Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Tiga


__ADS_3

"Kamu suka cincinnya?"


Sepasang tangan menyelusup dipinggang Denis dari arah belakang. Melingkar dan dan bertautan di depan perut Denis. Dagu Alex menopang di bahu Denis. Nafasnya terasa hangat menerpa leher Denis, membuat Denis merasa sedikit sesak dan kesulitan bernafas.


Dia mencoba mengurai tangan Alex yang berada diperutnya, namun Alex malah semakin mengeratkannya.


"Diamlah. Biarkan seperti ini sebentar." Bisik Alex diiringi kecupan kecil dipipi Denis.


Denis pasrah. Bukan dia tidak mampu menyingkirkan tubuh itu dari dirinya. Namun justru dia sangat suka sentuhan pria itu. Tubuhnya menginginkan Alex.


Tubuhnya yang tadi tegang sekarang semakin rileks. Hanya jantungnya yang masih berdegup keras tak beraturan.


"Terima kasih karena sudah mau menerima lamaranku malam ini. Aku sangat bahagia."


"Lo akan menyesal karena sudah melamar gue."


"Biarlah waktu yang akan membuktikannya kalau kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku." Alex kembali mengecup Denis.


"Dan satu lagi, aku akan menggigitmu kalau kamu masih lo-gue saat bersama denganku." Alex melirik ekspresi gadis itu. "Mau mencobanya sekarang?"


"Apa?"


"Gigitanku."


Denis hampir saja menyikut perut Alex yang menempel erat dipunggungnya. Namun sebelum itu terjadi, Alex memegang erat tangan Denis dan merapatkan pelukannya.


"Aku harus meningkatkan ilmu bela diriku jika mau menikah denganmu. Kamu sangat garang. Tapi aku sangat suka gadis yang garang sepertimu." Alex terkekeh pelan seraya kembali mengecup pipi Denis.


"Alex! Lepas!" Denis menggeliat, mencoba melepaskan diri dari Alex. Sangat berbahaya terlalu lama berada dalam pelukan pria itu bagi dirinya.


"Baiklah. Aku akan melepaskanmu. Tapi jangan salahkan aku kalau malam ini kamu tidak bisa tidur."


"Kenapa?"


"Karena kamu akan terus memikirkanku."


"Tidak mungkin."


"Lihat saja nanti."


Alex tertawa pelan. Dia kembali mengecup pipi Denis sebelum benar-benar melepaskan gadis itu.


"Kamu ingin aku menginap disini?"


"Lo punya rumah sendiri. Kenapa harus menginap disini."


"Oke. Mana yang harus aku gigit?" Alex kembali menarik tangan Denis.


"Alex!!"


"Aku tidak main-main."


"Oke. Sorry. Aku..belum terbiasa.."


Denis menghempaskan tangan Alex dan segera menjauh dari pria itu. Alex melebarkan senyumnya. Matanya sangat nakal saat menatap Denis. Entah sejak kapan dia berubah menjadi sangat mesum seperti itu. Seingat Denis dulu pria itu tidak semesum ini. Dia sangat dingin dan datar kepada setiap gadis yang memujanya. Tapi kepada Denis, entah apa yang membuat dia bisa bersikap 180 derajat berbeda dari sikap aslinya.


"Baiklah. Aku akan pulang. Besok siap-siap kita akan mencari gaun pengantin."


"Apa? Gaun pengantin? Buat siapa?" Mata Denis melebar.


"Ya buat kamu lah, sayang. Kamu mau aku belikan gaun pengantin buat gadis lain?"

__ADS_1


"Tunggu! Siapa yang mau pake gaun pengantin? Gue..maksudku..aku tidak mau pakai gaun pengantin atau apapun itu.."


"Terus, kamu mau pakai baju apa dihari pernikahan kita? Mau pake jas juga sama kayak aku? Hmm?"


Denis kelu. Gaun?? Oh my God!! Seumur-umur dia tidak pernah menyentuh pakaian yang berbau feminin. Dia sangat anti dengan semua pernak-pernik perempuan. Bahkan saat sekolah, Bu Darmini harus berusaha keras untuk membujuknya agar mau menggunakan rok sekolah. Dan apa tadi? Gaun pengantin? Tidak!!


Ini semua gara-gara mamanya. Setelah lamaran Alex dia terima, ternyata itu tidak cukup sampai disitu. Mamanya membahas tentang pernikahan. Dia mengusulkan agar pernikahan dilaksanakan secepatnya. Alex tentu saja sangat antusias saat mamanya Denis itu membahas hal yang memang sangat dia inginkan. Itulah tujuan utamanya melamar Denis. Dia ingin secepatnya menikahi gadis itu.


