Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tigapuluhsatu


__ADS_3

Denis dan Alex berjalan menyusuri lorong sebuah rumah sakit dengan masker menutupi wajah mereka. Sebuah topi baseball menutup bagian kepala, ditambah kacamata hitam menyempurnakan penyamaran mereka.


Gedung perawatan tempat khusus para VIP dirawat nampak tenang dan lengang dari pengunjung. Suara langkah mereka terdengar nyaring karena hanya mereka berdua yang saat itu berjalan disana.


Keduanya memasuki sebuah lift dan berdiri dalam diam menunggu hingga lift berhenti dilantai yang mereka tuju.


Keluar dari lift mereka kembali berjalan ke arah kanan. Melewati beberapa kamar hingga tiba disebuah kamar yang berada diujung lorong. Seorang pria nampak sedang duduk dikursi tunggu depan ruangan itu. Dia segera bangkit berdiri begitu melihat ada orang yang mendekati ruangan yang sedang dijaganya. Matanya menatap waspada kepada dua orang yang berjalan semakin dekat.


"Anda berdua ada keperluan apa kemari?" Tanyanya dengan pandangan penuh selidik.


"Kami mau menjenguk pak Arga Dinata." Jawab Alex.


"Anda tahu, tidak sembarangan orang bisa menjenguk pak Arga Dinata. Apa kalian sudah mendapat ijin untuk menjenguk pak Arga Dinata?"


Alex dan Denis saling melempar tatap.


"Aku tidak perlu ijin untuk menengok pak Arga Dinata." Tangan Alex terulur untuk mendorong pintu didepannya. Dengan sigap pria itu menahan tangan Alex. Matanya tajam mengintimidasi.


"Anda tidak bisa masuk begitu saja. Buka masker anda!!" Pria itu mencengkeram tangan Alex dengan cukup keras.


"Pak Yoni, biarkan saya masuk menemui pak Arga Dinata." Ucapan Alex membuat pria itu menyipitkan matanya. Dilepaskannya tangan Alex seolah dia baru saja disengat aliran listrik. Langkahnya terhuyung ke belakang dengan mata memancarkan keterkejutan yang amat dahsyat.


"Ss..ssiapa anda?" Suaranya tercekat. Matanya terus meneliti wajah dibalik masker dan kaca mata hitam dihadapannya. Menatap pria didepannya dari ujung kaki ke ujung kepala. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Alex masih berdiri tanpa membuka maskernya.


"Pak Yoni tahu siapa saya. Sekarang biarkan saya masuk menemui papa saya."


"I..ini tidak mungkin. Mas Alex sudah meninggal.."


"Saya masih hidup, pak Yoni." Alex membuka sedikit masker yang digunakannya sambil membelakangi CCTV yang terpasang disudut atas dinding.


Pak Yoni terperangah. Ini seperti mimpi baginya. Bahkan dia hampir tidak mempercayai kedua belah matanya.


"Mas Alex..ini beneran mas Alex?" Pekikannya tertahan.


"Jangan katakan ini pada siapapun. Tolong rahasiakan ini dari semua orang." Ujar Alex dengan suara pelan.


"Ttapi..bagaimana mungkin..mas Alex.."


"Ceritanya panjang pak Yoni. Sekarang saya mau menemui papa.."


Tanpa menunggu jawaban dari pria penjaga itu, Alex mendorong pintu kamar rawat inap papanya dan memasukinya tanpa ragu. Pak Yoni hanya bisa memandangi tubuh Alex yang menghilang dibalik pintu dengan mulutnya yang setengah terbuka. Matanya masih menunjukan rasa terkejut yang luar biasa dan sepertinya otaknya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi saat itu. Denis bersiap menahan pria itu mengantisipasi jika dia melakukan hal yang tidak diinginkan.


Didalam kamar Alex mendekati pria yang terbaring diatas tempat tidur. Seorang pria separuh baya dengan tubuhnya yang semakin kurus. Perlahan langkah Alex semakin hampir di sisi pembaringan. Matanya penuh dengan kaca-kaca yang siap tumpah kapan saja.


