
Alex meremas rambutnya dengan gusar. Matanya terpejam dan bayangan Denis berkelebat memenuhi pikirannya. Dia benar-benar frustasi. Sejak kejadian malam itu, saat dia mabuk, dia seakan sudah dirasuki sesuatu yang membuat dia benci pada dirinya sendiri.
Apa yang sudah dia lakukan malam itu, dia dapat mengingatnya dengan baik. Ya, dia sadar dengan apa yang dia lakukan. Hanya saja dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat itu. Dia tak dapat menahan hasratnya yang begitu membuncah ketika menyentuh Denis. Dia dapat merasakan bagaimana manisnya bibir itu. Begitu lembut dan murni. Pipinya begitu halus. Alex ingat saat dia menyentuh pipi itu. Alex benar-benar tak dapat menafikan kalau dia sangat menyukai rasa itu.
Alex membenturkan keningnya diatas meja. Ingin mengusir semua yang ada dikepalanya. Sangat menjijikan! Sangat mengerikan! Apa yang akan dikatakan oleh semua orang kalau ada yang tahu bahwa Alex, seorang pengusaha muda yang sukses, tapi memiliki penyimpangan orientasi seksual! Dia sudah menyentuh seorang pria! Betulkah dia menyukai sesama pria??
Mau ditaruh dimana muka ini! Arrgh!
Dan lihatlah! Gara-gara kelakuannya malam itu, sekarang Denis pergi meninggalkannya. Denis, orang yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya, orang yang ada disampingnya saat dia sedang membutuhkan pertolongan. Sekarang dia entah berada dimana.
Alex bisa mengerti jika saat ini Denis memilih untuk pergi. Pastinya bukan karena pertengkaran kecil dengannya, tapi pasti karena dia juga merasa jijik dengan Alex. Untuk manusia normal, sangat wajar kalau sekarang Denis pergi meninggalkannya
Ini adalah satu bencana untuk dirinya. Apakah ini memang dirinya yang sebenarnya?
Alex mengingat-ingat, kapan terakhir kali dia memiliki rasa suka pada seorang wanita? Rasanya dia tidak pernah menyukai seorangpun wanita, bahkan disaat sekolah dulu, saat beberapa orang gadis mulai mencari perhatiannya.
Gadis yang dekat dengannya hanyalah Viola. Itupun karena dia ingin menghindar dari kejaran gadis lainnya. Dia tidak pernah menginginkan Viola jadi kekasihnya. Saat itu, prioritas utamanya adalah belajar dan belajar. Setelah bekerja, diapun menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Itulah sebabnya papanya sangat mempercayainya dan hanya mengandalkannya dalam urusan pekerjaan ketimbang Reno. Alex sangat serius dalam bekerja. Dia tidak pernah tergiur menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting. Dan menurutnya, menghabiskan waktu dengan perempuan adalah hal yang tidak penting.
Apakah itu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tidak normal?
Alex menghempaskan punggungnya disandaran kursi. Memejamkan mata dan memijit kepalanya dengan sedikit keras. Menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian meraih telepon yang berada diatas meja.
"Faisal, kamu dimana?"
Dia mendengarkan sebentar jawaban dari ujung sana.
"Aku tunggu di ruang kerja."
Tanpa menunggu jawaban dari asistennya, Alex menghempaskan telepon itu ke tempatnya semula.
Dia bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju jendela kaca.
Merapikan rambutnya yang kelihatan acak-acakan melalui pantulan di kaca, dia kemudian berdiri disana sambil menatap kearah halaman belakang rumahnya. Ada gazebo yang sering digunakan Denis menyendiri dibawah sana. Dia sangat suka duduk disana sambil memberi makan ikan koi yang ada dikolam disebelah gazebo itu.
__ADS_1
Alex memukul dahinya beberapa kali. Mengenyahkan wajah Denis yang selalu membayang diingatannya
Ketukan dipintu diikuti daun pintu yang terbuka. Menampakan Faisal dari baliknya. Dia kemudian masuk dan kembali menutup pintu dibelakangnya.
Alex memasukkan kedua tangnnya kedalam saku celananya. Dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Faisal menghampirinya sambil menatap Alex penuh tanya.
"Anda memanggil saya? Apa ada masalah, Pak?"
Tanyanya setelah berdiri dihadapan Alex. Mereka memang masih sedang menguruskan beberapa dokumen terkait pemindahan nama pemilik perusahaan yang semula Arga Dinata menjadi atas nama Alex. Begitu juga dengan beberapa dokumen atas nama Reno. Semuanya sedang diurus bersama pengacara mereka.
Alex menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Faisal.
"Siapkan untuk acara pertunanganku secepatnya."
"Pe..pertunangan?" Faisal terkejut. Matanya sampai terbuka lebar. Itu sangat jauh dari perkiraannya.
