Rahasia Denis

Rahasia Denis
Empat Puluh


__ADS_3

Waktu semakin beranjak malam ketika Denis dan Alex keluar dari markas tempat Jack dan kawan-kawannya berkumpul. Mereka berdiskusi sebentar tentang kejadian hari ini. Jack merasa yakin kalau ada yang disembunyikan didalam rumah mewah yang tidak berpenghuni itu. Dia berjanji akan terus memantau dan mengawasi rumah itu. Begitu juga dengan dua pria yang menjaga rumah itu. Jack sudah menugaskan beberapa orang untuk terus mengawasi pergerakan mereka. Dia sengaja melepaskan keduanya untuk memancing pengungkapan yang sebenarnya.


Denis menawarkan diri untuk menyetir mobil demi melihat keadaan Alex yang sudah sangat berantakan. Dia dapat melihat wajah pria itu yang sangat lelah dan tidak bertenaga. Wajahnya sedikit pucat dan rambutnya sudah tidak beraturan.


Dengan senang hati Alex menyerahkan kunci mobilnya pada Denis. Dia menyandarkan tubuhnya dikursi penumpang. Setelah memasang seatbelt, Alex memejamkan mata dengan wajah setengah mendongak. Hidung mancungnya mencuat kokoh dibawah kelopak matanya yang tertutup.


Denis meliriknya sesekali disela fokusnya menyetir.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu yang lama karena beberapa kali terjebak macet, akhirnya mobil memasuki halaman rumah Alex yang luas. Seorang penjaga yang mendapat giliran jaga malam membuka lebar pintu gerbang. Kemudian menutupnya kembali ketika mobil yang dikendarai Denis memasuki pelataran rumah mewah itu.


Denis menoleh kearah Alex yang sepertinya tidur dengan lelap. Bibir seksinya nampak sedikit terbuka. Denis tersenyum melihat wajah polos Alex ketika tidur. Denis pernah melihat posisi lain Alex saat tidur. Dan ini adalah posisi yang sangat lucu menurut pandangan Denis. Untuk sesaat dia menikmati pemandangan indah dihadapannya.


"Udah nyampe ya?" Suara serak Alex membuat Denis sangat terkejut. Senyumnya menghilang seketika. Matanya mengerjap menghilangkan gugup karena hampir ketahuan sedang memandangi wajah Alex.


Denis segera mematikan mesin mobil dan membuka seatbelt yang melilit tubuhnya. Alex melakukan hal yang sama. Dia meregangkan tubuhnya sesaat sebelum turun dari mobil.


"Aku ketiduran sepanjang jalan ya?" Alex mensejajari langkah Denis yang mulai memasuki rumah.


"Lo capek banget kayaknya." Sahut Denis tanpa menoleh kepada Alex. Langkahnya tak berhenti hingga dia mencapai pintu kamarnya.


"Kayaknya aku gak bakalan terbangun malam ini. Selamat malam Denis." Ucap Alex sebelum membuka pintu kamarnya sendiri. Denis hanya membalas dengan senyuman tipis dibibirnya. Kemudian di memasuki kamarnya dan menutup pintu dibelakangnya.


Membersihkan tubuhnya di kamar mandi beberapa menit, Denis keluar dengan wajah yang lebih segar. Mengeringkan rambut pendeknya yang basah sambil berdiri di depan cermin. Menatap wajahnya sendiri disana seolah merasa asing dengan dirinya. Tanpa sadar dia menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba dia teringat pertemuannya dengan Mariana siang tadi. Ingatannya berkelebat kepada pria tua yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Pak Mijan pasti mengkhawatirkannya karena belum mendapat kabar darinya. Apalagi kalau sampai Mariana memberitahu tentang dia yang tiba-tiba pergi dari rumah kontrakan itu tanpa pamit pada Mariana.


Denis mengambil ponselnya, kemudian duduk di tepi pembaringan. Sesaat dia memainkan ponsel ditangannya. Menimbang-nimbang apakah dia harus menghubungi pak Mijan atau tidak. Akhirnya dia menekan sebuah nomor. Diliriknya jam yang ada didinding kamar sambil menunggu panggilannya tersambung. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Hampir saja dia memutuskan panggilannya karena terlalu lama menunggu ketika suara seseorang terdengar mengucapkan salam di ujung sana.


"Hallo? Mas Anwar?" Denis menyahut setelah menjawab salam dari Anwar.


"Hallo? Siapa ini ya?"


"Denis mas."


"Denis?? Ya ampun..syukurlah kamu menelepon. Apa kabar kamu?"

__ADS_1


Di ujung telepon Anwar berseru tak dapat menyembunyikan kelegaannya karena mendengar suara Denis.


"Aku baik. Gimana kabar bapak sama ibu?"


"Alhamdulillah semuanya baik. Cuma bapak khawatir aja sama kamu. Kata Mariana kamu tiba-tiba menghilang gitu aja. Kamu tinggal dimana sekarang? Jangan bilang kalau kamu pulang ke rumah. Orang suruhan mama kamu ada datang kesini nyariin kamu."


"Orang suruhan mama? Mau apa mereka nyari aku?"


"Mereka bilang nenek kamu sakit. Mereka minta supaya kamu segera pulang karena itu permintaan nenek kamu."


