Rahasia Denis

Rahasia Denis
Duapuluhsatu


__ADS_3

Malam semakin larut. Desau angin menyelinap masuk melalui celah dinding bambu yang tidak begitu rapat. Alex melengkungkan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Kain tipis yang diberikan Darman tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya.


Tidak jauh dari tempatnya berbaring, nampak Denis menggelungkan tubuhnya. Pondok milik Darman hanya berupa satu ruang tanpa sekat berukuran kecil. Mungkin karena awalnya Darman membuat pondok ini hanya untuk dirinya sendiri, sehingga dia membangun pondok ini dengan ukuran kecil, yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Sehingga ketika Alex dan Denis hadir, pondok ini terasa sangat sempit. Mereka harus berbagi tempat yang sempit ini bertiga. Darman nampak tidur mendengkur didekat pintu keluar. Denis terbaring hanya berjarak beberapa senti saja dari tempat Alex berada merapat ke dinding bambu.


Dari jarak sedekat ini, Alex dapat menjangkau tubuh Denis dengan tangannya.


Tiba-tiba Denis bergerak merubah posisi tidurnya. Alex segera memejamkan matanya pura-pura tidur. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada suara apapun, perlahan Alex kembali membuka matanya. Wajah Denis tepat berada didepan matanya.


Alex tertegun menatap wajah Denis. Wajah yang nampak sangat menggemaskan ketika tidur. Begitu damai dan suci. Alisnya tebal dan rapi. Dibawahnya nampak bulu matanya yang lentik dan panjang, saling bertautan melindungi matanya yang dalam dan tajam kalau terbuka. Hidungnya mancung dan sangat proporsional dengan bentuk wajahnya yang oval. Bibirnya bervolume, berwarna merah muda. Baru kali ini Alex dapat melihat detail wajah Denis. Ternyata dagunya memiliki belahan ditengahnya membuatnya nampak lebih manis dan menggemaskan.


Alex menelan salivanya. Memejamkan matanya dan menepuk kepalanya agak keras.


Arghh! Apa yang aku pikirkan?


Kembali Alex membuka matanya. Tiba-tiba ia merasa gerah. Disibakannya kain tipis yang membalut tubuhnya. Perlahan ia merangkak menuju pintu keluar. Setelah melewati tubuh Darman, akhirnya Alex berhasil membuka pintu dan ia segera keluar dari pondok.


Duduk dibale bambu sambil menatap bulan purnama yang berada tepat diatasnya. Alex membaringkan tubuhnya disana. Nampak bintang gemintang bertaburan dilangit yang gelap. Baru kali ini Alex dapat melihat bintang sebanyak itu. Mungkin karena disini jauh dari cahaya lampu sehingga dia dapat melihat semuanya dengan jelas.


Beberapa kelelawar terbang rendah dan hampir menyambar kepalanya. Alex terpekik kaget pada awalnya. Namun kemudian dia terbiasa dengan kehadiran binatang malam itu.


Alex kembali menatap bulan diatas sana. Namun bayangan wajah Denis malah mengganggu penglihatannya. Alex menekan kedua ujung matanya. Dia benar-benar benci dengan perasaannya.


Ada apa dengan diriku? Kenapa aku punya perasaan ini pada Denis? Apa aku sudah berubah haluan? Aargghh!


Alex memukuli keningnya dengan kepalan tangannya. Dia sangat frustasi. Dengan kasar dia bangkit dan kembali duduk. Diremasnya rambutnya dengan keras.


"Alex? Kenapa lo?" Suara serak Denis mengejutkannya. Alex menoleh ke arah sumber suara. Denis memeluk kain yang membungkus tubuhnya dengan rambutnya yang acak-acakan khas bangun tidur. Alex terpana menatap pemandangan didepannya. Kenapa dia melihat Denis seperti melihat...


Arghh! Ingat Alex, dia itu laki-laki. Bukan perempuan!!


