Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh


__ADS_3

"Sayang, kamu belum tidur?" Rania menghampiri Denis yang sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Kedua kakinya menopang diatas meja.


Rania duduk dikursi di sebelah Denis.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Denis menggeleng.


"Tidak ada."


Rania menghela nafas. Dia tahu Denis tidak mau mengatakan yang sebenarnya.


"Sayang, apa kamu tidak bahagia tinggal bersama mama?"


Denis menoleh sekilas.


"Aku bahagia." Sahut Denis. "Aku bahagia bisa berkumpul bersama kalian."


"Tapi mama sering melihat kamu murung. Atau kamu merasa bosan?" Rania menatap lembut putrinya.


"Ya. Mungkin aku merasa sedikit bosan."


"Kalau kamu bosan, kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Kamu ingin apapun, mama tidak akan melarang. Mungkin kamu bisa menekuni hobby kamu menjadi sebuah usaha kamu sendiri. Atau apapun asal kamu senang."


"Ya..Akan aku pikirkan."


Keduanya larut dalam keheningan untuk sesaat.


"Apa kamu sudah memikirkan tentang niat baik Alex?" Tanya Rania beberapa saat kemudian.


"Maksud mama?"


"Dia sangat serius ingin menikahimu. Mama juga sangat menyukainya. Dia sepertinya sangat cocok untukmu. Kalian telah melalui berbagai hal bersama-sama. Suka duka telah kalian lalui dan sekarang saatnya kalian bersatu dalam ikatan pernikahan. Usiamu juga sudah pas buat berumah tangga."


"Mama.."


"Sayang, mama tahu apa yang membuatmu tidak segera memberi dia keputusan." Rania memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. Ditatapnya lekat wajah Denis.


"Kamu merasa tidak enak karena kelakuan Bisma, 'kan? Sebab itu kamu tidak segera menerima Alex, padahal mama tahu, kamu juga mencintainya."


Pipi Denis memerah. Dia membuang wajahnya dari jangkauan tatapan mamanya.


"Kamu tidak seharusnya menahan perasaanmu karena pria biadab itu."


"Aku malu pada Alex.." Gumam Denis.


"Mama mengerti perasaanmu. Tapi Alex juga pasti sangat mengerti akan hal itu. Dia tidak pernah mempermasalahkan itu. Kesalahan yang dilakukan oleh pria itu, tidak ada kaitannya sama sekali denganmu. Kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang kamu cintai."


"Tapi tetap saja, itu akan memberi jarak pada kami berdua."


"Itu hanya perasaanmu saja, sayang. Kamu lihat sendiri, apa Alex bersikap berbeda setelah tahu hubunganmu dengan pria itu? Dia malah semakin menunjukkan kesungguhannya sama kamu, 'kan? Kamu bahkan pernah melihat bagaimana dia sangat frustasi saat kamu meninggalkannya."


"Aku bingung." Denis menggelengkan kepalanya.


"Kenapa harus bingung. Ikuti saja kata hatimu." Rania menyentuh tangan Denis dengan lembut. "Katakan pada mama. Kamu mencintainya?"


"Mama.."


"Kamu tidak perlu malu sama mama."


"Tidak mungkin aku bisa hidup sama dia, Ma."


"Kenapa tidak mungkin? Alex bisa menerimamu apa adanya. Kamu juga bisa menerima dia apa adanya. Kalian saling melengkapi satu sama lain. Lihat, dia bahkan membatalkan pertunangannya hanya untuk kamu. Apa kamu tidak ingin menghargai pengorbanannya?"


Denis menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh ke langit yang berhiaskan beberapa bintang.


"Hai! Ayolah. Mama ingin segera punya cucu dari kamu." Rania menggoda putrinya untuk mencairkan suasana.


"Mama apaan sih."

__ADS_1


"Mama serius. Tidak sabar rasanya ingin segera membuat pesta yang megah untuk pernikahanmu."


"Mama! Ayo sekarang mama pergi tidur. Aku sudah ngantuk." Denis bangkit dan menarik tangan mamanya.


"Sayang, kamu mengusir mama?" Rania menahan tawanya saat Denis menyeret tubuhnya menuju pintu kamar.


