Rahasia Denis

Rahasia Denis
Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

Alex mengarahkan sopirnya untuk menuju satu tempat yang berlawanan dengan arah kantornya berada. Faisal mengerutkan keningnya namun dia menahan dirinya agar tidak bertanya.


Alex menyuruh sopir berhenti disebuah bengkel ditepi jalan. Saat itu Faisal sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia sangat penasaran dengan bosnya yang membawa mereka ke sebuah bengkel kecil dan kumuh. Sangat kontras dengan mobil mewah bosnya yang mentereng dan sangat mengkilap.


"Apa ada yang anda perlukan, Pak?"


"Tunggulah disini. Aku hanya sebentar."


Alex turun dari mobil mewahnya. Sepatunya yang mengkilap seolah mengalahkan tempat itu yang penuh dengan oli yang berceceran.


Kehadirannya di tempat itu sontak menjadi pusat perhatian. Semua orang melemparkan pandangannya ke arah pria gagah dan tampan yang baru saja turun dari sebuah mobil mewah.


Alex tak menghiraukan tatapan semua orang. Langkah kakinya tegap menuju pintu masuk di sebelah dalam bengkel. Tidak ada yang berani menegurnya. Mungkin karena terpana oleh pesonanya yang sangat luar biasa.


Jack yang baru keluar dari ruangannya terpana melihat siapa yang datang sepagi ini di bengkelnya.


Belum dia bertanya, Alex sudah bertanya lebih dahulu.


"Dimana Denis?"


"Dia..." Jack menoleh kearah dalam. Tanpa menunggu jawaban dari Jack, Alex melanjutkan langkahnya menuju bagian dalam ruangan itu. Denis baru saja keluar dari kamar mandi yang ada disudut ruangan. Rambutnya yang basah membuat wajahnya nampak sangat segar dan...seksi!


Dia terkejut melihat Alex berada disana tanpa dia ketahui sebelumnya.


"Alex.."


Alex mengerjapkan matanya yang tadi sempat terpukau dengan penampilan Denis pagi itu. Dia menggerakkan kepalanya mengenyahkan pikiran kotor yang telah meracuninya. Apa hanya dia yang telah melihat Denis dengan pandangan berbeda?


"Aku kesini mau mengucapkan terima kasih karena tadi malam kamu sudah mengantarku pulang. Aku tahu hal itu dari anak buahku." Tidak dengan nada yang ramah. Dia telah berubah. Bukan Alex yang lembut dan selalu tersenyum. Senyuman itu telah hilang dari wajahnya. Tatapannya begitu dingin dan membekukan.


"Lo gak perlu susah-susah datang kemari kalau cuma mau bilang hal itu." Denis menjawab dengan nada tak kalah dingin. Seolah sikap Alex adalah virus yang menular.


"Aku juga mau bilang kalau pintu rumahku selalu terbuka buat kamu. Kamu bisa datang kapanpun kamu mau dan kamarmu belum berubah sama sekali. Kamu bisa tinggal disana lagi selama yang kamu inginkan."


"Thanks. Tapi gue lebih suka tinggal disini. Lo gak perlu membuang waktu lo yang berharga buat ngurusin gue."


Alex terdiam. Matanya lekat menatap Denis.


"Kalau tidak ada hal lain yang mau lo katakan, sebaiknya lo segera pergi dari sini. Lo gak cocok sama sekali dengan tempat ini."


Alex mengedarkan pandangannya keseluruh tempat itu. Alih-alih pergi dari tempat itu karena diusir oleh Denis, Alex malah melangkah menuju sofa dan mendudukkan dirinya disana.

__ADS_1


Alex terdiam sesaat. Menarik nafas dan menghembuskannya pelan.


"Aku mau minta maaf kalau aku ada salah sama kamu hingga kamu pergi dari rumah. Aku sadar kalau aku mungkin sudah bersikap keterlaluan sama kamu. Selama ini kita sudah menghabiskan waktu bersama dan melalui kesulitan bersama. Aku tidak mau kehilangan sahabat seperti kamu." Dia merendahkan suaranya. Menatap Denis dengan tatapan penuh kesungguhan. Denis terdiam mendengar penuturan Alex yang rasanya sangat aneh setelah dia bersikap dingin dan angkuh tadi.


"Kamu bisa bekerja denganku dengan gaji yang tinggi. Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dengan bayaran yang kamu dapat ditempat ini."


Satu sudut bibir Denis terangkat. Dia tersenyum sinis disertai dengusan kesal.


"Gue gak nyari bayaran yang tinggi. Gue akan membantu teman gue yang merasa membutuhkan gue dan juga bisa menghargai gue. Ngerti lo."


Alex menghela nafas pelan. Sadar kalau dia sudah kembali melakukan kesalahan.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun kalau kamu terus bersamaku."


Denis menggelengkan kepalanya dengan senyuman miringnya.


"Lo sudah membuang waktu lo yang sangat berharga dengan datang ke tempat ini. Terima kasih karena lo masih peduli sama gue. Gue akan pikirkan tawaran lo itu."


Alex bangkit dari tempat duduknya. Merapikan jasnya dan melangkah mendekati Denis.


"Datanglah ke rumah kapanpun kamu mau."


Denis hanya tersenyum tipis. Memundurkan tubuhnya memberi jalan kepada Alex untuk keluar dari tempat itu.


Denis masih terdiam ditempatnya hingga beberapa saat. Ketika dia keluar dari ruangan itu, mobil mewah yang membawa sosok Alex sudah jauh berbaur dengan kendaraan lain dijalan raya.


