
Alex baru saja menutup panggilan telepon di ponselnya saat Faisal masuk ke dalam ruangannya. Denis baru saja mengabarkan tentang acara makan malam di rumah Aryanti nanti malam. Dengan sangat berat hati Alex meminta Denis untuk pergi terlebih dahulu karena dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.
Alex memberi isyarat kepada Faisal agar duduk di sofa yang ada di seberang meja kerjanya. Dia sendiri kemudian mengikuti Faisal dan duduk berhadapan dengan pria kepercayaannya itu.
"Bagaimana? Apa ada kabar dari orang suruhanmu?" tanya Alex sesaat setelah keduanya duduk dengan nyaman.
"Belum ada kabar yang menggembirakan. Pria itu sudah tidak ada di gubuk itu dan sepertinya, gubuk itu sudah ditinggalkan beberapa hari sebelum anak buah kita tiba disana. Mereka kehilangan jejak karena tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan pria itu. Bahkan hampir tidak ada orang yang mengenalnya untuk kita mintai keterangan." Faisal menjawab dengan berhati-hati. Helaan nafas kemudian terdengar dari mulut Alex yang menyimak penuturan pria itu. Nampak dia begitu serius menyimak keterangan dari Faisal.
"Apa tidak ada seorangpun yang bisa memberikan sedikit saja petunjuk kemana perginya orang itu?" tanya Alex setelah agak lama terdiam.
"Sama sekali tidak ada. Selain karena tempat tinggalnya jauh dari pemukiman, orang-orang yang berinteraksi dengannya pun tidak ada yang tahu tentang siapa dia sebenarnya. Bahkan namanya pun tidak ada orang yang tahu. Tapi barang-barangnya masih ada di sana. Sepertinya dia pergi tidak membawa barang apa pun."
Alex mengangguk tanda mengerti.
"Apa jangan-jangan ... dia mengalami kecelakaan di sungai ... dan ... ," Alex resah dengan pemikirannya sendiri.
"Sejauh ini tidak ada berita tentang kejadian kecelakaan atau orang yang hanyut dan sebagainya di daerah itu. Anak buah kita sudah menyelidiki kemungkinan itu." Faisal mengerti kemana arah ucapan Alex.
"Terus cari tahu keberadaannya. Aku khawatir dengan keselamatannya. Bagaimana pun, dia itu orang yang sangat berjasa dalam hidupku dan Denis, karena dialah yang telah menyelamatkan nyawaku dan Denis saat kami sudah tidak memiliki harapan untuk hidup." Ucap Alex.
"Baik. Pak Alex tidak perlu khawatir. Saya akan terus mengerahkan orang-orang terbaik untuk terus mencari Pak Darman." Faisal dapat melihat keresahan di sorot mata bosnya itu.
Alex mengangguk. Walaupun kekhawatirannya belum bisa teratasi, namun setidaknya orang suruhannya sedang berusaha untuk mencari tahu keberadaan pria itu.
Sebenarnya Alex sudah menyuruh anak buahnya menjemput Pak Darman untuk menghadiri pernikahannya dengan Denis tempo hari. Dia sangat ingin berbagi kebahagiaan dengan pria yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri itu. Rencananya dia juga ingin agar Pak Darman tinggal bersamanya dan dia akan memenuhi semua kebutuhan hidup pria itu.
Dia juga ingin memberi kejutan kepada Denis dengan menghadirkan pria itu tanpa sepengetahuan Denis. Namun sayang sekali, orang suruhannya tidak berhasil membawa Pak Darman karena ternyata pria itu sudah tidak ada di tempatnya, di lembah itu. Dan menurut keterangan anak buahnya, rumah itu sepertinya sudah ditinggalkan cukup lama.
Yang menjadi kekhawatiran Alex adalah, yang dia tahu Pak Darman sudah tidak memiliki keluarga lagi. Dia juga sedang bersembunyi dari orang yang terus memburunya karena dendam tak terbalaskan seperti yang pernah diceritakan pria itu kepadanya saat dia tinggal bersama pria itu.
"Semoga dia baik-baik saja," ujar Alex kemudian, yang diamini oleh Faisal.
