Rahasia Denis

Rahasia Denis
Enam Puluh


__ADS_3

"Alex!! Awas!!" Sebuah teriakan diikuti derap kaki berlari menyongsong tubuh Alex. Namun langkah kaki itu tak pernah sampai kepada Alex ketika suara lain terdengar sangat memekakkan telinga.


Dorr!!


"Ichaaa!!!" Pekikan histeris seorang wanita terdengar menggema ditengah ruangan yang luas dan tinggi. Jeritan dari pengunjung lain pun terdengar membuat suasana riuh seketika.


Semua mata terpusat kearah sesosok tubuh yang ambruk diatas lantai restaurant. Darah mulai menggenangi disekitar tubuhnya.


Alex terpaku ditempatnya. Menatap sosok yang baru saja ambruk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang wanita berhambur memeluk tubuh itu dan menjerit histeris memanggil satu nama.


Tersadar dari keterpakuannya, Alex berlari menghampiri wanita itu.


"Denis!!" Bibirnya bergetar melihat sosok yang sedang berada dalam pelukan wanita itu. Dia segera menjatuhkan lututnya disamping tubuh yang sudah bersimbah darah.


"Denis! Darah!" Alex segera menarik tubuh Denis dari pangkuan wanita itu. Tangannya gemetar mengambil alih tubuh Denis kepangkuannya. Saat itu mata Denis masih terbuka dan melihat Alex yang meraup tubuhnya. Mata itu kemudian terpejam dan tak sadarkan diri.


Wanita didepan Alex meraung dan segera ambruk kedalam pelukan seorang lelaki yang datang setelah Alex.


"Cepat siapkan mobil!" Teriak Alex yang ditujukan kepada Faisal. Tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya, Alex segera mengangkat tubuh Denis dan setengah berlari dia membawa tubuh itu keluar dari sana.


Di salah satu sudut ruangan itu, berjarak hanya beberapa meter, seorang pria terpaku menatap wanita yang sedang menangis histeris memangku tubuh yang baru saja terkena tembakan peluru dari pistol yang sedang dipegangnya. Tanpa sadar, pistol itu terjatuh dari genggaman tangannya dan berdenting menyentuh lantai.


Bibir pria itu bergetar menyebut nama yang diteriakkan oleh wanita itu.


"Icha?" Desisnya dengan kaki yang terasa goyah dan kehilangan kekuatannya.


Nanar dia menatap Alex yang berlari membawa tubuh Denis diikuti wanita yang selama bertahun-tahun tak pernah dia pedulikan lagi.


*****


Ruangan emergency rumah sakit itu begitu tegang. Alex berdiri didekat pintu ruang operasi dengan wajah penuh kekhawatiran. Seorang dokter telah mengabarkan bahwa mereka telah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu kiri Denis. Beruntunglah karena peluru itu tidak mengenai organ vital. Namun kabar buruknya adalah Denis terlalu banyak kehilangan darah. Dan stok darah untuk jenis darah yang sama dengan Denis sedang kosong.


Rania dan Andres segera menawarkan diri untuk diperiksa darahnya. Mereka berharap darahnya cocok dan bisa mendonorkan darahnya kepada Denis. Tak ketinggalan Alex dan Faisal juga segera ikut untuk diperiksa.


Dan bersyukurlah mereka, ketika ternyata darah Alex cocok untuk dijadikan pendonor bagi Denis.


Saat ini Alex sedang terbaring di sebuah brangkar yang berdampingan dengan brangkar tempat Denis berbaring. Hampir Alex tak mengedipkan matanya menatap wajah Denis yang sedang menerima darah darinya. Wajah itu begitu pucat.


"Jadi, kamu adalah seorang gadis." Desisnya dengan dada yang terasa sesak. "Jadi, aku masih lelaki normal?" Alex memejamkan matanya.


Tadi dia mendengar tangisan wanita yang kemudian dia ketahui sebagai mamanya Denis. Wanita itu mengatakan bahwa Denis adalah putrinya. Itu berarti Denis adalah perempuan, bukan laki-laki seperti yang dia yakini selama ini.


