
Denis mencekal bahu Alex yang menggigil menahan amarah. Matanya menyipit tajam menatap dua orang yang berada didalam ruangan dari balik kaca dipintu. Dia menarik jaket yang dipakai Alex untuk menjauhkan pria itu dari pintu.
Pak Yoni masih menatap Alex dengan tatapan takjub. Dia merasa masih di alam mimpi ketika melihat putra dari majikannya itu berdiri tepat dihadapannya. Dalam keadaan segar bugar tak kurang satu apapun.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tak percaya ini." Desis Alex dengan napas hampir tercekat. Denis menepuk bahu Alex dengan penuh rasa prihatin. Dia dapat merasakan kekecewaan yang melanda Alex saat ini.
Dua orang yang berada didalam sana itu adalah orang-orang terdekatnya. Orang yang sudah bertahun-tahun bahkan sejak dia baru lahir sudah berada disekitarnya. Dia tak habis pikir, apa yang membuat orang itu berubah menjadi sangat mengerikan. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan ambisinya.
Apakah kurangnya semua yang telah diberikan oleh seorang Arga Dinata pada wanita itu? Alex dapat melihat sendiri betapa papanya telah melakukan segala cara untuk dapat membahagiakan wanita itu. Melimpahkan materi yang tidak terhitung jumlahnya agar dapat memuaskan segala keinginannya. Membawanya kedalam perusahaan ketika dia meminta haknya sebagai istri dari seorang pemegang saham terbesar. Papanya selalu memberikan apapun yang diinginkan wanita itu.
Juga pria yang telah menjadi sahabat papanya sejak lama. Alex tahu dari cerita beberapa orang bahwa Bisma telah mengalami titik terendah dalam hidupnya. Dan satu-satunya orang yang telah mengangkatnya dari kenistaan itu adalah Arga Dinata.
Bertahun-tahun dia memulihkan dirinya dibantu oleh Arga Dinata. Menjadikannya orang kepercayaan Arga Dinata dan menjadi orang yang tidak dipandang sebelah mata dalam dunia bisnis. Semua orang segan padanya dan dunia dalam genggamannya.
Tapi apa yang telah dilakukannya sekarang. Dia sedang menghancurkan Arga Dinata dari dalam. Dan tanpa disadari olehnya, dia sedang menghancurkan dirinya sendiri.
Alex tidak tahan lagi dengan semua yang terjadi dihadapannya. Dia tidak dapat menahan dirinya dari membiarkan orang-orang itu tertawa dihadapan papanya yang tidak berdaya.
Dalam sekali hentakan dia membuka pintu hingga daun pintu membentur dinding kamar dan menimbulkan bunyi yang membuat dua orang didalamnya terkejut bukan main. Serentak mereka menoleh kearah pintu yang terbuka. Daun pintu yang kembali menutup secara perlahan menyisakan Alex yang berdiri penuh amarah diambangnya.
Bisma berdiri dan menatap penuh amarah kepada orang yang baru saja datang mengganggunya. Tangannya terkepal dan berjalan menghampiri pria yang belum dia kenali. Masker dan kacamata hitam yang melekat diwajah Alex juga topi baseball itu membuat dia menyamar dengan sempurna.
"Siapa kamu? Kenapa masuk kedalam ruangan dengan cara tidak sopan?" Mata Bisma berkelebat mencari sosok penjaga yang sudah dia tugaskan untuk selalu bersiaga didepan pintu. Tapi saat ini orang yang dicarinya sepertinya tidak ada. Hanya tersisa Denis yang berdiri penuh siaga diluar sana sebelum pintu benar-benar menutup.
Bisma mengumpat dalam hati dan bersumpah akan membuat perhitungan dengan anak buahnya itu jika urusannya dengan lelaki asing ini selesai.
Matanya kembali menyorot tajam kepada Alex yang matanya sama berkilat dibalik kaca mata hitamnya.
"Sekali lagi aku tanya. Siapa kamu? Apa urusanmu datang kemari?"
Dibelakang tubuh Bisma, Tania berdiri dan menyimpan nampan yang sedang dipegangnya diatas nakas. Tatapannya tertuju pada Alex dengan penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup lebih kencang demi melihat postur tubuh pria yang berdiri berhadapan dengan Bisma. Hatinya membisikkan sesuatu yang tidak baik dengan kehadiran pria itu.
Bisma melirik dengan sudut matanya pada Tania.
"Panggil Baron kemari!" Katanya tanpa menoleh pada Tania. Tapi jelas sekali kalau perintah itu ditujukan pada wanita itu.
Dengan patuh Tania mengambil handphone dari dalam tasnya dan segera melakukan panggilan pada orang yang dimaksud oleh Bisma.
