
Malam merangkak menuju jantungnya. Rumah pak Mijan nampak sudah senyap dari keriuhan tadi siang. Anak-anak pak Mijan sudah kembali ke rumah masing-masing. Hampir semua orang dirumah itu sudah terlelap. Kecuali satu orang.
Denis masih duduk dikursi yang ada diteras belakang rumah pak Mijan.
"Kenapa belum tidur?" Suara Alex mengagetkan Denis. Dia menoleh sedikit walaupun sebenarnya dia sangat terkejut.
"Belum ngantuk." Jawab Denis singkat. Alex duduk disamping Denis. Matanya menatap langit yang bertaburkan bintang-bintang. Tiba-tiba dia teringat ketika dia menatap bintang yang sama banyaknya seperti ini ketika tinggal dilembah bersama Darman. Kala itu dia dan Denis duduk berdua menatap bintang. Ini seperti de javu.
"Kamu masih kepikiran tentang bang Theo?"
"Iya." Denis menghela napas pelan.
"Semoga dia baik-baik saja." Gumam Alex.
Denis mengangguk. Diapun berharap hal yang sama dengan yang diharapkan oleh Alex.
Tadi siang dia meminjam ponsel Anwar untuk menelepon ke nomor rumah bang Theo. Dia ingat nomor itu diluar kepala. Begitu juga dengan nomor telepon bengkel. Kalau ponsel bang Theo dia memang tidak hapal. Begitu juga nomor ponsel Mbak Fani atau milik Sisil.
Kekecewaan harus dia telan karena tidak ada yang mengangkat telepon rumah seorangpun. Berulangkali dia coba untuk menelepon namun sia-sia. Kemudian dia beralih menelepon bengkel. Namun lagi-lagi dia harus kecewa karena hanya nada sibuk yang dia dengar.
"Berapa lama kita akan berada disini?" Tanya Alex sambil menatap bulan yang mengintip dari sela dedaunan.
"Terserah lo." Alex melirik Denis dengan sudut matanya. Beberapa hari kemaren dia tidak mendengar kata 'lo' 'gue'. Kenapa sekarang muncul lagi?
Alex menghela napas dan membuangnya pelan. Merapatkan kedua tangan didadanya, menahan rasa dingin yang terasa menusuk kulit.
"Aku mau kembali ke Jakarta. Kau mau menemaniku?"
Denis tidak segera menyahut. Dia berdiri dan berjalan menuju pagar tembok setinggi pinggang. Memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Lama aku tidak menginjakkan kakiku disana." Gumamnya lirih.
"Kamu tidak merindukan keluargamu?" tanya Alex.
"Tidak." Jawab Denis cepat.
Alex tersenyum datar mendengar jawaban Denis. Menggelengkan kepalanya pelan seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Denis. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Keheningan melanda untuk beberapa waktu.
"Apa rencana lo kalau kita ke Jakarta?" Tanya Denis tanpa menoleh kepada Alex. Yang ditanya tidak segera menjawab. Dia bangkit dari tempat duduknya. Berdiri bersisian dengan tubuh Denis.
Tadi siang, setelah Denis gagal menelepon bang Theo, Alex mencoba menelepon rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat teleponnya ada yang mengangkat. Suara pembantu dirumahnya sangat dia kenal. Namun Alex segera menyerahkan handphone ke tangan Denis untuk bicara dengan pembantunya.
"Hallo. Maaf, dengan siapa ini?" Tanya bi Rumi, pembantu dirumah keluarga Alex, dengan logatnya yang khas.
"Saya temannya Alex. Apa dia ada?" Jawab Denis diikuti oleh pertanyaan pura-pura.
"Lho..aden belum tahu ya kalau den Alex.."
"Siapa bi?"
Terdengar suara lain menjeda ketika bi Rumi hendak menjawab pertanyaan Denis.
"Ini temannya den Alex.."
"Hallo..?
__ADS_1
Terdengar suara diseberang sana telah berganti. Sepertinya wanita ini mengambil alih begitu saja telepon yang sedang digenggam bi Rumi. Jika mendengar suaranya, Denis dapat membayangkan kalau wanita ini lebih muda dari bi Rumi dan sangat hati-hati dengan ucapannya.
"Anda siapa ya?"
Wanita diseberang sana kembali bersuara. Denis melirik Alex sekilas. Cowok itu sedang menatapnya penuh rasa penasaran.
"Saya temannya Alex. Saya baru pulang dari England dan ingin bertemu dengan Alex. Apa saya bisa bicara dengannya?" Akting yang luar biasa. Alex mengacungkan jempolnya yang tidak ditanggapi sama sekali oleh Denis.
"Siapa namamu? Apa saya mengenalmu?"
