
Rania baru saja memasuki kediaman ibunya ketika dua orang pria perlente keluar dari ruang kerja ibunya. Dia mengenali kedua orang itu sebagai orang kepercayaan ibunya. Sejak beberapa bulan terakhir ini, ibunya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Dia yang masih memegang kendali perusahaan keluarga semenjak suaminya meninggal, lebih banyak bekerja dirumah. Untuk urusan kantor memang dia serahkan kepada anak-anaknya. Tapi tidak seratus persen.
Sejak kesehatannya sering terganggu, dia lebih memilih untuk mendapatkan semua informasi melalui orang-orang yang telah dia percayai. Hal itu terkadang membuat kekecewaan dari kedua putranya yang sebenarnya sudah begitu bertanggung jawab akan kelangsungan perusahaan. Sebab itu juga, hubungan antara ibu dan kedua anaknya sempat mengalami keretakan. Terutama dengan Rania yang memang tidak akur sejak lama.
Namun semenjak ibunya sering sakit, Rania mulai bersikap lunak kepada ibunya. Apalagi ketika ibunya menunjukkan rasa sesalnya atas kepergian Denis dari rumah. Rania semakin bersimpati terhadap ibunya.
Sekarang dia kembali mengunjungi ibunya. Walau ada rasa kurang senang dengan sikap ibunya yang masih saja lebih mempercayai orang lain ketimbang dia dan juga kakaknya, namun mereka akhirnya harus menerima alasan yang dikemukakan ibunya bahwa dia tidak mau menambah beban pekerjaan dari anak-anaknya itu. Selagi dia mampu, dia akan melakukannya sendiri. Dan memang benar kalau Aryanti, ibunya Rania, termasuk wanita pekerja keras. Dia tidak mau hanya diam berpangku tangan dan ongkang-ongkang kaki di rumah. Dia selalu ingin terlibat dengan semua urusan perusahaan. Walaupun sekarang gerak langkahnya semakin terbatas.
Rania mengetuk pintu ruang kerja ibunya sebelum masuk. Pintu terbuka dari dalam menampilkan seorang wanita yang hampir sebaya dengan Rania. Dia merupakan perawat pribadi ibunya.
Wanita itu tersenyum sopan ketika melihat siapa yang telah mengetuk pintu. Dipersilakannya Rania untuk masuk, sedangkan dia kembali menutup pintu setelah Rania berada didalam ruangan.
"Rania." Aryanti tersenyum menatap putrinya itu. Rania mendekati ibunya yang sedang duduk dikursi kebesarannya dan mencium tangan wanita tua itu dengan lembut.
"Apa kabar, Bu."
"Seperti yang kamu lihat."
"Aku lihat ibu semakin baik sekarang. Aku sangat senang melihat ibu yang sudah kembali bersemangat."
"Ibu akan lebih bersemangat kalau kamu datang kemari dengan membawa kabar bahagia."
Rania merapatkan bibirnya. Harusnya dia datang dengan kabar bahagia. Namun ternyata, apa yang diharapkannya belum dapat dia wujudkan.
"Bisa dibilang kalau aku membawa kabar bahagia. Namun sayang sekali belum sepenuhnya bisa membuat ibu bahagia."
"Apa maksudmu? Jangan berbelit-belit kalau bicara sama orang tua." Aryanti mengerutkan keningnya. Matanya memicing menatap putrinya.
"Aku bertemu dengan Icha."
"Apa? Kamu bertemu dengan Icha? Kapan? Dimana dia sekarang? Kenapa kamu tidak membawa dia pulang?" Aryanti menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar bahagia menatap Rania.
Rania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku belum bisa membujuknya pulang. Maafkan aku, Bu."
Raut wajah Aryanti berubah. Rona kecewa nampak tidak bisa dia sembunyikan.
"Lalu dimana dia sekarang?"
__ADS_1
"Disuatu tempat. Ibu tahu kenapa kita kesulitan menemukannya selama ini?"
"Kenapa?"
"Karena dia tinggal dikediaman keluarga Arga Dinata. Dia berteman baik dengan putra almarhum Arga Dinata."
"Arga Dinata rekan bisnis kita?"
"Ya. Selama ini kita mencari Icha melalui teman-temannya di jalanan. Tapi ternyata dia berada dilingkungan yang berbeda. Tentu saja kita tidak akan bisa menemukannya "
"Kalau begitu, ayo kita jemput dia dari rumah itu." Ajak Aryanti dengan penuh semangat.
"Sayang sekali, saat ini dia sudah tidak tinggal disana. Aku tidak tahu apa penyebabnya."
"Dan kalian membiarkan dia kembali ke jalanan?"
"Dia masih belum mau pulang, Bu. Kita tidak bisa memaksanya."
Aryanti terdiam. Matanya sendu menatap Rania. Dia mendesah pelan.
"Yah. Setidaknya ada kemajuan dari pencarian kita selama ini. Beri dia sedikit waktu untuk menyadari bahwa dia masih memiliki keluarga yang selalu menunggunya."
"Kamu sedang berada dimana?"
Tanya Andres setelah mengucapkan salam.
"Aku sedang bersama ibu. Apa kamu perlu sesuatu?"
"Tidak ada. Hanya saja, nanti malam aku ingin mengajakmu makan malam."