Alex masih tetap berada didalam kamar rawat Denis setelah proses donor darahnya selesai. Duduk disamping Denis dan tak henti menatap wajah itu. Seakan untuk pertama kali dia melihat wajah itu. Ya, walaupun dia sering melihat Denis, namun selama ini dia melihat Denis sebagai seorang laki-laki. Bukan sebagai seorang perempuan. Dan sekarang, rasanya aneh sekali setelah mengetahui fakta yang sebenarnya. Walaupun ada kelegaan dan rasa bahagia didalam hatinya.


Telepon dari Faisal mengalihkan perhatiannya. Alex bangkit dan sedikit menjauh dari Denis yang masih belum sadarkan diri. Tubuhnya masih terasa sedikit lemas setelah proses pengambilan darahnya tadi.


"Gimana?"


"........"

__ADS_1


"Apa?? Bagaimana bisa??" Alex menekan suaranya agar tidak berteriak mendengar informasi yang baru saja disampaikan Faisal. Dia menoleh sedikit ke arah brangkar tempat Denis berbaring.


Saat ini Faisal sedang berada di kantor polisi bersama Rania dan Andres. Mereka sedang memberikan kesaksian kepada polisi atas insiden yang terjadi.


Orang yang telah menembak Denis sudah ditangkap polisi, dan dia ternyata adalah Bisma. Sasarannya tentu saja Alex, namun yang terjadi adalah peluru itu malah bersarang ditubuh Denis. Alex tidak tahu sejak kapan Denis berada disana. Ada urusan apa hingga Denis berada ditempat itu?


Alex tidak merasa terkejut saat mengetahui siapa yang telah melakukan penembakan. Namun fakta yang baru saja diketahuinya, benar-benar membuat dia terkejut luar biasa. Dia harus menanyakan hal ini langsung kepada Rania, mamanya Denis.


Setelah panggilan dari Faisal selesai, giliran Viola meneleponnya.


"Hallo, Alex. Kamu ada dimana?"


"Aku di rumah sakit. Maaf karena meninggalkan kalian."


"Bagaimana keadaan Denis?"


Alex menoleh ke arah Denis.


"Dia belum sadarkan diri. Tapi sudah ditangani dengan baik."


"Apa kamu akan menemaninya malam ini?"


Ada keraguan dalam suara wanita yang hampir saja menjadi tunangannya itu.


"Sepertinya begitu." Alex menghela nafas. Dia tahu sudah menyakiti perasaan Viola. Namun dia tidak punya pilihan lain saat ini selain mengikuti apa kata hatinya.


Viola juga sangat terkejut mengetahui satu fakta yang terkuak. Denis adalah seorang perempuan. Sama seperti dirinya. Hal itu sangat memukul perasaannya. Jadi selama ini, apa yang dikhawatirkannya tentang Alex dan Denis itu ternyata bukan khayalan. Ini lebih dari yang dia duga selama ini.


Ponsel Viola masih menempel ditelinga ketika Alex memutuskan sambungan telepon karena Viola yang terdiam cukup lama.


"Bagaimana? Apa yang dikatakan Alex?" Rahman yang berada disebelah putrinya menatap khawatir. Dia mengkhawatirkan putrinya. Mengetahui semuanya sedang tidak baik-baik saja.


"Dia tidak mengatakan apa-apa."


Terbata Viola menjawab pertanyaan dari sang papa.


*****


Rania dan Andres memasuki ruangan tempat Denis terbaring tidak lama setelah urusan mereka selesai dikantor polisi. Alex yang masih setia menemani Denis, segera bangkit dan mempersilakan Rania agar duduk didekat Denis.


Wanita itu duduk dan menyentuh tangan Denis dengan lembut. Menatap wajah putrinya yang selama ini sangat dirindukannya dengan sendu. Diusapnya kening Denis dengan penuh perasaan.


"Sayang, cepatlah bangun. Mama sangat ingin melihat matamu memandang mama." Airmata Rania kembali mengalir membasahi pipinya. Andres yang berdiri disamping Rania, merengkuh bahu istrinya dan mengusapnya lembut. Menyalurkan kehangatan dan memberikan ketenangan untuk istrinya. Dikecupnya puncak kepala Rania dengan penuh kasih sayang.


