Rahasia Denis

Rahasia Denis
Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Denis memarkirkan motornya didepan sebuah bangunan carwash yang cukup besar. Disebelahnya sebuah bengkel yang nampak seimbang dengan bangunan carwash disebelahnya. Nampak mentereng dan penuh dengan mobil yang cukup berkelas sebagai pengunjungnya. Masih dikawasan itu juga nampak sebuah cafe dengan suasana yang sangat nyaman. Sepertinya tempat itu sengaja dibuat sebagai tempat menunggu bagi para pelanggan sambil bisa minum kopi atau hal lainnya.


Untuk beberapa saat Denis hanya diam memperhatikan tempat itu. Melihat kesibukan para pekerja yang tak ada seorangpun dia kenali. Hingga seorang pria muncul dari dalam bangunan dengan kaca yang lebar disudut tempat itu. Tubuhnya yang tinggi kelihatan jelas dari tempat Denis berada. Pria itu berbicara dengan seorang pegawainya dengan mata yang bergerak lincah dan akhirnya hinggap diwajah Denis yang berada cukup jauh darinya.


Mata pria itu terpaku dan bertemu dengan mata Denis yang sejak kehadirannya terus memperhatikan pria itu. Tanpa menghiraukan lawan bicaranya, pria itu berjalan cepat mendekati Denis. Senyuman mengembang dibibirnya. Pun begitu dengan Denis. Dia segera turun dari motornya dan menyambut pria itu.


"Denis!" Seru pria itu dengan raut bahagia dan juga terharu melihat kehadiran Denis di tempat itu.


Pria itu merangkul Denis.


"Ini beneran lo?" Pria itu menepuk-nepukkan tangannya di bahu Denis.


"Bang Theo! Apa kabar?" Ingin sekali rasanya Denis memeluk pria itu. Pelukan dari seorang adik kepada abang angkatnya yang sangat dia hormati. Tapi rasa segan membuat dia menahan sekuat tenaga agar tangannya tidak melakukan hal itu.


"Ya ampun. Aku pikir kita gak akan ketemu lagi. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Bang Theo terlalu bahagia karena pertemuannya dengan Denis. Sampai dia tak tahu harus mengatakan apa dulu untuk mengungkapkan perasaannya. Dibawanya Denis ke ruangan dimana dia keluar tadi. Rupanya itu adalah kantor tempat dia menjalankan usahanya. Didalam sana ada seorang pria yang membantu dia bekerja.


Mereka duduk disofa yang ada diruangan itu. Sebelumnya dia menyuruh pekerjanya itu untuk membawakan minuman untuk tamu istimewanya.


"Aku tak percaya waktu Fani bilang ketemu Alex di rumah sakit." Tatapannya masih tak lepas dari Denis. Senyuman terus mengembang dan kadang dia menggelengkan kepalanya merasa takjub dengan kehadiran Denis dihadapannya.


"Oya..Jadi sekarang lo tinggal sama Alex? Gimana kabar dia sekarang? Fani cerita kalau ayahnya Alex baru saja meninggal."


"Dia sangat terpukul. Semenjak dia kembali ke rumah, dia belum sempat berbicara dengan papanya. Keadaan papanya sangat memprihatinkan ketika Alex tidak berada dirumah. Dan sekarang papanya malah meninggal dunia. Alex merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga papanya dengan baik. Itu sebabnya sekarang dia merasa sangat merasa sedih." Denis menghela nafas. Berkelebat lagi bayangan Alex dalam keadaan yang sangat memprihatinkan tadi malam. Namun ketika mengingat apa yang dilakukan Alex kepada dirinya, tiba-tiba dia merasa wajahnya memanas.


"Dia pasti membutuhkan teman seperti lo disaat seperti ini." Suara bang Theo menyentakkan lamunannya.


"Eh..iya..Dia butuh sendirian sekarang. Dia hanya diam dikamarnya dan gue gak mau ganggu dia."


Pegawai bang Theo datang dengan minuman dan beberapa camilan. Dia tersenyum tipis ketika meletakkan benda-benda itu diatas meja.


Bang Theo kemudian memperkenalkan mereka berdua. Denis hanya menganggukkan kepalanya kepada pria yang bernama Fajar itu.

__ADS_1


"Lo coba panggil Lukman suruh kesini." Kata bang Theo kepada Fajar. Tanpa membantah pria itu segera keluar dari ruangan bang Theo untuk memanggil Lukman.


"Apa? Lukman juga ada disini?" Denis terperangah.


"Iya. Semua gue boyong kesini. Bengkel yang disana sudah dijual dan sudah jadi milik orang lain. Kasihan anak-anak kalau ditinggal disana. Lagian gue udah cocok sama mereka."


"Gue gak sabar pengen ketemu sama mereka. Sama mbak Fani pun ketemu cuma sebentar waktu dirumah sakit. Dia datang waktu tahu papanya Alex meninggal."


