Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tujuh Puluh Satu


__ADS_3

Suasana pagi yang sangat berbeda. Seakan semua kebahagiaan dicurahkan ke dalam rumah megah itu. Bunga-bunga seolah bermekaran tiada henti dan menyebarkan wanginya ke seantero rumah itu.


Ruang makan yang hangat. Dengan kehadiran salah satu anggota keluarga yang telah lama menghilang. Kini dia duduk ditempat yang seharusnya dia berada.


Senyuman Rania membuat wajahnya semakin memancarkan cahaya aura kecantikan yang tak terbatas usia. Dengan cekatan dia melayani suaminya terlebih dahulu. Kemudian beralih kepada Denis yang walaupun tidak tersenyum lebar, namun matanya memancarkan kebahagiaan yang sama seperti yang Rania rasakan.


"Apa selama ini kamu makan dengan baik?" Tanyanya sambil meletakkan setangkup sandwich di piring Denis.


"Ya."


Denis menyuapkan makanannya dibawah tatapan mamanya.


Deheman Andres mengalihkan perhatian Rania.


"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Rania kepada suaminya.


"Tidak. Hanya saja, kapan Denis makan kalau kamu terus mengajak dia bicara?" Andres tersenyum manis yang ditanggapi dengan gelakan kecil dari istrinya.


"Katakan saja kalau kamu cemburu karena aku sedikit mengabaikanmu." Rania mengerlingkan matanya.


"Tidak sama sekali, sayang." Andres mengelak.


Rania bangkit dari duduknya. Mengusap punggung Denis sambil berjalan menuju sisi suaminya. Dikecupnya pipi Andres sekilas.


"Kalian berdua sama pentingnya dalam hidupku. Aku ingin terus melayani kalian berdua sepanjang hidupku. Jangan pernah ada lagi perpisahan, karena itu sangat menyakitkan." Matanya lembut menatap Denis.


"Hei..Pagi begini jangan melankolis seperti itu." Andres menyentuh tangan istrinya.


"Kamu tidak sarapan bersama kami?" Tanya Andres kemudian.


"Aku ingin terus memandangi kalian." Tapi matanya hanya memandangi Denis.


"Aku tidak akan kemana-mana. Mama boleh memandangiku setiap hari." Kalimat panjang pertama dipagi hari. Membuat Rania tersenyum.


"Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan mama lagi."


Denis mengedikkan kepalanya.


"Selamat pagi." Seseorang tiba-tiba menyapa semua yang berada disana. Serentak ketiga orang yang ada dimeja makan menoleh ke sumber suara.


Alex datang dengan senyuman diwajahnya.


"Maaf. Tapi rasanya sangat aneh tidak ada teman untuk sarapan. Jadi saya mampir kemari."


"Alex, duduklah. Kami baru saja mulai." Rania melambaikan tangannya.


Tanpa ragu sedikitpun Alex menarik kursi disebelah Denis. Menatap sekilas wajah Denis dari samping. Namun gadis itu tak menghiraukannya sama sekali. Dia hanya fokus dengan sarapannya.


Rania mengambilkan piring untuk Alex sambil menanyakan apa yang disukai oleh pria itu.


"Terima kasih." Ucap Alex saat Rania meletakkan piring dengan sandwich yang sama dengan yang dimakan Denis.


"Kamu sendirian dirumah?" Tanya Rani kepada Alex.


"Ya. Begitulah. Selama ini biasanya Denis yang menemani di rumah." Alex melirik Denis. Gadis itu masih tak berucap sepatah katapun.

__ADS_1


"Bukannya kamu masih memiliki adik laki-laki?" Sungguh Rania merasa menyesal telah menanyakan hal itu. Kalau bisa dia ingin menarik kembali kalimat itu.


"Dia..jarang ada dirumah. Dia punya tempat tinggal sendiri." Alex merasa enggan sebenarnya membahas masalah Reno. Dia akan langsung teringat akan Tania yang sudah mengkhianati papanya, bersama Bisma tentu saja.


Denis pun nampak kurang nyaman saat Rania mulai membahas itu. Kunyahannya memelan dengan wajah yang menunduk.