Denis agak mengernyitkan keningnya. Dengan cepat otaknya mencari nama yang cocok untuk dia sebutkan kepada wanita diseberang sana.
"Kalau boleh tahu, anda siapa ya? Apa anda mamanya Alex?" Hanya mengulur waktu sebelum menemukan nama yang tepat yang akan dia sebutkan.
"Iya. Saya mamanya Alex."
"Saya.. David, tante. Teman kuliah Alex. Lama kami tidak bertemu." Denis menyeringai tipis ketika mengucapkan kalimat itu.
"David?"
"Ya, tante. Bisa saya bicara sama Alex?"
"Apa kamu tidak mendengar berita tentang Alex?:
Suara wanita itu terdengar lirih.
"Berita tentang apa, tante?"
"Berita tentang Alex..."
"Dia...dia mengalami kecelakaan. Dan dia..dia sudah meninggal."
Wanita diseberang sana terisak. Menangis meratapi Alex. Denis sampai harus menjauhkan benda pipih itu dari telinganya karena tangisan mamanya Alex yang terdengar meraung keras.
Dan sekarang, Alex masih terdiam memikirkan apa yang akan dia lakukan. Mamanya begitu terpukul ketika mendapat telepon dari orang yang mengaku sebagai teman anaknya. Hatinya bimbang. Apa dia harus bicara langsung dengan mamanya dan mengatakan bahwa dia sebenarnya masih hidup? Apa yang akan terjadi jika dia muncul setelah berita kematiannya yang diketahui secara umum? Apa tanggapan mamanya jika mengetahui kebenarannya?
Bukan hanya mamanya yang menjadi pertimbangan jika dia memunculkan dirinya setelah acara pemakanannya yang diratapi banyak orang. Ada satu orang yang paling ingin dia lihat ekspresinya jika dia pulang nanti. Orang yang sudah menodongkan senjata kepadanya dengan terang benderang. Alex sangat tidak sabar ingin segera menemui orang itu. Tapi tentu dia tidak bisa sembarangan menemui orang itu. Dia bahkan tidak tahu apa yang ada dibalik keramahan dan kasih sayang yang ditunjukkan orang itu selama ini. Apakah dia bekerja sendiri atau ada orang lain dibelakangnya.
Alex masih tidak memilki petunjuk mengenai hal itu. Dia harus benar-benar mengatur langkah. Jangan sampai kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya, dengan tetap memberinya kehidupan hingga hari ini, akan terbuang dengan sia-sia. Sekarang ini, dia harus mengetahui terlebih dahulu, siapa lawan dan siapa kawan. Siapakah yang harus dia percaya saat ini?
*****
Pagi-pagi sekali rumah pak Mijan sudah kembali riuh dengan suara Mariana yang sudah berada di dapur bersama bu Darmini. Keceriaan menular keseluruh rumah dengan celotehnya yang tiada henti. Kadang terdengar suara tawa bu Darmini ketika Mariana mengatakan sesuatu hal yang lucu.
"Mak'e pasti akan sangat merindukan kamu setelah kamu kembali ke Jakarta nanti." Bu Darmini mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
"Aku juga pasti bakal merindukan mak'e. Soalnya mak'e baik banget sama aku, kayak mak'e aku sendiri." Mariana melingkarkan tangannya dipinggang bu Darmini. Merebahkan kepalanya dibahu bu Darmini dengan manja.
"Ada apa pagi-pagi udah rangkul-rangkulan begitu?" Pak Mijan masuk kedapur setelah melakukan kegiatan rutinnya setiap pagi. Apalagi kalau bukan mengurus binatang peliharaannya di halaman belakang. Ikan dan ayam yang menjadi pengisi waktu luangnya setelah dia berhenti bekerja di rumah keluarga Denis.
"Ini lho pak'e, Mariana sudah mau kembali ke Jakarta. Mak'e pasti kangen sama anak ini yang bawelnya gak ketulungan." Bu Darmini terkekeh.
"Kapan kamu kembali ke Jakarta?"
"Besok. Sekarang mau pamitan, takutnya gak sempat."
__ADS_1
"Baik-baik kamu ya nduk di perantauan. Apalagi kamu anak perawan. Harus bisa jaga diri." Pak Mijan bertutur dengan penuh kasih sayang. Mariana memang sudah seperti anak sendiri baginya. Selain karena Mariana merupakan adik ipar Anwar, Mariana dan kakaknya Marni, sudah tidak memiliki orangtua. Mereka hidup sebatangkara ketika Marni menikah dengan Anwar. Kehadiran pak Mijan dan bu Darmini, membuat dua orang kakak beradik itu mendapatkan sosok orangtua yang sangat mereka rindukan. Terlebih lagi sikap pak Mijan dan bu Darmini yang sangat penuh kasih sayang dan sudah menganggap mereka sebagai anak sendiri.