"Bagaimana keadaan Reno?" Alex mengalihkan topik pembicaraan.
"Dia sudah kembali ke sel tahanannya. Sejak dia keluar dari rumah sakit, sepertinya sekarang dia lebih pendiam dan menjadi penurut. Mungkin dia sudah merasa jera untuk terus berbuat sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri. Apalagi sekarang selalu ada yang menjenguknya ke sana."
"O, iya? Siapa?" Alex mengerutkan keningnya. Cukup terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh Faisal.
"Wanita yang dulu membawa Pak Alex ke rumah sakit. Ternyata, saat itu dia juga menemui Reno. Dan kelihatannya, dia sangat peduli kepada Reno."
"Maksud kamu, Rinda?" Tanya Alex setengah tidak yakin dengan pemikirannya.
"Ya. Namanya Rinda."
Alex tersenyum tipis. Tak menyangka kalau ternyata Rinda masih peduli kepada Reno walaupun sekarang keadaan Reno sedang menjadi seorang narapidana.
"Tapi, dulu Reno sangat menyukai Viola. Apa Reno bisa menerima kehadiran Rinda?"
"Saat ini, sepertinya dia tidak punya pilihan lain. Dia harus bersyukur karena dalam keadaan seperti ini, masih ada wanita yang peduli dengan dirinya. Biasanya wanita akan menyingkir jika si pria sedang ada dalam masalah. Ini dia malah datang tanpa pamrih sama sekali. Pasti dia sangat mencintai Reno."
Alex mengangguk membenarkan ucapan Faisal. Dalam hatinya dia merasa sangat bersyukur karena ternyata ada juga wanita yang memperhatikan Reno disaat Reno sedang ada dalam keadaan terpuruk seperti sekarang ini.
Deringan telepon memotong pembicaraan antara Alex dan Faisal. Dilihatnya nama yang tertera di layar telepon genggamnya dan dia segera menggeser ikon menjawab di layar.
"Ada apa?" tanyanya setelah menyapa dan bertanya kabar orang yang sedang meneleponnya saat ini.
"Kamu dimana?"
"Masih di kantor. Ada apa?" Untuk kedua kalinya Alex menanyakan maksud si peneleponnya.
"Kamu bisa enggak menemaniku sebentar mencari hadiah buat mamaku? Hari ini beliau ulang tahun. Aku belum menemukan hadiah yang cocok buat mama."
__ADS_1
"Hari ini ulang tahun mama kamu?" Alex cukup terkejut mendengarnya. Dia memijit keningnya sesaat.
"Gimana ya? Aku masih banyak kerjaan ini. Lagipula, aku harus pulang cepat karena ada acara keluarga di rumah neneknya Denis." Nampak Alex menjadi bimbang. Di tatapnya Faisal yang sekilas melirik ke arahnya. Namun kemudian pria itu pura-pura membuka file yang ada di atas meja seolah tidak melihat tatapan Alex kepadanya.
"Ayolah, sebentar saja. Kamu pernah janji sama aku kalau kamu akan selalu ada buat aku. Sekarang ini aku lagi butuh kamu banget. Ini hari yang spesial banget buat mama aku. Dan aku pengen memberikan sesuatu yang spesial buat mamaku."
Rengekan di ujung telepon membuat Alex mengacak rambutnya.
"Tapi aku benar-benar sibuk. Kamu minta teman kamu yang lain buat menemani kamu, ya. Nanti biar aku yang bayar apapun hadiah yang kamu ingin berikan sama mama kamu." Alex berusaha membujuk gadis di seberang sana.
"Tapi, Alex. Hanya kamu yang mengenal baik mamaku. Kamu tahu banget apa yang mamaku suka dan enggak."
Dalam hati Alex membenarkan ucapan wanita itu. Lagipula, dia juga sudah menganggap mama wanita itu sebagai mamanya sendiri. Hatinya menjadi bimbang.
"Ya sudah kalau kamu enggak bisa. Pastinya pekerjaan kamu lebih penting daripada masalahku ini. Maaf aku sudah mengganggu kamu."
Tanpa menunggu jawaban dari Alex, telepon terputus secara sepihak. Alex menggelengkan kepalanya sambil berdecak pelan. Merasa yakin kalau gadis yang baru saja meneleponnya marah karena keinginannya tidak terpenuhi.
