Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Dua


__ADS_3

Alex sangat gelisah. Dia menjalani pertemuan bisnisnya dengan pikiran yang tidak menentu. Bayangan Denis yang akrab dan mesra dengan seorang pria di bandara terus menari-nari diingatannya.


Alex cemburu. Dia kesal. Sekarang semuanya jadi berantakan. Dalam jadwal dia seharusnya dua hari di Singapura, namun baru sampai saja perasaannya sudah tak bisa dikendalikan.


Untunglah dia masih menjunjung tinggi profesionalisme. Dengan menarik nafas dalam-dalam, Alex berusaha menahan emosinya. Dia bermonolog dengan dirinya sendiri, meyakinkan kalau Denis hanya mencintai dirinya saja. Bukan orang lain.


Dua hari Alex bisa menahan diri dari keinginannya untuk segera pulang dan menemui Denis. Dan saat dia berhasil pulang, tujuan utamanya adalah menemui Denis. Dimintanya sopir yang menjemput untuk langsung mengantar kerumah Denis. Dan dengan tega dia menyuruh sekretaris cantiknya untuk pulang menggunakan taksi.


Gadis cantik yang sudah sangat percaya diri karena diajak pergi bersama Alex itu langsung terhempas. Dia pikir akan mendapatkan perhatian Alex setelah perjalanan bisnis mereka. Ternyata dia salah. Alex tidak menganggapnya sama sekali. Bahkan Alex hampir tidak pernah memandang dirinya selain untuk urusan pekerjaan.


Memasuki kediaman Rania yang sepi, langkah Alex langsung menuju kamar Denis. Pintu kamarnya nampak sedikit terbuka dan terdengar tawa yang lepas dari dalam sana. Itu bukan suara Denis.


Alex memelankan langkahnya saat mendekati ambang pintu. Nafasnya tercekat saat dia melihat dua orang manusia berbeda jenis berada diatas tempat tidur.


Alex mengetuk pintu dua kali, membuat kedua orang yang sedang asik bicara itu menoleh kearahnya. Tanpa disuruh, Alex memasuki ruangan kamar Denis dengan mata melekat diwajah gadis itu.


Denis yang sedang duduk bersila diatas tempat tidurnya menatap Alex dengan tenang. Sedangkan Davin yang bersandar di headboard mengernyitkan matanya. Dia mengenali Alex sebagai cowok yang dua hari lalu bertemu dengannya di bandara. Saat itu cowok itu kelihatan sangat marah kepada Denis.


"Bisa kita bicara?" Tatapan Alex tajam dan dalam menembus mata Denis.


"Ngomong aja." Sahut Denis acuh.


"Berdua." Ujar Alex.


Matanya melirik tajam kearah Davin. Melihat situasi itu Davin menyunggingkan senyuman. Sepertinya dia bisa menebak siapa pria itu.


Dia teringat pembicaraan di meja makan tadi pagi.


"Apa Alex belum pulang?" Tanya Rania kepada Denis.


"Belum." Seperti biasa Denis akan menjawab singkat.


"Dia gak ngasih kabar kapan pulang?"


"Enggak."


"Alex? Siapa Alex?" Tanya Davin sambil membagi tatapannya kepada Denis dan mamanya.


"Calon kakak ipar kamu." Andres yang menjawab.


"Wow! Calon kakak ipar?" Davin berseru takjub.


Denis hanya mendelik ke arah papa tirinya yang menyunggingkan senyum menggoda.


"Aku mau dong kenalan sama dia." Davin nampak sangat antusias.


"Di hari kamu datang, dia malah berangkat ke Singapura." Rania mengerlingkan matanya kepada Denis.


"Bentar. Jadi yang ketemu dibandara itu, dia.."


"Kalian ketemu di bandara?"


"Iya. Cowok tinggi, ganteng, keren..dan dia sangat pencemburu.." Davin terkekeh di akhir kalimatnya. Masih terbayang tatapan tajam pria yang bertemu di bandara itu saat menatap dirinya. Sekarang dia baru mengerti.


"Apa sih lo." Denis menampar rambut atas Davin hingga berantakan. Davin menggerakkan kepalanya sambil masih tertawa.


"Pantas saja dia kelihatan garang banget lihat aku sama Denis, Ma. Mama harus lihat matanya nyaris keluar lihat aku peluk Denis."


Rania tertawa mendengar penuturan putranya.


"Dia itu cinta mati sama kakak kamu. Kakak kamu tuh sok jual mahal sama Alex, padahal dia juga cinta."


