Rahasia Denis

Rahasia Denis
Empatbelas


__ADS_3

Gemuruh aliran air sungai bagai symphoni lagu, mengalun diiringi gemerisik dentingan dedaunan yang digelitik sapuan angin menyeruak dari dasar lembah yang begitu dalam. Kicauan burung bersahutan menambah riuh paduan suara alam ini. Bunyi belalang pohon seolah tanpa jeda dan seakan tak memerlukan nafas untuk dihela. Seiring redupnya mentari senja yang bersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan dan bayangan alam yang semakin gulita.


Warna keemasan dibatas cakrawala menjadi penanda telah berakhirnya tugas sang surya untuk hari ini. Sebentar lagi akan berganti dengan pekatnya malam. Begitulah alam silih berganti melakukan tugas dari sang pencipta tanpa ada penolakan sedikitpun.


Sesosok tubuh yang terbaring diatas lantai bambu menggeliat perlahan. Matanya yang terpejam mengerjap. Mencoba menerima cahaya yang menerobos masuk ke retinanya. Ringisan diwajahnya diikuti desisan pelan dari mulutnya. Beberapa bekas luka diwajahnya masih sangat ketara. Baju yang dipakainya masih penuh dengan noda darah yang mulai mengering.


Perlahan dia mengangkat tubuhnya. Dengan bertumpukan pada siku kirinya, dia menegakkan kepalanya. Matanya menyipit memindai tempat dimana dia berada.


Seorang lelaki yang duduk bersila dihadapannya adalah hal pertama yang dia lihat. Lelaki dengan pakaian serba hitam dan rambut yang panjang diikat asal diatas kepalanya.


Kelegaan nampak dari sorot matanya ketika melihat sosok yang terbaring dihadapannya itu mulai sadarkan diri.


"Minumlah," dia menyodorkan segelas air berwarna keruh kehadapan sosok yang baru terbangun itu.


Diambilnya gelas dari tangan pria itu. Meneguknya perlahan dengan tangan yang masih harus dikuatkan. Rasa manis gula aren yang dicampur dengan ramuan terasa menyegarkan seketika. Seolah dia punya pasokan tenaga yang dialirkan melalui minuman itu.


"Terima kasih." ucapnya setelah menghabiskan cairan dalam gelas. Menyimpan gelas itu dihadapannya dan memandang pria yang diyakini adalah penolongnya.


Mendudukan dirinya dan bersandar didinding bambu yang tak mampu menahan hembusan angin dari luar yang masuk melalui celah-celahnya. Matanya menatap penuh tanya orang yang berpakaian serba hitam.


"Saya berada dimana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya diruang yang remang dibawah cahaya lampu minyak. Matanya yang terbiasa melihat dibawah pijar lampu dipaksa untuk menyesuaikan diri ditempat yang kurang cahaya ini.


"Kamu berada di gubukku. Namaku Darman. Siapa namamu?" tanya pria yang diperkirakan umurnya diatas 60 tahun.


"Saya Denis."


"Kamu ingat siapa dirimu, Nak?" Pria bernama Darman itu terdengar senang.


"Tentu saja saya ingat."


"Kamu ingat apa yang terjadi padamu sebelumnya?"


Denis terdiam. Dia mengingat-ingat apa yang dia alami sehingga dia berada ditempat ini. Tiba-tiba dia teringat sebuah letusan pistol. Denis tersentak.


"Alex!" pekiknya tanpa disadari. Terbayang ketika tubuh itu melayang jatuh kedalam jurang dengan mata yang tertuju padanya.


"Apakah pria itu yang bernama Alex?" Darman menunjuk sosok lain yang terbaring tidak jauh dari tempat Denis berada. Matanya beredar ke tempat yang ditunjuk lelaki itu. Denis terpana. Disana, disudut lain ruangan yang tidak begitu luas itu, ada sosok lain yang sedang terbaring tak berdaya.


Dengan menahan rasa sakit yang dia rasakan, Denis menyeret tubuhnya mendekati tubuh yang terbaring itu. Dalam keremangan cahaya lampu minyak, dia dapat melihat dengan samar wajah yang diam membeku.


