Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sembilan Puluh Empat


__ADS_3

Davin menggedor pintu kamar Denis sambil berteriak memanggil namanya. Setelah beberapa saat tak kunjung ada sahutan dari dalam kamar, Davin langsung membuka pintu kamar kakaknya itu.


Nampak Denis berbaring dengan tubuh menelungkup ditepi tempat tidur. Sebelah tangannya terjuntai hampir menyentuh lantai. Davin menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang kakak seperti itu.


Dia mendekati tempat tidur dan mengguncang tubuh Denis dengan sedikit kuat.


"Denis! Bangun woyy!"


Denis tersentak. Dia mengerjapkan matanya.


"Apa sih? Berisik banget," tanyanya dengan suara serak. Dia benar-benar tertidur setelah perdebatannya dengan Alex tadi pagi. Bahkan dia belum turun untuk sarapan.


"Orang pada panik nelpon lo, lo malah enak-enak molor disini." Davin menarik tangan Denis agar bangun dari tempat tidur.


"Emang ada apa? Kenapa juga pada nelpon gue?" Denis mengangkat tubuhnya. Duduk ditepi pembaringan sambil menormalkan pandangannya.


"Alex kecelakaan. Itupun kalau lo masih peduli sama dia."


"Apa??" Denis terlonjak kaget. Dia berdiri dengan mata yang terbuka lebar. "Lo lagi nge-prank gue?"


"Ngapain gue ngeprank lo untuk hal seperti ini? Lagian lo juga ga peduli sama dia kan?" ujar Davin dengan nada menyindir.


"Dimana dia sekarang?" Denis menyambar jaketnya dan memakainya dengan tergesa. Mengambil sepatu dan memakainya dengan panik.


"Mau kemana lo?" tanya Davin masih dengan nada menyindir.


"Davin, lo ga lagi bercanda kan? Lo tahu apa akibatnya kalau lo main-main sama gue?"


"Tapi Alex ga mau lo menemui dia," cetus Davin.


"Apa lagi ini?" Denis menegakkan tubuhnya setelah berhasil memasang sepatunya. Matanya tajam menatap Davin. "Lalu kenapa lo bangunin gue?"


"Gue cuma mau lo siap-siap aja, siapa tahu ini akhir dari hidup Alex dan lo ga sempat ketemu sama dia."


"Davin!! Jaga omongan lo." Denis menarik baju Davin di bagian dadanya hingga Davin terhuyung maju. "Katakan sama gue, dimana dia sekarang."


Davin mengangkat kedua tangannya keatas melihat Denis yang mulai nampak emosi.


*****


Lorong rumah sakit terasa begitu panjang bagi orang yang sedang sangat terburu-buru. Rasanya begitu jauh dari tempat parkir menuju ruangan IGD tempat sang kekasih hati dirawat.


Denis mempercepat langkahnya. Dia sangat panik. Setelah apa yang dilakukan Davin kepadanya dikamar, untunglah Rania menelepon dan mengatakan hal yang sebenarnya.


Memang benar Alex mengalami kecelakaan. Kejadiannya adalah tidak lama setelah Alex berangkat dari rumah Rania menuju kantornya. Dan satu hal yang sama dengan yang dikatakan oleh Davin, bahwa Alex ternyata benar-benar tidak ingin ditemui oleh Denis. Dia meminta Rania untuk merahasiakan kecelakaannya kepada Denis.


Hal itu justru membuat Denis seperti orang yang kehilangan akal, memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit dengan perasaan yang bercampur aduk tak menentu. Davin menawarinya untuk menemaninya menjenguk Alex, namun Denis mengabaikannya seolah dia tak mendengar suara Davin yang memanggilnya. Davin benar-benar merasa khawatir saat Denis melesat dengan motornya.


Didepan kamar tempat Alex dirawat, nampak Faisal baru saja keluar dari dalam kamar. Dia menutup pintu kamar dan sedikit terkejut saat mendapati Denis tiba-tiba sudah ada didepannya.


