Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Empat


__ADS_3

Wajah Denis mengeras. Hatinya benar-benar dilanda kepanikan. Namun pembawaannya yang dingin sulit memperlihatkan ekspresi dia yang sebenarnya. Sesungguhnya dia merasa sangat khawatir akan keberadaan Alex saat ini.


Berulang kali dia mencoba menghubungi nomor telepon Alex namun hasilnya tetap sama. Nomor itu tidak bisa dihubungi.


Denis tidak tahu harus menghubungi siapa lagi untuk mengetahui keberadaan Alex saat ini. Dia tidak tahu siapa teman Alex atau kerabat Alex. Dia tidak tahu apapun tentang pria itu.


Argh!!


Ingin rasanya dia membanting ponselnya saat tak kunjung bisa menghubungi Alex.


"Tenanglah. Dia pasti baik-baik saja." Davin mencoba menenangkan kakaknya. Dia tahu pasti Denis sangat khawatir karena tak kunjung mendapat kabar tentang Alex.


Mereka sudah meninggalkan tempat bang Theo setelah mendapat telepon dari Faisal tadi.


Bang Theo dan Sisil ikut khawatir mendengar Alex tidak diketahui keberadaannya saat ini. Bahkan Sisil sampai menangis. Dia teringat lagi kejadian yang telah lalu. Melihat Sisil yang seperti itu, dengan terpaksa Denis segera meninggalkan tempat bang Theo. Dia tidak mau kalau sampai trauma Sisil terulang kembali.


Davin heran melihat Sisil yang begitu emosional menanggagapi kejadian itu. Dia bertanya kepada Denis apa penyebabnya. Dan dengan singkat Denis menceritakan semuanya. Semua hal yang menjadi penyebab Sisil bisa seperti itu.


Sekarang mereka sedang berada didalam mobil, dengan Davin yang mengemudikannya. Denis kembali menghubungi Faisal, menanyakan kabar Alex. Jawabannya tetap sama. Setelah itu dia menelepon Pak Yunus. Diapun belum mendapat kabar apapun.


Denis meminta kedua orang itu untuk terus mencari informasi tanpa menimbulkan kepanikan diperusahaan. Dia sangat tahu posisi Alex saat ini dalam perusahaan. Dia orang yang sangat penting. Bukan tidak mungkin kejadian ini ada hubungannya dengan urusan bisnis.


Atau ada musuh Alex yang tidak Denis ketahui saat ini? Alex tidak pernah menceritakan apapun kepada Denis masalah pribadinya ataupun masalah pekerjaannya. Tentu saja tidak akan ada kesempatan itu sedangkan Denis saja sangat tertutup dan kaku saat bersama Alex. Selama ini Alex hanya sibuk membujuk Denis supaya mau menerima dirinya. Itupun Denis menanggapinya dengan sangat dingin.


Denis sangat menyesal. Seharusnya dia memanfaatkan kebersamaannya dengan Alex untuk saling mengenal satu sama lain. Dia sudah membuang banyak waktunya bersama Alex hanya untuk berdebat dan menjauhi pria itu. Dia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Alex untuk menceritakan bagaimana dirinya yang sebenarnya.


Sekarang Denis tahu apa arti komunikasi yang sebenarnya. Dan saat ini, dia benar-benar frustasi karena tidak bisa berkomunikasi dengan Alex.


"Apa kamu tahu siapa musuh Alex saat ini? Atau orang yang tidak menyukainya?" Denis kembali menelepon Faisal. Bayangan tubuh Alex yang terkapar dijurang beberapa waktu lalu terus mengganggu pikirannya. Membuat dia semakin kalut.


"Sebelum berangkat ke Singapura, Pak Alex sempat didatangi adiknya. Mereka sedang tidak baik akibat dari kasus yang menimpa mamanya. Reno pergi dari kantor dalam keadaan marah."


"Reno?!" Denis baru teringat kalau Alex memang tidak akur dengan adiknya itu. Dia ikut terlibat dengan pelarian Tania dan Bisma beberapa waktu yang lalu.


Denis terus mencari informasi kepada Faisal tentang Reno. Dia menanyakan alamat rumah Reno. Dan saat Faisal menyebutkannya, Denis langsung mengarahkan Davin agar membawa mobilnya menuju alamat tersebut.


Sebuah apartemen yang cukup mewah. Denis segera turun dan langsung menuju alamat yang disebutkan oleh Faisal. Setelah berdiri dalam lift cukup lama karena tempat tinggal Reni ada dilantai lima, akhirnya dia sampai di tempat yang dituju.


Denis menekan bel dan menunggu didepan pintu. Berulangkali dia menekan bel namun tidak ada respon sama sekali.

__ADS_1


"Mungkin tidak ada orang didalam." Kata Davin saat tak kunjung ada orang yang membuka pintu. "Kita tanya pada petugas di lobby."


Tanpa mengatakan apapun Denis segera melangkahkan kakinya meninggalkan pintu kamar Reno.


Tiba di lobby apartemen, segera keduanya menemui petugas yang berjaga disana. Menanyakan keberadaan penghuni kamar yang mereka datangi tadi.


Agak kesulitan mendapatkan informasi dari petugas itu hingga Denis menggebrak meja resepsionis dan mengatakan bahwa informasi yang dia inginkan menyangkut hidup dan mati seseorang. Dengan sedikit ketakutan petugas itu akhirnya memberi tahu bahwa Reno tidak pulang ke apartemen sejak kemarin.


Hal itu memperkuat kecurigaan Denis kepada pemuda itu. Dengan wajah memerah dia segera meninggalkan gedung apartemen itu.