"Mama.." Denis menatap mamanya memohon agar mamanya tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


Tawa bahagia terdengar pagi itu di meja makan.


Sekarang pria itu sudah ada disini. Davin memicingkan matanya melihat pria itu yang sangat jelas menunjukkan rasa tidak sukanya melihat Davin berada di kamar Denis.


Hmm! Apa gak masalah kalau dia sedikit bermain-main disini?


"Kalau lo mau ngomong, ngomong aja." Davin merengkuh bahu Denis. Merapatkan tubuh Denis ke tubuhnya. "Gue punya hak buat dengar apa yang mau lo omongin sama dia." Dengan sengaja Davin menempelkan pipinya di pipi Denis.


Denis sedikit membeliak melihat perlakuan Davin kepada dirinya. Ingin rasanya dia mendorong tubuh Davin kuat-kuat, namun justru adiknya itu mengeratkan pelukannya. Dan dengan dramatis, Davin meraih jemari Denis dan mengangkatnya untuk kemudian dikecupnya dalam-dalam.


Melihat apa yang dilakukan Davin, wajah Alex memerah. Dia melengoskan wajahnya sekilas, namun detik berikutnya dia menarik baju Davin dan melayangkan sebuah pukulan ke wajah Davin.


Davin terpelanting dengan erangan kesakitan mendapat pukulan yang penuh amarah dari Alex. Denis memekik kaget melihat apa yang dilakukan Alex.


"Davin!!" Denis memeriksa wajah Davin yang nampak memerah akibat pukulan dari Alex. Dia kemudian menoleh kearah Alex dengan geram.


"Lo kenapa? Apa yang lo lakuin sama adik gue??"


"A..adik?" Alex terperangah tak percaya.


"Ya! Dia adik gue. Kenapa? Lo ada masalah apa sama dia?" Denis mendorong dada Alex dengan kasar. Matanya berkilat marah kepada pria itu. Sedangkan Davin, dia meringis sambil mengurut rahangnya yang terasa panas akibat hantaman tinju Alex.


"Dia? Adik kamu?" Alex seakan masih belum percaya. Matanya melebar saat menatap Davin. Kemudian matanya mengerjap saat menatap Denis.


*****


Davin sedikit merintih saat Denis mengompres rahangnya yang terkena hantaman tinju Alex.


"Diam lo."


"Sakit tau."


Alex hanya berdiri menyilangkan kedua tangan didadanya memperhatikan kedua orang itu.


"Lo gak minta maaf sama adik gue?" Denis menatap sinis ke arah Alex.


"Dia yang sudah sengaja mancing aku supaya marah." Sahut Alex datar.


"Apa? Gue gak lakuin apa-apa?" Davin dengan wajah sok polosnya.


"Kamu sengaja peluk Denis, cium Denis, biar apa?"


"Tapi seharusnya lo gak langsung maen tangan." Denis menukas.


"Aku gak tahu dia adik kamu."


"Harusnya lo mikir, gue gak pernah buat itu sama cowok manapun."


"Iya. Maaf. Aku sangat marah melihat kamu dipeluk cowok lain." Alex merendahkan suaranya. Dia kemudian berjalan mendekat kearah Denis dan duduk disampingnya.


"Sekarang kamu tahu kan kalau kamu main-main sama cowok lain?" Bisiknya didekat telinga Denis.


"Hei! Lo ngancam gue? Dia adik gue, bukan cowok lain! Terus apa kabar lo yang pergi berdua sama cewek cantik?"


"Cewek cantik? Siapa? Bagiku cewek cantik itu cuma kamu, sayang."


Uekk!!


Davin berakting seolah sedang muntah. Komplit dengan tubuhnya yang membungkuk dan tangannya yang memegang perut.


Wajah Denis memerah. Tangannya menoyor kepala adiknya dengan sebal.


Alex tidak menghiraukan tingkah Davin.

__ADS_1


"Kamu tahu? Dia bahkan pulang naik taksi tadi. Aku tidak tertarik sama sekali sama perempuan seperti itu. Aku sukanya cuma sama kamu."


"Stop! Gue rasanya enek banget lama-lama disini. Gue pergi deh. Lo berdua, silakan mau gelud sekalipun." Davin mengangkat kedua tangannya dan beranjak keluar dari kamar Denis. Tak lupa dia menutup pintu dibelakangnya setelah sebelumnya melambaikan tangannya kearah kedua orang yang dia tinggalkan.