"Ayo, Faisal. Kita selesaikan pekerjaan kita."
******
Sebenarnya Denis merasa enggan untuk datang ke rumah neneknya malam ini. Dia sangat malas jika harus bertemu dengan Damian. Sejak insiden yang terjadi di acara pernikahannya tempo hari, dia belum bertemu dengan pria itu. Dia masih merasa kesal kepada pamannya itu. Damian juga tidak ada inisiatif untuk menemui Denis dan meminta maaf atas kejadian itu.
Dan malam ini, Denis sudah merasa semuanya tidak akan berjalan dengan baik sejak dia membayangkan pertemuannya dengan Damian. Selalu saja ada hal yang terjadi jika dia bertemu dengan pria yang merupakan adik kandung dari mamanya itu.
Dia berharap bisa datang dengan Alex untuk mengatasi rasa canggungnya bertemu dengan Damian. Namun ternyata Alex tidak bisa datang bersama dengannya. Dia malah menyuruh Denis untuk pergi terlebih dahulu. Katanya masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga dan benar-benar tidak bisa ditunda. Tapi dia berjanji untuk datang walaupun mungkin akan terlambat.
Denis akhirnya pergi dengan menggunakan motor kesayangannya. Saat tiba dirumah neneknya, beberapa mobil sudah terparkir rapi di sana. Salah satunya dapat dikenali sebagai mobil Andres, papa tirinya, yang sudah dapat dipastikan dia datang bersama dengan mamanya.
Denis memarkirkan motornya bersebelahan dengan mobil itu.
Aryanti menatap kedatangan Denis dengan senyuman di bibirnya. Dan sepertinya dia mencari sosok lain yang diharapkan datang bersama Denis.
Denis menyapa semua orang dengan senyuman tipis yang sudah menjadi ciri khasnya dan memberikan anggukan kecil sebelum menempatkan dirinya di sebelah tempat duduk Rania.
"Mana Alex?" Tanya Aryanti, sebelum Rania sempat membuka mulut untuk menanyakan hal yang sama.
"Maaf, Nek. Alex sepertinya akan datang terlambat. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda."
"Dia lebih mementingkan pekerjaan daripada undangan dari keluarga istrinya. Sangat luar biasa." Ucapan Damian terdengar sangat pedas di telinga Denis.
Denis hanya melirik pria itu, berusaha menahan dirinya untuk tidak menanggapi kata-kata yang diucapkan oleh pamannya itu.
"Kita disini menunggu kalian dan dia malah akan datang terlambat."
Damian sepertinya belum puas mengeluarkan unek-uneknya. Ditambah lagi ingatannya tentang kekurang-ajaran teman Denis di acara resepsi pernikahan Denis dan Alex tempo hari, membuat dia ingin melampiaskan kekesalannya kepada Denis saat ini.
"Sudah, tidak apa. Kita bisa menunggunya sebentar lagi." Aryanti bersuara mencegah keributan yang mungkin akan terjadi akibat sindiran Damian kepada Denis.
"Nenek sengaja mengumpulkan kalian malam ini karena nenek merasa, acara resepsi pernikahan Denis tempo hari membuat semua orang tidak nyaman. Nenek mau meminta maaf sama kamu, Denis."
"Kenapa ibu meminta maaf sama Denis? Ibu enggak salah apa-apa. Yang salah adalah teman-temannya dia yang seenaknya saja datang ke acara yang tidak seharusnya mereka datangi. Dan mereka membuat kekacauan disana." Seolah api yang disiram bensin, Damian kembali mengeluarkan kata-kata yang membuat telinga Denis memerah dan hampir dia meledakkan amarahnya.
"Aku yang mengundang mereka. Om jangan menyalahkan mereka!" Akhirnya Denis bersuara. Dia menatap tajam Damian.
Rania menyentuh tangan Denis. Mencoba menenangkan putrinya agar tidak terpancing oleh ucapan Damian.
Damian menyunggingkan senyuman sinis.