"Kenapa kamu bangun?" tanyanya agak tergagap.


"Lo kenapa gak tidur?" Denis malah balik bertanya.


"Didalam gerah banget. Aku lagi nyari angin disini. Biar tubuhku agak adem."


Denis mengerutkan keningnya. Heran dengan jawaban Alex. Gerah dia bilang? Gerah dari mananya?


Denis duduk disamping Alex. Menutup mulutnya yang terkuak lebar karena menguap.


"Kalau ngantuk, tidur aja. Kenapa malah keluar?"


"Jadi kita besok pergi dari sini?" Seperti sudah jadi kebiasaan, Denis malah balik bertanya pada Alex.


"Sepertinya kita harus sedikit bersabar, kita ikut rencana pak Darman dulu. Biar besok beliau mencari tahu kondisi bang Theo terlebih dahulu. Baru kita tentukan langkah selanjutnya."


"Oke."


Denis memeluk kedua lututnya, merapatkan kedadanya. Wajahnya sedikit mendongak menatap purnama. Tanpa disadarinya mata Alex sedang terpukau oleh siluet wajahnya diantara keremangan cahaya rembulan.


Seekor kelelawar terbang cepat menukik hampir mengenai kepala Denis. Denis yang sedang asik memandang bulan terkejut bukan main. Dia terlonjak dengan reflek menghindar. Tubuhnya condong ke arah Alex dengan wajahnya menyentuh bahu Alex.


"Sorry," ucapnya sambil membetulkan posisinya. Jantungnya sedikit berdebar ketika tanpa disengaja dia bersentuhan dengan Alex.


Alex hanya terdiam tak menyahut apapun. Tanpa diketahui Denis, ada gelenyar aneh merambat ke jantungnya dan membuat jantung itu bergerak tak beraturan.


Alex merutuki dirinya sendiri. Semakin sering dia berinteraksi dengan Denis, semakin aneh respon dari tubuhnya. Alex sungguh tak menginginkan itu. Ini berada diluar kuasanya. Mana mungkin dia punya perasaan khusus pada Denis. Dia kan laki-laki?


Tiba-tiba Alex teringat seorang gadis yang tanpa kenal lelah selalu berusaha mencari perhatiannya. Dia adalah Viola. Gadis cantik dan seksi. Seorang yang sangat sempurna untuk mendapat perhatian dari setiap lelaki. Tapi anehnya, hatinya tak tergetar sedikitpun bahkan ketika gadis itu merapatkan tubuh seksinya pada Alex.


Apa ini alasannya sehingga aku tidak bisa menerima Viola? Apa aku memiliki kelainan sehingga aku sekarang malah menyukai Denis? Benarkah?!


Kembali Alex meremas rambutnya. Dilihatnya Denis yang membaringkan tubuhnya disebelahnya. Matanya yang semula menatap bulan, kini sudah terpejam. Tarikan nafasnya nampak teratur menandakan dia sudah terlelap. Tubuhnya terbalut kain tipis yang hanya sedikit menahan dingin yang menggigit.


Alex menggelengkan kepala melihat Denis yang dengan mudahnya kembali tertidur. Apa tadi dia sengaja mencari Alex karena Alex tidak ada didalam ketika dia terjaga? Tapi kenapa?

__ADS_1


Lama Alex menatap wajah Denis. Perlahan dia turut membaringkan tubuhnya disamping Denis. Menatap kembali wajah yang nampak begitu sangat berbeda ketika mata itu terpejam. Tidak ada wajah dingin dan datar. Yang ada hanyalah wajah manis dan damai.


Alex memalingkan tatapannya ke angkasa. Bulan disana sangat indah, seindah wajah yang sekarang ada dihadapannya. Perlahan mata Alex terpejam, melebur dalam mimpi yang indah dibawah sinar rembulan.