"Oke. Jadi kamu cemburu lihat aku sama sekretaris aku?"


"Gue. Gak cemburu." Denis melengoskan wajahnya. Alex menarik dagu gadis itu, sehingga Denis menoleh kearahnya. Mendekatkan wajahnya ke wajah Denis.


"Tapi aku suka melihat kamu cemburu." Bisiknya dengan senyuman dibibirnya. Ibu jarinya mengusap bibir Denis lembut. "Kamu tahu? Aku hampir gila memikirkan kamu dengan cowok lain."


*****


"Jadi, kalian sudah berkenalan?"


Alex tidak pulang kerumahnya hingga tiba waktunya makan malam. Semua keluarga Denis sudah berkumpul di meja makan.


Rania menatap Alex dan Davin bergantian. Seyumnya menyiratkan kebahagiaan karena bisa makan bersama kedua putra putrinya. Plus ada Alex disana, yang dia harapkan akan segera menjadi anggota keluarganya setelah menikahi Denis kelak.


"Perkenalan yang tak 'kan terlupakan, Ma." Jawab Davin dengan sedikit lirikan sinis kepada Alex.


Alex mendehem pelan.


"Maaf. Tadi ada sedikit salah faham." Ucap Alex. "Saya tidak tahu kalau Davin adalah adik Denis."


"Ya. Davin baru saja pulang dari Singapore. Denis dan Davin juga baru bertemu setelah sekian lama. Sangat wajar kalau kamu juga baru bertemu dengannya." Rania tersenyum.


"Ya. Dan...Emm..Karena semua sudah berkumpul disini, saya ingin..Err..Maksud saya.."


"Lo mau ngomong apa sih? Pegel gue dengernya.." Davin menyela dengan kesal.


"Davin.." Rania menatap lembut wajah putranya itu, memberi isyarat agar diam dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Alex.


Alex mengambil nafas dalam-dalam. Menghembuskannya perlahan. Kemudian kembali mencoba menyusun kata.


"Tante, om.." Ada jeda sejenak. "Malam ini, saya ingin melamar Denis untuk menjadi istri saya."


Uhuk!


Denis terbatuk. Dengan gugup dia mengambil gelas dihadapannya dan meneguk isinya dengan cepat.


Hening sesaat. Semua saling memandang dengan tatapan yang, entahlah. Mungkin terkejut, atau mungkin bahagia..


"Maaf." Alex menahan debaran didadanya melihat reaksi semua orang terhadap pernyataannya barusan. Wajahnya sedikit pucat dan dibawah meja, kedua tangannya saling bertautan. Menunggu tanggapan pertama dari salah satu diantara mereka.


"Kenapa minta maaf?" Rania menahan senyumnya.


"Mungkin ini sedikit mengejutkan tante dan om. Tapi saya tidak ingin menundanya lagi. Saya bersungguh-sungguh dengan niat saya untuk menikahi Denis. Dua hari saya berada jauh darinya, membuat saya semakin memantapkan hati saya untuk secepatnya mempersunting putri om dan tante." Sekarang wajahnya mendongak menunjukkan tekadnya yang kuat. Dia sudah bisa mengendalikan dirinya.


Denis hanya terdiam dengan wajah yang berubah warna. Sudah berulangkali Alex menyatakan keinginannya itu, namun malam ini rasanya sangat berbeda.


"Kami sangat senang mendengar maksud baikmu itu. Tentu saja kami sangat menghargainya. Namun, tentu keputusannya ada ditangan Denis. Iya kan, sayang?" Andres yang menjawab diakhiri dengan pertanyaan untuk istrinya. Rania mengangguk.


"Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendengar kata-kata lamaranmu itu, Alex. Tante sangat senang. Tapi, kita harus menanyakan pendapat Denis." Rania mengalihkan tatapannya kepada Denis. "Bagaimana sayang? Apa jawabanmu?"


Denis masih membisu.


Dibawah meja, Davin menendang kaki kakaknya dengan jail.


"Jawab dong." Bisiknya dengan suara yang terdengar oleh semua orang.


Denis menelan salivanya dengan susah payah.


"Denis." Mamanya memanggil dengan lembut.

__ADS_1


Alex menatap Denis penuh harap. Berharap gadis itu memberikan jawaban sesuai dengan yang dia inginkan. Bukan sebuah penolakan seperti yang biasa dia berikan. Alex menunggu. Dan dia akan selalu sabar menunggu,sampai kata-kata indah keluar dari bibir indah milik Denis.


*****


__ADS_2