
Suasana duka yang mendalam begitu terasa di area pemakaman yang dipenuhi oleh para pelayat dengan pakaian warna hitam. Alex berdiri termangu menyaksikan semua prosesi pemakaman Arga Dinata dengan tatapan sendu dibalik kaca mata hitamnya.
Disebelahnya seorang pria muda berjongkok menyentuh pusara dengan wajah menunduk. Memperlihatkan kesedihan yang mendalam dengan hanya diam terpatung untuk waktu yang cukup lama.
Tidak jauh dari mereka beberapa orang dengan setelan hitam-hitam dan kacamata hitam, nampak selalu siaga. Pun begitu disetiap sudut tempat itu. Sangat jelas kelihatan kalau tempat itu dijaga begitu ketat oleh orang-orang suruhan Alex. Semua bersiaga ditempat masing-masing dengan tingkat kepatuhan yang tinggi.
Satu persatu pelayat meninggalkan area pemakaman. Meninggalkan beberapa orang terdekat yang masih setia menunjukkan rasa bela sungkawa terhadap mendiang Arga Dinata yang sangat mereka hormati.
Pria yang sejak beberapa waktu lalu hanya bersimpuh disisi pusara, akhirnya menegakkan tubuhnya. Menyentuh sudut matanya untuk mengusap cairan yang keluar begitu saja. Dia kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan Alex yang hanya berjarak satu langkah saja dari tempatnya berada.
"Terima kasih karena sudah mengijinkan aku untuk menemui papa." Suaranya serak dan setengah berbisik. Orang yang ia ajak bicara masih bergeming dalam angannya. Seolah tak mendengar apa yang diucapkan Reno barusan. Mata sembabnya terlindungi kaca mata hitam. Tapi raut wajahnya menunjukkan semua duka yang tengah dia rasakan.
Dua orang pria menghampiri Reno dan segera menarik tangannya menjauh dari Alex. Tidak ada penolakan dari Reno. Dia mengikuti langkah orang-orang yang menariknya menjauhi tempat dimana jasad Arga Dinata dikuburkan. Sesekali dia menoleh ke arah Alex yang sekarang sudah berjongkok disamping pusara.
Denis yang sejak tadi berada tidak jauh dari Alex, melangkah mendekati pria itu. Tatapannya sendu dibalik kaca mata hitam yang melekat diwajahnya. Dia setia menemani Alex tanpa bicara sepatah katapun. Dibiarkannya pria itu menyendiri dengan kesedihannya yang mendalam. Hingga pria itu kembali berdiri dan menghembuskan nafasnya dengan berat.
Setelah merasa puas memandangi pusara papanya, Alex kemudian beranjak meninggalkan tempat itu diikuti Denis dan anak buahnya yang lain. Mereka memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu.
*****
Suasana hening didalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Denis yang mengemudi hanya sesekali melirik Alex yang duduk dikursi belakang. Mulut pria itu masih rapat sejak mereka meninggalkan pemakaman.
Denis ingat bagaimana histerisnya pria itu saat tahu papanya telah menghembuskan nafas terakhir sedangkan dia sedang tidak bersama dengan papanya. Alex sudah melupakan wibawanya sebagai seorang petinggi perusahaan dengan menangis meraung memanggil papanya. Siapapun yang melihatnya saat itu pasti ikut merasakan kesedihan yang mendalam yang dirasakan pria itu. Termasuk Denis. Dia bahkan harus menyembunyikan airmatanya yang menitik ketika melihat keadaan Alex tadi.
__ADS_1
Alex agak tenang ketika Denis merengkuhnya dan membiarkan kepala pria itu bersandar dibahunya. Sungguh Denis dapat merasakan kehilangan yang dirasakan Alex. Hatinya ikut sakit dan merasakan kesedihan yang sangat mendalam yang dirasakan Alex.
Hingga mereka tiba dirumah, keadaan Alex masih belum berubah. Dia masih diam dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja papanya. Dia menutup pintu ruangan itu begitu memasukinya tanpa menghiraukan keberadaan Denis yang terus mengikutinya.
Denis hanya menatap pria itu dan membiarkan Alex untuk menyendiri sementara waktu. Dia sendiri kemudian memasuki kamarnya dan membersihkan dirinya dikamar mandi.
Hingga waktunya makan malam Alex tidak keluar dari ruang kerja papanya. Awalnya Denis menyangka pria itu telah kembali ke kamarnya. Namun ketika Denis memeriksa kamarnya untuk mengajaknya makan malam, ternyata kamar milik Alex berada dalam keadaan kosong dan masih rapi. Denis kemudian mengetuk ruang kerja yang tadi siang di masuki oleh Alex.
Tidak ada sahutan dari dalam ruangan itu. Denis mencoba membukanya. Ternyata pintunya tidak dikunci. Denis memasuki ruangan itu. Seketika dia melihat Alex yang sedang duduk bersandar dikursi kebesaran Arga Dinata. Matanya terpejam dengan pakaiannya yang sudah tidak karuan. Tangannya memegang botol minuman yang isinya sudah tinggal separuh. Denis cukup terkejut melihat itu. Selama dia mengenal Alex, tak pernah sekalipun dia melihat Alex minum minuman beralkohol. Pria itu menjalani hidup sehat dengan tidak mengkonsumsi alkohol dan juga tidak merokok.
Ini adalah pertama kalinya Denis melihat Alex dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.