Itu Alex. Walau dalam cahaya yang minim, dia yakin itu Alex. Tubuhnya tertutup kain panjang yang tipis. Sangat tidak mungkin kain itu dapat melindungi tubuh dari terpaan hawa dingin yang mulai menggigit kulit.

__ADS_1


Denis menoleh kearah pria bernama Darman. Tatapan penuh tanya ia layangkan kewajah yang nampak dalam keremangan.


"Ada luka tembak didada kanannya. Aku berusaha untuk mengeluarkan pelurunya. Tapi aku tidak tahu, apa dia akan bertahan atau tidak dalam keadaan seperti ini." lirih suara pria itu. Seolah tidak ada harapan dalam ucapannya.


Denis tidak tahu bagaimana caranya pria itu mengeluarkan peluru dari dada Alex. Seharusnya itu dilakukan oleh dokter ahli didalam ruang operasi. Dengan alat apa dia mengeluarkan benda itu. Dengan apa dia mengobati luka itu. Denis tak bisa memikirkannya. Kelihatannya pria itu orang biasa saja.


Dia menatap nanar tubuh Alex yang terbujur kaku. Darman menyibakkan kain yang menutupi tubuh Alex hingga sebatas lehernya itu. Ternyata dia bertelanjang dada. Ada ramuan yang menempel didada kirinya. Mungkin ramuan itu menutupi luka bekas dikeluarkannya peluru dari dalam dada pria itu.


Dadanya yang bidang nampak bergerak turun naik dengan perlahan. Menandakan masih ada kehidupan didalam raga yang tak berdaya itu.


"Apa kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit?" tanya Denis. Matanya masih terpusat ke wajah Alex yang nampak sangat pucat.


Darman terkekeh pelan.


"Bagaimana caranya?" Tanyanya. "Kamu tidak tahu kita sedang berada dimana. Ini didasar lembah. Sangat sulit untuk bisa mencapai daerah yang datar." jelasnya. Denis tertegun. Dia ingat ketika dia berdiri dibibir jurang. Melihat kebawah kearah lembah yang tertutup kabut tipis bahkan ketika hari beranjak siang. Saat itu dia membayangkan bahwa jurang itu pasti sangat dalam.


Dan sekarang ia berada didalamnya.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya membawa tubuh kalian keatas sana seorang diri. Maafkan aku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menolong kalian." ucapan pria itu membuat Denis tersadar betapa dia sangat beruntung karena masih ada orang yang menolongnya. Mengingat kondisi tempat itu rasanya tidak mungkin akan ada orang yang menolong dia dibawah sini.


Tempat ini sangat jauh dari pemukiman. Kalaupun dia mati dan membusuk disini, pasti tak akan ada orang yang akan menemukannya.


Terdiam. Kembali menatap Alex, kemudian melarikan pandangannya kepada Darman.


Darman menyandarkan tubuhnya kedinding bambu diujung kaki Alex. Cahaya lampu yang sangat kecil bagaikan cahaya lilin sedikit mengganggu penglihatan Denis yang terus memperhatikan pria itu.


"Aku tidak segaja mendengar suara letusan pistol tadi pagi." dia memulai kisahnya. "Saat itu sedang berada dilereng sana untuk pergi kedataran. Aku biasa naik keatas untuk membeli beras beberapa hari sekali, menjual dulu hasil tangkapan ikan di perkampungan penduduk dan menukarnya dengan beras.."


"Apa bapak tinggal disini?" Denis memotong dengan penasaran.


"Ya. Aku sudah tinggal disini selama satu tahun."


"Bagaimana bisa? Tinggal disini sendirian?"


Darman tertawa miris.


"Begitulah." pria itu menjawab singkat. Seperti tidak ingin memperpanjang pembicaraan mengenai kehidupan pribadinya. Denis seperti cukup mengerti akan hal itu. Dia terdiam. Merebahkan lagi tubuhnya dan memejamkan matanya. Terlintas lagi kejadian yang menimpa dirinya dan Alex.


Sebenarnya dia sudah bisa menguasai perkelahiannya dengan para penjahat itu. Apalagi ketika dilihatnya bang Theo sudah berhasil membawa Sisil pergi dari tempat itu, Denis semakin bebas menghadapi empat orang pria itu bersama Alex.