"Mama harus cukup istirahat biar tetap sehat."


"Mama akan tetap sehat buat mengurus cucu mama!"


Blam!


Denis menutup pintu kamarnya begitu Rania keluar dari kamarnya.


*****


"Tumben Alex tidak kesini?"


Pagi ini di meja makan. Andres melirik Denis yang sedang memasukkan nasi goreng keatas piringnya.


"Dia sedang sibuk mempersiapkan buat perjalanan bisnisnya." Denis menyahut.


"Oh..Mau pergi kemana dia?"


"Ke Singapore."


Ehm. Rania berdehem tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti. Namun sangat nyata kalau dia sedang ingin menggoda Denis di pagi hari.


Denis tidak menghiraukan mamanya.


"Oya, Hari ini kamu tidak sibuk kan, sayang?"


"Ya?"


"Davin akan pulang hari ini. Kamu tolong jemput dia ya."


Denis menelan makanannya pelan. Davin adalah adiknya. Putra mamanya dari Andres. Sudah sangat lama dia tidak bertemu adiknya itu. Mungkin dia sudah saling melupakan wajah masing-masing saat bertemu.


"Kedatangannya jam 12.50. Mudah-mudahan tepat waktu. Mama akan kasih nomor telepon kamu sama dia biar dia bisa menghubungi kamu kalau sudah datang."


Denis mengangguk.


Dia tidak tahu bagaimana sikap Davin nanti saat bertemu dengannya. Dulu, mereka tidak terlalu akrab. Bukan karena Davin tidak menyukainya. Namun justru karena dirinya yang selalu menjauhkan diri dari saudaranya itu. Davin anak yang manis dan penurut. Tidak seperti dirinya yang selalu membangkang dan berbuat onar. Davin anak rumahan, sedangkan dirinya anak jalanan.


Usia mereka terpaut empat tahun. Namun dengan cepat Davin tumbuh dan menyusul Denis yang usianya jauh diatasnya. Entah bagaimana dia sekarang. Apakah masih semanis dulu ataukah waktu sudah merubahnya.


"Mama dan papa hari ini sangat sibuk. Kamu temani dia hari ini, ya."


"Sayang, Davin bukan anak kecil." Andres sedikit protes pada istrinya.


"Tidak masalah. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Davin." Sahut Denis.


"Ya, hampir dua tahun."


*****


Disinilah Denis sekarang. Duduk dibangku bandara menunggu kedatangan adiknya. Layar pada display memberitahukan kalau pesawat yang ditumpangi Davin sudah mendarat. Hanya perlu menunggu beberapa menit lagi untuk dia segera bertemu dengan adiknya itu.


Denis agak bertanya-tanya juga dalam hati, apakah dia akan mudah mengenali Davin atau malah dia akan kesulitan menemukan adiknya. Maklumlah, terlalu lama mereka tidak saling bertemu. Sebelum dirinya pergi dari rumah, Davin sudah terlebih dahulu pergi ke Singapura untuk sekolah disana. Setelah itu mereka tak pernah saling berkomunikasi karena memang Denis sengaja memutus komunikasi dengan semua orang.


Tadi sebelum berangkat mama sudah menunjukkan foto Davin terkini. Sedangkan Davin sendiri menolak untuk menunjukkan dirinya saat berangkat dengan alasan untuk mengetes Denis apakah akan mengenalinya atau tidak. Dia bilang kalau salah satu dari mereka gagal untuk mengenali, maka harus didenda dengan mentraktir makan siang.


Oke. Sepertinya adiknya sekarang sedikit nakal. Denis sepertinya akan menyukai adiknya itu.


Para penumpang pesawat yang sama dengan Davin mulai keluar melewati gerbang kedatangan. Denis bangkit dari duduknya dan mulai fokus memperhatikan semua orang. Hampir tak ada yang terlewatkan.


Matanya kemudian tertuju pada sesosok tubuh jangkung dengan jaket warna navy dan celana jeans yang sangat serasi. Ada backpack yang menggantung dibahu kirinya. Sepertinya hanya itu barang yang dibawanya. Itupun nampaknya tidak terlalu berat.