Dengan hati-hati diambilnya botol dalam genggaman pria itu. Gerakannya ternyata membuat Alex sedikit terkejut. Dengan susah payah, dia membuka matanya.
"Ayo gue antar lo ke kamar." Denis menarik tangan Alex untuk berdiri.
"Aku gak mau. Aku ingin disini menemani papa. Dia pasti sedih karena ditinggal sendirian." Alex menepis tangan Denis yang berusaha membangunkannya dari kursi yang dia duduki.
Denis meringis. Sebenarnya dia tidak kuat dengan aroma menyengat yang menghambur dari mulut Alex. Namun melihat keadaannya yang sangat kacau membuatnya tidak tega untuk meninggalkannya sendiri diruangan itu.
Denis memang pernah bergaul dengan anak-anak jalanan yang sangat kental dengan pergaulan bebasnya. Namun dia tidak pernah ikut-ikutan mengkonsumsi alkohol karena memang dia tidak suka. Dia juga tidak pernah ingin mencobanya walaupun ada beberapa temannya yang membujuknya agar mencicipi minuman tersebut.
"Hei..Denis..kamu tahu? Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Sama kayak kamu kan?" Alex terkekeh diakhir kalimatnya. "Jadi, mulai sekarang, kita harus tetap bersama. Jangan pernah ninggalin aku. Oke? Karena apa? Karena nasib kita sama. Aku sendiri, kamu juga sendiri. Kita akan tetap bersama selamanya." Alex bangkit dari duduknya. Tubuhnya sedikit limbung ketika melangkah mendekati Denis. Matanya yang memerah dan sayu menatap Denis dan langkahnya semakin dekat. Perlahan Denis memundurkan langkahnya hingga tumitnya beradu dengan tembok. Denis terkejut ketika merasakan dinding dibelakang punggungnya.
__ADS_1
"Tapi aku harus tahu satu hal." Alex telah sampai sangat dekat dengan Denis. Satu tangannya telah bertumpu didinding disebelah kepala Denis. "Kamu ini.. sebenarnya siapa? Kenapa kamu selalu bikin hatiku berdebar ketika berada didekatmu?" Tangan kanannya terangkat menyentuh dagu Denis. Memutar wajah Denis sambil memperhatikannya dengan kelopak matanya yang semakin berat.
"Wajahmu sangat mulus seperti perempuan. Apa kamu seorang perempuan?" Alex mensejajarkan wajahnya dengan wajah Denis. Sekarang jaraknya semakin dekat. Hanya beberapa inchi saja. Denis masih terdiam dengan nafasnya yang tertahan. Bukan karena bau alkohol yang menyembur dari mulut pria itu yang jaraknya begitu dekat. Namun napasnya nyaris terhenti karena jantungnya yang memompa terlalu cepat. Sampai dia lupa untuk bernafas.
"Kenapa aku merasakan ingin.." Wajah itu semakin dekat. Denis meremas jemarinya yang terkepal erat disamping tubuhnya. Kesadarannya entah pergi kemana ketika ia tiba-tiba tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Tubuhnya terasa kaku. Otaknya terasa beku.
Brugh!
Wajah Alex jatuh dibahu Denis. Tubuhnya yang berat nyaris membuat Denis terjatuh. Untunglah kesadarannya segera pulih. Denis segera menegakkan tubuhnya sekaligus menahan tubuh Alex agar tidak terjatuh. Untuk sesaat dia terpaku sambil memeluk Alex yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri.
Denis memejamkan matanya. Hidungnya dipenuhi aroma rambut Alex yang sekarang menutupi sebagian wajahnya. Tanpa sadar jemarinya meremas baju Alex.
Dengan sedikit kesusahan Denis menyeret tubuh kekar Alex menuju sofa yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hati-hati dia membaringkan tubuh pria itu dengan posisinya yang masih menghadap tubuhnya. Ketika dia sudah meletakkan kepala Alex dibantalan sofa dia bermaksud untuk meluruskan tubuhnya yang membungkuk. Namun tangannya tiba-tiba ditarik oleh Alex sehingga dia terjatuh menimpa tubuh pria itu. Bukan itu saja. Bahkan bibirnya sekarang menimpa bibir pria itu dan melekat untuk beberapa saat.
Mata Denis terbuka lebar. Sekarang dia benar-benar lupa bagaimana caranya bernafas. Ini adalah sentuhan pertama dibibirnya. Ketika kesadarannya kembali, Denis segera mengangkat tubuhnya menjauh dari tubuh Alex. Namun justru pria itu melingkarkan tangannya ditubuh Denis dan bibirnya bergerak lincah memagut bibir Denis.
Dengan sekuat tenaga Denis melepaskan diri dari pelukan Alex sekaligus melepaskan tautan bibir Alex dibibirnya. Dia melompat menjauhi Alex yang terkulai lemas dengan matanya yang terpejam. Bibir pria itu menyecap seakan mencari-cari sesuatu yang baru saja dirasakannya.
Denis mengusap mulutnya dengan kasar dan segera keluar dari ruangan itu. Ditutupnya pintu ruang kerja Arga Dinata dengan panik. Untuk sesaat dia bersandar dipintu itu menetralkan jantungnya yang seakan sedang melompat-lompat. Nafasnya tersengal dan dadanya terasa sesak. Lututnya terasa lemas dan hampir tidak bisa menopang berat tubuhnya.
Gila! Ini benar-benar gila!
******
__ADS_1