"Dia pasti akan segera bangun. Biarkan dia istirahat untuk malam ini." Bisiknya di telinga Rania.


Andres kemudian menoleh kepada Alex yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Pak Alex, terima kasih karena sudah bersedia memberikan darah untuk.. mm..Denis." Andres berujar lirih.

__ADS_1


"Kebetulan darah saya cocok dengan darah Denis. Dan, panggil saja Alex." Alex tersenyum tipis. Andrespun tersenyum membalas senyuman Alex.


"Saya tidak menyangka kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini. Seharusnya tadi siang kita bertemu 'kan?"


"Ya, saya minta maaf karena tidak bisa menemui anda tadi siang. Ada hal lain yang harus saya selesaikan."


"Tidak masalah. Kita bisa mengatur pertemuan di lain waktu."


Alex mengangguk.


"Sudah malam, sayang. Ayo aku antar kamu pulang." Andres berbicara kepada istrinya.


"Aku tidak mau pulang, Andres. Aku ingin disini menemani putriku." Rania menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari Denis.


"Kalau kalian ijinkan, biarkan saya yang menjaga Denis." Ucapan Alex membuat Andres dan Rania menoleh kepadanya.


"Saya pernah mengalami keadaan yang sama dengan Denis. Ditembak oleh orang yang sama. Dan Denis telah merawat saya dengan sangat baik. Sekarang, biarkan saya yang merawat Denis." Alex menatap kedua orang itu bergantian. Matanya menunjukkan kesungguhan akan ucapannya.


"Kamu, pernah ditembak oleh Bisma?" Rania terkejut mendengar perkataan Alex.


"Ya..." Kemudian Alex menceritakan semua yang pernah dia alami kepada Rania dan Andres. Rania sangat shok mendengar semua yang diceritakan Alex.


"Sangat tidak bisa dipercaya. Bisma melakukan itu pada kamu dan Denis. Dia benar-benar pria berhati iblis. Aku tak akan pernah memaafkan dia." Suara Rania bergetar menahan amarah. Tak bisa dibayangkan saat Denis jatuh kedalam jurang disebabkan oleh Bisma, seorang pria yang memiliki andil besar dengan kehadiran Denis di dunia ini. Dan karena pria itu juga, dua kali Denis hampir kehilangan nyawanya.


"Kita serahkan dia ditangani oleh yang berwajib. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum." Andres mencoba melunakkan hati isterinya.


"Jadi benar kalau Bisma itu adalah.." Alex menelan salivanya dengan susah payah. Sangat sulit dipercaya kalau ternyata pria jahat itu punya hubungan darah dengan Denis.


"Dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah sebuah kesalahan dalam hidup saya." Rania menyeka airmatanya yang teru menerus meluncur tak tertahankan. Begitu perih hatinya dengan nasib yang dialami oleh putrinya. Dan itu semua juga adalah kesalahannya sehingga Bisma tidak mengenali putrinya sendiri. Begitu juga sebaliknya.


Kebencian dan rasa sakit hatinya pada Bisma membuat dia membuang semua kenangan dengan pria itu. Didukung oleh sikap keluarganya yang tidak pernah menyukai Bisma dan juga kehadiran Denis, membuat mereka enggan untuk sekedar menyebut nama pria itu.


Melihat keadaan Rania yang semakin tertekan dengan semua yang terjadi, Andres kemudian membujuk istrinya itu agar pulang dan menenangkan dirinya di rumah.


"Sebaiknya kamu pulang. Kalau ada apa-apa, Alex pasti akan langsung mengabarkan pada kita."


Rania mengangguk. Dia percaya kepada Alex. Akhirnya dia setuju untuk pulang walau dengan berat hati.


Tinggallah Alex seorang diri didalam ruangan itu menjaga Denis.


Pintu diketuk tidak lama setelah Rania dan Andres keluar dan menampilkan Faisal dari baliknya.


"Kalau anda memerlukan sesuatu, saya ada diluar, Pak."


"Terima kasih, Faisal."


Faisal kembali keluar ruangan, duduk sendiri di kursi tunggu yang ada didepan ruangan tempat Denis berada.


******

__ADS_1


__ADS_2