"Iya. Dia juga cerita habis ketemu sama lo. Dia ingin sekali datang ke pemakaman papanya Alex. Tapi dia lupa buat nanya alamat Alex. Lagian dia gak ada waktu kalau siang. Dia sibuk dirumah sakit. Lo datang aja ke rumah. Sisil juga pasti seneng ketemu sama lo."


Pintu kaca ruangan bang Theo terbuka. Lukman muncul dengan senyuman lebar ketika melihat Denis ada didalam ruangan itu.


"Denis!" Dia duduk disamping Denis dan meninju bahu sahabat lamanya itu. Dia hampir memeluk Denis kalau Denis tidak segera menghindar.


"Gak usah peluk-peluk. Geli gue." Denis menepis tangan Lukman yang bertengger dibahunya.


"Aku pikir kamu sudah gak ada didunia ini, Den. Syukurlah kamu baik-baik saja." Lukman tak menghiraukan ucapan Denis. Dia tahu Denis hanya bercanda ketika mengatakan itu.


"Parah. Lo ngarepin gue mati, apa?"


"Iya Den. Kemudian kami pikir lo dibawa sama orang-orang itu didalam mobil. Tapi ketika gue dapat ancaman dari orang gak dikenal, gue yakin kalau lo gak sama mereka."


"Gue memang jatuh ke jurang. Sepertinya abang sama Lukman mencari dititik yang salah. Jadi gak menemukan kami."


"Ya. Sepertinya begitu." Bang Theo manggut-manggut. Dia menyesal karena tidak bisa menemukan Denis waktu itu. Kalau saja dia berusaha lebih keras, mungkin saja waktu itu dia bisa menyelamatkan Denis dan Alex.


"Oya. Lo datang aja kerumah. Lo pasti kangen sama masakan bi Nani 'kan?"


"Banget, bang. Habis ini gue langsung ke rumah ya, bang." Denis menjawab dengan antusias. Matanya berbinar membayangkan kebahagian yang akan dia dapatkan ditengah keluarga bang Theo. Keluarga yang sangat dirindukannya. Keluarga yang telah memberikannya kasih sayang yang tulus walaupun dia merupakan orang asing yang menumpang hidup pada mereka.


Setelah puas berbincang-bincang tentang berbagai hal, mereka keluar dari ruangan itu. Denis melihat-lihat sekitar bengkel baru bang Theo.

__ADS_1


"Gue boleh kerja lagi disini, bang?" Cetus Denis ketika sedang memperhatikan para pekerja bang Theo yang jumlahnya lebih banyak dibanding dengan di tempat yang lama.


"Lo kan udah enak sama Alex. Masa mau kerja ginian lagi."


"Gue lebih suka kerja ginian, bang. Ada tantangannya gitu." Denis meringis. Bukan itu jawaban yang sebenarnya. Dia ingin menghindari Alex. Setelah kejadian tadi malam, dia tidak berani menunjukkan dirinya dihadapan pria itu. Ada rasa yang meledak-ledak jika dia mengingat hal itu. Dan dia takut tidak bisa mengontrol dirinya. Dia juga tidak tahu, apakah Alex akan mengingat hal itu atau tidak. Akan sangat memalukan kalau sampai Alex mengingatnya. Denis berharap, Alex benar-benar dalam keadaan mabuk waktu itu sehingga tidak akan ingat tentang kejadian itu.


"Pastinya lo harus bilang dulu sama Alex."


"Itu gak perlu. Gue gak terikat apapun sama dia. Jadi, gue rasa, gue bebas buat ngelakuin yang gue mau."


"Kalau menurut lo begitu, ya terserah deh. Gue malah seneng kalau lo kerja lagi sama gue. Tempat ini selalu terbuka buat lo. Kapan aja lo mau." Bang Theo menepuk bahu Denis.


"Terima kasih, bang. Lo memang yang terbaik buat gue." Ucap Denis dengan penuh haru.


Bang Theo mengangguk. Sungguh dia merasa senang dengan kehadiran Denis.


"Lo gak lagi bermasalah sama dia 'kan?" Tanyanya seketika membuat Denis tercekat. Dia melarikan pandangannya menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba menyergapnya.


"Ya enggaklah. Masalah apaan?"


"Ya, kali aja."


"Oya, bang. Gue pamit dulu. Entar malem gue ke rumah abang."


"Gue tunggu banget. Jangan bohong lo. Gue mau nyuruh bi Nani masak makanan kesukaan lo."


"Gak usah repot-repot, bang. Gue cuma pengen ketemu sama mbak Fani aja."


"Gak apa-apa. Gue seneng lo selamat. Anggap aja ini bentuk syukur gue karena bisa ketemu lagi sama lo."


Denis menatap pria berhati mulia itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh hatinya tersentuh dengan semua kebaikan dari pria itu. Walaupun dia merasa sudah menjadi penyebab kekacauan di keluarga bang Theo, tapi ternyata pria itu tak mempermasalahkannya sama sekali.

__ADS_1


"Gak usah nangis lo. Gak pantes." Bang Theo meninju bahu Denis sambil terkekeh. Denis meringis sambil mengerutkan bahunya.


*****


__ADS_2