
Malam ini Denis sudah berada dirumah sakit. Rania menemaninya mendatangi rumah sakit untuk persiapan pelaksaan operasi cangkok ginjal yang akan dilakukan besok pagi.
Alex datang tidak lama kemudian. Dia membawa makanan dalam kantong plastik dan meletakkannya diatas meja.
"Kamu sudah makan malam?" Tanyanya kepada Denis.
"Belum." Rania yang menjawab. "Denis belum makan malam."
"Pas banget kalau begitu. Saya bawa makan malam buat kita." Alex mengeluarkan makanan yang dibawanya. Menghidangkannya diatas meja.
"Tante, ayo kita makan sama-sama." Ajak Alex kepada Rania.
"Kalian saja. Tante sedang menunggu om Andres. Dia masih di kantor dan akan langsung kesini katanya." Ujar Rania.
"Oh. Kalau gitu saya sama Denis makan duluan."
Rania tersenyum dan menggangguk. Dia kemudian pamit keluar dari kamar Denis dengan alasan mau menelepon suaminya. Namun tentu saja alasan utamanya adalah dia ingin memberi ruang kepada kedua orang anak muda itu untuk dapat menikmati waktu kebersamaan mereka tanpa gangguan darinya.
"Apa kamu merasa gugup?"
"Kenapa?"
"Karena besok kamu akan dioperasi."
"Enggak."
"Tapi aku justru merasa gugup. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu."
"Lebay."
"Serius. Seharian ini aku memikirkan kamu."
"Penipu."
"Aku tidak bohong. Kenapa kamu tidak pernah percaya kepadaku?"
Denis mendengus pelan.
"Kamu tidak percaya kepadaku?"
"Kenapa harus percaya?"
Alex menghela nafas. Ditatapnya Denis dengan sedikit putus asa.
"Siapa cowok yang tadi siang sama kamu?" Dia malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Teman."
"Kamu kelihatan nyaman bicara sama dia."
"Tentu. Dia teman lama gue."
"Kenapa kamu tidak bisa bersikap begitu kepadaku?"
"Begitu gimana?"
"Nyaman dan biasa saja. Kenapa kamu selalu emosional saat bicara denganku? Selalu sinis dan tidak bersahabat? Kenapa?"
"Gue gak ngerasa begitu."
"Kamu memang seperti itu kepadaku."
"Lalu kenapa lo masih saja deket-deket sama gue? Seharusnya lo pergi jauh dari gue."
"Jadi, kamu sengaja bersikap begitu biar aku menjauh dari kamu? Begitu?"
__ADS_1
Denis terdiam.
Alex tersenyum getir.
"Aku sekarang mengerti. Ternyata kamu belum bisa menerimaku. Bodohnya aku."
"Lo baru tahu kalau lo bodoh?" Denis tersenyum miring. "Lo bodoh karena sudah membatalkan pertunangan lo sama Viola. Lo bodoh karena sudah susah-susah deketin gue."
Alex mengangkat tatapannya. Ada luka disana mendengar ucapan Denis barusan.
"Lagian lo harus tahu, kalau gue.." Denis menggantung ucapannya. Nampak dia sedikit ragu.
"Kamu kenapa?"
"Gue..gue gak suka sama cowok." Denis melengoskan wajahnya setelah mengatakan itu.
Alex memejamkan matanya perlahan. Kepalanya terasa sakit. Bahkan jantungnya seakan tercabut dari tempatnya.
Makanan belum ada yang tersentuh. Masih utuh diatas meja. Tak ada satupun yang menarik minta keduanya. Hening seketika menyelimuti ruangan itu.
"Katakan kalau kamu bohong." Desis Alex beberapa saat kemudian dengan matanya yang masih terpejam.
"Gue gak bohong. Gue gak ada perasaan apapun sama cowok manapun. Jauhin gue. Jangan pernah lagi deketin gue dengan cara lo yang menjijikan itu."
Alex menelan salivanya dengan susah payah. Dadanya berdenyut keras.
Saat dia membuka matanya, ada kaca-kaca disana yang terlihat dengan jelas. Denis memalingkan wajahnya. Menghindari wajah Alex yang sayu seakan baru saja kehilangan sinarnya.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Suara Alex lemah.Serak. Menahan kesakitan yang teramat sangat.
