Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Delapan


__ADS_3

Hampir seminggu Alex tinggal dirumah Denis. Selama itu pekerjaan kantornya terus dia follow up dari rumah Denis melalui Faisal tentunya. Dia benar-benar menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri. Tak ada rasa sungkan ataupun merasa segan saat dia berada dirumah itu. Tentu saja semua itu karena dia merasa sangat nyaman berada dengan keluarga Denis. Dirumah itu dia mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Rania dan Andres. Dia juga bisa selalu berada dekat dengan kekasih hatinya. Walaupun Denis kadang bersikap jutek kepadanya.


Rania dan Andres tidak keberatan sama sekali dengan keberadaan Alex dan segala aktifitasnya dirumah mereka. Justru mereka merasa senang dengan sikap Alex yang sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri. Selain karena memang Alex sudah hidup sebatangkara tanpa orang tua, tidak lama lagi dia juga akan menjadi suami dari Denis. Itu artinya Alex akan benar-benar menjadi anggota keluarga mereka.


Hanya tinggal menghitung hari saja menuju hari bahagia yang paling dinanti oleh semua orang. Semua persiapan sudah dilakukan. Walaupun Denis tidak ingin ada pesta, namun Rania terus membujuk putrinya itu untuk setuju jika dia mengadakan pesta pernikahannya. Rania janji, ini hanya pesta kecil.


Namun tanpa sepengetahuan Denis, Rania ternyata menyiapkan pesta yang megah. Dia tidak ingin pernikahan biasa-biasa saja untuk putri satu-satunya. Dia ingin mengenalkan putrinya itu kepada semua orang. Dia juga ingin mengenalkan kepada semua orang siapa menantunya yang akan sangat dia banggakan. Semua orang harus tahu kalau Alex Vinn Dinata, sang pengusaha muda yang terkenal itu adalah menantunya.


Denis pasrah. Begitu juga saat Rania memaksanya untuk mencoba gaun pengantinnya. Dengan segala bujuk rayu akhirnya Denis mau menginjakkan kakinya dibutik mamanya untuk fitting baju pengantin. Dengan syarat, tidak boleh ada yang melihat saat dia sedang mencoba gaun itu. Bahkan Davin sekalipun.


Beruntungnya hari itu karena Alex sedang banyak pekerjaan dikantor. Sehingga dia tidak bisa menemani Denis fitting baju pengantin. Walaupun dia sangat penasaran akan secantik apa jika Denis memakai gaun pengantin yang indah itu, Alex harus menekan rasa penasarannya hingga hari pernikahan itu tiba.


"Habis dari butik kamu langsung ke kantor aku, ya. Makan siang disini. Hari ini aku sibuk banget, tapi aku juga kangen banget sama kamu."


Alex mengiriminya pesan saat dia masih sedang bersama mamanya. Sudah dua hari Alex kembali ke rumahnya. Walaupun Rania sudah melarangnya pulang, namun Alex beralasan rindu dengan suasana rumahnya sendiri. Lagipula nenek Aryanti menelepon dan mengatakan bahwa tidak baik kalau Alex tinggal serumah dengan calon pengantinnya.


Alhasil dengan terpaksa Rania mengijinkan Alex untuk pulang. Dan sejak dia kembali kerumahnya, ternyata dia tidak memiliki waktu lagi walau hanya untuk sekedar datang saat sarapan ke rumah Denis. Dia benar-benar disibukkan oleh pekerjaan yang menumpuk. Belum lagi masalah Reno yang masih setia menunggunya untuk ditindaklanjuti. Walaupun untuk masalah itu, dia sudah serahkan sepenuhnya kepada pengacara, namun tetap saja, dia juga harus tetap mengikutinya.


Memasuki gedung tempat Alex bekerja, Denis langsung memasuki lift dari basement tempat dia memarkirkan mobilnya. Dia pernah datang kesini bersama Alex dulu. Jadi dia tahu dimana ruangan tempat Alex berada.


Seorang gadis cantik tersenyum manis menyapanya saat dia sudah berada didepan ruangan Alex.


"Selamat siang. Anda mencari siapa?" Gadis itu bertanya dengan cukup sopan.


"Saya mau menemui Alex."


"Maaf, nama anda?"


"Denis."


"Oh. Anda yang bernama Denis? Pak Alex berpesan supaya anda langsung masuk aja ke ruangannya dan menunggu didalam. Sekarang Pak Alex sedang meeting dan mungkin akan sedikit lama."