"Nggih." Mariana menyahut dengan penuh hormat.
"Jangan lupa kampung halaman, yo nduk. Mak'e doakan kamu segera dapat jodoh. Biar ada yang jagain kamu." Bu Darmini mengusap lembut lengan Mariana.
"Ih..apa sih mak'e. Pacar juga belum punya mak'e." Mariana mengerling ke arah Alex dan Denis yang baru datang ke ruang makan. Kedua orang itu langsung duduk dikursi meja makan dan bergabung dengan yang lainnya.
"Mas Anwar gak kesini, Pak?" Tanya Denis pada pak Mijan.
"Dia kerja. Paling nanti sore dia datang kesini."
Bu Darmini menghidangkan sarapan pagi untuk semua orang. Mereka kemudian sarapan sambil diselingi obrolan ringan yang memperlihatkan keakraban keluarga kecil pak Mijan.
"Jadi kamu mau kembali ke Jakarta?" tanya Alex pada Mariana.
"Iya. Besok pagi habis subuhan berangkatnya."
Alex melirik Denis yang sedang fokus pada makanannya. Wajah datarnya membuat siapapun enggan untuk mengajaknya bicara. Alexpun mengurungkan niatnya untuk menyampaikan apa yang ada dalam hatinya. Dia kembali menyantap sarapannya dalam diam. Hanya sesekali mengangkat wajahnya untuk tersenyum menanggapi obrolan pak Mijan dan Mariana.
Selesai sarapan mereka berpindah ke teras belakang. Tempat favorit bagi seluruh anggota keluarga untuk menghabiskan hari jika bosan berada didalam rumah. Mariana membantu bu Darmini merapikan meja makan dan mencuci piring bekas mereka sarapan.
"Saya rasa, secepatnya saya harus kembali ke Jakarta. Mungkin besok adalah waktu yang tepat." Kata Alex ketika mereka sudah duduk di kursi yang ada diteras belakang.
"Apa nak Alex sudah memikirkan baik-baik keputusan nak Alex ini?" Pak Mijan menatap Alex.
"Semakin lama saya bersembunyi, semakin orang itu tidak terkendali. Saya sangat mengkhawatirkan keluarga saya. Saya tahu, mereka pasti tidak baik-baik saja."
Pak Mijan menghela napas. Matanya menyiratkan kekhawatiran pada dua orang anak muda yang ada dihadapannya saat ini. Percobaan pembunuhan terhadap Alex merupakan kejahatan yang serius. Orang yang melakukannya pastinya sudah merencanakan dengan matang dan dia merupakan orang yang sangat berbahaya. Apalagi dia merupakan orang dekat dan orang kepercayaan Alex dan keluarganya. Saat ini entah apa lagi yang sedang orang itu rencanakan.
Setidaknya Alex tahu untuk saat ini keluarganya ada dalam keadaan aman. Tapi dia tidak tahu apa rencana terselubung dari orang itu sehingga masih bisa bersama dengan keluarganya. Setelah apa yang sudah dia lakukan terhadap Alex.
"Kalian akan tinggal dimana kalau sudah sampai disana?" Tanya pak Mijan.
"Kami akan mencari rumah kontrakan disana pak. Saya tidak mau mengambil resiko dengan meminta bantuan pada orang yang saya kenal. Biarlah kami bersembunyi dari siapapun yang mengenali saya."
Pak Mijan manggut-manggut mendengar penuturan Alex.
"Kalian bisa pergi kesana bareng sama Mariana. Disana dia bisa mencarikan rumah kontrakan untuk kalian."
"Ya. Mungkin begitu lebih baik." Alex mengangguk setuju. Dia kemudian menanyakan pendapat Denis. Dan Denis setuju jika mereka pergi besok dan bersama dengan Mariana.
"Bapak sebenarnya sangat senang jika kalian berlama-lama disini. Tapi bapak mengerti, nak Alex harus segera menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh nak Alex. Bapak hanya bisa berpesan, kalian harus hati-hati disana. Selalu waspada kepada setiap orang yang ditemui."
"Terima kasih pak. Pesan bapak akan selalu saya ingat." Alex mengangguk sopan. Walaupun pak Mijan merupakan mantan pekerja dirumah keluarga Denis, namun tak lantas membuat Alex merasa lebih tinggi kedudukannya dari pria desa itu. Sudah menjadi sifat Alex yang terkenal sangat menghargai orang lain di lingkungan keluarga dan ditempat kerjanya. Apalagi ini merupakan orang yang sudah menolongnya ditengah perjalanannya menguak fakta yang tersembunyi didalam kehidupannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*****