
Malam berlalu dengan cepat. Kebahagiaan terpancar sepanjang acara berlangsung. Tamu datang silih berganti memenuhi ruangan pesta yang sangat luas dan megah.
Keluarga Aryanti menjadi bintang diantara kehadiran para tamu yang datang. Mereka melayani para tamu penting dengan penuh rasa percaya diri. Topik pembicaraan mereka tentu saja tidak jauh dari masalah bisnis dan perekonomian saat ini.
Sedikit kegaduhan dipintu masuk menarik perhatian sebagian orang. Begitu juga dengan Aryanti dan anak-anaknya yang sedang berkumpul menikmati hidangan yang ada bersama para tamu yang lain.
Damian nampak sedang menerima panggilan telepon. Dari raut wajahnya kelihatan dia sangat serius.
"Jangan biarkan mereka masuk," ujarnya diujung panggilan.
"Ada apa?" Rania menatap kakaknya itu dengan penuh rasa penasaran.
"Tidak ada apa-apa." Damian memasukkan ponsel kedalam saku celananya tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya dari adiknya itu. Senyum pura-pura dia tunjukkan saat seorang pria menyapanya. Mereka kemudian terlibat obrolan basa-basi yang nampak penuh kepalsuan.
Kedua bola mata Rania memutar jengah melihat kelakuan kakaknya itu. Dia segera mengalihkan perhatiannya kepada kedua pengantin yang masih sibuk melayani tamu-tamu yang datang. Senyum dibibir Rania kembali mengembang melihat pasangan pengantin baru itu.
"Lihat, mereka nampak serasi," ujarnya kepada Andres. Andres mengikuti arah pandang istrinya.
"Ya. Mereka kelihatan sangat cocok satu sama lain," jawab Andres.
Disudut lain ruangan pesta, Davin mendekati seorang gadis cantik yang nampak sedang kebingungan dengan piring kecil ditangannya. Sudah sejak tadi dia memperhatikan gadis kecil yang lincah itu. Baru sekarang dia mendapatkan kesempatan untuk mendekati gadis itu.
"Hai," sapanya.
Gadis itu menoleh. Senyuman langsung tersungging di bibirnya.
"Hai, Kak Davin," Sisil nampak sangat senang dengan kehadiran Davin.
"Aku kehilangan mama sama papaku. Kak Davin melihat mereka enggak?"
Davin mengedarkan matanya dengan kening sedikit mengerut.
"Kita cari disebelah luar. Mungkin mereka ada disana." Setelah merasa yakin tidak melihat keberadaan kedua orang tua gadis itu, Davin kemudian menarik tangan Sisil tanpa permisi. Menuntunnya meninggalkan ruangan menuju pintu samping yang menghadap taman yang ada di balkon. Disana ada beberapa tamu yang sedang berbincang. Mungkin mereka sedang mencari angin segar terlepas dari udara ruangan yang sesak dengan para tamu yang hadir.
"Kita cari tempat duduk buat kamu makan itu dulu." Davin menunjuk piring kecil ditangan kanan gadis cantik itu. Sisil tidak menyahut. Dia menurut ketika Davin membawanya ke sebuah bangku taman yang menghadap ke arah pemandangan kota yang indah. Lampu malam gemerlapan menghiasi suasana kota dimalam hari. Lampu kendaraan yang mengular di bawah sana nampak sangat indah dilihat dari ketinggian. Angin bertiup sedikit kuat menerbangkan helaian rambut Sisil yang digerai lepas.
"Kamu gak coba nelpon mereka?" tanya Davin setelah mereka duduk dibangku itu. Matanya menatap lekat wajah Sisil dari samping.
"Handphoneku ada ditasnya mama," Sisil meringis, menyadari kesalahan terbesarnya saat ini karena membiarkan benda penting itu tidak bersamanya di saat dia sangat membutuhkannya.
"Kok bisa sih, handphone dititipin sama orang lain?" Davin seakan menyalahkan keteledoran gadis itu.
"Aku nitipinnya sama mama. Bukan sama orang lain." Sisil merengut, tidak terima kalau dirinya disalahkan.
"Ya, tetep aja. Itu namanya orang lain."
"Mamaku bukan orang lain." Sisil mendelikkan matanya.
"Dia itu orang lain, Sisil."
"Mamaku bukan orang lain!!" Suara gadis itu meninggi. Bersamaan dengan itu ponsel Davin berbunyi.
Davin mengangkat tangannya dan memberi isyarat kepada Sisil untuk diam. Dia menjawab panggilan telepon dan nampak sedikit terkejut. Dia bangkit dari duduknya dan langsung mematikan ponselnya.
"Aku harus pergi. Kamu duduk diam disini. Nanti kalau aku ketemu sama mama papa kamu, aku akan ngasih tahu mereka kalau kamu ada disini. Oke?"
"Kak Davin mau kemana?" Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Davin. Dengan tergesa dia meninggalkan Sisil yang bengong melihat dia pergi begitu saja.
Sisil merengut. Mulutnya bergerak menyumpahi Davin yang sudah menghilang di balik kerumunan para tamu yang masih setia menghadiri acara pesta. Dengan kasar dia menyuapkan potongan buah yang ada dipiring kecil yang sedari tadi dia bawa kedalam mulutnya.