"Gue gak ngelakuin apa-apa sama lo. Lo yang sudah menyakiti diri lo sendiri." Denis bangkit dari tempat duduknya. Melangkahkan kakinya ke dekat jendela dan menatap lurus keluar dengan membelakangi Alex. Kedua tangannya masuk kedalam saku celananya.
Alex meremas rambutnya dengan frustasi. Menghenyakkan belakang kepalanya ke sandaran sofa tempat dia duduk saat ini.
"Pergilah dari hidup gue. Jangan pernah nemuin gue lagi." Pelan suara Denis namun cukup terdengar oleh Alex.
"Gue sudah mengatakan dengan jelas. Gue. Gak suka. Cowok. Ini gak akan berhasil."
"Aku bisa menerima kamu apa adanya." Entah sejak kapan Alex sudah berada dibelakang Denis. Gadis itu cukup terkejut sebenarnya. Namun dia berusaha bersikap biasa saja.
"Kita bisa mencoba menjalani hubungan ini." Lanjut Alex.
"Kenapa gak lo coba saja sama Viola. Dia sangat suka sama lo. Dia mencintai lo."
"Aku tidak pernah menyukainya. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku saja." Alex mendesah pelan. " Kamu tahu tadi siang kenapa kita bertemu disana? Dia ingin pamitan padaku karena akan pergi keluar negeri. Dia sudah bisa menerima keputusanku untuk membatalkan pertunangan kami. Dia bisa menerima kalau aku tidak akan pernah bisa menerima dia sebagai kekasihku. Dia bisa mengerti kalau aku sudah memilihmu untuk kujadikan sebagai pendamping hidupku. Aku sudah sangat percaya diri kalau aku akan hidup bahagia denganmu. Aku bisa merasakan kalau kamu pun punya perasaan yang sama denganku. Aku tidak mungkin salah dalam menilai sikapmu selama ini kepadaku."
Alex berujar dengan lirih. Dia melangkah kesamping Denis dan menarik bahu gadis itu. Ditatapnya lekat mata Denis yang kelam.
"Katakan kalau kamu juga mencintaiku." Kedua tangannya memegang bahu Denis yang kokoh.
Denis memalingkan pandangannya. Alex menahan dagu gadis itu. Mencengkeramnya sedikit kuat sehingga wajah gadis itu tetap menghadap kepadanya.
"Gue gak pernah suka sama cowok. Termasuk sama lo." Bola matanya sedikit bergetar saat mengatakan itu.
"Tapi, bagaimana dengan ini? Apa kamu juga tidak pernah menyukainya?" Tak memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menjawab, Alex menyatukan bibirnya dengan bibir Denis tanpa aba-aba.
Mata Denis terbuka lebar. Tubuhnya membeku. Namun kesadarannya segera memutus keterpanaannya karena tindakan Alex. Sekuat tenaga dia mendorong tubuh Alex. Dengan sigap Alex menangkap kedua tangan Denis. menghempaskannya ke dinding dan menguncinya disana.
Cukup lama mereka terbuai dengan sentuhan yang hangat dari penyatuan kedua bibir mereka, sampai saat lutut Denis terangkat dengan sisa tenaganya dan menyodok bagian bawah tubuh Alex. Mau tidak mau Alex melepaskan bibir Denis dan wajahnya terjatuh di bahu Denis dengan erangan pelan yang terdengar jelas di telinga Denis.
Denis mendorong tubuh Alex dengan nafasnya yang terengah karena kehabisan oksigen akibat kelakuan Alex.
Alex sedikit terhuyung ke belakang dengan tubuh sedikit membungkuk merasakan sakit akibat hantaman lutut Denis yang lumayan kuat.
"Sekali lagi lo kayak gitu sama gue, gue gak segan bunuh lo." Denis menggosok bibirnya kasar dengan punggung tangannya. Wajahnya merah padam dan meringis geli karena sentuhan Alex.
__ADS_1
Alex tidak menyahut. Dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Mengatur nafasnya yang sama tersengal oleh emosi dan hasrat yang tertahan. Kepalanya benar-benar sakit. Hatinya juga.
