
Setelah melalui proses yang cukup menguras waktu dan pikiran, akhirnya pemindahan Tania berhasil dilakukan. Berbagai prosedur telah dilalui Faisal dan Pak Yunus, sebagai pengacara yang ditunjuk Alex untuk mewakili dirinya dalam menyelesaikan berbagai persoalan hukumnya.
Alex telah menyiapkan sebuah kamar di lantai bawah untuk ditempati oleh Tania. Dia juga menugaskan perawat khusus untuk melayani semua kebutuhan wanita itu. Selain itu, dia juga telah menempatkan beberapa orang petugas keamanan tambahan untuk berjaga-jaga.
Alex juga telah mewanti-wanti kepada Bi Yati agar tidak ikut terlibat dalam merawat mantan mama tirinya itu. Semuanya akan diserahkan kepada perawat khusus itu, kecuali kalau perawat itu meminta bantuan dari Bi Yati. Namun Alex memastikan bahwa dia tidak akan membebankan perawatan Tania kepada Bi Yati dan pembantunya yang lain.
Denis hanya mengawasi dari jauh saat Tania tiba dirumah itu. Dia berada dilantai atas saat Alex menunjukkan kamar Tania kepada para petugas yang datang mengawal. Denis menyilangkan kedua tangan di dadanya sambil memperhatikan kesibukan orang-orang di lantai bawah rumahnya. Dua orang anggota polisi nampak berbincang sebentar dengan Pak Yunus dan Alex sebelum kemudian pamit meninggalkan rumah itu.
"Bibi kok takut ya, mbak. Rasanya aneh banget ada seorang napi berada didalam rumah ini. Tinggal bersama kita," Bi Yati setengah berbisik disebelah Denis. Dia baru saja keluar dari kamar yang biasa ditempati oleh Denis karena Denis memintanya untuk membersihkan kamar itu.
Denis melirik Bi Yati tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apa dia gak bakal ngapa-ngapain ya, mbak? Apa dia enggak bakal berbuat jahat lagi sama mas Alex?" Bi Yati meringis sambil mengusap kedua siku tangannya. Kekhawatiran jelas terlihat dari raut wajahnya."Bibi kok ngeri ya ngebayangin dia bisa berbuat nekat sama kita."
"Aku enggak tahu, Bi. Kita berdoa saja semoga hal itu tidak akan pernah terjadi," sahut Denis. "Dan semoga dia sadar setelah ini, kalau orang yang dia celakai itu adalah orang baik dan sangat sayang padanya."
"Aamiin ... " Bi Yati mengusapkan telapak tangan ke wajahnya mengaminkan ucapan Denis. Dia kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur karena tugas yang diberikan Denis sudah selesai. Denis hanya menganggukkan kepalanya dan berbalik menuju kamar yang baru saja dibersihkan oleh Bi Yati.
Teleponnya berbunyi saat dia baru saja menutup pintu kamar dibelakangnya.
"Hallo," Denis menyapa terlebih dahulu setelah tahu siapa yang saat ini sedang meneleponnya. Dia melangkahkan kakinya menuju jendela kaca dan berdiri disana. Disibakkannya tirai sedikit dan mengintip ke bawah. Di sana nampak masih ada kesibukan dari para penjaga rumah yang nampaknya sedang briefing bersama Alex, Faisal dan Pak Yunus.
"Kamu dimana, Sayang?"
Suara Rania, mamanya, terdengar dari ujung sana.
"Di rumah," sahut Denis masih sambil mengawasi ke bawah sana.
"Apa?? Bukannya kalian sedang bulan madu sekarang ini? Mama sengaja tidak menelepon kamu beberapa hari ini takut mengganggu acara kamu."
Jelas sekali Rania sangat terkejut setelah mengetahui kalau Denis tidak pergi berbulan madu bersama Alex. Dia menyangka Denis sedang bersenang-senang di suatu tempat saat ini.
"Enggak ada bulan madu, Ma. Aku dirumah saja. Alex sibuk, banyak kerjaan."
Ditutupnya tirai yang sedari tadi dia disibakkan. Dia kemudian menuju tempat tidur dan duduk ditepinya.
"Alex sudah bilang sama mama kalau dia mau membawa kamu ke suatu tempat. Tidak mungkin dia membatalkan rencananya itu hanya karena pekerjaan."
__ADS_1
"Aku yang enggak mau pergi. Lagian, dia sedang mengurus masalah Tante Tania di sini."
"Ada apa dengan Tania? Bukannya dia masih berada di dalam penjara?"
"Dia sekarang ada di rumah."
"Apa?? Kamu serius?"
Rasa terkejut Rania semakin bertambah setelah mendengar ucapan Denis.
"Aku serius. Dia dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan dan tidak bisa melanjutkan proses hukumnya untuk saat ini. Psikiater menyarankan dia dirawat dilingkungan keluarga sehingga psikisnya bisa dipulihkan kembali."
"Oh My God. Mama enggak percaya ini. Alex menerima dia begitu saja dirumahnya? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit jiwa?"