Gadis itu kembali tersenyum. Dia kemudian membukakan pintu ruangan Alex dan mempersilakan Denis untuk masuk.


"Silakan ditunggu. Saya akan membawakan minuman untuk anda." Gadis itu beranjak keluar setelah menanyakan minuman yang diinginkan Denis. Denis meminta air mineral untuk menemaninya menunggu Alex.


Dia mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu. Mengedarkan pandangannya sesaat keseluruh ruangan sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Membuka aplikasi game dan mulai memainkannya untuk mengurangi kebosanan selagi menunggu Alex.


Beberapa saat kemudian gadis tadi datang membawa air mineral yang dipesan Denis. Dia meletakkannya di meja dihadapan Denis. Matanya melirik wajah Denis yang mengacuhkan kehadirannya.


"Silakan diminum, mas." Denis melirik gadis itu. Keningnya sedikit mengerut namun dia tidak menyahut apapun. Gadis itu menampilkan senyuman termanisnya saat melihat mata Denis meliriknya. "Kalau mas memerlukan apa-apa, saya ada didepan."


Denis hanya mengangguk. Saat karyawati wanita itu keluar, Denis menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya pelan.


Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka.


"Maaf mbak. Anda tidak bisa masuk ke ruangan Pak Alex tanpa seijin beliau." Suara gadis yang tadi. Denis melirik ke arah pintu. Seorang wanita cantik melenggang masuk tanpa bisa dicegah.

__ADS_1


"Katakan saja padanya, Ameera menunggunya disini." Gadis itu duduk di sofa dengan anggun tanpa menghiraukan karyawati Alex yang nampak sangat kesal. Karyawati itu akhirnya pasrah dan meninggalkan ruangan Alex membiarkan wanita yang baru datang itu berada disana bersama Denis.


Mata indah wanita itu menatap heran Denis untuk sesaat.


"Maaf. Kamu sedang menunggu Alex juga?"


"Ya."


"Kenalkan. Saya Ameera." Gadis itu menghulurkan tangannya.


"Denis." Tanpa menyambut tangan gadis itu. Gadis bernama Ameera mengernyitkan matanya. Ditariknya kembali tangannya yang tidak mendapat sambutan dari Denis. Denis sendiri masih asik dengan ponselnya, tidak menghiraukan kehadiran gadis itu.


"Kamu temannya Alex?" Wanita itu kembali mengajak Denis berkomunikasi. Mungkin dia bosan karena diacuhkan oleh seseorang yang berada didekatnya.


"Ya."


Wanita itu mengangkat sedikit bahunya. Tahu dirinya diabaikan dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai membukanya.


Agak lama mereka berada dalam ruangan Alex berdua hingga pintu terbuka dan menampilkan Alex disana. Senyumnya lebar saat melihat Denis yang duduk menghadap pintu.


"Sayang..maaf lama menunggu." Perhatiannya hanya kepada Denis hingga tak menyadari ada orang lain dalam ruangan itu. Langkah kakinya lebar menuju Denis. Dia menjatuhkan tubuhnya disamping Denis dan langsung mendaratkan kecupan singkat dipipi Denis.


"Alex!" Gumaman seorang wanita mengejutkan Alex. Matanya yang menatap Denis langsung teralihkan dan dia cukup terkejut melihat siapa yang ada disana. Ameera bangkit dari duduknya. Matanya terbuka lebar melihat adegan yang baru saja terjadi didepan matanya.


"Kamu..?" Sepertinya dia sangat shock dengan kejadian barusan.


"Hai. Ameera? Kapan kamu datang?" Tanya Alex setelah menyadari siapa yang ada disana.


"Aku dan dia?" Alex menoleh kearah Denis. "O iya. Kenalkan, ini Denis, tunanganku." Matanya lekat menatap Denis dengan penuh cinta. Ameera semakin terkejut mendengarnya.


"Tunangan? Jadi benar rumor yang beredar selama ini kalau kamu.." Lidah gadis itu kelu. Dia benar-benar tidak percaya mengetahui kenyataan itu.


"Rumor apa maksudmu?" Alex menatap Ameera tidak mengerti.


Ameera menelan salivanya dengan kelu.


"Selama ini kamu selalu menolak setiap wanita yang mendekatimu. Bahkan Viola yang begitu cantik pun tidak kamu hiraukan. Aku bertemu dengan Viola beberapa waktu yang lalu dan dia bilang dia tidak bisa menggoyahkan hatimu sedikitpun. Jadi ini alasannya?" Mata wanita itu menatap Alex dengan tatapan yang aneh. Kemudian menatap Denis yang sedang memperhatikan interaksi wanita itu dengan Alex.