"Mas..eh mbak Denis?" Faisal menoleh kearah pintu yang sudah menutup kemudian menatap Denis yang sudah bersiap untuk membuka pintu kamar Alex.

__ADS_1


"Aku mau menemui Alex." Denis meraih handle pintu, namun Faisal segera menahannya seolah tidak mengijinkan Denis untuk masuk.


"Kenapa? Apa ada tamu didalam?" tanya Denis seraya menatap Faisal penuh selidik.


"Tidak ada. Tapi Pak Alex berpesan agar mas..eh mbak Denis tidak diijinkan masuk," ujar Faisal dengan sedikit ragu.


"Apa? Dia bilang begitu?" Mata Denis melebar. Ditepisnya tangan Faisal yang masih menempel di pegangan pintu. "Minggir!"


Dengan sekali sentakan Denis membuka lebar daun pintu dan memasuki kamar tempat Alex berada tanpa mempedulikan Faisal.


"Mas Denis, eh mbak..!" Faisal menggaruk pelipisnya, bingung karena tidak bisa mencegah Denis yang sudah menerobos masuk ke dalam kamar.


Denis tertegun melihat siapa yang ada disana. Seorang gadis cantik sedang membantu Alex yang sedang berusaha turun dari brankar rumah sakit. Tangannya sedang memegangi tangan Alex untuk menuntunnya turun.


Seorang perawat sedang merapikan peratan yang dia gunakan untuk merawat Alex. Nampaknya ada luka kecil dikening Alex.


Sesaat mata Denis bertemu dengan mata Alex yang menoleh kearahnya. Nampak dia biasa saja saat melihat Denis. Dia pun tidak berusaha untuk melepaskan tangannya dari pegangan gadis itu.


Perlahan langkah Denis mendekat kearah kedua orang itu.


Mulutnya terkatup rapat walau banyak tanya didalam hatinya yang ingin dia kemukakan. Alex menoleh kearah Faisal tanpa mempedulikan kehadiran Denis.


"Mobilnya sudah kamu siapkan?" tanyanya dengan datar. Faisal menggaruk pelipisnya dan melirik Denis seperti merasa tidak enak hati dengan situasi saat itu.


"Belum, Pak. Akan saya siapkan sekarang. Bapak langsung kedepan lobby saja." Faisal bergegas keluar setelah mengatakan itu. Lebih baik dia segera kabur daripada harus berada dalam situasi yang terasa sangat menegangkan. Denis hanya diam. Dia dapat melihat kalau Alex sepertinya tidak perlu dirawat inap karena lukanya tidak terlalu serius. Dalam hati Denis sangat bersyukur untuk itu.


"Ayo, Mas. Aku bantu kamu." Gadis itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Alex untuk menyangganya berjalan. Namun tanpa disangkanya, Denis menarik tangan gadis itu dengan sedikit kasar.


"Kamu siapa?" tanya gadis itu dengan sedikit tidak rela karena tangannya ditepis dengan paksa dari tubuh Alex.


Denis tidak menyahut. Dia menggandeng tubuh Alex meninggalkan kamar itu dengan tanpa penolakan dari Alex. Gadis itu mengikuti langkah mereka dari belakang dengan wajah sedikit cemberut. Namun tentu saja Denis dan Alex tidak melihatnya.


Didepan lobby rumah sakit, Faisal sudah menunggu dengan mobilnya. Dia segera membukakan pintu belakang mobil lebar-lebar untuk Alex.


"Aku mau duduk didepan aja, Faisal." Itu adalah kalimat pertama Alex sejak mereka keluar dari kamar tempat dia dirawat. Nadanya terdengar dingin dan datar.


Hampir saja Faisal menutup pintu mobil untuk menuruti keinginan majikannya, namun Denis segera menahannya untuk tetap terbuka.


"Dibelakang aja," ujar Denis seraya mendorong tubuh Alex agar masuk kedalam mobil. Alex tidak berkata apa-apa. Dia masuk kedalam mobil dengan mulut rapat.