"Begitulah. Dokter bilang kejiwaan Tante Rania akan membaik setelah dia mendapatkan perhatian yang tulus dari keluarganya. Keluarga dia saat ini hanyalah Alex. Jadi, mau tidak mau, kita harus merawat dia di sini."
"Apa dia tidak berbahaya? Bagaimana bisa dia tinggal satu rumah dengan kalian? Kamu harus hati-hati, Sayang."
"Iya, Ma. Alex sudah memperhitungkan segalanya. Mama tidak usah khawatir."
"Bagaimana mama tidak khawatir. Seorang penjahat yang pernah mencoba membunuh Alex, tinggal satu rumah dengan kalian. Mama rasanya tidak akan bisa tenang memikirkan keselamatan kalian."
Decakan penuh rasa tidak percaya terdengar dari mulut Rania. Setelah berbagai wejangan dan kata-kata yang panjang lebar, Rania akhirnya mengakhiri panggilan teleponnya. Denis menyimpan kembali ponselnya setelah mamanya menutup sambungan telepon.
Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas pembaringan. Menatap lurus langit-langit kamar yang berwarna putih dengan sebelah tangan terlipat dibelakang kepalanya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Menampilkan wajah Alex dari balik pintu dan kemudian masuk setelah dilihatnya Denis berada di kamar itu. Dia nampak tersenyum lega melihat Denis berada di kamar itu.
"Aku mencarimu di kamar kita," ujarnya sambil duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya miring menghadap Denis yang tak terganggu sama sekali dengan kehadirannya. Hanya sedikit lirikan diberikan Denis saat melihat Alex menghampiri dirinya.
"Kenapa tidur disini?" tanya Alex kemudian.
"Pengen aja disini. Ini kamarku, 'kan?"
"Kamu marah karena aku tetap membawa mama Tania ke rumah ini?"
"Kenapa harus marah? Itu hak kamu. Aku hanya khawatir dengan keberadaannya disini. Dia itu seorang narapidana."
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan semua sistem keamanan untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Lagi pula, selama ada kamu disisiku, tidak ada yang perlu aku khawatirkan."
Satu tarikan napas dan Denis menghembuskannya pelan melalui rongga mulutnya. Dia bangkit dan duduk di atas tempat tidur.
"Aku bukan malaikat yang bisa menjaga kamu setiap waktu. Aku juga tidak bisa menjamin keselamatan orang lain dan mengawasimu setiap saat."
"Aku tahu kekhawatiranmu begitu besar. Namun aku juga tahu, kamu bukanlah seorang penakut. Berulangkali kamu menyelamatkan aku. Dan sekarang, aku akan menyerahkan seluruh hidupku padamu."
"Ckk ... lebay," Denis mencibir mendengar ucapan Alex.
"Aku serius. Selama sisa hidupku hanya akan aku habiskan bersamamu. Aku sangat mencintaimu."
Denis melengoskan wajahnya mendengar kata-kata rayuan yang keluar dari mulut pria itu. Namun tak urung rasa hangat menjalari wajahnya tanpa diketahui oleh Alex.
Alex menarik dagu Denis, menghadapkan wajah Denis ke wajahnya. Ditatapnya dalam-dalam netra bening wanita itu.
"Aku mencintaimu Denisha Nathania Adiwijaya. Dengan sepenuh jiwa dan ragaku, aku berjanji, selamanya hanya akan ada satu wanita di hidupku. Dan itu adalah kamu."
"Gak usah lebay kamu," Denis menepis tangan Alex dari dagunya. Dia menggerakkan kakinya bermaksud turun dari tempat tidur.
Alex menahan tangan gadis itu, menyentakkannya hingga Denis terjerembab kembali ke atas tempat tidur. Alex segera mengurung tubuh Denis dengan kedua tangannya dan tubuhnya sekarang berada diatas Denis.
"Aku tidak main-main dengan ucapanku. Apalagi sekarang kamu sudah menjadi istriku. Akan aku buktikan, kalau aku hanya akan mempercayakan sisa hidupku padamu." Dikecupnya bibir Denis sekilas. Kembali ditatapnya wanita yang berada dibawah kuasanya itu lekat-lekat.
"Minggir. Aku tidak suka mendengar kata-kata lebay seperti itu." Sekuat tenaga Denis menyembunyikan senyuman yang hampir terbit mendengar ucapan Alex. Dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Alex dikedua tangannya. Namun Alex tak ingin membiarkan wanita itu lolos begitu saja.
"Aku tahu, semua wanita sangat suka dengan kata-kata manis. Dan aku akan selalu mengatakan hal-hal yang manis dan indah kepadamu hingga kamu seutuhnya jatuh cinta padaku."
"Gak perlu. Aku gak butuh hal itu." Sekarang Denis menggunakan lututnya untuk mendorong tubuh Alex dari arah bawah.
"Aku sangat suka kamu galak dan melawan aku diatas tempat tidur." Bisik Alex sambil mencoba menggapai bibir Denis yang terus menggerakkan kepalanya menghindari bibir pria itu.
"Minggirrr..."
"Tidak ..."
"Aahh!! Alex..."
__ADS_1
*****