Rahasia Denis

Rahasia Denis
Duapuluhdelapan


__ADS_3

"Sudah ada kabar dimana Icha berada sekarang?" Rania menatap seorang pria yang berdiri sopan dihadapannya.


"Maafkan saya nyonya. Kami belum mendapatkan posisi nona. Informasi yang kami dapat, nona ikut dengan seorang wanita bernama Mariana. Namun setelah kami cek ke tempat tinggal Mariana itu, ternyata nona tidak berada disana." Pria itu menundukan wajahnya. Kedua tangannya menangkup di bawah perutnya. Ada perasaan bersalah karena belum bisa memenuhi harapan majikannya.


"Bagaimana bisa kalian kehilangan jejak Icha? Harusnya ini lebih mudah bukan?" Rania berdiri dari duduknya. Suaranya sedikit tinggi dan frustasi. Jarinya menekan bagian tengah keningnya. Matanya terpejam.


"Maafkan saya, nyonya." Pria itu tak berani mengangkat wajahnya. Dia berdiri diam menunggu arahan selanjutnya dari sang majikan.


Rania mengibaskan tangannya menyuruh pria itu untuk pergi dari hadapannya. Dia kembali duduk setelah pria itu menghilang dibalik pintu.


Andres datang tidak lama kemudian. Dia duduk disamping istrinya. Menatap wajah lelah sang istri. Nampak gurat kekecewaan diwajah cantik istrinya.


"Tidak perlu putus asa. Setidaknya kita tahu Icha baik-baik saja dan dia berada semakin dekat dengan kita. Percayalah, tidak lama lagi kalian pasti akan segera bertemu." Ucapnya mencoba menghibur hati Rania.


"Terima kasih.."


"Aku akan menyuruh anak buah kita untuk terus mencari Icha. Kita pasti akan segera menemukannya." Andres mengusap lembut tangan Rania. Wanita itu menatap suaminya penuh haru. Senyuman tipis tersungging dibibirnya. Tatapan Andres jatuh ke bibir itu. Menatap kembali mata istrinya sekilas, kemudian mendaratkan ciuman lembut dibibir Rania.


"Kau harus lebih rileks, tidak boleh terlalu tegang begini. Pikirkan juga kesehatan dirimu sendiri."


"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku."


"Bagaimana mungkin aku tidak khawatir. Kau lebih fokus pada pencarian Icha sekarang. Kau melupakan yang lainnya."


"Kamu cemburu?"


"Sedikit."


"Aku harus bagaimana? Aku sudah menyia-nyiakan seluruh waktuku bersama Icha. Sekarang dia tidak ada bersama kita. Aku baru sadar semua kesalahanku padanya. Bukan hanya ibu yang merasa menyesal, aku sebagai ibu kandungnya, lebih menyesal lagi."


"Kita akan memperbaiki semuanya. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Icha pasti akan memaafkan semua kesalahanmu dimasa lalu."


Rania menatap lekat suaminya. Menyentuh wajah Andres dengan lembut.


"Aku sangat beruntung memilikimu. Terima kasih untuk semuanya."


"Aku juga minta maaf kalau selama ini aku selalu bersikap tidak sopan kepada ibumu. Aku hanya tidak suka dengan sikapnya padamu."


"Aku mengerti. Kalau bukan kamu yang membelaku, aku tidak tahu bagaimana aku menjalani kehidupanku disini. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap ibu kepadaku. Aku bagaikan orang asing dimata ibu."


"Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan itu. Sekarang, sebaiknya kita istirahat. Kamu sudah menyia-nyiakan waktumu bersamaku. Jangan sampai kamu menyesal karena membuatku kecewa."


Rania tertawa pelan. Mengalungkan tangannya dileher Andres sambil menatap lembut suaminya itu.


"Kamu benar. Selama ini aku kurang memperhatikanmu. Aku minta maaf."


"Kamu terlalu banyak minta maaf untuk hari ini. Sisakan untuk besok. Aku yakin, kamu masih memerlukan kata itu untukku." Andres mengecup sekilas bibir Rania diakhir kalimatnya.


"Terlalu banyak kesalahanku padamu. Aku akan selalu minta maaf padamu." Wanita itu berucap didepan bibir suaminya.


"Aku akan selalu memaafkanmu, istriku."