"Oiya, Pak Alex..Bukankah nanti siang kita ada meeting tentang proyek baru kita?" Andres mengalihkan topik pembicaraan yang disambut dengan antusias oleh Alex. Mereka kemudian larut dalam pembicaraan antar pria dalam urusan bisnis.


Sebuah deringan panggilan masuk di handphone Rania menjeda pembicaraan di meja makan.


Rania menjawab panggilan itu dengan enggan setelah melihat siapa yang meneleponnya.


"Hallo. Damian, ada apa?" Matanya menyapu wajah Denis yang duduk diseberangnya.


"Apa? Kapan?" Suaranya terdengar serius. Saat ini perhatian semua orang terpusat padanya. Tak terkecuali Denis.


Rania menghela nafas dengan sedikit berat.


"Ada apa?" Andres menatap istrinya penuh tanya setelah Rania mengakhiri panggilan teleponnya.


"Damian memberi tahu kalau ibu masuk rumah sakit."


Andres terdiam sesaat. Mencari kata yang tepat untuk dia ucapkan kepada istrinya. Setelah apa yang terjadi kemarin, semuanya menjadi tidak sama lagi mereka rasakan terhadap Aryanti dan Damian. Seolah mereka berada dalam dua kubu yang berbeda.


"Pergilah untuk menemui ibumu. Bagaimana pun juga, dia tetaplah ibumu." Andres berkata dengan lembut pada akhirnya. Tidak mungkin dia memprovokasi istrinya untuk tidak menemui ibunya sendiri walau dia pribadi kurang suka akan hal itu. Apalagi saat ini sedang ada Denis dan Alex disana.


"Aku tidak tahu. Setelah apa yang ibu lakukan pada Icha, aku tidak ingin menemui ibu. Aku masih sangat marah." Rania menunduk. Menggigit roti sandwichnya perlahan. Tak dapat dipungkiri kalau hatinya sedang bimbang. Dia memang sangat marah pada Aryanti, ibunya. Namun satu sisi sebagai anak yang baik, dia merasa khawatir akan keadaan ibunya saat ini. Apalagi Damian mengatakan kalau ibunya sampai tak sadarkan diri.


"Kita akan sama-sama menemui nenek." Suara Denis mengejutkan semua orang. Rania menaikkan tatapannya dengan cepat. Andres dan Alex menyorotkan tatapan tak percaya. "Aku ingin memaafkan nenek."


"Kenapa? Apa ini aneh?" Denis membagikan tatapannya.


"Kamu serius, sayang?" Rania seolah tak percaya.


"Aku serius. Ayo kita ke rumah sakit. Seseorang mengatakan kepadaku kalau kita harus bisa memaafkan kesalahan dimasa lalu jika kita ingin bahagia. Aku sangat ingin bahagia. Aku ingin memulai hidupku dengan baik mulai sekarang."


"Sayang." Mata Rania berkaca-kaca. Dia bangkit dan menghampiri Denis. Dipeluknya tubuh putrinya dari belakang.


"Maafkan mama yang selalu menyakitimu."


Denis memejamkan matanya. Meresapi perasaan sejuk yang menyelusup direlung hatinya.


****


Perjalanan ke rumah sakit tidak memerlukan waktu lama. Mereka telah berada di lorong rumah sakit dimana Damian dan istrinya sudah terlebih dahulu berada disana.


"Bagaimana keadaan ibu?" Tanya Rania begitu mereka tiba.


"Masih belum ada perubahan. Aku baru saja bicara dengan dokter." Sahut Damian tanpa mempedulikan keberadaan Denis.


"Apa yang dokter katakan?"


"Kita harus secepatnya mendapatkan donor ginjal buat ibu." Sudut matanya melirik ke arah Denis.


Denis berdiri bersandar didinding dengan kedua tangannya masuk kedalam saku celananya. Dia masih bersikap dingin kepada Damian dan istrinya karena kedua orang itupun begitu acuh kepada dirinya.

__ADS_1


Alex berdiri disampingnya mengikuti semua drama keluarga itu walau Denis sudah menyuruhnya untuk pergi ke kantor.


"Kalau sampai terlambat, kita akan kehilangan ibu." Damian nampak sangat putus asa.