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Kamu dan dia..ada hubungan spesial?" Ameera menunjuk Denis.


"Ya. Sudah kubilang dia tunanganku. Kami akan menikah."


"Mm..menikah?"


"Ya. Datanglah dihari pernikahan kami. Anggap saja ini undangan resmi dariku. Aku juga mengundang Viola untuk datang." Alex merengkuh bahu Denis. Merapatkan tubuhnya ditubuh gadis itu yang sejak tadi hanya diam menjadi pendengar setia.

__ADS_1


"Sebentar Alex. Aku..aku tidak mengerti. Sebaiknya aku pergi saja. Aku..permisi." Ameera memijit kepalanya dan segera berlalu dari ruangan Alex tanpa menghiraukan panggilan dari Alex. Kepalanya terasa pusing mendengar informasi yang baru saja disampaikan oleh Alex. Padahal dia datang menemui Alex adalah untuk mencoba peruntungannya untuk mendekati Alex. Selama ini dia memendam rasa sukanya pada pria itu karena dia tahu Viola sangat mencintai Alex dan terus berusaha mendapatkan pria itu.


Saat tahu Viola mundur dari perburuan cinta Alex, Ameera merasa percaya diri dan dia ingin mencoba untuk mendekatkan dirinya dengan Alex. Selama ini dia mendengar tentang Alex yang tidak menyukai wanita. Namun dia mengabaikan gosip itu karena dia berpikir tidak mungkin Alex seperti itu. Tapi pemikirannya itu langsung hancur saat melihat Alex mencium Denis dan memanggilnya sayang dengan tatapan romantis. Apalagi Alex mengatakan mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah. Amerra benar-benar tidak menyangka. Rasa simpati dan kekagumannya pada Alex lenyap seketika.


Didalam lift Ameera mengeluarkan ponselnya. Mencari satu nomor kontak dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Viola, jadi itu alasanmu tidak lagi mau memperjuangkan Alex? Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?" Cecarnya langsung saat sambungan sudah terhubung. Diujung sana Viola tertawa, namun dia tidak mengatakan siapa Denis sebenarnya kepada Ameera. Biarlah dia mengerjai sahabatnya itu dan dia ingin tahu sejauh mana kepekaan sahabatnya itu untuk mengenali Denis sebagai seorang wanita.


Diruangan Alex.


"Siapa cewek tadi?" Tanya Denis saat Ameera sudah keluar dari ruangan Alex.


"Ameera..dia teman masa kuliahku. Dia juga sahabat Viola."


"Dan dia juga suka sama kamu."


"Dan..kamu cemburu.." Alex menaikkan alisnya menggoda gadis itu.


"Siapa yang cemburu? Aku gak cemburu sama sekali."


"Benarkah?" Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Denis.


"Ya.." Denis memundurkan kepalanya menghindari wajah Alex yang semakin dekat.


"Tapi aku melihat ada api cemburu dimatamu. Sepertinya hatimu juga terbakar. Aku bisa menciumnya dari sini." Wajah Alex semakin dekat sedangkan kepala Denis sudah mentok disandaran sofa.


"Alex.." Denis mendorong wajah Alex ke samping bertepatan dengan pintu yang terbuka dan disusul suara file yang jatuh.


"Mm..maaf. Saya..sudah mengetuk pintu tadi.." Sekretaris cantik Alex tergagap dipintu. Dia segera memungut file yang terlepas dari tangannya.


Alex menegakkan tubuhnya.


"Apa makan siang yang saya pesan sudah siap?" Tanya Alex setelah mendehem sekali. Matanya tersenyum nakal menatap Denis.


"Akan segera dihidangkan, Pak."


"Ya, secepatnya saya tunggu."


"Baik, Pak. Permisi."


Pintu tertutup lagi.


"Dia memanggil aku 'mas' tadi." Celetuk Denis.


Alex tergelak mendengar ucapan Denis. Dia juga baru sadar dengan sikap Ameera yang aneh tadi. Pasti gadis itu juga menyangka Denis laki-laki. Itu sebabnya dia bersikap seperti itu tadi.


Akhirnya makan siang berdua dengan Denis terlaksana juga tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Sekretaris cantik Alex menutup pintu ruangan Alex setelah melirik kedua insan yang sedang saling menatap penuh cinta.

__ADS_1


'Sayang banget. Ganteng tapi gay.' Batinnya merana.


*****


__ADS_2