Andres kembali menyatukan bibir mereka. Satu tangannya menyelusup kebawah lutut istrinya. Mengangkat tubuh Rania dengan hati-hati dan membawanya ke kamar mereka.


Malam yang dingin menjadi saksi bersatunya cinta dua insan yang selama ini saling mengacuhkan satu sama lain. Ternyata dengan saling bicara, semua terasa lebih mudah.


*****


Ditempat lain di waktu yang sama, Tania dan Bisma berada didalam ruang kerja Arga Dinata. Keduanya nampak serius membicarakan satu topik rahasia diantara mereka.


"Aku tidak mau tahu, Bisma. Kau harus memastikan kecurigaanku itu tidak benar. Aku tidak bisa tenang sebelum semuanya clear."


"Kamu jangan berlebihan seperti ini, sayang. Percayalah padaku. Aku sendiri yang melenyapkannya. Dengan tanganku sendiri. Tidak mungkin dia selamat. Kamu jangan membuat dirimu gila dengan pemikiran yang tidak masuk akal ini."


"Aku benar-benar tidak bisa berfikir sekarang. Aku bisa gila karena hal ini."


"Jangan panik, sayang. Ayolah. Bagaimana kalau kita bersenang-senang? Kau harus melupakan masalah ini sejenak."

__ADS_1


"Aku tidak bisa tenang sebelum semuanya jelas Bisma. Jangan mengalihkan pembicaraan kita..."


Bisma segera membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya. Membuat wanita itu tidak berkutik. Namun kesadaran Tania segera kembali. Dia mendorong tubuh Bisma dengan kasar. Matanya menatap nanar pria itu.


"Tolong Bisma. Ini bukan waktunya untuk itu. Aku benar-benar tidak bisa tenang sekarang."


"Ayolah Tania. Kenapa panik seperti ini. Semuanya baru dugaanmu saja. Lagi pula, kau tahu aku tidak akan tinggal diam membiarkan sesuatu mengacaukan semua rencana kita. Kau tahu aku kan?"


"Jangan abaikan fakta kalau kau pernah gagal sebelumnya, Bisma. Dan mungkin saja kau pun gagal untuk kedua kalinya."


"Itu karena kebodohan anak buahku, Tania. Dan sudah kupastikan kalau aku tidak pernah gagal dengan tanganku sendiri."


Tania mendengus kesal.


"Apa kau melihat sendiri mayatnya? Tidak kan? Bagaimana kalau dia selamat waktu itu?" Wanita itu memberondong Bisma dengan pertanyaan. Bisma menggeram pelan. Dia memang tidak melihat mayat Alex. Tapi yakin kalau dia sudah membuat anak itu menjadi mayat. Dia sendiri yang menembak Alex tepat didadanya. Dengan tangan dia sendiri. Dan didepan matanya sendiri, tubuh yang bersimbah darah itu jatuh kedalam jurang yang dalam. Menurut logikanya, tidak mungkin Alex akan selamat dalam keadaan seperti itu. Apalagi tempat dia mengeksekusi jauh dari jangkauan penduduk. Sangat kecil kemungkinannya ada orang yang akan menolong Alex.


"Aku mau tidur sekarang. Jangan ganggu aku." Suara Tania menyentakkan dia dari angannya. Tanpa menunggu jawaban dari Bisma, Tania keluar dari ruangan itu dengan langkah gusar.


"Tania..." Suara Bisma menggantung. Dia menatap kepergian wanita itu dan mendecak kesal. Bagaimana bisa wanita itu begitu gusar hanya karena sebuah mimpi buruk yang dialaminya tadi malam. Itu bermula dari sebuah panggilan telepon yang mengatasnamakan teman lama Alex yang mengaku tidak mengetahui tentang kematian Alex. Dan menurut Tania, itu terasa sangat janggal. Mengingat berita kematian Alex yang sangat menggemparkan media saat itu. Tidak mungkin ada yang tidak tahu tentang berita itu.


Sekarang wanita itu meradang. Mengusik ketenangan Bisma setelah mampu meredam berita simpang siur tentang kecelakaan dan kematian Alex.


Dirogohnya ponsel dari saku celananya. Menekan satu nomor dan tanpa menunggu lama orang yang ditujunya menyahut dari ujung telepon.


"Kau sudah berhasil melacak nomor itu?"


"........"