******


Kicauan burung menggantikan suara jangkrik yang sudah menyelesaikan tugasnya dimalam hari. Pagi datang menyamarkan cahaya bulan yang masih enggan meninggalkan cakrawala. Kabut tebal membawa butiran yang terasa sangat dingin ketika menyentuh kulit.


Namun kehangatan dirasakan oleh dua insan yang menyatu dalam dekapan. Dinginnya kabut pagi membuat Alex merapatkan pelukannya ditubuh Denis yang meringkuk didadanya.


Seekor burung yang bersarang disebuah pohon tepat didepan pondok berteriak nyaring membawa dua insan dari alam bawah sadarnya. Perlahan Alex membuka matanya. Namun mimpi itu terlalu nyata dan ia masih enggan untuk mengenyahkannya. Rasanya bahagia sekali bisa memeluk Denis walau hanya dalam mimpi. Dia mengeratkan pelukan itu.


Suara deritan pintu pondok membawa kesadaran Alex sepenuhnya.


"Alex? Denis?" Suara Darman yang penuh rasa keterkejutan membuat Alex tersentak. Dia melepaskan pelukannya dan segera bangun. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Denis ikut terbangun. Dia menggosok matanya dan melihat sekelilingnya.


"Ada apaan?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur. Terdengar begitu seksi ditelinga Alex. Dia masih tertegun menatap Denis. Matanya kemudian melihat ke arah Darman dengan panik.


"Kenapa kalian tidur diluar?"


Darman menatapnya bergantian dengan Denis. Kelihatan dengan jelas pria itu sangat terkejut mendapati pemandangan yang dia lihat tadi. Sedangkan Denis nampaknya tidak menyadari apa yang terjadi dengannya semalaman.


"Tadi malam saya gak bisa tidur pak. Makanya pindah keluar." Alex meringis. "Denis malah ikut-ikutan keluar. Kami ngobrol sebentar, gak tahunya malah ketiduran disini."


"Pak Darman mau turun ke sungai?" Tanya Alex mengalihkan suasana. Tatapannya kepada Darman mengisyaratkan agar Darman tidak mengatakan apapun pada Denis. Rasanya malu sekali ketika dipergoki Darman sedang memeluk Denis tadi. Jangan sampai Denis mengetahui akan hal itu. Bagaimana bisa dia melakukan itu. Alex menggelengkan kepala, tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya.


"Iya. Sekalian mau memeriksa bubu. Kalian mau ikut? Pagi hari mandi air sungai rasanya segar sekali. Kalian harus mencobanya." Darman pergi kesamping pondoknya. Mengambil bubu yang tergantung didinding luar pondok. Dia mengambil dua buah bubu sekaligus. Menyandang bubu itu dipunggungnya dengan menggunakan tali. Dia bersiap untuk turun ke sungai.


"Apa gak terlalu pagi ini pak? Masih gelap lho." Alex menurunkan kakinya dari bale. Memasukan telapak kakinya diatas sandal jepit yang sengaja dibelikan Darman kemarin.


"Sampai dibawah sudah terang nanti. Kalau kalian tidak mau ikut tidak apa-apa."


"Saya mau ikut pak." Segera Alex turun dari bale. Dia ingin ikut dengan Darman agar tidak berduaan dengan Denis. Rasanya bahaya kalau dia terlalu lama hanya berdua dengan Denis. Dia takut tidak dapat mengontrol perasaannya sendiri.


"Kamu gak ikut, Den?" Tanya Darman pada Denis.


"Ya sudah. Ayo." Darman menoleh kepada Alex dan beranjak meninggalkan tempat itu diikuti Alex dibelakangnya. Denis hanya terdiam memandang dua orang itu yang kini meninggalkannya. Termenung sendiri diatas bale, sampai dua orang itu hilang dari pandangan ditelan pekatnya kabut pagi.