Alex mendengus kesal. Dia melangkah lebar mendekati Tania. Tangannya bermaksud untuk meraih ponsel yang sedang dipegang wanita itu. Namun gerakannya dihentikan oleh Bisma. Dia menangkap tangan Alex dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Kurang ajar sekali kamu. Katakan, siapa kau sebenarnya." Bisma menggeram. Rasanya dia sudah kehilangan kesabaran menghadapi orang ini.
Diatas pembaringan, Arga Dinata menatap putranya dengan mata bergetar. Kekhawatiran nampak begitu kentara dan tidak bisa dia sembunyikan. Mulutnya terbuka ingin memanggil nama Alex. Namun tidak ada suara yang keluar. Hanya airmata yang perlahan membasahi sudut matanya. Kekhawatiran terbesar dalam hidupnya adalah kehilangan putranya itu. Dia sudah pernah kehilangan, dan tidak mau hal itu terulang lagi.
Sejak dirinya sakit dan tidak berdaya, dia jadi tahu sifat asli dari Bisma dan Tania. Kedua orang itu bisa menjadi sangat mengerikan dari yang pernah dibayangkan. Arga Dinata juga tahu tentang rekayasa kematian Alex yang diprakarsai oleh Tania dan Bisma. Saat ini, dia tidak ingin hal itu terjadi lagi menimpa Alex.
"Kau ingin tahu siapa aku?" Alex menarik kasar kacamata yang menutupi matanya. Tatapan tajam menghunjam langsung wajah Bisma yang nampak sangat terkejut melihat sepasang mata itu. Alex menyeringai melihat wajah Bisma yang memucat tiba-tiba.
Suara benda jatuh mengalihkan perhatian Alex seketika. Ponsel Tania sudah berada diatas lantai dengan layarnya yang sedikit retak.
"Kalian baru melihat mataku dan sudah sepucat itu? Bagaimana kalau kalian melihat ini?" Alex membuka masker yang menutup separuh wajahnya dengan begitu dramatis. Matanya bergantian memperhatikan wajah Tania dan Bisma yang tak melepaskan tatapannya dari wajah Alex.
__ADS_1
Tubuh Tania terhuyung kebelakang, hampir saja dia terjatuh kalau saja tidak ada nakas yang menahan kakinya. Wajahnya pucat bagai kehilangan seluruh aliran darahnya. Matanya yang bulat terbuka lebar menatap siapa yang baru saja memperlihatkan wajahnya dari balik masker.
Bisma tak kalah shocknya melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Mulutnya sampai terbuka dan tangannya terangkat menunjuk Alex dengan jarinya yang menggeletar.
"Ini tidak mungkin.." Desisnya dengan suara yang tercekat. Berkelebat lagi dalam bayangannya ketika dia mengarahkan pistolnya kedada Alex. Dia begitu yakin kalau saat itu dia tidak meleset ketika melepaskan tembakan. Dengan matanya sendiri dia melihat tubuh Alex yang jatuh terhempas kedalam jurang. Rasanya mustahil jika saat itu Alex akan selamat dan dapat hidup hingga hari ini.
"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, om Bisma yang terhormat.." Sarkas Alex. Matanya berkilat penuh dendam menatap Bisma dan Tania bergantian.
"Kau pasti bukan Alex..Tidak mungkin Alex..." Berkelebat lagi dalam ingatannya ketika Tania begitu emosi dan menyuruhnya untuk memastikan bahwa Alex memang sudah meninggal. Tania begitu yakin kalau Alex masih hidup. Dan saat itu, dia menganggap ketakutan Tania sangat tidak berdasar. Dia hanya panik setelah mengalami mimpi tentang Alex yang masih hidup. Dan sekarang, ini bukan mimpi. Ini nyata. Benar-benar nyata.
"Aku Alex, aku masih hidup. Dan aku disini sekarang." Pelan Alex melangkahkan kakinya mendekati Bisma. Perlahan pula Bisma mundur menjauhi Alex.
"Jangan mendekat, atau..." Bisma bergerak cepat mendekati brankar tempat Arga Dinata terbaring. Secepat kilat tangannya mencengkram leher Arga Dinata yang langsung tercekat dengan matanya yang terbeliak.
Alex membeku ditempatnya berdiri melihat papanya berada dalam cengkraman tangan Bisma. Tak pernah dia memperhitungkan hal ini akan terjadi. Papanya dalam bahaya sekarang. Dan Denis berada diluar sekarang.
"Jangan sentuh papaku!!" Kedua tangan Alex mengepal menahan amarah. Matanya berkabut melihat betapa papanya berusaha untuk menahan kesakitan akibat ulah Bisma.
