
Dengan langkah cepat Alex menuju kamar Denis. Sudah dapat dipastikan Denis akan berada di kamar itu jika sedang marah kepadanya. Dan Alex sangat tahu, jika saat ini Denis sedang sangat marah padanya.
Telepon dari anak buahnya tadi yang mengatakan kalau Denis sudah pulang membuat Alex segera memutar arah dan kembali ke rumah. Padahal tadi dia hampir putus asa karena tidak bisa menemukan Denis di semua tempat yang dia ketahui biasa di datangi Denis.
Teleponnya tidak diangkat satu kali pun oleh Denis. Dia juga tidak ingin membuat ibu mertuanya khawatir dengan mengatakan kalau Denis pergi dari rumah. Dia hanya berpura-pura menelepon Rania untuk menanyakan beberapa hal. Dan saat Rania menanyakan kabar Denis, saat itu dia tahu bahwa Denis tidak sedang bersama mamanya.
Alex membuka pintu kamar Denis. Dia tersenyum lega saat melihat sosok itu terbaring dengan selimut rapat menutup tubuhnya.
Alex membuka sepatu dan jacket yang dikenakannya. Duduk ditepi pembaringan sambil menatap wajah damai Denis saat matanya terpejam. Perlahan dia membaringkan tubuhnya di samping Denis. Menyelusup masuk ke dalam selimut dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Denis.
Denis menggeliat dan memutar tubuhnya membelakangi Alex. Menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Alex.
Alex memeluk Denis. Merapatkan tangannya di perut Denis.
"Maafkan aku," bisiknya tepat dibelakang telinga Denis. Dia tahu Denis belum tidur.
Denis tidak menyahut.
"Maafkan aku, Sayang." Alex membenamkan bibirnya di tengkuk Denis.
Denis merapatkan matanya. Geli membuat sekujur tubuhnya menghangat karena sentuhan pria itu. Namun sekuat tenaga dia menahan diri agar tetap diam. Dia tidak ingin bicara dengan Alex malam ini.
Alex semakin mengeratkan pelukannya. Denis membiarkannya sampai keduanya terlelap di tengah keheningan malam.
******
"Dimana Denis?"
Alex bertanya kepada Bu Yati yang sedang menata makanan untuk sarapan di meja makan.
"Sepertinya sedang ke kamar Bu Tania, Mas."
Tanpa bertanya lagi, Alex segera menuju kamar mama tirinya. Meninggalkan Bu Yati dengan mulut sedikit terbuka karena belum selesai menyampaikan informasi kepada Alex.
Pintu kamar Tania terbuka. Memperlihatkan Denis yang sedang berdiri di dekat tempat tidur. Tania nampak sedang di periksa oleh dokter yang rutin mengunjunginya setiap minggu. Dia nampak diam dan tenang saat dokter memeriksa dirinya.
"Kenapa?" tanya Alex keheranan. Hari ini bukan jadwal dokter itu untuk berkunjung. Lagipula ini masih terlalu pagi.
"Bu Tania demam. Beliau juga tidak mau makan dari kemarin," wanita yang biasa merawat Tania menjawab.
"Apa ada masalah serius?" Alex bertanya kepada dokter yang nampaknya sudah selesai memeriksa Tania.
"Hanya demam biasa saja dan sepertinya ada sedikit gangguan pada lambungnya. Saya akan memberinya obat. Kita lihat dulu reaksinya. Jika sampai malam ini tidak ada perubahan, kita bawa ke rumah sakit," dokter itu berucap dengan tenang sambil menuliskan resep obat.
"Obat yang biasa hentikan dulu," dia berkata begitu sambil menyerahkan resep obat kepada sang perawat. Perawat itu mengangguk tanda mengerti dengan instruksi dari dokter.
Setelah dirasa cukup memberi arahan kepada perawat, dokter itu pun pamit kepada Alex dan keluar dari kamar.
Alex mengikuti dokter itu dan menghentikannya tidak begitu jauh dari kamar Tania.
"Apa ada kemajuan dengan kesehatan mentalnya? Sepertinya dia cukup tenang hari ini." tanya Alex kepada dokter itu.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Pak Alex coba bicara dengan dia. Ajaklah dia berkomunikasi seperti layaknya kita bicara dengan orang sehat. Semoga itu akan membantu proses penyembuhannya selain dengan obat yang selama ini dia minum."
Alex mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari dokter itu. Setelah itu sang dokter kembali pamit dan Alex mengijinkannya untuk pergi.
Alex kembali ke kamar Tania. Denis masih berada disana bicara dengan perawat.
Alex mendekati Tania yang nampak memejamkan matanya dengan napasnya pelan beraturan.
"Mama," panggilnya ragu.
Kelopak mata Tania yang masih terpejam rapat nampak mengerjap. Setetes cairan bening keluar perlahan dari sudut matanya.
Alex menarik napas pelan. Terasa ada yang menusuk jantungnya saat melihat buliran air mata itu merambati pipi Tania.
"Mama," Alex duduk di tepi pembaringan.
Bibir Tania bergerak. Seperti menahan tangisan yang hampir meledak saat mendengar panggilan dari Alex.
Alex menyentuh tangan Tania. Mengusapnya sesaat sebelum kemudian kembali berdiri dan menoleh kepada perawat.
"Suruh sopir untuk segera membeli obatnya. Pastikan mamaku meminumnya."
