Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sembilan Puluh Lima


__ADS_3

Seharusnya, hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk Alex dan Denis. Terutamanya untuk Alex. Dia sangat menanti-nanti hari ini sejak lamarannya diterima oleh Denis beberapa waktu yang lalu. Hari ini adalah hari yang sangat dia tunggu setelah berbagai hal yang telah mereka lalui bersama.


Dia sangat antusias dalam mempersiapkan segala sesuatu tentang pernikahannya. Walaupun dia tidak melakukannya sendiri, namun dia terus mengikuti semua prosesnya. Dia yang menginstruksikan secara langsung orang kepercayaannya untuk menyiapkan semuanya. Hanya saat memilih cincin pernikahannya dia memilih sendiri cincin itu. Dia tidak peduli ketika saat itu Denis menolak untuk memilih. Dia bisa mengerti dan menerima keengganan gadis itu. Dia tahu sendiri gadis itu tidak suka memakai perhiasan yang feminin. Jadi Alex sengaja memesan cincin yang paling mendekati selera gadis itu.


Saat harus mencoba gaun pengantin, dia tidak bisa hadir karena adanya pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Sebenarnya dia bisa saja datang untuk menemani Denis fitting gaun pengantinnya. Namun dia tahu, saat itu Denis tidak ingin dia melihatnya memakai gaun. Denis setuju untuk memakai gaun saja itu sudah merupakan suatu anugerah yang tidak terhingga. Sehingga Alex tidak mau memaksakan untuk menemani gadis itu. Biarlah itu akan menjadi suatu kejutan yang indah saat dia untuk pertama kalinya melihat Denis memakai gaun.


Alex sudah membayangkan bagaimana bahagianya saat dia bisa mempersunting pujaan hati yang telah lama dia idamkan. Dengan penuh perjuangan dia meluluhkan hati Denis. Berbagai kejadian yang melibatkan mereka berdua telah mereka hadapi bersama-sama. Bahkan saat keduanya hampir meregang nyawa, keduanya tetap bersama.


Saat ini Alex tersenyum tipis menatap bayangannya dicermin. Dia sudah siap dengan stelan jasnya yang membuat dia kelihatan sangat gagah dan luar biasa. Rambutnya sudah tersisir rapi dan wangi. Dia mencoba membayangkan bagaimana Denis saat ini. Namun dia tak dapat membayangkannya sedikitpun. Satu yang pasti, Denis akan terlihat sangat menawan dengan gaun pengantin berwarna putih yang dia pilihkan.


Namun pertanyaannya saat ini adalah, apakah Denis akan datang ke pernikahannya hari ini? Dua hari sudah Alex tidak berkomunikasi dengan gadis itu. Sejak Denis mengetahui tentang Reno, sejak saat itu dia menghindar dari bicara dengan Alex. Saat Alex mengalami kecelakaan kecil dua hari yang lalu, Alex sangat senang gadis itu datang dan menunjukkan perhatiannya. Namun setelah itu, Denis tidak pernah menemuinya lagi. Tidak meneleponnya, bahkan pesan pun tidak dibalasnya.


Yang Alex lakukan hanyalah menelepon Rania untuk bertanya kabar tentang Denis dan juga tentang kelangsungan pernikahannya. Dia tidak mungkin memundurkan acara itu apalagi membatalkannya. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa. Gedung sudah disewa. Catering sudah dipesan. Dan surat undangan sudah disebar sejak beberapa hari yang lalu. Semuanya sudah seratus persen siap untuk melaksanakan pernikahan dirinya dengan Denis.


Alex pasrah. Seandaimya gadis itu tidak mau datang ke pernikahannya, dia sudah berserah. Dia juga mengatakan itu kepada Rania dan Andres. Walaupun Rania mencoba untuk menenangkannya, namun hati Alex sudah benar-benar pasrah. Bukan berarti dia rela jika harus berpisah dengan Denis apalagi harus kehilangan gadis itu. Namun dia akan mengikuti apapun keinginan gadis itu. Dia akan memberi waktu kepada gadis itu hingga gadis itu benar-benar bisa menerimanya.


Faisal menjadi pengiring pengantin pria dan akan menjadi saksi nikahnya. Teman-temannya sudah siap untuk menemaninya menyongsong hari bahagia. Mereka juga ikut bahagia karena Alex akan segera melepas masa lajangnya.


