Rahasia Denis

Rahasia Denis
Duapuluhtiga


__ADS_3

Bus yang ditumpangi Denis dan Alex bergerak stabil dijalan utama yang menghubungkan antar kota antar provinsi. Denis duduk ditepi jendela kaca, menatap pemandangan yang dilalui sepanjang perjalanan. Alex duduk disebelahnya memejamkan matanya, menikmati perjalanan yang mungkin untuk pertama kalinya dia merasakan naik bus.


Kursi bus penuh terisi dari bagian depan hingga kebagian belakang. Kursi yang ditempati Alex dan Denis berada di baris ketiga dari depan.


Denis melirik kearah Alex. Dia tidak tahu apakah pria itu benar-benar tertidur atau hanya sekedar memejamkan matanya saja. Sejak mereka naik keatas bus ini tidak ada yang dikatakan oleh pria itu. Hanya duduk diam seperti itu.


Dari sebelum matahari terbit mereka telah meninggalkan pondok Darman. Diantar oleh pria itu hingga ke pinggir jalan yang dilalui bus dengan berjalan kaki. Mereka tidak perlu ke terminal karena bus yang mereka maksud memang melalui jalan itu.


Sekarang hanya perlu menunggu selama kurang lebih lima jam untuk sampai ditempat tujuan jika perjalanan lancar.


Denis melipat tangan didadanya. Memejamkan matanya setelah bosan karena terlalu lama duduk diam didalam bus. Kernet bus mencolek bahunya ketika dia baru saja akan terlelap.


Denis melirik ke arah Alex yang tidak terbangun meski telah dicolek oleh kernet bus itu. Itu artinya dia betul-betul tidur.


Denis menyebutkan kota tujuannya dan kernet bus itu menyebutkan nonimal yang harus dibayar oleh Denis. Untunglah Alex menyerahkan sebagian uangnya kepada Denis sehingga Denis bisa langsung membayar ongkos mereka berdua kepada kernet bus itu tanpa membangunkan Alex.


"Ke Solo ya mas?" Seorang gadis yang duduk dikursi seberang Alex bertanya sambil tersenyum manis kepada Denis. Rupanya dia mendengar ketika Denis menyebutkan kota tujuannya pada kernet bus tadi. Sadar pertanyaan itu ditujukan kepadanya, Denis mengangguk sambil menarik sedikit sudut bibirnya.


Dia kembali merebahkan punggungnya disandaran kursi. Menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.


Gerakan kecil dari pria disampingnya membuat Denis memicingkan sedikit matanya. Alex nampak meregangkan tangannya.


"Masih jauh ya?" Tanyanya sambil memperhatikan tempat yang sedang dilalui bus.


"Lumayan."


"Kamu pernah kesana naik bus?" Alex melanjutkan interaksinya dengan Denis.


"Gak pernah."


"Terus kita nanti turun dimana nih?"


"Terminal."


Alex terdiam. Tatapannya melewati wajah Denis melihat keluar kaca jendela bus. Sesekali ia memperhatikan wajah Denis dari samping, nampak sangat tidak peduli dengan keberadaannya.


"Kamu yakin tahu alamat yang kita tuju nih?"


"Tahu."


"Dari terminal masih jauh ya?"


"Heem."


"Nanti naik apa dari sana?"


"........"


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Denis memejamkan matanya dengan kepala tersandar. Kedua tangan melipat didadanya.


"Ongkosnya sudah bayar belum?"


"Dah."


Alex kembali diam.


"Mas ini juga mau ke Solo?" tanya gadis disamping Alex, membuat Alex mengalihkan perhatiannya dari Denis kepada gadis itu.


"Iya." jawab Alex singkat.


"Sama dong. Saya juga mau ke Solo, mas." Gadis itu tersenyum.


"Solo nya daerah mana Mas?" Tanya gadis itu lagi. Alex meringis, diliriknya Denis yang tak bergeming sama sekali.


"Saya kurang ngerti. Ni teman saya yang tahu."


"Mas baru pertama ya pergi ke Solo?"


"Iya."


"Saya orang sana asli mas."


"Oh."


Giliran gadis itu yang mati gaya. Dia mengalihkan tatapannya ke depan. Awalnya dia ingin mengajak ngobrol salah satu dari cowok ganteng disebelahnya, tapi apa daya ternyata keduanya bukan cowok sembarangan. Gadis itu terdiam dan menatap lurus kedepan.

__ADS_1


Ditengah perjalanan, bus berhenti di sebuah rumah makan untuk istirahat sebentar. Hampir semua penumpang turun. Begitu juga dengan Denis dan Alex. Keduanya turun dari bus.