"Jangan coba-coba mendekat, atau nyawa pria tua ini akan menghilang saat ini juga.." Bisma menatap Alex dengan tajam. Dia kemudian mengarahkan Tania agar mengambil kursi roda disudut ruangan. Dengan panik Tania mengambil kursi roda dan mendekatkannya kearah tempat Arga Dinata terbaring.
"Mama, aku tidak percaya mama melakukan ini pada papa. Kenapa mama melakukan ini? Kenapa, Ma?" Matanya menatap wanita yang selama bertahun-tahun telah dianggapnya sebagai seorang ibu. Sangat tidak dapat dipercaya ternyata papanya telah memelihara seekor ular berbisa.
Tania tidak menggubris pertanyaan Alex. Dia membantu Bisma memindahkan tubuh Arga Dinata ke atas kursi roda. Tangannya nampak menggeletar menahan kepanikan yang melanda.
Alex melangkahkan kakinya untuk mendekat. Tapi Bisma segera mengambil sebuah pisau buah yang berada di atas nakas dan mengarahkannya kearah Arga Dinata. Dia sangat tahu kalau saat ini Arga Dinata merupakan tameng hidup yang bisa dia manfaatkan untuk menghentikan Alex. Terbukti dengan surutnya langkah Alex demi dilihatnya keadaan papanya yang berada dalam ancaman pria itu.
Pintu terbuka menampakan Denis yang menjulurkan kepalanya melihat apa yang terjadi didalam kamar. Terlalu lama dia menunggu Alex yang tak kunjung keluar dari dalam kamar rawat inap papanya. Dia terkejut melihat pisau yang terhunus dileher Arga Dinata. Denis segera masuk dan menatap pria yang sedang mengancam Arga Dinata.
Dia masih ingat dengan jelas siapa laki-laki ini. Dia adalah orang yang sama dengan orang yang telah menembak Alex di tepi jurang itu. Pria ini juga yang telah menyebabkan dirinya dan tubuh Alex jatuh kedalam jurang.
"Tolong jangan lukai papa..." Suara Alex menggeletar menahan amarah dan rasa sakit melihat keadaan papanya.
Bisma memberi isyarat pada Tania agar segera mendorong kursi roda.
"Biarkan aku pergi dari sini dan akan aku biarkan Arga selamat.." Bisma tetap mengarahkan pisau dileher Arga. Perlahan Tania mendorong kursi roda tanpa berani sedikitpun memandang Alex. Dia sangat terkejut dan takut pada Alex. Tapi semuanya sudah terlanjur. Alex sudah mengetahui kebusukannya. Sekarang dia tidak bisa mundur. Bersikap pura-pura menyesalpun tak akan ada gunanya. Biarlah dia melanjutkan aksinya.
Alex menoleh kearah Denis seolah sedang meminta pendapatnya. Samar Denis menganggukkan kepalanya dan matanya sedikit mengerjap, memberi kode pada Alex agar membiarkan dulu kedua orang itu keluar dari dalam ruangan. Alex mengikuti langkah Bisma dan Tania dengan tatapan khawatir akan keselamatan papanya.
"Aku tak akan membiarkan kalian lolos..!!" pekik Alex sambil meluru keluar mengikuti langkah Bisma dan Tania.
Seorang perawat yang datang bersamaan dengan keluarnya Bisma dari dalam kamar nampak sangat terkejut melihat Arga Dinata berada dibawah todongan senjata tajam. Dia tertegun sambil merapatkan punggungnya didinding lorong.
Alex mendekatkan jaraknya pada Bisma. Namun pria itu sudah masuk kedalam lift dan tidak membiarkan Alex atau Denis untuk mendekat.
Didalam lift Bisma segera menelepon anak buahnya yang memang selalu siaga dimanapun dirinya berada. Setelah mengeluarkan makian karena kelalaian anak buahnya yang tidak mengetahui keberadaan Alex, dia menyuruh anak buahnya untuk menunggunya di tempat yang terdekat dengan pintu lift.
Tania nampak masih sangat pucat dan panik menghadapi situasi saat ini.
"Kamu harus bertanggungjawab untuk kekacauan ini, Bisma!" Sentaknya dengan suara bergetar. "Aku sudah bilang untuk memastikan semuanya aman. Tapi kau bilang apa? Kau meremehkan aku! Sekarang apa? Hancur semuanya sekarang!!"
Wanita itu benar-benar meradang. Keadaannya sangat kacau saat ini. Semua yang ditakutkannya terjadi. Ternyata benar Alex masih hidup.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak bisa diandalkan!" Mulutnya masih meracau. Bisma meremas rambutnya sendiri dan menggeram frustasi.
" Aarrgh! Diamlah Tania!! Sekarang bukan waktunya untuk menyalahkanku! Pikirkan keselamatan kita sekarang!! Argh!"
"Aku tidak akan pernah percaya lagi padamu Bisma! Kau sudah menghancurkanku!!"