Sebenarnya Alex merasa gelisah. Namun dihadapan teman-temannya, dia sembunyikan semua kegundahan hatinya.


Saat iring-iringan mobil pengantin memasuki pelataran gedung tempat acara akad nikah akan diadakan, jantung Alex semakin bertalu-talu tak menentu. Dia semakin gugup. Keringat dingin membasahi telapak tangannya .


Temannya, Marvel, melihat dengan jelas kegugupan sahabatnya.


"Tenang, bro. Lo ga usah panik begitu. Ini mah ga ada apa-apanya dibanding dengan bikin presentasi depan investor." Marvel menepuk bahu Alex beberapa kali. Mencoba membuat lelucon agar Alex tidak terlalu tegang. Dimas dan Bian, sahabat Alex yang lain, terkekeh menertawakan Alex.


Alex tidak menyahut. Dia mengambil tissue dan mengelap keningnya yang bercucurkan keringat, padahal mobil sudah full AC. Teman-temannya tidak tahu, apa sebenarnya yang membuat Alex sangat gugup saat ini.

__ADS_1


Memasuki gedung tempat akad nikah akan dilaksanakan, Alex semakin gelisah. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Dia mengikuti langkah Faisal yang diarahkan oleh seorang krew WO agar memasuki sebuah ruangan untuk dia menunggu sementara waktu sebelum acara dimulai.


"Keluarga Denis sudah berada didalam gedung," Faisal memberi tahu.


"A_apa Denis juga ada?" tanya Alex sedikit ragu.


"Ya, ampun bro. Tentu saja dia ada. Gak mungkin dia ga datang, 'kan?" Marvel tergelak mendengar pertanyaan Alex yang dianggapnya sangat konyol. Namun dia tidak tahu kalau Alex bertanya dengan serius. Ada ketakutan dalam hatinya jika kekasih hatinya itu ingkar dari menghadiri pernikahannya sendiri. Itu bukan hal yang tidak mungkin terjadi.


"Pihak WO tidak mengatakan hal itu. Tapi sebentar lagi petugas akan datang dan kita harus segera bersiap." Faisal menatap majikannya dengan sedikit prihatin. Dia tidak mau menunjukkan kalau dia merasa lucu melihat Alex yang begitu ketakutan akan ditinggal pergi oleh pengantinnya dihari pernikahannya sendiri. Faisal tidak mau Alex semakin depresi karena memikirkan hal itu. Dia tahu sebesar apa rasa cinta Alex untuk Denis.


Seorang petugas datang memberitahu agar Alex segera memasuki aula tempat pelaksanaan akad nikah. Marvel dan Dimas segera membantu sahabatnya untuk berdiri dan menuntunnya keluar dari ruangan itu.


"Lepas tangan gue. Gue masih bisa jalan sendiri." Alex menepis tangan kedua temannya itu. Dia berjalan dengan langkah cepat tanpa menoleh lagi ke belakang. Tak dipedulikannya candaan dari ketiga temannya yang berjalan mengiringi langkahnya.


Seorang petugas mengarahkan Alex untuk memasuki ruangan. Ternyata disana sudah ada keluarga Rania dan keluarga Andres. Nenek Aryanti juga ada disana. Dia tersenyum menyambut kedatangan Alex didalam ruangan itu.


Ada juga bang Theo dan keluarganya, yang diundang secara khusus oleh Alex. Dia sengaja mengundang mereka karena tahu kalau keluarga bang Theo merupakan keluarga kedua bagi Denis.


Ada satu orang lagi sebenarnya yang Alex undang secara spesial. Namun saat ini dia belum melihat orang itu ada disini.


Alex tersenyum menyapa semua orang yang ada disana. Walaupun mungkin senyumannya terlihat kaku dan terkesan dipaksakan. Namun setidaknya dia harus menunjukkan kalau dia senang dengan kehadiran orang-orang tersebut


Semua mata tertuju pada Alex. Bisikan-bisikan diantara mereka menimbulkan suara yang tidak jelas di pendengaran. Matanya beredar mencari sosok yang selama ini dia rindukan. Namun yang dicarinya tidak ada disana. Alex menelan salivanya dengan susah payah. Hatinya menciut. Langkahnya terasa berat ketika menuju meja tempat Andres menunggunya.


Dia menunduk. Menyembunyikan rona kecewa diwajahnya. Menata degup jantungnya yang semakin tidak beraturan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkinkah bahagia itu akan semakin menjauh darinya?