Denis masih terdiam. Mengumpulkan kesadarannya setelah tidurnya terganggu dengan mendadak tadi. Sebuah sentakan yang membuat mimpi indahnya buyar seketika. Mimpi dimana dia merasakan pelukan Alex yang hangat dan nyaman ditubuhnya. Sebuah pelukan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa itu seakan nyata. Hangatnya masih sangat terasa.


Denis memeluk lututnya, menyatukan didadanya. Debaran yang dia rasa semakin nyata ketika bersama Alex. Dia tidak pernah merasakan debaran ini sebelumnya. Begitu sering dia berinteraksi dengan pria, tak pernah sekalipun dia punya rasa seperti ini.


Denis mengusap kasar rambutnya. Matanya terpejam dengan wajah mendongak.


Sial! Gue gak boleh seperti ini. Ini gak boleh terjadi !!


Denis beranjak turun dari bale. Berjalan memutar ke bagian belakang pondok Darman. Memasuki bilik tempat pancuran berada. Tanpa mempedulikan rasa dingin yang menggigit, dibasuhnya wajahnya dan mengucurkan sedikit air diubun-ubunnya. Menggosok gigi dengan sikat gigi yang disediakan Darman, membiarkan wajahnya berada dibawah kucuran air yang sangat dingin.


Dia kembali ke bale dengan gigil tubuhnya yang hampir membeku. Menarik kain tipis untuk dibalutkan ketubuhnya. Sekedar mengurangi sedikit saja rasa dingin itu.


Denis menuju perapian, menyalakan api didalamnya dan berjongkok didepannya merasakan hangat yang mulai terasa dilututnya.


Dia mengisi cerek dengan air dan meletakannya diatas tungku. Menunggu air mendidih dengan memandangi api di dalam tungku. Pikirannya melayang ke berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Sesuatu yang tidak ingin ia bagi kepada orang lain, walau berulang orang-orang disekitarnya berusaha untuk mengetahuinya.


Denis menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan melalui mulutnya. Semua beban hidupnya, terasa menghimpit rongga dadanya. Sesak dan sangat menyiksa. Walaupun selama ini dia bersikap biasa-biasa saja, namun tetaplah dia seorang manusia biasa. Yang punya hati dan punya rasa.


*****


Jalanan yang dilalui Darman dan Alex terasa licin karena kabut tebal yang turun. Jarak pandang masih sangat pendek hanya cukup untuk melihat jalan yang akan dilalui didepannya.


Keduanya melangkah dalam diam. Larut dalam pikiran masing-masing.


Darman akhirnya tidak bisa menahan diri dari pertanyaan yang bergelayut dibenaknya. Dia berdehem sebelum membuka suara.


"Alex."

__ADS_1


"Ya pak?"


"Bapak sangat terkejut melihat apa yang kamu lakukan pada Denis tadi." Ucapannya langsung tanpa basa basi.


Wajah Alex memerah ketika mendengar perkataan Darman. Dia menahan napas menunggu kelanjutan ucapan pria itu.


"Bapak tahu itu bukan urusan bapak, tapi rasanya aneh melihat kalian dalam keadaan seperti itu. Bapak minta maaf kalau terlalu ikut campur dengan urusan kalian."


Alex masih terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Lidahnya terasa kelu dan bingung menggelayuti pikirannya.


"Kalian sudah saling kenal cukup lama ya?"


"Tidak juga. Saya baru mengenalnya dalam satu bulan ini. Dialah yang telah menolong saya bersama bang Theo."


"Oya?"


"Ya. Dia sangat hebat. Pada saat sebelum saya ditembak, dia telah menghadapi para penjahat itu dan hampir dapat mengalahkan mereka. Tapi sayang, para penjahat itu curang, mereka mengeroyok Denis dan juga menggunakan senjata api untuk menghentikan perlawanan kami."


"Kamu kelihatan sangat mengaguminya."


"Aa..itu..mmaksud saya..Dia itu memang seperti itu orangnya. Bapak jangan salah paham." Entah kenapa Alex sangat gugup, seperti orang yang tertangkap basah sedang berbuat mesum.