Berjalan sambil terus menatap tubuh yang terbaring lemah tak berdaya. Tidak ada lagi papanya yang bertubuh tinggi tegap. Yang ada hanyalah pria lemah dengan tubuh yang kurus.


"Papa..." Pelan suara Alex menyerupai sebuah desahan. Perlahan mata pria itu terbuka. Sepertinya pria itu tidak sedang tidur. Hanya matanya saja yang terpejam.


Menatap Alex sejenak setelah mengerjap beberapa saat. Ada cahaya yang terpancar dari dalam mata itu. Bibirnya bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu. Begitupun dengan tangannya. Dengan sedikit gemetar, tangan itu terangkat pelan berusaha menggapai Alex.


Alex lebih dulu menyentuh tangan itu. Menggenggam jemari yang kurus menyisakan tulang yang terbungkus kulit. Jemari itu membalas genggaman Alex. Ada bulir bening yang menggelinding dari sudut matanya.


Alex mengusap sudut matanya sendiri. Menyaksikan orang kesayangannya dalam keadaan seperti itu, hatinya begitu terluka. Dulu saat dia meninggalkan tempat ini untuk terakhir kali, papanya belumlah separah ini. Wajahnya masih memancarkan cahaya kehidupan walaupun nampak menahan sakit yang dideritanya. Namun saat ini, keadaannya sungguh sangat memprihatinkan. Dia seperti bukanlah seorang pemilik perusahaan raksasa. Dia tak lebih seperti seorang pengemis yang terbuang.

__ADS_1


Alex membuka maskernya. Mendekatkan tubuhnya kepada pria itu. Duduk disebuah kursi yang memang sudah tersedia disamping pembaringan.


"Papa apa kabar?" Tanyanya dengan suara menggeletar. Mengusap lengan papanya dengan penuh rasa kasih yang mendalam.


Pria itu, Arga Dinata, menatap putra tercintanya dengan rasa bahagia. Matanya menyiratkan betapa besarnya keinginan dia untuk dapat mendekap anak yang sangat dia khawatirkan selama ini. Apalagi beberapa waktu yang lalu semua orang mengabarkan tentang kematian Alex.


Rasa cintanya pada sang anak membuat hatinya tidak mempercayai sedikitpun berita itu. Dia berharap suatu hari nanti dia bisa dipertemukan lagi dengan sang buah hati. Dan hari yang dinanti telah tiba.


Walaupun ia merasa ini seperti mimpi, namun biarlah dia bermimpi dapat bertemu lagi dengan putranya itu. Atau mungkinkah dirinya telah meninggalkan dunia ini hingga bisa bertemu dengan putra kesayangannya itu? Batinnya menjerit bahagia. Bahagia karena bisa bertemu walaupun berada dialam yang lain.


"Aa..alexx.." Bibirnya mengeluarkan suara yang telah lama tidak bisa dia lakukan. Airmatanya semakin deras membanjiri pipinya yang tirus.


"Papa..." Alex tak dapat lagi menahan gejolak didalam dadanya. Dia menghambur memeluk tubuh ringkih sang ayah dalam kerinduan dan keharuan.


"Alex.."


"Iya..ini Alex..putra papa." Alex mengangkat wajahnya. Memperlihatkan senyuman diantara airmata yang terus mengalir tanpa bisa dicegah lagi.


Diusapnya pipi sang papa dengan lembut.


"Bawa...papa..per..gi.." Ucap Arga Dinata dengan suara lemah. Hampir dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Napasnya langsung tersengal hanya karena mengucapkan sebaris kalimat itu.


Alex menggenggam erat tangan papanya dengan dua tangannya. Hatinya teriris pedih mendengar kalimat sederhana dari mulut papanya.


"Alex akan bawa papa pergi dari sini." Ucapnya mantap. "Tapi tidak sekarang. Papa sabar ya."