"Bagimana? Apa sudah bisa dimulai?" Petugas dari KUA bertanya. Entah pada siapa. Alex hanya diam tidak menyahut sepatah katapun.

__ADS_1


"Ya. Semuanya sudah lengkap. Pengantin prianya sudah ada. Saksi dari kedua belah pihak juga sudah siap. Dan karena ayah kandung dari pengantin wanita tidak bisa dihadirkan, walinya akan diwakilkan." Seseorang memberi penjelasan. Alex mendongak. Pria barusan mengatakan kalau semuanya sudah lengkap. Apa dia sedang bercanda? Tentu saja ada yang kurang disini. Pengantin wanita belum hadir. Dan Alex berpikir bahwa tidak mungkin pernikahan ini terlaksana jika tidak ada pengantin wanitanya.


Matanya bertemu dengan tatapan Rania yang berada dibelakang Andres. Wajahnya nampak biasa-biasa saja. Senyuman bahagia nampak terlukis dibibirnya. Kenapa dia berekspresi seperti itu? Alex menatap Rania penuh tanya. Namun wanita itu seakan tidak melihat tatapan Alex yang mengarah padanya. Dia malah asik mengobrol dengan wanita disampingnya yang diketahui Alex sebagai istri dari Damian, kakaknya Rania.


Alex menghembuskan napas dengan resah.


"Kenapa? Sudah ga sabar?" Andres berbisik ditelinganya. Alex hanya tersenyum samar menanggapi pertanyaan calon mertuanya yang akan menjadi saksi pernikahannya dari pihak calon pengantin wanita.


"Baiklah. Sepertinya pengantin pria sudah tidak sabar untuk segera mengucapkan ijab qobul. Bagaimana kalau kita mulai saja acara ini?" Pembawa acara mulai berbasa-basi. Dia mengawali membuka acara itu dengan bahasa yang sama sekali terasa membosankan bagi Alex. Terlalu banyak yang dia ucapkan dan terasa lama untuk sampai pada acara inti. Napas Alex terasa sesak. Berulangkali dia mengusap peluh dikeningnya.


"Tenanglah," bisik Faisal yang setia mendampinginya. Dia sangat tahu kegelisahan majikannya.


"Bagaimana, Saudara Alex? Anda sudah siap untuk mengucapkan ijab qobul nikah?" tiba-tiba petugas agama bertanya pada Alex. Alex tergagap. Dia sama sekali tidak memperhatikan apapun yang sedang berlangsung. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Dimana Denis saat ini.


"Bos, Pak Penghulu bertanya.." Faisal menyentuh bahu Alex pelan.


"I_iya..saya siap." Kembali Alex mengusap keningnya.


"Sudah dihapalkan atau mau mencobanya dulu sekarang?" Pertanyaan Pak Penghulu itu malah membuat Alex semakin gugup.


"Tapi.."


"Baiklah, sepertinya mempelai pria sedang merasa khawatir karena mempelai wanitanya belum hadir disini." Pria yang akan menikahkan Alex itu tersenyum menggoda Alex.


Alex menghela napas lega. Akhirnya ada juga yang memahami kegelisahan hatinya. Sedikit senyum miris tersungging disudut bibirnya. Dengan sedikit tersipu dia menganggukkan kepalanya sedikit. Tak urung hal itu membuat suasana dalam ruangan sedikit riuh dengan bisikan-bisikan yang terdengar disana-sini.


"Bagaimana saksi? Apa pengantin wanita akan dihadirkan atau menunggu hingga ijab qobul selesai?" Pak Penghulu bertanya kepada Andres.

__ADS_1


"Pengantin wanita akan menunggu sampai ijab qobul selesai.." jawaban Andres membuat Alex terkejut. Matanya menatap Andres penuh tanya. Namun Andres hanya menjawab dengan senyuman. Alex bingung. Apa bisa seperti itu? Namun dia tidak bisa melontarkan pertanyaan itu. Dia pasrah dengan apapun keputusan Denis. Satu hal yang membuat dia lega adalah, ternyata gadis itu ada disini. Hanya saja dia belum mau menemuinya. Oke. Gak apa. Yang penting adalah, ternyata pernikahannya tidak batal. Alex tersenyum lega. Sekarang hatinya menjadi lebih tenang. Dia siap untuk melafalkan ijab qobul nikahnya.


******


__ADS_2