*****
Sepagi itu Alex sudah terbangun dari tidurnya yang tidak lelap sama sekali. Bagaimana bisa tidur dengan nyaman kalau dia hanya membaringkan tubuhnya disebuah sofa yang sempit. Tadi malam, dia bersikukuh untuk menemani Denis di rumah sakit dan memaksa Rania agar pulang saja bersama suaminya.
Walaupun Denis sudah memasang wajah sangar namun hati Alex tidak gentar. Dia tak menghiraukan Denis yang berulangkali mendengus kesal karena Alex yang keras kepala ingin tetap menemaninya.
Setelah acara makan malam mereka yang gagal, Alex tidak mengkonsumsi apapun hingga pagi ini walau hanya sekedar untuk mengganjal perutnya. Dia seolah ikut berpuasa dengan Denis yang pagi menjelang siang nanti akan melakukan operasi.
Bahkan pagi ini pikirannya sudah dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah pengambilan ginjal Denis dan memindahkannya kepada sang nenek.
Alex benar-benar tidak merasa tenang.
Faizal, asisten pribadinya datang pukul tujuh tepat. Dia membawakan sarapan dan baju ganti untuk Alex. Dengan terpaksa Alex menyantap makanan yang dibawa oleh asistennya. Bagaimanapun juga, dia butuh energi untuk melewati hari ini. Setelah itu dia mandi dan berganti pakaian.
Rania datang tidak lama kemudian. Setelah melihat keadaan Denis, dia kemudian pergi ke kamar Aryanti untuk melihat ibunya dan memberikan dukungan moril terkait operasi yang akan dilakukan tidak lama lagi. Walaupun dia masih marah pada ibunya, namun disaat seperti ini, Rania sadar, dia harus mengalah dan meredam semua kekesalannya kepada ibunya. Lagipula, semua ini terjadi karena keinginan Denis sendiri. Semua sudah sepakat bahkan sudah di tandatangani hitam diatas putih. Rania sudah tidak bisa menolak lagi.
Cukup lama Rania tidak segera kembali ke kamar Denis.
Denis hanya memainkan ponselnya sambil duduk diatas pembaringan untuk mengisi waktu luangnya.
Di sofa, ada Alex yang sedang asik dengan tabletnya. Sepertinya dia sedang mengerjakan sesuatu terkait pekerjaannya di kantor karena dia nampak sangat serius.
Hanphonenya berbunyi menghentikan aktifitas Alex dengan tabletnya.
"Hallo, mbak Fani?"
Denis menggerakkan bola matanya mendengar Alex menyebut nama mbak Fani. Dengan sudut matanya dia memperhatikan Alex yang sedang berbicara.
"........."
"Iya, benar. Operasinya pagi ini. Tolong doanya ya mbak semoga operasinya berjalan lancar. Semoga Denis bisa menghadapi operasi ini dengan baik dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan." Mata Alex lekat menatap Denis saat mengatakan itu.
Denis kembali mengalihkan tatapannya ke ponsel yang sedang dipegangnya. Namun telinganya setia mendengarkan apa yang dikatakan Alex kepada mbak Fani.
"Denis masih dikamar ini mbak. Belum ada dokter yang datang nih. Kenapa ya mbak?"
"........"
"Mamanya Denis lagi memeriksa ke kamar nenek Aryanti. Mungkin nanti setelah itu baru ada instruksi buat Denis."
"........"
"Iya, mbak. Makasih atas doanya."
Alex menutup telepon dari Mbak Fani.
"Mbak Fani kirim salam buat kamu. Dia juga kirim doa semoga kamu baik-baik saja katanya."
"Hmm."
Pintu kamar terbuka. Rania muncul dari balik pintu dengan tergesa. Matanya nanar menatap Denis yang sedang melihat kearahnya.
"Ada kabar baik untukmu sayang."
Rania meluru mendekati Denis. Ditangkupnya wajah putrinya itu dengan kedua telapak tangannya.
"Ginjal kamu gak jadi diambil." Senyuman penuh keharuan terbayang diwajah Rania. Matanya berkaca-kaca menatap Denis.
"Apa maksud mama?" Denis menatap bingung. Alex mendekati kedua orang itu dengan rasa penasaran akan berita yang baru disampaikan oleh Rania.
"Ada orang yang dengan baik hati ingin memberikan ginjalnya untuk nenek. Sekarang mereka sudah berada di ruang operasi."
"Siapa orang itu?"
__ADS_1
*****