Pintu terbuka dan menampakkan sosok Denis yang menyembul dibaliknya. Dia memberi isyarat pada Alex agar segera keluar.


Alex menoleh lagi kepada papanya dan mengeratkan tangannya.


Diciumnya tangan Arga Dinata sebelum dilepaskan dengan hati-hati. Setelah menatap lagi papanya, Alex bangkit dan segera keluar dari ruangan itu. Diikuti oleh tatapan dari Arga Dinata yang harus merelakan putranya pergi saat itu.


Denis sudah berjalan terlebih dahulu menuju ke pintu darurat dan Alex mengikutinya setelah melemparkan tatapannya pada pak Yoni yang masih terpaku menatapnya. Bersamaan dengan pintu darurat yang tertutup, pintu lift dilantai itu terbuka dan memunculkan sosok Tania dan Bisma yang keluar bersamaan. Melangkah beriringan menuju kamar yang baru saja ditinggalkan oleh Alex.


Pak Yoni yang masih berdiri ditempatnya, segera memulihkan kesadarannya. Dia mengangguk hormat kepada dua orang yang baru saja datang. Untunglah Tania dan Bisma tidak memperhatikan ekspresi Pak Yoni saat itu. Mereka berjalan dengan angkuh tanpa menoleh kepada bawahannya itu.


Membuka pintu kamar dan langsung memasukinya. Tania dapat melihat mata Arga Dinata yang basah karena belum bisa menghentikan tangisannya.


"Kamu sepertinya sedang menangis. Ada apa?" Tania memperhatikan sekeliling ruangan.


"Mungkin dia merindukanmu, Tania." Bisma tersenyum licik. Matanya menatap Arga Dinata dengan tatapan penuh kebencian.


Arga Dinata memejamkan matanya pelan. Menekan rasa sakit didadanya yang tidak dapat digambarkan lagi. Dua orang manusia munafik sedang berdiri dihadapannya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya saja sekarang dia memiliki harapan yang besar setelah kehadiran Alex yang ternyata bukan mimpi. Dia berdoa dalam hati, semoga Alex bisa secepatnya membawa dia keluar dari situasi yang sangat menyesakkan ini.


"Dia tidak akan merindukanku, Bisma. Pasti dia merindukan putra tercintanya yang sudah ada dialam baka sana. Atau mantan istrinya yang sama sedang menunggunya disana." Tania mencebikkan bibirnya.


"Apa dia ingin segera bertemu dengan putra dan mantan istrinya itu? Aku bisa membuatnya segera bertemu dengan mereka, kalau kamu mau." Bisma sedikit terkekeh. Terdengar sangat mengerikan bagi siapa saja yang mendengar. Tapi tidak bagi Tania. Dia ikut tersenyum dan menatap Bisma dengan tatapan menggoda.


"Kamu bisa melakukan itu?" Tania mendekatkan dirinya pada tubuh Bisma sehingga posisi mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu, sayang." Bisma menyentuh rambut Tania dengan lembut. Matanya menatap penuh pemujaan kepada wanita yang masih menjadi istri sah dari Arga Dinata.


Diatas tempat tidur, Arga Dinata mengepalkan tangannya yang gemetar menahan amarah. Matanya memejam erat tidak sanggup melihat semua yang terjadi dihadapannya. Semua pertunjukan dari orang-orang yang gila akan harta dan kedudukan.


Yang membuat dia sangat sakit hati adalah, itu dilakukan oleh wanita yang masih berstatus sebagai istri darinya. Dan kenapa semuanya baru dia ketahui setelah sekian lama mereka melakukannya. Ternyata istri yang sangat dia cintai itu telah bermain api dibelakangnya, dan itu sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Bersama orang yang sangat dia percayai.

__ADS_1


Tak pernah sedikitpun dia menyangka akan hal itu. Dia terlalu fokus pada perusahaan. Sehingga dia tidak memiliki waktu untuk memperhatikan istri cantiknya yang ternyata sangat memerlukan belaian kasih sayang dari makhluk yang bernama laki-laki. Dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Bisma.