Ternyata gayung bersambut. Rania dan Andres sangat mendukung niat Alex untuk sesegera mungkin membawa gadis itu kepelaminan. Tidak baik niat baik ditunda-tunda. Kata mereka.


Dan, fix. Pernikahan mereka akan dilaksanakan bulan depan. Tidak ada penolakan. Mereka langsung menentukan tanggal pernikahan. Denis hanya bisa pasrah dengan semua yang diputuskan oleh Alex dan Rania, mamanya. Dan sepertinya, Rania lebih antusias menyambut pernikahan putrinya daripada Denis sendiri.


*****


Dengan penuh drama, akhirnya Alex pergi juga dari rumah itu. Davin yang menyaksikan langsung polah kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu hanya geleng-geleng kepala.


"Ternyata dia segila itu ya, sama lo." Davin menyender di samping pintu kamar Denis saat Denis hendak kembali ke kamarnya setelah mengantar Alex keluar. Kedua tangannya menyilang didada.


Denis mengurungkan langkahnya untuk memasuki kamarnya.


"Apa menurut lo, gue sudah mengambil keputusan yang benar dengan menerima dia?"


"Ya ampun Denis. Lo masih ragu sama keputusan lo?" Davin menyipitkan matanya. "Percayalah, dia cowok satu-satunya didunia ini yang terbaik buat lo."


"Lo sarkas sama gue?"


"Enggak. Beneran." Davin mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk hurup V. "Gue bisa lihat kalau dia benar-benar cinta mati sama lo. Dia juga cowok yang baik dan bertanggung jawab, secara dia selalu memprioritaskan lo sebagai orang yang dia cinta. Dan matanya itu, saat menatap lo.."


Denis langsung masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya tanpa menghiraukan ucapan Davin. Suara anak kunci yang diputar membuat Davin tidak punya kesempatan untuk menerobos masuk kedalam kamar Denis.


Dan malam ini, Denis benar-benar tidak bisa tidur. Perlakuan Alex yang luar biasa dan juga rencana pernikahan mereka membuat Denis kesulitan memejamkan matanya.


Dan, gaun pengantin?? Itu merupakan horor yang sebenarnya!


*****


Bahkan Rania sempat menyatakan keheranannya saat Alex tidak kunjung datang. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Alex di meja makan.


Setelah rutinitas pagi di rumah selesai, Andres dan Rania berangkat ke tempat kerja masing-masing. Davin ada rencana untuk datang ke kantor papanya, tapi nanti setelah agak siang. Dia masih betah bermalas-malasan dirumah dan sangat suka dengan kegiatan barunya yaitu mengganggu sang kakak.


Tidak ada telepon atau pesan dari Alex hingga jam sepuluh pagi.


Untuk mengobati kebosanan dan juga rasa kesal karena tidak ada kabar dari Alex, Denis mengajak Davin untuk keluar. Sekalian setelah itu mereka akan pergi ke kantor Andres.


Dengan mengendarai mobilnya, Denis membawa Davin ke bengkel milik bang Theo.


Suasana bengkel nampak cukup ramai. Denis langsung membawa Davin ke kantor bang Theo.


"Denis!" Lukman berada disana dan menyadari kehadiran Denis. "Mau ketemu bang Theo?"


"Iya." Mulutnya menjawab sementara tangannya menyalami Lukman.


"Masuk aja. Dia ada didalam kok." Lukman mendorong pintu untuk Denis. Menahannya sampai Denis dan Davin masuk melewatinya.


"Bang! Ada tamu penting, nih!" Seru Lukman kepada Bang Theo. Denis hanya tersenyum tipis. Bang Theo tersenyum lebar melihat siapa yang datang.


"Denis! Tumben lo inget sama gue." Bang Theo menepuk bahu Denis.


"Gak mungkin gue lupa sama abang." Denis menyalami Bang Theo. Kemudian menoleh kearah Davin. "Kenalin bang. Ini adik gue."


"Adik? Lo punya adik?"

__ADS_1


"Iya bang." Denis meringis. Teringat bagaimana dulu dia mengaku tidak memiliki siapapun kepada Bang Theo. Dia mengaku hidup sebatang kara tanpa seorangpun sanak saudara. Denis merasa menyesal sudah melakukkan itu.


Bang Theo mengajak kedua tamunya untuk duduk. Memesan minuman dan camilan melalui telepon kepada pegawai yang ada di cafe. Kemudian dia fokus untuk ngobrol dengan Denis.


