa diketahui oleh Denis.


"Kita ikuti saja permainannya. Kamu ngerti kan apa yang aku maksud?" Geram Alex dengan suara rendah.


"Oke."


Alex masih menatap ponselnya setelah Denis memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


Seorang pelayan datang membawa makanan dan minuman yang dipesan oleh Alex. Percayalah, nafsu makannya telah hilang ketika mendengar nama Reno tadi. Ingin rasanya dia langsung pergi menemui adiknya itu. Namun dia mengurungkan niatnya untuk sementara waktu. Dia percaya Denis bisa menangani adiknya itu.


Dengan agak malas dia mulai menyantap makanannya.


Seorang wanita yang baru masuk dengan mengenakan jas putih sontak menjadi perhatiannya. Alex tertegun sesaat. Tanpa sengaja wanita itupun menatap Alex yang posisinya menghadap kearah pintu masuk. Matanya menyipit dan langkahnya langsung menuju tempat Alex berada.


"Apa kita saling kenal?" Wanita itu menatap ragu.


"Sepertinya begitu." Alex bangkit dari tempat duduknya. Menatap wanita dihadapannya untuk memastikan bahwa dia tidak salah mengenali orang. Sebenarnya dia tidak yakin. Namun mengingat wanita itu menegur dia terlebih dahulu, sekarang Alex merasa bahwa tidak mungkin dia salah orang.


"Mbak Fani?"


"Alex?" Mata wanita itu terbuka lebar. Nampak begitu syok melihat orang yang kini berdiri dihadapannya.


"Ternyata mbak masih mengenali saya." Alex mengulurkan tangannya dan disambut gembira oleh wanita itu. Kekagetan di wajahnya mulai mencair.


"Ya ampun. Ini benar kamu, Alex? Jadi, kamu selamat dari para penjahat itu? Ya, Tuhan. Syukurlah. Ini sangat sulit dipercaya. Kamu masih hidup?" Mbak Fani mengguncang tangan Alex yang masih dijabatnya. Setelah terlepas, Alex mempersilakan wanita itu untuk duduk dihadapannya.


"Ya. Saya selamat waktu itu. Sebenarnya sih, hampir tidak bisa selamat. Hanya keajaiban dari Tuhan yang membuat saya masih hidup hingga hari ini." Mbak Fani masih menatap Alex tidak percaya.


Alex memanggil seorang pelayan kantin dan meminta mbak Fani untuk memesan makanan.


"Mbak. Saya sudah kembali ke rumah saya sendiri. Denis bersama saya. Dulu kami sempat menelepon rumah mbak, juga ke bengkel. Tapi tidak pernah tersambung." Alex menjawab satu persatu pertanyaan dari mbak Fani.


"Kapan kalian menelepon ke rumah?"


"Beberapa bulan setelah kejadian. Mungkin dua bulan."


"Apa? Dua bulan setelah kejadian?"


"Kira-kira segitu.."


Mbak Fani menghela nafas.


"Kami sudah pindah kesini saat itu.." ujarnya penuh sesal.


"Kenapa pindah? Apa bang Theo juga ikut pindah?"


"Ya. Kami pindah karena..kami terus mendapat teror dari orang yang tidak dikenal. Kami yakin itu orang yang sama yang sudah mencelakakan kamu."

__ADS_1


"Diteror?"


"Ya. Mereka mengancam kami kalau sampai hal itu diketahui polisi atau siapapun, mereka akan mencelakakan kami sekeluarga. Sebab itu, bang Theo memutuskan untuk pindah kesini. Sambungan telepon kami putus. Nomor handphone kami ganti. Mbak trauma setelah kejadian itu. Takut kalau hal itu terjadi lagi. Sisil juga selalu ketakutan. Kami sampai menemui psikiater untuk membantu Sisil pulih." Alex tertegun mendengar penuturan wanita itu. Tidak disangka masalah yang ditimbulkan olehnya akan berdampak besar bagi keluarga orang yang telah menolongnya itu.


"Saya benar-benar minta maaf, mbak. Gara-gara menolong saya, keselamatan mbak sekeluarga jadi terancam."


Mbak Fani menghela nafas. Matanya redup menatap Alex.


"Lalu, apa yang terjadi dengan kalian saat itu? Kenapa dua bulan baru menelepon?"


Alex menceritakan secara singkat apa yang terjadi padanya dan juga Denis. Terutama apa yang terjadi setelah perkelahian yang tidak seimbang karena ternyata orang yang menyerang mereka memiliki senjata api.


Mbak Fani menahan pekikannya ketika Alex menceritakan bagaimana dia ditembak dari jarak dekat oleh orang yang memburunya. Ketegangan diwajah mbak Fani tidak hilang sehingga Alex mengakhiri ceritanya.


"Kamu ditembak dan jatuh kedalam jurang?" Mata wanita itu terbuka lebar menatap Alex.


"Begitulah mbak. Saya dan Denis tidak mungkin selamat kalau saja tidak ada Tuhan yang menyelamatkan kami. Itu benar-benar satu keajaiban. Saya sendiri tidak menyangka akan tetap hidup sampai hari ini."


"Ya, Tuhan!" Mbak Fani menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Memandang Alex dengan takjub.


"Mbak tinggal dimana? Kalau ada waktu saya pasti akan menemui mbak dan bang Theo. Denis juga pasti sangat ingin bertemu dengan kalian." Alex mengalihkan topik pembicaraan.


"Tentu kalian harus datang ke rumah mbak. Rumah kami selalu terbuka untuk kalian. Tapi..Apa..urusan kalian sudah selesai dengan para penjahat itu? Siapa orang-orang itu?" Mbak Fani menjadi ragu mengingat betapa kejamnya para penjahat yang memburu Alex. Dia sudah merasakan bagaimana mereka tidak main-main dalam melakukan aksinya.


"Ya. Saya sedang menyelesaikan masalah ini. Kalau masalah ini sudah selesai, saya dan Denis pasti akan menemui mbak dan bang Theo." Alex menghembuskan napasnya dengan berat.


" Mbak doakan semoga semuanya baik-baik saja." Ujar mbak Fani dengan tulus.


"Terima kasih."


Alex menatap makanannya yang tadi tertunda karena malah asik bercerita dengan mbak Fani. Begitu juga dengan wanita itu.


Mereka kemudian sama-sama menyantap makanan mereka sambil kembali berbincang ringan. Mbak Fani menceritakan bagaimana dia bisa bekerja di rumah sakit itu. Dan juga suaminya yang membuka carwash dan bengkel di sebuah kawasan yang cukup terkenal. Alex tahu daerah yang disebutkan oleh mbak Fani. Dia berjanji untuk datang ke tempat itu bersama Denis jika masalahnya sudah selesai.


Alex juga menceritakan tentang papanya yang dirawat dirumah sakit itu. Mbak Fani nampak begitu serius mendengarkan semua yang diceritakan oleh Alex.


Diakhir pertemuan mereka, Alex meminta nomor telepon Mbak Fani untuk dia hubungi sewaktu-waktu. Dengan senang hati mbak Fani memberikan nomor teleponnya dan dia juga menyimpan nomor telepon pria itu.


Kemudian mereka berpisah karena mbak Fani harus kembali ke tempat dia melaksanakan tugasnya. Sedangkan Alex kembali ke kamar papanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2