"Kita makan disana." Alex menunjuk kedai yang menjual nasi dan lauknya. Denis mengangguk dan berjalan mengikuti Alex. Dia memang sudah merasa sangat lapar. Tadi pagi mereka tidak sempat sarapan sebelum berangkat. Ditempat menunggu bus tidak ada yang menjual makanan. Bus pun tidak berhenti semenjak mereka naik tadi.


Denis dan Alex duduk disebuah pojokan setelah mendapatkan makanan mereka. Dua gelas teh hangat menemani makan siang mereka.


"Boleh saya duduk disini?" Gadis yang duduk diseberang tempat duduk Alex sudah berdiri disamping meja yang ditempati Denis dan Alex. Ditangannya ada sepiring nasi dan segelas minuman dingin. Hanya cukup sebuah anggukan dari Alex gadis itu langsung duduk tanpa rasa sungkan.


Denis tidak mempedulikan gadis itu dan lebih fokus melahap nasi dihadapannya. Dia makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Demikian juga dengan Alex.


Gadis itu menyuapkan nasinya sambil sesekali melirik dua cowok tampan dihadapannya. Ingin sekali dia menyapa kedua orang itu dan mengajaknya ngobrol, tapi sepertinya kedua orang itu sama sekali tidak tertarik untuk bicara dengannya.


Gadis itu harus menelan kekecewaan karena tidak bisa lebih lama memandang keindahan ciptaan Tuhan didepan matanya. Dua cowok didepannya itu lebih dulu menyelesaikan santap siangnya dan beranjak pergi begitu saja.


"Aku mau ke toilet sebentar." Kata Alex ketika keduanya keluar dari kedai makan. Denis mengangguk. Matanya beredar dan melihat sebuah mini market diseberang jalan. Denis segera pergi kesana setelah memastikan Alex masuk ke dalam toilet.


Tidak lama Alex berada didalam toilet. Setelah menyelesaikan hajatnya dan membasuh wajahnya agar lebih segar, dia kembali ketempat dia meninggalkan Denis tadi. Tapi orang yang dimaksud tidak ada disana. Alex sedikit panik tidak melihat keberadaan Denis disana. Dia segera naik kedalam bus yang ditumpanginya, berpikir mungkin Denis telah naik lebih dulu. Namun ternyata kursi tempat mereka duduk masih kosong.


Satu persatu penumpang yang tadi turun sekarang mulai mengisi kembali tempat duduk masing-masing. Namun Denis belum juga kelihatan batang hidungnya. Alex kembali turun dan berpapasan dengan gadis yang duduk diseberangnya.


Gadis itu melemparkan senyumannya pada Alex, namun Alex tidak membalas sedikitpun. Pikirannya sedang fokus dengan Denis. Dimana dia?


"Turun lagi mas?" Sopir bus yang sudah menghidupkan mesin bus bertanya pada Alex.


"Teman saya masih belum kembali, Pak."


"Ya sudah kita tunggu kok."


Alex hampir menginjakan kakinya ke tanah ketika Denis muncul dihadapannya. Alex menghembuskan napas lega. Senyumannya tak dapat disembunyikan.


"Ini teman saya sudah ada, Pak." Lapor Alex pada supir bus. Sang supir mengangguk sambil memperhatikan para penumpangnya melalui kaca atas.


"Darimana? Bikin orang khawatir aja." Tanyanya sambil berbalik kembali ke tempat duduknya. Memberi Denis jalan agar duduk terlebih dahulu disisi jendela, kemudian dia duduk ditempatnya semula.


"Dari sana." Denis menunjuk mini market diseberang jalan dan memperlihatkan apa yang dibawanya. Sebuah kantong kresek berisi camilan dan minuman untuk mereka berdua.


Kernet bus memastikan semua penumpangnya telah ada ditempat masing-masing sebelum bus kembali melanjutkan perjalanan. Setelah yakin semuanya ada, dia memberi kode kepada sopir bus untuk melajukan kendaraannya.


Bus bergerak perlahan meninggalkan tempat istirahat itu. Lajunya semakin bertambah ketika sudah berada di jalan raya. Alex dan Denis kembali menikmati perjalanan mereka dengan nyaman.


Denis duduk agak gelisah. Dia sudah merasa bosan karena lamanya duduk dalam posisi yang sama. Demikian juga dengan Alex. Tubuhnya sudah terasa pegal dan kaku.


"Berapa jam lagi?" Tanya Alex sambil memperhatikan kearah luar.


"Bentar lagi." Denis menolehkan wajahnya kesamping, menghindari wajah Alex yang begitu dekat.


"Yakin?"