"Diam!!"
Brakk!! Bisma membenturkan kepalan tangannya didinding lift. Tania terdiam seketika. Matanya menatap nanar Bisma yang nampak sedang menahan amarah.
Lift tiba dilantai dasar. Baron, anak buah kepercayaan Bisma sudah menunggu dan segera membantu Bisma memasukan Arga Dinata kedalam mobil. Seorang petugas keamanan juga berada dilokasi, mungkin perawat tadi yang telah memberitahunya akan insiden yang terjadi. Namun sepertinya dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Arga Dinata yanh masih berada dalam todongan senjata tajam membuat siapapun tidak bisa sembarangan memberikan pertolongan. Akhirnya mereka hanya bisa membiarkan Bisma membawa Arga Dinata didalam mobil yang segera melaju kencang meninggalkan pelataran rumah sakit.
Alex dan Denis tiba dilantai dasar bertepatan dengan mobil yang membawa Arga Dinata melaju meninggalkan tempat itu. Denis segera mengambil motornya yang terparkir cukup jauh dari tempat dia keluar dari dalam gedung rumah sakit.
Dengan tergesa, dia melajukan motornya menyusul mobil Bisma yang sudah menghilang dari pandangan.
Alex menunjuk arah kemana mobil itu bergerak. Dengan gesit, Denis segera melajukan motornya kearah yang ditunjuk oleh Alex. Namun mereka benar-benar kehilangan jejak. Mobil yang mereka buru tidak tahu mengarah kemana setelah mereka menemukan jalan bercabang.
Denis mengarahkan motornya kearah kanan dengan harapan masih bisa menemukan mobil yang membawa Arga Dinata.
Namun hingga berjam-jam mereka menyusuri jalan, mobil yang mereka maksud tidak juga ditemukan.
Denis menghentikan motornya disebuah taman kota. Matanya berputar mengitari semua tempat. Banyaknya mobil serupa juga membuat mereka keliru dalam mengenali mobil Bisma. Mereka tidak tahu flat nomor mobil itu. Ciri-cirinya pun tidak dapat mereka ketahui secara spesifik.
"Ini salahku. Harusnya aku tidak seceroboh itu membuka diriku dihadapan mereka." Suara Alex terdengar sangat putus asa. "Harusnya aku lebih bersabar lagi dalam menghadapi mereka. Sekarang papaku ada dalam bahaya."
Alex meremas rambutnya. Matanya terpejam. Denis hanya diam sambil tetap menajamkan matanya melihat setiap kendaraan yang melintas.
Sebuah motor berhenti dihadapan mereka diikuti oleh satu motor lainnya.
"Denis? Alex? Ngapain kalian disini?" Jack membuka helm yang dipakainya. Seorang gadis cantik membonceng dibelakangnya dengan tangan melingkar dipinggangnya. Di motor lain, dalam posisi yang sama Nerrow beserta seorang gadis yang mungkin adalah kekasihnya.
"Bang Jack! Nerrow!" Denis berseru senang melihat siapa yang datang ditengah kebuntuannya saat ini.
Dia kemudian menceritakan semua yang terjadi sehingga dia berada ditempat itu. Jack dan Nerrow mendengarkan semuanya dengan serius.
" Mereka pake mobil apa?"
Denis dan Alex saling pandang. Mereka juga tidak begitu yakin dengan perkiraan mereka. Yang dia ingat hanya warnanya yang hitam mengkilat. Untuk jenisnya mereka hanya menduga saja.
"Sayang banget kalian gak tahu nomor mobilnya." Jack menatap Denis dan Alex bergantian. Sepertinya dia tidak bisa banyak membantu jika jenis dan nomor mobilnya tidak di ketahui.
"Kita bisa nanya sama pegawainya. Atau melihat CCTV rumah sakit.."
"Kamu benar. Kenapa aku gak kepikir kesitu ya.." Alex memotong ucapan Denis. "Ayo..."
Alex segera naik keatas motor, memakai kembali helmnya dengan tergesa. Begitu pula dengan Denis. Dia bersiap untuk kembali melajukan motornya.
"Aku akan ikut dengan kalian." Jack menyuruh para gadis yang ikut dengannya untuk turun. Menelepon temannya yang lain agar menjemput dua gadis itu. Nerrow tidak membantah sedikitpun keputusan Jack. Dia nampak tidak keberatan membantu Denis dan Alex.
__ADS_1
Setelah itu mereka melajukan motornya beriringan menuju ke suatu tempat yang diyakini bisa memberikan petunjuk tentang mobil Bisma yang menghilang dengan membawa Arga Dinata didalamnya. Harapan mereka sangat besar bisa segera menemukan Arga Dinata dalam keadaan selamat.
******