"Asistennya bilang dia mau bertunangan nanti malam." Jack menghampiri Denis yang sedang menatap mobil Alex yang semakin menjauh.


"Nanti malam?"


"Ya."


"Lo tahu dimana tempatnya?"


*****


Hari ini terasa sangat cepat dirasakan Alex. Baru saja sampai dikantornya, pengacaranya sudah datang dan mereka kemudian terlibat percakapan serius tentang pembagian harta warisan Arga Dinata. Pukul sepuluh tepat Reno datang diantar oleh pengawal yang ditugaskan oleh Alex.


Sebenarnya Reno sudah protes karena merasa terus menerus diawasi dan pergerakannya telah dibatasi, namun sepertinya Alex tidak menggubris sedikitpun protes dari adiknya itu.


Dia masih marah atas apa yang dilakukan Reno karena telah membantu Tania dan Bisma kabur dari sekapannya. Alex bahkan mengancam Reno dengan tidak membiarkan dia bebas jika tidak mau mendapat pengawalan dari anak buah Alex. Dengan terpaksa Reno menerima apapun keputusan Alex. Tentu saja didalam hatinya dia mengutuk habis-habisan pria yang sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengannya sedikitpun itu.

__ADS_1


Pak Yunus membacakan beberapa hal tentang warisan yang akan didapatkan oleh Reno dan Alex. Dengan seksama Reno mendengarkan semuanya.


Namun rupanya dia tidak puas dengan apa yang telah ditulis oleh pengacara itu. Dia merasa pembagian itu tidak adil. Apalagi setelah pengacara mengatakan bahwa Tania tidak akan mendapatkan apapun setelah perselingkuhannya diketahui telah dia lakukan sejak bertahun-tahun yang lalu.


Reno protes untuk dirinya sendiri dan juga untuk mamanya. Dia tidak menerima keputusan sepihak Alex yang telah membagi harta warisan Arga Dinata yang menurutnya sangat tidak adil itu.


Reno keluar meninggalkan ruangan kerja Alex dengan marah. Alex tidak mencegah kepergian Reno. Dia membiarkannya dengan tatapan dingin dan datar.


*****


Selesai dengan urusan warisan yang masih belum final, Viola datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dengan penampilan yang selalu nampak sempurna dia masuk ke ruangan Alex saat pengacara Alex masih ada disana. Dia bahkan berpapasan dengan Reno ketika dia keluar dari lift.


Reno kelihatan sangat marah dan tak menyapa Viola seperti biasanya. Namun Viola tak menghiraukannya. Tujuan utamanya adalah untuk menemui Alex.


Dia tersenyum manja menyapa Alex. Sedangkan Alex nampak terkejut dengan kehadiran Viola.


"Ada apa kemari?" Tanyanya sambil menyibak tumpukan kertas diatas mejanya.


"Aku ingin mengajakmu makan siang."


"Aku sedang sibuk. Lagipula nanti malam kita ketemu."


"Sesibuk apapun kamu, jangan lupa untuk istirahat dan makan siang. Ayolah. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu sama kamu."


"Maaf Viola. Aku benar-benar sedang sibuk. Kamu lihat ada pak Yunus disini. Aku harus menyelesaikan beberapa hal hari ini juga. Atau aku tidak bisa datang di acara pertunangan kita nanti."


Suaranya pelan namun di akhir kalimatnya mengandung ancaman yang membuat Viola merengut mendengarnya.


"Baiklah. Tadinya aku ingin meminta pendapatmu tentang gaun yang akan aku kenakan nanti malam. Aku takut kamu tidak akan suka melihatnya."


"Kamu lebih tahu tentang fashion. Jadi sepertinya tidak akan ada masalah tentang itu. Apapun yang kamu kenakan nanti, pasti kamu akan kelihatan luar biasa." Sedikit pujian yang cukup membuat suasana hati Viola kembali membaik. Dia senang mendengar pujian tidak langsung dari mulut Alex. Walaupun pria itu nampak tidak terlalu antusias dengan rencana pertunangan mereka, namun Viola mengabaikannya. Yang penting baginya adalah, bisa memiliki Alex setelah sekian lama dia mendamba.


Biarlah urusan hati Alex akan menjadi urusan belakangan. Yang penting dia akan mendapatkan raganya terlebih dahulu. Viola harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi Alex. Dia sudah cukup bersabar selama beberapa tahun. Tidak masalah kalau harus bersabar untuk beberapa jam lagi.


"Kalau begitu aku akan memesan makan siang untuk kalian. Kita akan makan siang bersama disini." Viola menampilkan senyum termanisnya. Menunjukkan bahwa dia baik-baik saja dengan penolakan Alex.


"Tidak perlu. Faisal sudah memesan makanan. Suruh dia untuk menambah satu porsi lagi kalau kamu mau makan siang disini." Alex mencegah tanpa mengalihkan perhatian dari berkas yang sedang dia periksa. Dia tidak melihat perubahan raut muka Viola yang kembali harus menelan kecewa karena ucapan Alex.


Pak Yunus yang masih berada diruangan itu hanya mendengarkan interaksi kedua orang yang konon akan bertunangan nanti malam. Sangat jelas kalau Alex tidak menginginkan pertunangan itu. Namun pak Yunus tidak tahu apa alasan Alex memaksakan diri untuk melamar Viola. Apakah karena keinginan almarhum papanya?


Pria yang sudah menjadi pengacara kepercayaan Arga Dinata itu hanya diam menyimak pembicaraan kedua orang itu hingga akhirnya Viola pamit dan keluar meninggalkan ruangan itu dengan kesal.

__ADS_1


*****


__ADS_2