Ternyata Alex juga lihai bela diri. Berulangkali Alex membuat lawannya terdesak dan harus merasakan kepalan tangannya yang besar.

__ADS_1


Sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba datang dan mengeluarkan dua orang yang berbadan kekar. Mereka langsung menghampiri tempat pertarungan. Mengambil alih posisi para penjahat yang sedang dihadapi Alex dan Denis. Menghajar keduanya dengan membabi buta dan tanpa ampun.


Denis dan Alex yang sudah menguras tenaga sejak tadi melawan para penjahat itu, tak bisa menandingi dua pria kekar yang memiliki tenaga luar biasa. Hantaman dan tendangan tak pelak mendarat ditubuh dan kepala Denis. Begitu juga dengan Alex. Para penjahat itu tertawa ketika melihat Denis dan Alex akhirnya ambruk tak berdaya.


Denis mengatur nafasnya. Matanya hampir tertutup dan terasa perih ketika cairan mengalir memasuki sudut matanya.


Seseorang turun dari mobil dan mendekati orang yang sedang mengurung Denis dan Alex.


"Om?" disela kesadarannya yang hampir menghilang, Alex berseru pelan. Terkejut dan bingung melihat orang yang dikenalnya berada diantara para penjahat itu.


Alex berusaha untuk bangkit. Dengan tubuh sedikit limbung dia mencoba mendekati pria yang baru turun dari mobil. Nampaknya pria itu merupakan bos dari orang-orang yang mengeroyok Denis dan Alex.


Pria itu memegang sebuah pistol ditangan kanannya. Matanya tajam tertuju pada Alex.


"Jadi om yang merencanakan ini semua?" bergetar suara Alex. Bukan karena takut akan kematian. Tapi karena dia benar-benar tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.


Pria itu menyeringai. Mengangkat tangannya meluruskan arah pistol kepada Alex.


"Kenapa om?" Alex ingin menuntaskan rasa penasarannya. Kalaupun dia harus menemui ajalnya saat ini, setidaknya dia harus mengetahui kenapa pria itu sangat menginginkan kematiannya. Matanya nanar menatap pria yang sudah sangat dia percayai itu. Tetesan keringat bercampur darah mengalir menjadikan matanya terasa perih dan mengaburkan penglihatannya. Tapi dia masih cukup jelas untuk melihat siapa pria yang sekarang sedang menodongkan pistol kearahnya.


"Karena kau seharusnya mati, Alex." Pria itu melangkah pelan mendekati Alex. Dengan sisa tenaga yang ada Alex melangkah mundur. Menjaga jarak dari pria yang sedang menghunjamkan tatapannya penuh kebencian kepadanya.


"Kau harus mati!" geraman dari mulut pria itu diikuti suara letusan dari moncong senjata api yang dipegangnya. Tubuh Alex terpental kebelakang, kearah jurang yang menganga menanti tubuhnya jatuh kedasarnya.


Denis terkesiap. Dia menahan pekikan dari mulutnya. Merapatkan bibirnya yang ingin memanggil nama pria yang dengan jelas didepan matanya, melayang jatuh ke dalam jurang. Tubuhnya limbung. Tak sanggup melihat kekejaman yang untuk pertama kali dia saksikan dengan nyata.


Pria-pria itu menoleh kearah Denis yang terjatuh dengan bertumpu pada lututnya. Menatap nanar kearah tempat tubuh Alex menghilang. Suara benda jatuh terdengar dari arah jurang. Sepertinya tubuh Alex tidak serta merta berhenti dibawah sana. Entah berapa meter kedalaman jurang itu. Denis tak dapat membayangkannya.


Ketika salah satu dari orang itu menarik bajunya, Denis sudah tidak bisa melawan lagi. Selain karena tenaganya sudah terkuras habis, dia juga masih merasa syok dengan apa yang baru saja disaksikannya.


Beberapa pukulan ia rasakan sebelum dia akhirnya hilang kesadaran. Tubuhnya terasa melayang dan kemudian kegelapan menyertainya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*****


__ADS_2