"Gak usah melotot seperti itu." Alex melirik tajam pria yang malah bengong dihadapannya itu.
"Apa maksudmu? Tentu saja dengan Viola. Kamu pikir aku mau bertunangan sama siapa?" Suara Alex meninggi. Asistennya ini benar-benar membuatnya kesal. Sudahlah pikirannya sedang sangat kacau sekarang ini. Malah mendapat pertanyaan konyol seperti itu. Mata Alex sampai mendelik mendengar pertanyaan dari asistennya itu.
'Mungkin saja anda berpikir untuk bertunangan sama Denis.' Teriak Faisal dalam hatinya. Tapi mulutnya menutup rapat. Wajahnya sedikit pucat mendapat bentakan dari Alex. Ini adalah bentakan yang pertama selama dia bekerja bersama pria itu. Alex terkenal sangat santun kepada semua pegawainya. Dia selalu bersikap sopan dan menghormati siapa saja. Tidak pernah membeda-bedakan derajat seseorang. Bahkan kepada OB dan satpam saja dia bersikap sangat sopan.
Namun beberapa hari ini, atasannya itu berubah jadi temperamental. Selalu berwajah dingin dan masam. Bahkan dihari saat Denis tidak pulang kerumah, Alex telah mengamuk dikamarnya. Semua barang berantakan. Tak ada yang tahu apa masalahnya. Namun saat itu ada beberapa orang yang menduga bahwa mungkin Alex habis bertengkar dengan Denis. Karena saat kejadian Denis pergi dari rumah dan tidak kembali selama dua hari. Saat dia kembali, justru hanya mengambil barang pribadinya dan kemudian pergi dari rumah itu dan tidak kembali.
Tentu saja hal itu semakin menguatkan rumor yang beredar bahwa ada hubungan khusus antara Alex dan Denis. Itu sudah menjadi rahasia umum, yang ironisnya, hanya tidak diketahui oleh objek rumor itu sendiri.
"Kenapa diam? Kamu keberatan kalau aku bertunangan dengan Viola?" Pertanyaan yang sangat tajam dan menusuk.
"Ti..tidak. Maksud saya, mana mungkin saya keberatan, Pak. Hehe.." Faisal menggaruk ujung alisnya dengan kikuk. Heran juga dengan perubahan sikap Alex yang sangat drastis. Begitu sarkastis dan sangat sensitif. Dia harus lebih hati-hati dalam berbicara mulai saat ini.
Alex mendengus kasar.
__ADS_1
"Jadi, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"
"Yes, sir. Tanggal berapa anda ingin melangsungkan pertunangan anda?" Faisal mendehem kecil untuk menghilangkan kekagetannya.
"Terserah kamu."
'Apa? Terserah aku? Emang siapa yang mau tunangan?' Faisal kembali menggaruk ujung alisnya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Otaknya berpikir cepat untuk mencerna maksud dari ucapan Alex.
"Bb..baik. Saya akan lihat jadwal anda. Saat anda ada waktu luang, saat itulah pertunangan anda akan dilangsungkan." Faisal berharap ucapannya sesuai dengan yang dimaksud oleh atasannya. Dan dia dapat bernafas lega ketika mendapat anggukan dari Alex.
"Jangan ada orang luar. Hanya keluarga inti saja." Suara Alex melemah diujung kalimatnya. "Bahkan sekarang aku tidak punya keluarga." Ucapnya pelan, terdengar begitu miris.
Faisal menelan salivanya. Dia dapat merasakan kesedihan yang kini dirasakan oleh Alex.
"Jangan lupa, kamu juga harus mencari cincin pertunangan."
Alex melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Duduk kembali dikursinya dan memeriksa beberapa dokumen yang menumpuk diatas meja kerjanya.
"Anda tidak mau memilih sendiri cincin anda, Pak?" Faisal bertanya dengan sangat hati-hati, takut akan membuat atasannya kembali naik darah.
Alex menggelengkan kepalanya tanpa menoleh.
"Aku sibuk. Gak ada waktu. Kamu tanyakan Viola cincin yang dia suka." Ucapnya datar.
"Baik."
Faisal menjawab dengan singkat, walaupun dalam hatinya ada rentetan pertanyaan yang ingin dia kemukakan. Tapi biarlah. Dia tidak mau mendapat bentakan yang kedua dari atasannya itu.
Namun ketika dia melihat Alex menatapnya intens, Faisal agak sedikit gelagapan. 'Kenapa Pak Alex menatapku dengan tatapan seperti itu? Apa dia tertarik padaku?' Ups!
"Ada hal lainnya, Pak?" Tanyanya kemudian. Alex nampak ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Faisal.
"Aku..aku belum memberitahu Viola kalau aku akan melamarnya."
__ADS_1
*****