Rahasia Denis

Rahasia Denis
Lima Puluh Dua


__ADS_3

Motor Denis terus melaju tanpa henti. Dengan kecepatan sedang dia menjalankan motornya tanpa tahu tujuan yang sebenarnya. Pikirannya sedang buntu. Dia tidak tahu kenapa. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa dia sangat marah pada Alex dan sampai pergi meninggalkan pria yang sejak beberapa bulan ini tak pernah terpisahkan darinya. Dimana ada Alex disitu ada Denis. Pagi, siang, sore. Dimanapun dan kapanpun. Kadang mereka tidur diatas kasur yang sama.


Dia seperti bodyguard bagi Alex. Selalu siap sedia melindungi pria itu dari bahaya yang selalu mengintainya. Dan sekarang dia meninggalkan pria itu begitu saja. Pria yang sudah membuat hati dan pikirannya tak karuan.


Denis belum pernah merasakan rasa yang seperti ini. Rasa sesak. Tidak nyaman. Selalu memikirkan orang yang sama yang telah merampas kesucian bibirnya. Dia tidak pernah merasakan debaran seperti ini sebelumnya. Debaran yang membuat dunianya terasa terhenti seketika. Debaran yang menyakitkan namun juga terasa nikmat.


Dia tidak tahu kenapa dia bisa semarah ini setelah mendengar pria itu akan melamar Viola. Bahkan apa dia bilang? Dia ingin melamar Viola secepatnya?


Apa benar dia marah karena Alex akan bertunangan dengan Viola? Tapi kenapa?


Motor Denis berhenti di sebuah lampu merah. Dia menahan motornya dengan kedua kakinya menapak diatas aspal yang panas. Cahaya matahari masih terasa menyengat walaupun sudah condong ke arah barat.


Denis belum memutuskan akan menuju kemana. Dia tidak ingin ditemukan oleh Alex. Dia ingin menghindari pria itu sejauh mungkin. Dia ingin memusnahkan rasa yang ada dalam hatinya.


Lelah menunggu lampu yang sedang berganti ke jalur yang lain, Denis melarikan pandangannya ke sebuah mobil yang berhenti disampingnya.


Dia sangat terkejut dan hampir saja motornya oleng. Dalam samarnya kaca mobil yang gelap, dia dapat melihat seorang pria didalam mobil itu. Salah satu orang yang berusaha keras dia hindari. Namun orang itu ada didekatnya sekarang. Walaupun Denis menggunakan helm fullface berwarna gelap, namun tetap saja ada kekhawatiran orang itu akan mengenalinya.


Denis segera menjalankan motornya. Perlahan dia mencoba menyelinap diantara kendaraan lainnya. Namun dia tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Keadaan lalu lintas yang sangat padat tidak memungkinkan dia untuk lebih maju lagi.


Pelan namun pasti Denis terus merangsek maju. Mencari celah diantara antrian kendaraan yang mengular. Tak dihiraukannya lagi terik matahari yang menusuk hingga ke balik kain yang melindungi kulitnya. Bisingnya kendaraan khas ibu kota seakan tidak terdengar ditelinganya. Fokusnya sekarang adalah secepatnya melaju sejauh mungkin dari mobil yang baru saja dilihatnya.


Denis sedikit bernafas lega ketika akhirnya dia terlepas dari lampu merah. Motornya kembali melaju dan sekarang dia berbelok arah kedalam sebuah jalan yang lebih sempit. Dia harus berhati-hati dan jangan sampai terlacak oleh orang-orang yang sedang dia hindari.


Merasa sedikit pegal karena terus mengendarai motor tanpa henti, akhirnya Denis mengarahkan motornya kesebuah cafe dipinggir jalan yang dilaluinya.


Dia memasuki kafe itu sambil menenteng helm yang tadi dipakainya.


Duduk didekat jendela kaca sambil memandang kearah luar yang mulai redup karena matahari sudah semakin turun ke batas cakrawala. Seorang pelayan telah mencatat makanan dan minuman yang dia inginkan.


'Sampai kapan aku harus terus berlari dan menghindar dari semua orang seperti ini? Bagaimana akhir dari kisah hidupku nantinya?' Pikiran Denis menerawang.


Dia merasa lelah. Dia hanya ingin hidup tenang. Dia hanya tidak ingin mendapat masalah dengan siapapun. Tapi sekarang masalah yang dia dapatkan malah semakin bertambah.


"Mas Denis?"


Mata Denis terbeliak. Dia mendapati seorang yang dia kenali sedang berdiri dihadapannya dengan sebuah nampan ditangannya. Makanan dan minuman yang Denis pesan ada diatasnya.


Wanita itu meletakkan nampan diatas meja. Matanya masih menatap Denis seakan tak percaya dengan yang dilihatnya.

__ADS_1


Betapa sempitnya dunia ini!


"Mariana?"


"Ya ampun ternyata ini beneran mas Denis? Tadi aku lihat dari meja kasir. Aku pikir aku salah lihat. Aku kesini mau meyakinkan kalau penglihatanku gak salah. Ternyata ini beneran kamu, mas."


Gadis itu sudah nyerocos tanpa henti.


"Kok kamu disini?"


"Lha emang aku kerja disini mas. Dulu kita pernah ketemu juga disini. Masa mas lupa. Ini kafe yang sama lho mas."


Denis memijit keningnya. Gara-gara dia kehilangan fokus, dia sampai tak mengenali kafe tempat Mariana bekerja. Kalau saja dia ingat kafe ini tempat gadis itu bekerja, pasti dia akan menghindari untuk mampir ke kafe ini.