Denis tersenyum. Itu Davin, adiknya. Nampak sangat tampan dengan tubuhnya yang tinggi menjulang.

__ADS_1


Pria muda itu berjalan dengan mata jelalatan mencari orang yang telah berjanji akan menjemputnya.


Denis mendekatinya dan berdiri disampingnya tanpa menegurnya.


Menyadari kehadiran Denis disampingnya, pria itu menoleh namun Denis tak menghiraukannya.


"Denis?" Davin berseru pelan. Denis hanya meliriknya sedikit.


"Denis!" Davin meninju bahu Denis hingga Denis sedikit bergerak kesamping. Denis tersenyum masam mendapat tinjuan dari adiknya itu. Sepertinya Davin memang telah banyak berubah.


"Ya ampun. Gue sudah melihat lo tadi. Tapi gue gak mengenali lo."


"Padahal lo yang bilang kalau gue pasti gak bisa mengenali lo. Tapi justru lo yang gak ngenalin gue."


"Oke. Gue kalah. Jadi gue akan traktir lo sekarang."


Davin mengibaskan tangannya dirambut Denis yang super pendek. Dia terkekeh sambil memperhatikan kakaknya itu dari ujung rambut ke ujung kaki.


"Lo keren banget dengan gaya rambut begini."


"Ngaco." Denis meninju bahu Davin.


"Beneran. Gue suka gaya lo."


"Kayaknya lo sudah berubah cara pandang."


"Ya. Gue suka cewek strong kayak lo." Davin menyipitkan sebelah matanya. "Gak akan ada yang percaya kalau lo adalah seorang cewek. Gila. Keren banget."


"Terus sekarang, pacar lo seperti apa? Mama bilang lo sudah punya pacar."


"Gue belum punya pacar. Yang naksir gue sih banyak, tapi yang gue suka belum ada."


"Sombong." Denis menabrakkan bahunya dibahu Davin. Davin membalas dengan memiting leher Denis dengan lengannya yang kekar.


"Lo mau bunuh gue." Denis berusaha membuka tangan Davin.


"Gue gemes sama lo. Ternyata, lo makin menjadi ya semenjak lo kabur dari rumah." Davin memeluk Denis dengan gemas.


"Denis!!" Sepertinya semua suara yang ada di dalam ruang tunggu bandara mendadak sirna tergantikan oleh suara yang baru saja memanggil nama Denis dengan penuh penekanan.


Denis terpana melihat siapa yang sedang berdiri dihadapannya dengan mata menyorot tajam.


Lengan Davin yang melingkar dileher Denis mengendur. Matanya menatap penuh tanya pria yang sedang memindai dirinya.


Alex tersenyum miris. Matanya menatap Denis semakin dalam dan tajam.


"Aku meneleponmu. Tapi tidak dijawab. Rupanya kamu sedang sibuk." Matanya berkilat kepada Davin. "Maaf mengganggu. Permisi."


Tanpa menunggu jawaban dari Denis, Alex melangkahkan kakinya lebar-lebar diikuti seorang gadis cantik yang setengah berlari mengejar langkahnya.


Denis menatap kedua orang itu hingga menghilang di balik lalu lalangnya pengunjung bandara.


Davin menatap Denis sebentar, kemudian mengikuti tatapan Denis yang mengiringi kepergian pria barusan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Siapa? Kayaknya marah banget sama lo?"


Denis tersadar. Dia segera menurunkan tangan Davin yang masih melingkari lehernya.


"Bukan siapa-siapa." Sahutnya. "Ayo kita pergi dari sini. Mana barang lo?"


"Gak ada. Gue cuma bawa backpack ini aja. Yakin cowok tadi bukan siapa-siapa?"


"Iya."


Davin meringis. Dia yakin kakaknya itu berkata asal.


"Gak mungkin pacar lo kan? Lo suka sama cowok? Gue pikir lo jadi rebutan para cewek. Lo ganteng banget. Kalah gue."


Denis tak menghiraukan ocehan Davin. Dia segera meninggalkan tempat itu diikuti Davin yang masih penasaran dengan pria tadi.

__ADS_1


*****


__ADS_2