"Iya. Tanya aja sama cewek tu. Dari tadi dia lihatin lo terus tuh." Ujar Denis ketus. Alex nyengir mendengar jawaban seperti itu. Kok rasanya seperti sedang dicemburui pacar ya? Alex memijit keningnya agak keras. Mengenyahkan pikiran mesum yang melintas begitu saja. 'Aku pasti sudah gila!!' batinnya menjerit.


Setelah itu tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Alex. Dia memilih untuk memejamkan matanya mencoba untuk tidur dan mengosongkan pikirannya yang sudah kotor. Namun ternyata sangat sulit untuk tidur disaat pikiran sedang kalut. Hanya matanya saja yang terpejam tapi telinganya masih bisa mendengar dengan jelas.


Hari sudah beranjak senja ketika bus memasuki pelataran terminal kota Solo. Satu persatu penumpang turun dengan tertib ketika bus berhenti ditempatnya. Alex dan Denis beriringan keluar dari badan bus dan mencari tempat yang nyaman untuk istirahat sejenak.


Mereka duduk dibangku terminal sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang.


"Mau pergi kemana mas?" seorang pria bertato datang menghampiri. Matanya menelisik dua orang yang dari tampangnya dia sudah dapat menduga kalau dua orang ini pastinya pendatang.


Alex dan Denis saling menatap sebelum memutuskan untuk menjawab.


"Kalau perlu tumpangan saya bisa sediakan lho mas. Tenang saja, bayarnya bisa nego." Pria itu seperti sudah bisa menebak pikiran orang didepannya.


Akhirnya Denis menyebutkan alamat yang akan didatanginya.


"Wah itu masih jauh dari sini, Mas. Tapi saya bisa antar mas sampai sana."


Denis menoleh kearah Alex yang dibalas dengan anggukan oleh Alex. Keduanya kemudian mengikuti pria itu menuju tempat parkir yang ada tidak jauh dari sana. Ternyata seorang teman pria itu sudah menunggu disebuah mobil mini bus warna hitam.


Setelah negosiasi harga mencapai kesepakatan, Denis dan Alex masuk kedalam mobil itu di kursi belakang. Dibagian depan pria yang menawari mobil duduk disebelah pengemudi dan ternyata temannyalah yang mengemudikan mobil itu.


Mobil yang ditumpangi Denis dan Alex meninggalkan terminal dan mulai bergerak dijalanan kota Solo yang padat diwaktu sore. Tidak ada percakapan yang berarti selama didalam mobil. Hanya beberapa peryanyaan yang tidak penting yang dijawab seadanya oleh Denis.


Mobil semakin melaju keluar kota dan menyusuri jalan perkampungan ketika hari semakin gelap.


"Ini betul nih jalannya? Sepertinya ini masuk hutan ya?" Alex memperhatikan jalur yang dilalui dengan mata tajam. Begitu juga dengan Denis. Wajahnya mengeras dengan tangan mulai mengepal.

__ADS_1


Dua orang pria dikursi depan saling melirik.


"Ini motong jalan mas. Biar cepet sampai."


Pria yang memegang kemudi yang menjawab. Alex terdiam masih sambil memperhatikan sekitar tempat yang dilalui.


Mobil berhenti tiba-tiba disebuah tempat yang nampaknya merupakan perbukitan. Dari tempat itu dapat dilihat hamparan pemukiman penduduk dengan lampunya yang gemerlap dibawah sana.


Pria bertatoo turun lebih dulu. Menghampiri pintu tempat Alex berada dan membukanya.


"Ada apa nih? Kenapa berhenti disini?" Tanya Alex. Pria pengemudi ikut turun dan menghampiri pintu sebelah lagi.


"Turun! Gak usah banyak tanya." Suara pria itu berubah sangar. Ditangannya tiba-tiba sudah ada sebilah pisau yang dia hunuskan kearah Alex.


Alex berusaha untuk tenang. Diliriknya Denis yang sudah turun dan dikawal oleh pria pengemudi.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" Tanya Alex. Pikirannya langsung teringat peristiwa yang sudah dialaminya. Kenapa hal ini terjadi lagi sekarang? Apakah ini orang-orang yang sama dengan orang-orang yang mencelakakannya tempo hari? Bagaimana mereka bisa tahu keberadaannya dikota ini?


"Keluarkan uang kalian kalau masih sayang sama nyawa." Pria itu menempelkan ujung pisau diperut Alex.