Entah sejak kapan mereka berkhianat dibelakangnya. Mungkin lebih lama dari perkiraannya. Mereka sudah saling mengenal sejak awal pernikahan Arga Dinata dan Tania Priscila. Arga Dinata lah yang telah memperkenalkan Bisma kepada istri cantiknya. Istri yang usianya jauh lebih muda darinya.


Dilihat dari kedekatan mereka selama ini, tak ada satupun yang membuat Arga Dinata curiga. Atau mungkin dia yang kurang peka dengan perangai istrinya. Dia selalu tidak peduli dengan apapun selain pekerjaan. Dia pikir, asalkan kebutuhan materi istrinya terpenuhi maka semuanya akan baik-baik saja.


Tapi ternyata dia salah. Seorang wanita tidak akan puas hanya dipenuhi kebutuhan materinya saja. Dia juga menginginkan terpenuhinya kebutuhan biologis dan psikologisnya. Dan Arga Dinata telah mengabaikan itu.


Dia akui pernikahannya dengan Tania diawali dengan sebuah kesalahan. Dia yang saat itu ditinggal pergi oleh istri tercintanya berada dalam keadaan yang sangat terpuruk. Kehadiran Tania yang saat itu menjadi sekretarisnya sedikit mengalihkan kesedihannya.


Dan kejadian malam naas itu, saat dia kehilangan kendali atas syahwatnya, mengakibatkan sesuatu yang sangat tidak dia inginkan. Tania hamil. Dan dia harus bertanggung jawab untuk itu.


Dia menikahi Tania saat usia Alex belum genap satu tahun.


Pernikahannya dengan Tania tak lantas membuat cintanya pada almarhum istrinya menghilang begitu saja. Justru dia merasa bersalah telah menghianati istrinya. Karena itulah dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada perusahaan, sehingga tanpa disadarinya, dia telah mengabaikan Tania yang telah dinikahinya.


Mungkin disanalah kesalahannya. Ya. Arga Dinata menyadari bahwa dialah yang bersalah karena telah mengabaikan Tania sekian lama. Mungkin juga sejak itulah Bisma telah mengambil alih perannya sebagai seorang pria yang dibutuhkan oleh Tania.


Pria itu, Arga Dinata, memejamkan matanya rapat-rapat. Dia memang telah menyadari kesalahannya. Dari lubuk hatinya yang terdalam, dia menyesali semuanya. Tapi, haruskah Tania melakukan ini untuk membalas semuanya? Haruskah dia menunjukkan penghianatannya dengan cara menyakiti dirinya sehingga berbulan-bulan Arga Dinata harus terbaring lemah diatas tempat tidur?


Arga Dinata rela memberikan apa saja yang diinginkan oleh wanita itu untuk menebus kesalahannya, tapi biarkan dia hidup tenang bersama putra kesayangannya. Dia rela melepaskan wanita itu bersama pria yang dicintainya. Tapi kenapa dia melakukan hal kejam seperti ini.


Melihat kekejaman kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu membuat Arga Dinata berpikir dua kali untuk menyerahkan tampuk perusahaan pada Tania. Apalagi sekarang dia tahu, bahwa Alex, putranya ternyata masih hidup. Arga Dinata hanya perlu mengulur waktu hingga Alex memiliki cara untuk menjauhkannya dari kedua iblis itu.


"Tuan Arga Dinata yang terhormat. Ayo buka mulutmu. Kau harus makan biar kamu menjadi sedikit lebih kuat. Kau harus punya tenaga untuk menandatangani berkas-berkas pemindahan kekuasaan atas perusahaan pada istrimu ini."