"Pastikan semuanya aman terkendali."


"........"


Bisma menutup panggilannya dengan kasar. Kemudian dia keluar dari ruangan itu. Waktu sudah hampir tengah malam. Tapi dia masih harus memastikan sesuatu, sebelum dia bisa tidur dengan tenang.


*****


Sebuah kasur lantai yang tipis tergelar ditengahnya. Satu-satunya barang yang ada diruangan kamar itu. Itupun diberikan oleh pemilik kos dengan gerutuan tidak jelas dari mulutnya.


"Setidaknya kita punya tempat untuk berteduh." Kata Alex ketika melihat Denis hanya berdiri dan menatap liar seluruh ruangan itu.


Denis tidak menyahut. Dia tidak masalah kalau harus tidur dengan keadaan yang minim itu. Masalahnya adalah, mereka hanya berdua di ruangan yang sempit itu. Dan itu sedikit mengganggu kesehatan jantungnya.


Tanpa memperdulikan Denis, Alex merebahkan tubuhnya dikasur tipis itu. Untuk saat ini dia tidak akan mempermasalahkan hal itu.


"Kamu masih mau berdiri disana?" Mata Alex yang sudah terpejam kembali terbuka. Memicing menatap Denis yang masih berada diposisi semula.


Perlahan Denis mendudukan dirinya ditepi kasur yang tipis itu. Melingkarkan tangannya di kedua lututnya. Tanpa mengucapkan apa-apa.


"Tidurlah Denis. Kita perlu istirahat."


"Lo duluan."


Alex tidak berucap lagi. Matanya kembali terpejam. Rasa lelah melanda seluruh tubuhnya. Setelah perjalanan panjang dari kampung tempat pak Mijan ke kota ini, menghabiskan waktu yang tidak sebentar didalam bus, tubuhnya terasa sangat remuk. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Untunglah Mariana menolong mereka mendapatkan kontrakan dengan cepat. Walaupun jauh dari kata layak, tapi setidaknya dia dan Denis bisa mendapatkan tempat untuk berlindung dari panas dan hujan.


Rumah ini tidak terlalu jauh dari tempat Mariana kos. Hanya terpisah beberapa blok saja. Namun berada dibagian dalam gang. Tidak seperti milik Mariana yang berada di bagian depan dan menghadap ke jalan.


Setelah mewanti-wanti Mariana agar merahasiakan identitas mereka, Denis dan Alex berpisah secara diam-diam dari Mariana. Mereka harus hati-hati untuk hal sekecil apapun. Apalagi setelah mendapat kabar dari Anwar bahwa ada orang yang mencari Denis ke rumah pak Mijan.


Denis merebahkan tubuhnya disamping Alex. Matanya menatap lurus langit-langit kamar yang warna catnya sudah buram. Seburam pemikirannya saat ini.


Siapa yang mencarinya ke rumah pak Mijan? Apakah itu orang suruhan ibunya? Untuk apa? Bukankah mereka tidak peduli padanya?


Denis melipat tangan dibelakang kepalanya. Memikirkan lagi apa yang akan dilakukannya besok. Matanya yang masih menerawang langit kamar perlahan meredup dan akhirnya menutup rapat dengan napas halusnya yang nampak mulai teratur.


*****

__ADS_1


"Kamu tahu daerah ini?" Alex bertanya dengan penuh keraguan. Seumur hidupnya tinggal di Jakarta, dia baru tahu kalau di tengah ibukota yang megah ternyata ada perkampungan yang kumuh dan tidak layak huni. Rumah yang bertumpuk tidak beraturan didalam gang yang sangat sempit. Hanya cukup untuk satu orang berjalan. Bau pengap sangat menyesakkan indera penciuman. Belum lagi air pembuangan yang mengalir digot yang berwarna hitam. Sesekali tikus besar melintas memasuki lubang-lubang yang tersembunyi.


Denis terus melangkahkan kakinya menyusuri gang sempit itu. Sesekali dia harus berhenti dan memiringkan tubuhnya ketika berpapasan dengan pejalan kaki yang lain. Alex hanya menguntit Denis dari arah belakang. Sesekali dia menggelengkan kepalanya tidak percaya ada tempat seperti ini dibalik gedung-gedung mewah sana.


"Kamu yakin tahu tempat ini?" Masih penasaran karena belum mendapatkan jawaban dari Denis.