"Baik, Pak."
"Aku saja yang membeli obatnya," Denis mengambil kertas resep dari tangan perawat.
"Jangan. Biar sopir saja yang beli." Alex bermaksud merebut kertas resep dari tangan Denis.
"Kenapa?" Denis menghindarkan tangannya dari jangkauan tangan Alex. "Kalau hanya beli obat, aku juga bisa. Tidak seperti kamu yang selalu sibuk dan tidak punya waktu buat mama kamu sendiri." Denis segera berlalu setelah mengucapkan kata-kata itu.
"Denis, tunggu!"
Namun Denis tidak menghiraukan panggilan Alex.
"Denis, aku minta maaf. Tadi malam ...."
Denis menaiki motornya. Memakai helm tanpa menggubris kehadiran Alex yang terus membuntutinya.
"Dengarkan aku dulu," Alex memegangi stang motor Denis. "Kita harus bicara. Sekarang."
"Mama kamu lebih penting. Seharusnya kamu tahu mana yang harus kamu prioritaskan."
Denis menstarter motornya dan meninggalkan Alex yang termangu menatap motor Denis yang semakin menjauh.
"Alex?!"
Sebuah panggilan membuat Alex segera menoleh ke sumber suara. Matanya terbelalak melihat siapa orang yang kini berada dihadapannya.
"Pak Darman? Ini betul Pak Darman?"
Pria tua itu tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Iya. Ini bapak, Nak Alex."
Mata Pak Darman berkaca-kaca. Terharu dapat berjumpa dengan orang yang pernah dirawatnya beberapa waktu yang lalu. Sungguh dia tak menyangka akan bertemu lagi dengan Alex.
Alex merangkul tubuh pria yang menjadi malaikat penolongnya itu tanpa sungkan sedikitpun.
"Bagaimana bisa bapak berada di sini?" tanya Alex setelah membawa pria tua itu duduk. Matanya tak lepas dari menatap wajah pak Darman yang masih menunjukkan keharuannya.
Pak Darman menghela napasnya pelan.
"Ceritanya panjang. Hampir satu bulan lebih bapak terlunta-lunta di jalanan tanpa ada tempat untuk berlindung. Bapak juga terpaksa jadi pemulung untuk bisa bertahan hidup. Untunglah tadi malam bapak bertemu dengan Denis. Dia membawa bapak kemari. Katanya ini rumah kamu."
"Iya, Pak. Ini rumah saya." Alex membenarkan ucapan pria itu. "Kenapa bapak meninggalkan rumah bapak di lembah itu?"
"Bapak sudah merasa tidak aman tinggal disana. Beberapa hari sebelumnya, ada beberapa orang datang ke sana. Untunglah bapak melihatnya terlebih dahulu sebelum mereka melihat bapak. Bapak yakin kalau mereka itu orang-orang suruhan dari pria yang bapak ceritakan padamu dulu."
"Jadi seperti itu. Tapi sepertinya bapak telah salah paham."
"Salah paham gimana? Bapak yakin kalau mereka punya niat tidak baik dengan datang ke sana."
"Sebenarnya, saya telah menyuruh anak buah saya untuk menjemput bapak saat itu. Saya sangat sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya jadi saya menyuruh anak buah saya untuk menjemput bapak. Saya ingin bapak tinggal disini bersama saya."
Ucapan Alex membuat Pak Darman terkejut.
"Nak Alex menyuruh orang untuk menjemput bapak?"
"Iya, Pak. Tapi mereka bilang rumah bapak kosong dan sepertinya sudah ditinggalkan sebelumnya."
"Oya?"
Pak Darman mengerutkan keningnya.
"Sudahlah. Sekarang yang penting bapak sudah ada disini bersama saya. Saya sangat senang dan saya harap, bapak akan betah tinggal disini. Anggap saja ini rumah bapak sendiri. Kalau bapak perlu apa-apa, bilang saja sama saya atau Denis." Alex mengusap bahu pria tua itu.
Mendengar penuturan Alex membuat Pak Darman semakin terharu.
"Terima kasih banyak Nak Alex. Semoga kebaikan Nak Alex dibalas oleh Allah SWT."
"Amiin. Tapi ini juga mungkin cara Allah untuk membalas kebaikan Pak Darman kepada saya dan Denis." ujar Alex.
"Apa yang bapak lakukan itu, hanyalah sebuah kewajiban bapak sebagai seorang manusia untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Janganlah Nak Alex menganggap berhutang budi sama bapak."
Alex tersenyum mendengar perkataan Pak Darman. Hatinya terasa sangat sejuk saat mendengar kata-kata bijak pria yang mempunyai penampilan sederhana itu. Rasanya seperti dia menemukan ayahnya kembali.
"Pokoknya, mulai saat ini, bapak tidak boleh kemana-mana. Tinggallah disini bersama saya. Kalau bapak berkenan, anggaplah saya sebagai anak bapak sendiri."
Mata Pak Darman berkaca-kaca saat mendengar ucapan Alex. Dia merangkul tubuh Alex dan tak kuasa menahan air matanya yang memaksa untuk keluar.
"Bapak seakan menemukan kembali keluarga bapak. Terima kasih banyak, Nak Alex."
"Semoga suatu saat nanti, bapak dapat bertemu kembali dengan keluarga bapak."
__ADS_1
"Aamiin.."
*********