"Ya, seharusnya kamu menghargai nama besar keluarga kita dengan tidak mengundang orang-orang seperti itu di acara yang super mewah dan di hadiri orang-orang penting."
__ADS_1
"Orang-orang seperti apa, Om? Mereka sama seperti kita semua, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang patut untuk diperlakukan secara manusiawi."
Damian mengibaskan tangannya dengan dengusan kecil terdengar jelas oleh Denis.
"Jangan membawa kebiasaan burukmu selama kamu tinggal di jalanan ke dalam keluarga ini. Manusia diciptakan berbeda-beda. Jangan lupakan hal itu."
"Sudah! Diam! Damian, Denis!" Aryanti berteriak nyaring. Matanya menatap bergantian wajah Damian dan Denis.
"Kenapa kalian malah berdebat disini? Aku mengundang kalian ke sini bukan untuk bertengkar." Dada Aryanti nampak turun naik dengan cepat. "Cukup, Damian. Jangan terus mempermasalahkan hal itu. Ibu sudah capek mendengarnya."
"Ibu sekarang banyak berubah setelah kedatangan cucu yang dulu sangat ibu benci ini. Dulu ibu sangat menjunjung harkat dan martabat keluarga kita. Tapi sekarang, ibu mengabaikan semua itu hanya demi cucu ibu yang baru kembali dari jalanan ini!" Damian menatap ibunya dengan nyalang. Sepertinya dia sudah tidak bisa membendung lagi kemarahannya saat ini. Kepatuhan yang selama ini selalu dia tunjukkan, seolah hilang tanpa bekas sama sekali.
"Hati-hati kalau bicara, Damian. Kamu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya sama ibu." Aryanti nampak sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Tatapannya menghujam wajah putra kesayangannya itu.
"Itu karena sebelumnya ibu tidak pernah bersikap seperti ini kepadaku. Dulu ibu selalu mengedepankan kepentingan dan nama baik keluarga kita. Sekarang, aku seolah tidak mengenali ibu lagi."
"Damian, sudahlah. Kita harus menjaga kesehatan ibu. Jangan bicara yang bukan-bukan. Kita disini untuk saling mengakrabkan diri antara kita. Bukan untuk bertengkar seperti ini." Rania mencoba menengahi saat melihat suasana yang semakin memanas.
Damian mendengus kesal.
"Mungkin disini masalah utamanya adalah aku." Denis menyela ucapan Rania. "Mungkin kehadiranku di keluarga ini belum bisa diterima seutuhnya. Tidak apa. Aku bisa mengerti."
"Sayang, kamu putri kandung mama. Dan keluarga ini, adalah keluarga kamu yang sebenarnya. Disinilah seharusnya kamu berada." Rania segera merangkul bahu putrinya. Menatapnya dengan pilu. Hatinya kembali terasa ngilu.
"Tapi aku tidak mau kalau kehadiranku dianggap sebagai pengganggu ketenangan di keluarga ini. Jadi sebaiknya aku pergi saja sekarang." Denis bangkit dari duduknya.
"Tidak boleh ada yang pergi sebelum kita makan malam disini!" Aryanti menghentikan gerakan Denis. "Damian, jaga sikapmu dan hormati Denis sebagai cucuku!"
Damian tidak menyahut. Hanya sunggingan sinis masih terlihat disudut bibirnya.
Rania menarik pelan tangan Denis agar kembali duduk. Dia memberi isyarat kepada putrinya itu untuk menahan diri.
Setelah suasana cukup tenang, Aryanti mengajak semua pindah ke ruang makan. Berkumpul dimeja makan dalam hening, hanya suara sendok dan piring yang beradu. Keakraban yang didambakan, ternyata belum bisa menjadi kenyataan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers yang baik hati dan tidak sombong!!Terima kasih sudah like dan follow terus cerita "Rahasia Denis"...
Terima kasih atas komen positif yang telah diberikan dan mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyajian cerita ini. Segala kesalahan murni karena pengetahuan author yang terbatas dan juga pengalaman menulis yang minim. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Terima kasih juga kepada pihak Noveltoon yang sudah membuat cover baru untuk "Rahasia Denis". Semoga menjadi penyemangat buat Author untuk terus berkarya..
Love you allππ
__ADS_1