"Iya."


Sepertinya mereka hampir sampai diujung gang. Nampak lalu lalang kendaraan didepan sana. Alex semakin semangat mengikuti langkah Denis. Dua orang pria nampak sedang berjalan ke arah mereka. Rambut gondrongnya berkibar seiring langkah tegap mereka.


"Bang Jack! Nerrow!" Denis memanggil dua orang itu. Dia nampak gembira karena bertemu dengan orang yang dia kenal.


"Denis!!" Dua orang itu semakin mempercepat langkahnya. Saling mengadu kepalan tangan dan tepukan di bahu yang cukup keras. Nampak mereka sangat antusias ketika bertemu satu sama lain.


Lelaki yang dipanggil bang Jack merangkul bahu Denis dan mengguncangnya menunjukan rasa senangnya.


"Habis semedi dimana lu?" Kemudian pandangannya jatuh kepada Alex yang berdiri sedikit dibelakang tubuh Denis.


Denis hanya nyengir tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu. Dia lebih memilih untuk menyalami pria yang dipanggilnya Nerrow dengan cara yang sama dengan yang dilakukannya pada bang Jack.


"Wahh! Lama gak ketemu lu Den. Gua kira dah Innalillahi lu..Haha.." Pria itu meninju bahu Denis yang ditanggapi dengan ringisan kecil oleh Denis.


"Kita ngobrol di basecamp aja. Yok!" Jack mematahbalik langkahnya. Mereka beriringan berjalan menuju mulut gang. Denis mengenalkan Alex kepada dua orang pria yang baru mereka temui itu sambil berjalan.


Mereka masuk ke sebuah pintu yang ada di dinding gang. Pintu kecil yang bahkan untuk melewatinya mereka harus sedikit merundukkan tubuhnya. Sebuah ruangan gudang menyapa mereka begitu tubuh mereka melewati pintu itu. Banyak barang ada didalam sana. Ada sofa lusuh yang terletak dibagian dalam. Mereka duduk disana. Nerrow mengambil minuman dari dalam sebuah kulkas kecil yang ada disudut ruangan.


"Tadi kalian mau kemana?" Tanya Denis sambil membuka penutup minumannya.


"Mau kerumah Andro yang ada diseberang sana. Lu ingat kan sama dia?"


Denis mengerutkan keningnya. Mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh Jack.


"Sudah kalo lu gak inget. Sekarang ceritain tentang lu. Kemana aja lu selama ini? Gila lu. Ngilang gak bilang-bilang."


Denis terkekeh.


"Gua kabur dari rumah."


"Gua tahu lu kabur. Tapi kemana lu pergi?"


Denis menghela nafasnya sebelum mengisahkan kembali perjalanannya selama ini. Semuanya dia ceritakan kepada kedua orang pria itu. Jack dan Nerrow mendengarkan dengan serius kisah Denis. Sesekali mereka menjeda untuk menekankan lagi cerita Denis. Alex hanya mengiyakan semua yang dituturkan Denis kepada dua temannya.


"Sekarang apa rencana lu berdua?" Tanya Jack setelah Denis selesai menceritakan kisahnya.


"Pertama sekarang, gue butuh kerjaan. Gue perlu duit buat keperluan sehari-hari.."


"Masalah itu lu tenang aja. Duit masalah enteng. Lu bisa ngandelin gua." Jack menukas dengan cepat. "Dimana lu tinggal sekarang?"


Denis menyebutkan alamat tempat dia ngontrak.


"Kenapa lu gak langsung ke tempat gua aja? Lu gak perlu bayar duit sewa kalau sama gua." Pria yang dipanggil Nerrow berujar.


"Sorry, gue gak kepikiran ke elu. Lagian kita datang sama teman. Dia nawarin tempat. Ya udah kita ambil."


Agak lama mereka ngobrol di tempat itu. Alex sesekali saja bersuara, itupun kalau ada yang bertanya kepadanya. Dia merasa risih sebenarnya berada diantara orang-orang itu. Tapi dia berusaha mengimbangi orang-orang itu. Dia tidak punya pilihan lain. Mungkin ini jalan yang harus dia lalui untuk dapat menguak satu kebohongan besar yang selama ini tersembunyi.


.


.


.


.


.


*****

__ADS_1


__ADS_2