"Benarkah? Apa kamu tidak sedang sibuk?"
"Aku tahu kamu masih sedih karena pertemuanmu dengan Icha tempo hari. Untuk itu aku ingin sedikit menghiburmu."
"Kamu baik sekali, sayang. Terima kasih sebelumnya. Cepatlah pulang, aku akan menunggumu."
"Akan aku usahakan untuk pulang cepat. Oya, seharusnya aku bertemu dengan Alex putra Arga Dinata hari ini. Tapi dia membatalkan pertemuan itu karena sedang mempersiapkan pertunangannya nanti malam. Hanya asistennya yang menemuiku. Tadinya aku ingin mencari informasi tentang Icha."
"Dia membatalkan meeting begitu saja?"
__ADS_1
"Ya, begitulah. Sepertinya dia sangat mengutamakan acara pertunangannya itu sehingga membatalkan pertemuan denganku. Tapi tidak apa, aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan lainnya. Jadi aku bisa segera pulang untuk menemui istriku.."
Rania tertawa manja mendengar penuturan suaminya yang terdengar sangat manis ditelinganya.
"Baiklah kalau begitu. Selamat bekerja suamiku. Aku akan menunggumu." Ucap Rania dengan nada menggoda. Tak ayal kelakuannya itu membuat Andres mendesah karena gemas dengan istrinya. Sayang sekali mereka hanya berbicara di telepon. Entah apa jadinya jika keduanya saling bertemu.
Rania menutup telepon dengan senyuman tersungging dibibirnya. Tanpa disadarinya, Aryanti mencibir melihat kelakuan putrinya itu. Dia memang masih saja belum menyukai Andres sepenuhnya. Padahal Andres adalah lelaki yang dia pilih untuk Rania.
*****
Alex merasa sangat kesal. Dia pikir dia sudah terbebas dari gangguan Viola. Namun ternyata gadis itu telah memanfaatkan papanya untuk bisa berduaan dengan Alex. Ketika jam makan siang tiba, papanya Viola menelepon Alex dan memintanya untuk menemui Viola disebuah butik.
Awalnya Alex menolak dengan halus dengan memberi alasan yang sama seperti yang dia berikan kepada Viola. Namun dengan berbagai dalih akhirnya Alex tidak bisa menolak lagi permintaan calon mertuanya itu. Entah apa yang telah Viola katakan kepada papanya sehingga pria itu mau membujuk Alex dengan keras.
Dengan berat hati Alex meninggalkan kantor setelah memberikan berbagai arahan panjang lebar kepada Faisal. Terutamanya tentang rencana pertemuannya dengan seorang klien penting perusahaan yang dengan tidak enak hati harus dia batalkan. Dia meminta Faisal untuk menemui klien penting itu dan meminta maaf atas ketidakhadirannya.
Akhirnya, Alex datang juga ke butik yang dimaksud oleh Viola. Butik itu bukanlah milik orang lain. Melainkan milik Viola sendiri. Butik itu berada disebuah mall yang ada dipusat ibu kota dan telah dirintis oleh Viola sejak dia lulus kuliah dibidang mode di luar negeri.
Ketika Alex tiba, Viola sebenarnya sudah sangat kesal karena menunggu terlalu lama. Namun dia harus menampilkan senyuman terbaiknya untuk calon tunangannya yang dengan susah payah dia dapatkan.
Dengan penuh semangat Viola menunjukkan beberapa gaun yang indah kepada Alex. Semuanya rancangan dia sendiri. Alex hanya menanggapi sekedarnya dan menyerahkan sepenuhnya kepada Viola untuk memilih gaun yang akan dia pakai.
Setelah pemilihan cincin tunangan yang dilakukan oleh Faisal, rasanya Viola harus merasa puas dengan kehadiran Alex untuk melihat gaun yang akan dia pakai walaupun Alex tidak secara jelas memilihkan gaun untuknya. Setidaknya rasa kecewanya sedikit terobati.
Setelah memilih gaun yang membutuhkan waktu cukup lama, Viola merengek mengajak Alex untuk menemaninya makan siang. Dengan tegas Alex menolaknya karena dia memang tidak menginginkannya. Dengan beralasan sudah makan siang bersama Pak Yunus dan Faisal di kantornya tadi, Alex benar-benar tidak mau membuang waktunya bersama Viola.
"Maafkan aku karena aku harus segera kembali ke kantor." Ucap Alex selembut mungkin.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa kamu untuk tetap disini. Lagipula, setelah kita menikah nanti, kita akan menghabiskan banyak waktu bersama." Viola merangkul lengan Alex. Menyentuhkan kepalanya dibahu Alex.
Alex menarik pelan tangannya yang sedang dalam belitan tangan Viola.
"Aku harus pergi sekarang."
"Oke. Sampai ketemu nanti malam." Viola tersenyum lebar. Matanya penuh kilauan kebahagiaan membayangkan pertunangannya dengan Alex nanti malam.
Hari bahagia yang sudah dia tunggu sejak sekian lama akhirnya datang juga. Setelah dia bertunangan dengan Alex nanti, maka semuanya akan terasa mudah. Hanya tinggal satu langkah lagi kemudian dia akan memiliki Alex untuk selama-lamanya.
Viola menatap pria pujaan hatinya sampai pria itu menghilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
*****