"Terima kasih lo udah ngantar Sisil pulang tempo hari. Semenjak pindah kesini, gue agak kewalahan mengawasi anak gue." Bang Theo menghela nafas.


"Sisil cerita gue ngantar dia pulang?"


"Penjaga rumah yang bilang. Terus gue tanya Sisil. Dia bilang ketemu sama lo di parkiran sebuah rumah makan."


"Ya, begitulah."


"Dia belum memiliki banyak teman di kota ini. Sekali ada yang mendekati dia, ya gitu, dia langsung dapat cowok brengsek yang gue yakin dia cuma mau manfaatin Sisil doang. Gue udah larang dia datang ke rumah. Eh, malah main belakang diam-diam bawa Sisil jalan. Lo tahu sendiri kan, Sisil itu masih anak-anak. Dia belum bisa berpikir panjang. Belum waktunya buat terlalu dekat sama cowok, apalagi cowok itu lebih dewasa dari Sisil. Untunglah hari itu lo mergokin mereka."


"Gue juga sudah peringatin cowok tu biar gak dekatin Sisil, Bang."


"Makasih, Den. Dulu gue tenang waktu Sisil diantar jemput lo tiap hari. Sekarang dia maunya bebas gak mau diantar jemput ke sekolah. Gue gak tenang jadinya."


"Abang jangan terlalu mengekang dia. Nanti dia malah makin memberontak. Tapi tentu harus diawasin juga, jangan sampai ada orang yang manfaatin keluguan dia."


"Itulah susahnya gue."


Pintu kantor bang Theo terbuka. Seorang gadis dengan masih berseragam sekolah masuk dengan wajahnya yang cemberut. Namun saat melihat siapa yang sedang duduk di sofa, wajahnya langsung berubah.


"Kak Denis!" Serunya dengan riang. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Denis. Hampir saja dia memeluk Denis kalau tidak melihat Denis yang mengerutkan bahunya dan meringis geli.


"Iya. Iya. Sisil gak peluk kak Denis. Tahu kak Denis geli kalau dipeluk sama Sisil." Gadis itu merengut manja. Namun dia kemudian tersipu malu saat matanya bersirobok dengan mata Davin yang kebetulan sedang menatapnya.


Bang Theo hanya tertawa saat melihat Sisil yang masih bersikap manja kepada Denis.


"Tapi kak Denis beneran perempuan 'kan?"


"Hei, pertanyaan macam apa itu?" Bang Theo menegur putrinya sambil menahan tawa.


"Tapi 'kan dulu kita nyangkanya dia ini laki-laki, Pah. Teman-teman Sisil yang cewek banyak yang naksir dan titip salam buat kak Denis dulu." Sisil mengenang saat Denis masih tinggal bersama keluarganya.


Denis menggaruk tengkuknya sambil meringis. Davin terkekeh mendengar penuturan Sisil.


"Apa gue bilang. Lo pasti jadi rebutan cewek kan?"


"Gak juga. Oya, Sisil. Kenalin ini adiknya Kak Denis." Denis mengalihkan pembicaraan dengan mengenalkan Davin kepada Sisil.


Sisil tersenyum manis kepada Davin. Mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya. Davin menyambut tangan gadis itu dan melemparkan senyum yang tak kalah manisnya.


Bunyi telepon dari saku celana Denis menjeda obrolan didalam ruangan kantor milik bang Theo. Denis mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo?"


"Hallo, Denis. Apa pak Alex sedang bersama kamu?"


Pertanyaan Faisal membuat Denis makin mengerutkan alisnya.


"Gak ada. Tadi malam dia pulang jam sepuluh malam dan gue gak ketemu dia sampai sekarang."


"Apa? Tapi dia gak pulang ke rumah sejak dia kembali dari Singapura. Saya pikir dia masih bersama kamu makanya saya tidak meneleponnya tadi pagi."


"Apa?" Denis terkejut. Dia bangkit dari duduknya, wajahnya berubah menjadi sangat serius. Davin, Bang Theo dan Sisil menatap Denis dengan penuh rasa penasaran.


"Ada apa?" Tanya Davin. Denis memberi isyarat dengan tangannya agar Davin menunggu sementara dia masih bicara dengan Faisal.


"Apa kamu yakin dia gak pulang ke rumah?"

__ADS_1


"Saya sedang berada dirumahnya sekarang. Mobilnya tidak ada di garasi. Saya sudah menelepon ke handphonenya, tapi tidak tersambung."


******


__ADS_2