Denis tertawa pelan. Merasa lucu dengan informasi yang baru saja didengarnya. Rasanya tidak mungkin neneknya meminta dia untuk pulang ke rumah. Itu hal yang mustahil. Bukankah neneknya tidak pernah peduli padanya? Wanita tua itu pastinya merasa senang dengan kepergiannya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Termasuk mamanya sendiri.


"Sudahlah mas. Gak usah ngarang cerita. Tolong bilang sama pak Mijan kalau aku baik-baik aja disini. Kalau ada orang nyari aku, jangan kasih tahu apa-apa. Bilang aja gak tahu."


"Tapi kamu tinggal dimana? Mariana sempat khawatir karena kamu gak ada ditempat kontrakan yang dia pilihkan. Maafkan Mariana ya, kalau dia ngasih rumah yang tidak layak buat kamu. Kamu pasti gak betah tinggal disana."


"Aku gak masalah sama rumahnya. Aku cuma ketemu sama temen dan dia ngajak aku buat tinggal bareng dia. Sekarang aku tinggal sama mereka.." Denis sedikit berbohong. Dia tidak mau kalau sampai keberadaannya dirumah Alex akan diketahui oleh mamanya. Dia tahu siapa Alex sekarang. Dia seorang anak pengusaha terkenal yang namanya sudah dikenal luas oleh sesama pengusaha. Bukanlah hal yang sulit jika sampai mamanya mengetahui sedikit saja informasi tentang dia dan Alex. Pasti dalam sekejap mamanya akan dapat menemukan dirinya.


"Tolong rahasiakan ini dari orang yang nyari aku. Salam buat pak Mijan dan Bu Darmini." Katanya sebelum mengakhiri panggilannya. Di seberang sana Anwar kembali mengingatkan Denis agar pulang menemui neneknya yang sudah susah payah mengirim orang untuk mencarinya.


Sekarang dia sudah terbiasa hidup sendiri. Semua baik-baik saja tanpa orang-orang itu. Walaupun tanpa harta yang berlimpah, namun dia merasa bebas. Tidak terkurung oleh aturan yang membelenggu dirinya. Tak ada sedikitpun rasa ingin dekat dengan mereka untuk saat ini. Biarlah semuanya berjalan seperti ini.


Denis menjatuhkan tubuhnya dipembaringan. Memejamkan matanya dan mencoba untuk menepis semua hal yang saat ini memenuhi pikirannya.


*****


Rasanya baru beberapa menit Denis terlelap ketika seseorang memanggil namanya sambil mengguncang kakinya.


"Denis!!"


Dengan malas Denis membuka mata dan merasakan sedikit sakit dikepalanya ketika dia mencoba untuk bangun.


Alex duduk ditepi pembaringan sambil menatapnya dengan tak sabar. Denis memijit pelipisnya.


"Ada apa?" Tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Kita harus pergi sekarang."

__ADS_1


"Pergi? Kemana?"


"Ayo. Aku akan ngasih tahu kamu nanti."


Alex beranjak keluar dari kamar Denis. Dengan sedikit terhuyung Denis menuju kamar mandi. mencuci mukanya untuk menyegarkan sedikit wajahnya. Mengambil jaket dan memakainya sambil berjalan keluar dari kamarnya.


Alex sudah menunggunya diujung tangga. Mereka kemudian keluar dari rumah dan menuju carport. Alex memasuki salah satu mobil yang terparkir disana. Diikuti Denis yang memasuki mobil dengan pertanyaan yang belum mendapat jawaban dari Alex.


Penjaga membuka pintu gerbang dengan sigap. Memberi hormat kepada Alex ketika mobil melewatinya.


"Ada apa ini?" Tanya Denis begitu mobil sudah melaju dijalan raya.


"Anak buahku bilang kalau mereka menemukan tempat persembunyian om Bisma." Alex memutar kemudi mobilnya ketika berbelok disebuah tikungan.


"Oya? Dimana?"


"Ini alamat yang mereka berikan."


Alex menyerahkan handphone-nya kepada Denis. Denis mengerutkan keningnya ketika membaca alamat yang tertulis di pesan singkat dari anak buah Alex.


"Bukannya tempat ini yang kita datangi kemaren?"


"Maksud kamu?"


"Ini rumah yang kita intai kemaren sama Bang Jack. Sebentar gue tanya sama Bang Jack."


Denis kemudian menelepon Jack untuk memastikan perkiraaannya. Untunglah Jack dengan cepat mengangkat telponnya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Bener ini alamat rumah itu. Berarti betul informasi dari anak buah bang Jack." Kata Denis setelah mengakhiri percakapannya dengan Jack ditelepon. Dia juga meminta Jack agar datang menemuinya di rumah itu.


"Tapi kamu bilang gak ada apa-apa didalam rumah itu."


"Gue yakin banget dah meriksa seluruh bagian rumah itu. Rumah itu kosong, gak ada apa-apa. Apa mungkin ada ruang rahasia disana?"


Denis seolah bertanya pada dirinya sendiri. Dia tidak meragukan informasi yang didapat dari anak buah Jack. Apalagi sekarang ditambah dengan informasi dari anak buah Alex. Jadi tidak mungkin terjadi kesalahan. Yang salah disini adalah dia kurang teliti dalam memeriksa rumah itu. Dia tidak terpikir sama sekali tentang opsi ruang rahasia dirumah itu saat memeriksa kemarin.


*****

__ADS_1


__ADS_2