Rania terdiam. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Damian kakaknya.


"Aku akan memberikan ginjalku." Semua orang menoleh ke sumber suara. Denis menatap mamanya dengan mantap.


"Denis?" Untuk kedua kalinya dipagi ini Denis mengejutkan semua orang. Alex melebarkan matanya menatap Denis.


"Jangan bicara sembarangan. Aku akan mencari informasi tentang donor ginjal. Aku tidak mau kamu melakukan itu." Desisnya gusar.


"Sayang, kamu bicara apa? Kita masih punya jalan lain untuk mendapatkan donor untuk nenek. Mama tidak rela kamu memberikan ginjalmu untuk nenek."


"Kalau Denis mau, kenapa kamu melarangnya? Ini juga demi kesembuhan ibu. Apa kamu tidak mau melihat ibu kembali sehat seperti semula?" Damian menukas ucapan Rania.


"Apa maksudmu, Damian? Kau masih ingin bertengkar denganku untuk masalah ini? Kenapa kamu tidak menghargai diriku sedikitpun sebagai mamanya Icha? Kenapa kamu tidak pernah merasa kalau Icha ini bagian dari keluarga kita?"


"Justru karena dia itu bagian dari keluarga kita, maka sudah seharusnya dia membantu keluarga ini. Sudah seharusnya dia sedikit berkorban untuk kehidupan neneknya sendiri. Selama ini keluarga kita sudah banyak berkorban untuk kehidupannya."


"Damian!"


Kalau tidak ingat sedang berada di rumah sakit, ingin rasanya Rania menjerit membentak kakaknya.


Rengkuhan tangan Andres dibahunya menyadarkannya. Namun matanya tajam menghunjam wajah Damian. Tubuhnya sedikit menggeletar menahan amarah.


"Apa yang dikatakan om Damian benar. Aku tidak pernah melakukan apapun untuk keluarga ini. Sekaranglah saatnya." Denis berkata pelan.


"Mama tidak akan mengijinkan kamu untuk melakukan itu."


Seorang dokter dan beberapa orang perawat datang untuk melihat kegaduhan didepan ruang rawat inap VVIP.


"Tolong jangan membuat keributan disini." Dokter itu mencoba melerai.


"Kami hanya sedang berdiskusi, dokter. Dia adalah calon pendonor ginjal bagi Ibu Aryanti." Damian menunjuk Denis.


"Damian. Tolong. Kita bukan sedang diskusi. Tapi kamu sedang menyeret putriku dalam masalah ini." Rania menekankan kalimatnya. Menatap nyalang Damian yang jelas-jelas sedang menentangnya.


"Hentikan, Damian. Rania sudah berbaik hati untuk datang kemari tapi kamu malah berbuat seenaknya. Ayo kita bicarakan ini baik-baik." Andres mencoba menengahi. Tangannya tak lepas dari merangkul tubuh Rania.


"Tolong jangan ribut disini. Silakan cari tempat lain untuk berbicara." Dokter yang menegur mereka masih berada disana.


"Kalian pergilah cari tempat lain untuk bicara. Biar aku yang menjaga ibu disini." Kinanti, istri Damian memberi usulan. Dia sendiri sudah muak melihat pertengkaran yang selalu terjadi di keluarga besar suaminya.


"Kita hanya membuang waktu saja berbicara yang tidak akan ada titik temunya. Lebih baik sekarang kita ikut saja apa yang dikatakan Denis. Dia sendiri yang akan mendonor jadi tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan." Damian masih dengan pendapatnya.


"Kamu lupa kalau Icha ini anakku? Apa kamu tidak memiliki anak, Damian? Pikirkan bagaimana perasaan istrimu jika ada diposisi ini."


"Sudah. Sudah. Jangan bertengkar disini. Ayo Denis. Alex. Kita pergi dari sini."


Andres menarik tangan istrinya meninggalkan tempat itu. Denis yang masih mematung segera ditarik oleh Alex.


"Tunggu. Kalian mau kemana? Rania! Kau tega meninggalkan ibu?" Damian bergegas mengikuti langkah kaki orang-orang yang terlebih dahulu meninggalkannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2