"Dan mengenai kejadian tadi, itu benar-benar tidak disengaja. Itu diluar kesadaran saya. Saya tidak pernah berkeinginan untuk melakukan itu. Tolong jangan sampai Denis tahu hal itu, pak."


Darman tersenyum tipis walaupun dia tahu Alex tak akan dapat melihat senyumannya itu.


"Bapak pikir Denis juga punya perasaan yang sama denganmu." Darman tertawa diakhir kalimatnya. Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Meringis menanggapi ucapan Darman barusan.


"Bapak ini ada-ada saja. Itu tidak mungkin pak."


"Kenapa tidak mungkin? Kelihatannya kalian sangat cocok. Haha.."


"Sejauh ini saya merasa masih lelaki normal pak. Gak mungkin saya menyukai sesama." Namun hatinya berkata lain. Dia ragu dengan ucapannya sendiri. Darman terkekeh mendengar ucapan Alex.


"Dia itu sangat pendiam orangnya ya?"


"Ya. Tapi hatinya sangat baik. Dia kelihatan sangat dingin dan seolah tidak peduli, tapi rasa empatinya tinggi. Saya sangat bersyukur karena selalu dipertemukan dengan orang-orang baik seperti bang Theo, Denis dan pak Darman."


"Ah ya. Theo Theo itu, nanti kamu tuliskan alamatnya. Biar bapak selidiki dulu keadaan disekitarnya. Kalau cukup aman, baru kalian bisa temui dia."


"Saya berubah pikiran pak. Sepertinya saya tidak ingin melibatkan lagi keluarga bang Theo dalam masalah saya. Saya juga tidak ingin melibatkan bapak terlalau jauh. Saya tidak ingin orang-orang yang telah berjasa pada saya justru berada dalam bahaya karena menolong saya."


"Kamu tidak perlu berpikir seperti itu. Jangan merasa segan sama bapak. Bapak selalu siap untuk membantu kamu. Sekecil apapun yang bisa bapak lakukan, akan bapak lakukan."


"Terima kasih banyak pak Darman. Bapak orang yang sangat baik."


Mereka telah sampai ditepi sungai. Nampak sisa banjir kemarin telah meluluhlantakkan sepanjang bantaran sungai. Sampah bergelantungan diranting pohon yang tersisa. Lumpur tebal menutupi batu-batu dipinggir sungai. Air sungai nampak sudah kembali normal dengan warnanya yang cukup jernih.


Darman turun kedalam sungai. Menyusuri tempat yang biasa dia memasang bubunya. Ternyata bubunya memang telah hanyut dibawa banjir kemarin. Darman kemudian memasang bubu baru di dua tempat berbeda. Berharap besok ada banyak ikan yang akan memasuki bubunya.


Alex memperhatikan semua yang dilakukan Darman dengan antusias. Dia bilang kalau dia akan menyimpan semua ini di memorinya untuk dikenangnya suatu saat nanti. Semua yang terjadi kini, akan menjadi hal berharga dalam hidupnya.


Setelah selesai dengan semua pekerjaannya, Darman memeriksa beberapa genangan air dipinggir sungai akibat banjir kemarin. Dia bilang biasanya akan ada ikan yang terperangkap disana. Dan benar saja, nampak banyak bangkai ikan yang bergelimpangan disepanjang tempat yang dilewati banjir kemarin. Beberapa ikan yang ada digenangan air masih hidup. Darman menangkapnya dan memasukannya kedalam wadah yang dia bawa.


Setelah merasa cukup, dia mengajak Alex untuk pulang meninggalkan sungai yang mengalir tenang.


Matahari mulai menampakkan sinarnya ketika kedua orang itu berjalan beriringan menapaki jalan yang sedikit menanjak dan masih menyisakan basah dari embun semalam.


.


.


.


.

__ADS_1


.


******


__ADS_2