"Ini makanan sama minumannya mas." Gadis itu memindahkan makanan dari atas nampan ke atas meja dihadapan Denis.


"Apa kabar, Mas? Lama gak ketemu. Aku selalu berharap kita bisa ketemu lagi. Tiap hari aku berdoa semoga suatu saat mas Denis atau mas Alex datang lagi ke kafe ini. Rupanya Tuhan mengabulkan doaku hari ini. Terima kasih ya Allah karena sudah mengabulkan doa hamba."


Gadis itu malah duduk dihadapan Denis. Denis menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mariana yang bikin dia makin pusing.


"Kok sendirian aja? Mas Alex mana?"


Denis menarik piring berisi makanan yang dia pesan. Mulai melahapnya tanpa menghiraukan orang yang sedang memperhatikannya.


"Kok gak tahu? Apa mas Denis gak bareng lagi sama mas Alex? Kok bisa sih. Kalian kan bersahabat baik."


Mata Denis sedikit berkilat melirik gadis yang terus saja mengganggunya.


"Lo gak ada kerjaan lain selain ganggu gue?"


"Aku ganggu ya? Maaf. Habis aku seneng bisa ketemu sama mas Denis. Mas Anwar sama Bapak nanyain mas Denis terus lo tiap nelpon. Ya, aku bilang aja kalau kita gak pernah ketemu lagi sejak yang terakhir kita ketemu itu lho mas. Nanti aku mau nelpon bapak mau bilang kalau kita ketemu. Bapak pasti seneng dengernya."


Denis meneguk minumannya dengan cepat. Makanannya terasa menyangkut ditenggorokan. Dia menatap tajam gadis yang masih duduk dengan wajah polos didepannya.


"Jangan pernah bilang kalau lo ketemu sama gue. Sama siapapun. Ngerti gak lo?" Suaranya pelan penuh penekanan.


"Kenapa? Banyak orang nanyain mas Denis lho. Waktu itu ada wanita cantik ngasih lihat foto mas Denis. Dia nanyain dimana mas Denis tinggal. Aku bilang gak tahu karena memang gak tahu kan mas Denis tinggal dimana. Terus wanita cantik itu ngasih aku nomer telepon biar aku bisa ngehubungin dia kalau aku ketemu sama mas Denis."


"Wanita cantik?"

__ADS_1


"Iya. Dia orang kaya. Mobilnya bagus banget. Kata bang Fauzi, itu namanya mobil mewah. Yang harganya selangit pokoknya. Kalau orang kayak kita gak mungkin....."


"Dia gak bilang kenapa nyari gue?" Denis cepat memotong ocehan gadis itu. Bisa lama kalau menunggu gadis itu menyelesaikan kalimatnya.


"Enggak. Wanita kaya itu cuma ngasih nomer telepon buat ngehubungin dia kalau aku ketemu sama mas Denis."


"Mana nomernya gue lihat." Denis membuka telapak tangannya dihadapan Mariana. Menunggu gadis itu yang sedang merogoh handphonenya.


Mariana menunjukkan nomer yang diberikan oleh Rania. Tanpa permisi Denis mengambil handphone itu dan langsung memblokir nomer yang diberi nama 'wanita kaya' dalam kontak Mariana dan menghapusnya dari sana.


Mariana menganga melihat apa yang dilakukan oleh Denis.


"Kenapa dibuang nomernya? Gimana aku bisa menghubungi wanita itu sekarang? Ih mas Denis. Dia janji mau ngasih aku uang yang banyak kalau aku ngasih tahu kabar tentang mas Denis."


"Jadi, lo mau ngejual gue sama wanita itu?"


"Yaa enggaklah. Masa aku ngejual mas Denis sih. Lagian ya, dia itu kelihatannya wanita baik-baik. Dia sepertinya bukan orang jahat kok. " Gadis itu merengut. Diambilnya handphone dari tangan Denis.


"Mariana, bisa nanti lagi ngobrolnya?" Seseorang berdiri disamping Mariana, namun matanya menatap sinis Denis.


"Eh, mas Fauzi. Maaf mas, aku malah ngobrol. Ini kenalin mas, temen aku. Namanya Denis."


"Gue bukan teman lo." Tukas Denis cepat.


"Iya deh. Bukan teman. Tapi pernah kenal dan sedikit nyusahin aku."


"Sudah. Mariana. Tolong kembali bekerja ya. Erni kewalahan harus melayani pelanggan tanpa kamu. Dan anda, silakan lanjutkan menikmati hidangan kami."


Pria itu sepertinya atasan Mariana. Dia segera beranjak dari hadapan Denis setelah menarik paksa bibirnya kesamping.


Denis menggelengkan kepalanya pelan. Merasa jengah dengan semua drama yang terjadi.


Dia meletakkan selembar uang berwarna merah dibawah gelas minumannya. Kemudian beranjak dari tempat itu tanpa ada niat untuk menyapa Mariana yang ada dimeja kasir.


"Mas Denis..Tunggu, mas." Mariana memanggil Denis. Suara langkah kakinya terburu-buru menyusul Denis yang sudah membuka pintu kafe dan keluar.


Namun langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang sedang berdiri dihadapan Denis diluar sana. Seorang wanita cantik yang dia ceritakan tadi kepada Denis.


Sekarang dia melihat kedua orang itu sedang saling menatap dengan raut wajah yang tidak bisa dilukiskan. Mariana berjalan perlahan mendekati kedua orang yang masih belum mengeluarkan suaranya itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2