Setelah Alex masuk dan duduk, Denis menutup pintu mobil dan berputar untuk masuk dari pintu sebelahnya.


"Lo? Ngapain lo masuk mobil ini?" Denis menatap tajam gadis yang bersama Alex yang sudah menaikkan sebelah kakinya kedalam mobil.


"Saya mau ikut mengantar mas Alex pulang."


"Siapa lo?"


"Saya Rinda.."


"Gue ga nanya nama lo." Denis menerobos tubuh gadis itu dan masuk kedalam mobil. Menutup pintu mobil tanpa menghiraukan gadis itu.

__ADS_1


"Jalan," perintahnya pada Faisal. Disebelahnya Alex hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Dibelakang mobil, Rinda yang ditinggal menghentakkan kakinya dengan kesal.


Diperjalanan Faisal menceritakan kronologis kejadian yang menyebabkan Alex mengalami kecelakaan.


"Sepertinya Pak Alex sedang tidak fokus saat mengendarai mobilnya, tadi. Untunglah nona Rinda itu bisa menghindar, jadi ga mengalami kecelakaan yang fatal," kata Faisal.


"Apa lukanya ga ada yang serius? Kenapa sudah boleh pulang?" tanya Denis. Tentu saja pertanyaan itu dia tujukan kepada Faisal karena Alex menutup rapat bibirnya dari bicara dengan Denis.


"Ga ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter sudah memeriksanya tadi," ujar Faisal sambil melirik kekursi belakang. Dia tersenyum kecil saat melihat Alex yang mengabaikan keberadaan Denis.


*****


"Siapa cewek tadi?" tanya Denis saat mereka sudah berada dikamar Alex. Dia mengikuti Alex untuk duduk disofa yang ada dikamar Alex. Faisal sudah kembali ke kantor dan sebelumnya menyuruh seseorang untuk mengambil motor Denis yang ditinggal di rumah sakit.


"Kamu sudah dengar tadi. Namanya Rinda. Kenapa?" tanya Alex datar. Matanya dalam dan dingin menatap mata Denis.


"Ga apa-apa.." Denis melengoskan wajahnya menghindari tatapan pria itu.


"Dia itu temannya Reno. Dulu dia selalu mengejar Reno," jelas Alex. "Kenapa? Apa kamu cemburu?"


"Ga. Ngapain juga cemburu."


"Yah. Tentu saja kamu tidak akan cemburu. Kamu tidak punya perasaan apa-apa padaku. Itu sebabnya kamu selalu ingin pergi dariku, 'kan?"


Denis menoleh cepat, menatap pria itu yang sedang menyunggingkan senyuman getir disudut bibirnya.


"Dan, untuk apa kamu datang sekarang? Seharusnya kamu gak usah peduli lagi padaku."


Bibir Denis merapat. Tatapannya kelam dan berkabut tak lepas dari tatapan Alex. Ucapan Alex barusan sangat menghujam jantungnya. Jemarinya meremas telapak tangannya dengan kuat.


"Apa kamu memintaku pergi sekarang?" tanyanya sedikit bergetar.


"Kalau itu yang kamu inginkan," sahut Alex seraya melemparkan pandangnya kearah lain.


"Pernikahanmu tinggal dua hari lagi."


"Itu kalau pengantin wanitanya mau menikah denganku."


"Kau bilang tidak akan menyerah walau aku yang memintamu.."


"Aku berubah pikiran." Alex menyela dengan cepat.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi."


Denis bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak meninggalkan Alex yang sedikit terperangah mendengar ucapan Denis. Ingin sekali tangannya meraih tangan Denis dan menahan agar gadis itu tidak pergi. Namun kekesalannya pada Denis masih mengalahkan akal sehatnya. Yang dia lakukan hanyalah beranjak ke jendela kamar dan melihat ke arah bawah.


Bibirnya tersenyum tipis saat melihat salah satu mobilnya keluar dari garasi dengan Denis yang mengendarainya.


*****

__ADS_1


__ADS_2