Wanita itu semakin tidak tahu malu sejak Arga Dinata memergokinya sedang bercinta dengan Bisma dikamar miliknya sendiri. Saat itulah Arga Dinata mengalami serangan jantung dan kemudian berakibat fatal pada kondisi kesehatannya. Sejak saat itu, wanita itu semakin terang-terangan memperlihatkan kelakuan bejatnya yang tersembunyi selama ini. Apalagi sejak berita tentang kematian Alex. Kelakuannya semakin menjadi-jadi.


Tania sudah duduk ditepi pembaringan. Memegang piring yang berisi makanan dan sendok yang siap disuapkan ke mulut Arga Dinata.


Setelah Tania memberitahunya tentang kematian Alex, kesehatan Arga Dinata menurun drastis. Dia tidak mau makan. Dia kehilangan semangat hidupnya. Baginya, Alex adalah segalanya. Alex adalah titisan dewi cinta yang telah pergi meninggalkannya. Alex adalah warisan berharga, hadiah terindah dari wanita yang dicintai seumur hidupnya.


Arga Dinata akan menolak disuapi oleh wanita itu. Apalagi setelah dia mengetahui perselingkuhan antara Tania dan Bisma. Arga Dinata semakin terpuruk. Cahaya kehidupan sudah menghilang sejak saat itu. Yang dia inginkan hanyalah bisa bertemu dengan putra tercintanya.


Dan hari ini, cahaya kehidupan itu telah datang menyinari jiwanya. Ada keinginan untuk segera menggerakan raganya agar bisa melakukan sesuatu yang berarti. Kehadiran Alex menjadi penyemangatnya.


Matanya terbuka pelan. Menatap wanita yang sangat menjijikan itu dalam diam. Mulutnya terbuka menyambut makanan yang dihantarkan melalui sendok ditangan Tania. Dia mengunyahnya perlahan sambil kembali memejamkan matanya. Kalau bukan demi Alex, tak sudi rasanya dia menerima uluran tangan wanita itu.


Dia tahu maksud dari semua yang dilakukan oleh Tania. Wanita itu hanyalah menginginkan tanda tangannya. Dan itu tidak bisa dia berikan karena tangannya yang lemah. Tania telah melakukan segala upaya agar Arga Dinata bisa melakukan penandatanganan itu. Tapi usahanya sia-sia. Satu-satunya cara adalah dengan membuat pria itu kembali mau makan dan memulihkan tenaganya.


Sayang sekali apa yang dilakukan Arga Dinata tidak sesuai dengan keinginannya. Pria itu selalu menolak semua yang diberikannya. Hanya selang infus yang menjadi penyambung hidup pria itu. Namun hari ini, sungguh diluar perkiraannya. Arga Dinata mau menerima suapan makanan dari tangannya.


Tania tersenyum senang. Begitu juga dengan Bisma. Dia tersenyum sambil berdiri melipat kedua tangan didadanya.


"Ayo habiskan makanannya tuan Arga. Aaa..." Tania bersemangat menyuapi pria itu. Senyum licik tak lepas dari bibirnya yang dipoles lipstick warna merah menyala.


"Harusnya kamu biarkan seorang pembantu untuk melakukan ini, sayang. Jadi tanganmu yang indah ini tidak perlu bersusah payah menyuapinya. Aku jadi sangat cemburu." Dengan tidak tahu diri Bisma berujar. Tania hanya membalasnya dengan senyuman.


"Aku harus memastikan sendiri dia makan dengan baik, sayang. Bukankah dia harus segera sembuh? Setidaknya tangannya itu harus bisa digerakkan untuk hal yang berguna." Tania terkekeh diujung kalimatnya.


"Kamu memang istri yang sangat berbakti." Bisma mengusap pelan pucuk kepala Tania. Dibalas dengan kerlingan manja wanita itu.


Dari balik pintu kamar, diam-diam Alex memperhatikan semua yang terjadi didalam. Tangannya mengepal dengan gigil yang tak tertahankan. Matanya menatap nanar dua makhluk yang selama ini sangat dia percaya. Hari ini, dia dapat melihat semuanya dengan kedua matanya sendiri.


*******

__ADS_1


__ADS_2