Denis tak berhenti menghubungi Faisal untuk menggali informasi yang dia butuhkan. Menanyakan flat nomor mobil Alex dan juga sopir yang membawa mobil Alex kemarin.


Ditengah kekalutan Denis mencari Alex, Andres menelepon Davin karena tak kunjung datang ke kantor. Padahal Davin sudah berjanji kepada papanya bahwa dia akan datang ke kantor bersama Denis.


Davin menceritakan yang sebenarnya kepada Andres bahwa dia dan Denis sedang mencari Alex sekarang. Dia katakan dengan terus terang tentang Alex yang tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dihubungi.


Tentu saja Andres ikut cemas mendengar hal itu. Dia membesarkan hati Denis dengan berjanji akan ikut membantu mencari keberadaan Alex saat ini.


Andres bergerak cepat. Dengan bantuan anak buahnya, tidak memerlukan waktu lama dia bisa melacak keberadaan mobil Alex. Entah bagaiamana caranya, tapi dengan segera dia mengirimkan satu titik koordinat kepada Davin dan dengan segera Davin mengaktifkan alat pencari dimobilnya.


Sangat mengejutkan. Mobil itu saat ini berada diluar kota. Denis segera menyuruh Davin untuk melajukan mobilnya menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Andres.


Dua kali sudah dia menyaksikan maut menghampiri pria itu. Dan saat ini, dia sangat takut hal itu akan terulang lagi.


"Papa dan anak buahnya sedang menyusul kemari. Kamu tenang saja." Davin mencoba mengajak Denis bicara. Dia melihat ketegangan diwajah kakaknya itu. Davin yakin, dibalik diamnya Denis, pasti ada kekhawatiran yang teramat sangat.


"Apa kamu yakin ini jalan menuju tempat itu?"


"Tidak mungkin papa memberi alamat yang salah. Titik koordinatnya sudah betul. Ini sebentar lagi kita sampai." Davin melirik kearah alat pelacak didashboard mobilnya.


Denis menghembuskan nafasnya sedikit gusar.


"Sepertinya kita sudah sampai." Davin menepikan mobilnya. Memerhatikan keadaan disekitar tempat itu dengan menajamkan matanya. Suasana yang beranjak malam membuat tempat itu semakin sulit untuk dikenali.


"Mana? Gak ada bangunan disini." Denis ikut mengedarkan pandangannya.


"Lihat!" Davin menunjuk kearah depan. "Motor itu berbelok kearah kiri. Kita ikuti motor itu."


Tanpa menunggu jawaban Denis, Davin kembali menjalankan mobilnya. Mengikuti arah kemana motor tadi berbelok.

__ADS_1


Ternyata motor itu memasuki halaman sebuah bangunan yang berdiri dalam gelap. Tentu saja tidak akan kelihatan diantara rimbunnya pepohonan dan gelapnya malam. Motor itu kemudian menghilang masuk kedalam bangunan itu.


Denis menyuruh Davin untuk mematikan mesin mobil.


"Lo tunggu disini. Gue mau cek kesana." Denis segera turun dari mobilnya.


"Gue ikut."


"Lebih baik lo tunggu disini."


"Ogah. Takut hantu gue." Davin beralasan. Tentu saja sebenarnya dia khawatir dengan keselamatan Denis. Dia juga penasaran dengan apa yang ada didalam bangunan itu.


Denis tak menyahut lagi. Dia tidak mau membuang waktu dengan berdebat hal yang tidak penting dengan adiknya itu.


Keduanya bergegas mendekati bangunan itu.


Terdengar bunyi benda seperti besi yang dibanting ke lantai dari arah dalam. Diikuti bentakan seorang pria yang terdengar sedikit samar.


Denis segera mencari jalan untuk masuk. Dan saat menemukan pintu kecil disudut pintu besar bangunan itu, dia segera mendorongnya. Untunglah tidak dikunci. Dan saat masuk, Denis terkejut melihat satu mobil yang sangat dia kenali berada disana. Dalam keremangan cahaya lampu yang menyala dari arah dalam, Denis yakin kalau itu adalah mobil Alex.


"Ini mobil Alex." Bisik Denis. Dia menajamkan matanya memperhatikan seluruh ruangan itu. Sepertinya bangunan ini merupakan gudang penyimpanan yang sudah tidak digunakan lagi.


"Gila. Apa kita akan berhadapan dengan penjahat?" Tanya Davin dengan suara tak kalah pelan.


"Mungkin."


Denis melangkahkan kakinya dengan hati-hati.


"Sepertinya suara tadi dari atas. Dibawah sini tidak ada siapa-siapa." Denis menunjuk tangga besi dengan dagunya.


Keduanya menuju tangga itu. Baru satu kaki Denis menapak dianak tangga itu, deringan ponsel Davin terdengar sangat nyaring didalam ruangan yang luas dan sepi itu.


Keduanya terkejut. Dengan sigap keduanya mencari tempat berlindung sambil Davin meraup handphone yang terus berbunyi didalam saku celananya. Dengan sedikit panik Davin mematikan bunyi handphonenya. Namun terlambat. Suara langkah kaki berlari mendekati tangga dari arah lantai atas.


"Siapa disana?" Bentakan seseorang dari arah tangga diikuti langkah kaki yang tergesa menuruni tangga. Sepertinya lebih dari satu orang.


Denis dan Davin merapatkan tubuhnya dibalik tumpukan barang didekat tangga. Mata Denis tajam mengawasi bayangan dua orang yang sedang menuruni anak tangga.


*****

__ADS_1


__ADS_2