"Kami tidak punya uang." Entah mengapa Alex merasa sedikit lega. Setidaknya orang-orang ini bukan orang yang sengaja sedang memburunya. Ditatapnya Denis diseberang badan mobil yang juga sedang ditodong pisau. Denis membalas tatapan Alex dengan tatapan yang mantap tanpa rasa gentar sedikitpun. Sebuah anggukan kecil yang tidak disadari oleh dua orang penodong itu menjadi kode untuk Alex melakukan gerakan yang membuat penodongnya tersentak kaget.


Hampir bersamaan Denis dan Alex memukulkan tangan mereka ketangan penodong yang memegang pisau hingga pisau itu terhempas jatuh ketanah. Dua orang pria itu tidak menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba. Namun mereka segera menyadari kalau dua orang korbannya bukan orang biasa.


Dengan sigap mereka menyerang Denis dan Alex dan berusaha untuk menjatuhkannya. Namun ternyata ilmu bela diri Denis dan Alex berada jauh diatas mereka. Dalam sekejap, keduanya tersungkur ketanah dan berada dalam kuncian Denis dan Alex.


"Ampun mas. Kami minta maaf udah nyerang mas berdua." pria bertato memelas dibawah tekanan kaki Alex. Kesangarannya hilang begitu saja. Satu tangannya dipelintir kearah belakang dengan keras membuatnya meringis kesakitan.


Alex menatap Denis meminta pendapatnya. Denis mengedikan kepalanya memberi tanda untuk melepaskan dua orang itu.


"Kita bakal lepasin kalian. Tapi ada syaratnya." Alex memutar tangan pria bertato sehingga pria itu mengaduh keras.


"Iya mas. Kami akan lakuin apa saja yang mas berdua mau. Asal jangan nyerahin kita ke polisi mas. Tolong lepasin kita mas." pria pengemudi yang berada dalam kendali Denis ikut bersuara.


"Antar kami ke alamat yang kami tuju!!"


*****


Denis hanya tahu nama desa tempat tinggal Pak Mijan dan Bu Darmini. Dua orang yang telah mengabdi dikeluarganya hingga dia beranjak remaja. Sejak dia dilahirkan Bu Darmini lah yang menjadi pengasuhnya. Perempuan yang melahirkannya justru hampir tidak pernah menyentuhnya.


Saat itu Pak Mijan bekerja sebagai penjaga rumah keluarga papanya Denis merangkap tukang kebun, sementara Bu Darmini bertugas merawat bayi mungil tidak berdosa yang diabaikan orang tuanya.


Denis pernah beberapa kali ikut pak Mijan dan bu Darmini pulang ke kampung halamannya. Biasanya pak Mijan akan mengajak Denis ke kampungnya jika sedang libur sekolah. Denis akan nampak bahagia jika ikut pak Mijan pulang. Dia akan bermain bersama anak-anak kampung yang dengan senang hati menerima Denis. Kenangan itu masih melekat kuat di ingatan Denis walau itu sudah lama berlalu.


Lebih dari sepuluh tahun Denis tidak menginjakkan kakinya didesa ini. Sudah banyak perubahan disana sini membuat Denis agak keliru.


Hanya berbekalkan ingatan masa kecilnya, Denis mengarahkan pengemudi mobil, yang kemudian diketahui bernama Slamet, untuk menyusuri desa itu. Setelah bertanya kepada seseorang yang mereka temui dijalan, akhirnya mobil berhenti didepan sebuah rumah sederhana namun cukup besar untuk ukuran rumah didesa.


Denis tersenyum senang melihat rumah yang masih bisa dikenalinya walaupun nampaknya sudah mengalami banyak perombakan.


"Betul ini rumahnya?" Alex bertanya untuk meyakinkan.


"Iya bener." Denis turun dari mobil diikuti oleh Alex. Dua orang pria yang mengantar mereka hanya diam didalam mobil menunggu perintah dari Alex.


"Tunggu dulu disini. Awas kalau kalian kabur." Alex menatap tajam dua orang itu yang dibalas dengan anggukan patuh dari mereka.


Denis mengetuk pintu depan rumah itu. Dia berharap penghuni rumah belum tidur dijam seperti ini. Suasana yang sunyi membuat keadaan seperti sudah larut malam. Kalau saja tidak ada insiden ditengah hutan, pasti mereka bisa sampai lebih awal.


Nampak bayangan seseorang di dalam rumah sedang menuju ke arah pintu. Tidak lama kemudian suara kunci diputar dari arah dalam diikuti terkuaknya pintu rumah itu. Seorang pria berumur awal enampuluhan berdiri tercegat ditengah pintu. Matanya menatap sesaat dua orang dihadapannya.


"Pak Mijan." Denis menyapa pria itu membuat mata tua itu fokus kewajah Denis.


"Kamu?"


.


.


.


.


.


******

__ADS_1


__ADS_2