******
Berbanding terbalik dengan suasana pesta yang syahdu dengan alunan musik yang lembut, diluar ruangan tempat pesta diadakan nampak keributan sedang terjadi dan semakin memanas. Sekelompok pemuda yang sepertinya bersikeras untuk memasuki ruangan pesta sedang dihadang oleh petugas keamanan.
__ADS_1
Keributan semakin tidak terkendali saat seorang petugas melayangkan tinjunya pada salah satu dari para pemuda itu. Tidak terima temannya mendapat kekerasan fisik, salah satu temannya membalas dengan memukul petugas itu. Baku hantam hampir saja berlanjut kalau saja diantara mereka tidak ada yang menahan kedua belah pihak.
"Gue gak terima dengan perlakuan kalian!" salah seorang diantara pemuda itu mendengus. Telunjuknya lurus menunjuk wajah petugas keamanan yang mencoba menahannya. Matanya masih mengobarkan kemarahan. Sangat jelas kalau dia merasa tersinggung dengan perlakuan yang dia terima saat ini.
"Ada apa ini?" Davin datang diantara kerumunan.
"Mereka memaksa masuk, Mas. Padahal mereka tidak memiliki kartu undangan resmi untuk memasuki ruangan." Seorang petugas keamanan menjelaskan kepada Davin.
"Kalian siapa?" Davin mengalihkan tatapannya kepada para pemuda yang nampak sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Gue temennya Denis. Kita diundang Denis untuk datang dipesta pernikahannya. Tapi mereka ngelarang kita buat masuk." Salah seorang diantara mereka menyahut. "Nama gue Jack. Lo boleh tanya sama Denis kalau gue bener temennya dia." Pria itu menambahkan. Ternyata dia adalah Jack dan kawan-kawannya yang datang untuk menghadiri pesta pernikahan sahabat mereka.
"Gue percaya. Ya sudah, biarkan mereka masuk, Pak," ujar Davin sambil menoleh kearah petugas keamanan yang masih bersiaga menjaga para pemuda itu.
"Tapi mas, Pak Damian meminta kita untuk menahan mereka dan tidak membiarkan mereka masuk." Agak ragu seorang petugas menjawab.
"Pak Damian?"
"Iya, Mas."
"Gapapa, gue yang urus kalau masalah itu," ujar Davin setelah berpikir sebentar.
Para petugas keamanan saling menatap sesama mereka. Nampak mereka ragu untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Davin. Mereka sudah mendapat perintah dari Damian untuk tidak membiarkan para pemuda itu masuk sebelumnya, dan sekarang Davin meminta mereka untuk melakukan hal yang sebaliknya. Siapa yang harus mereka patuhi?
"Tapi, Mas..."
"Sudah. Kalian masuk saja. Urusan belakangan gue yang urus." Davin menganggukkan kepalanya kepada Jack dan teman-temannya.
Dengan penuh keraguan akhirnya para petugas itu memundurkan kaki mereka memberi isyarat kepada para pemuda itu untuk memasuki ruangan. Para pemuda anak buah Jack tersenyum puas. Mereka melangkahkan kakinya melewati para petugas keamanan yang masih berdiri kaku memperhatikan mereka memasuki ruangan pesta yang penuh dengan orang-orang yang berpakaian berbanding terbalik dengan para pemuda itu.
Kehadiran para pemuda ditengah pesta menarik perhatian hampir semua pengunjung. Hampir semua mata tertuju pada mereka.
Damian terkejut melihat kehadiran para pemuda itu. Dia segera meninggalkan seorang tamu yang sedang bicara dengannya dan menghampiri para pemuda itu yang sudah hampir sampai di tempat Denis dan Alex berada.
Jack dan teman-temannya saling menatap sebelun kemudian menatap Damian dengan rasa tidak suka.
"Apa maksud pertanyaan anda barusan, Tuan yang terhormat?" Jack menatap tajam pria perlente dihadapannya.
"Tolong jangan membuat keributan disini. Silakan kembali sebelum para petugas menyeret kalian keluar dari ruangan ini," Damian melambaikan tangannya kepada petugas keamanan yang berjaga di dekat pintu masuk.
"Kami datang bukan untuk mencari keributan. Kami datang untuk menemui teman kami yang menikah hari ini." Jack berkata dengan lantang. Matanya tajam menatap Damian.
"Kalau memang kamu tidak mau mencari keributan, silakan keluar dari ruangan ini. Apa kalian tidak tahu kalau kalian tidak pantas berada di sini?" tanya Damian dengan senyum miringnya. Jelas sekali kalau dia sangat merendahkan Jack dan teman-temannya.
"Gue gak akan pergi sebelum ketemu sama Denis," Jack mulai kehilangan kesabaran.
"Oh, jadi kamu menentang saya disini?" Wajah Damian mulai mengeras. Tatapannya tajam menghujam mata Jack yang nampak tak merasa gentar sedikitpun.
"Om Damian, ada apa?" Davin datang di antara mereka.
"Para gelandangan ini sepertinya ingin merasakan makanan kelas atas," ujar Damian dengan cibiran yang sangat pedas dirasakan Jack dan teman-temannya.
"Jaga ucapan lo," Jack melangkahkan kakinya dengan tangan yang sudah mengepal. Davin segera maju menghalangi diantara kedua orang yang sama-sama sudah tersulut emosi itu.
"Kalian memang sampah masyarakat yang tidak ada nilainya sama sekali. Gak pantes kalian berada di tempat ini."
Bugh!!
Sebuah pukukan mendarat diwajah Damian tanpa bisa dicegah lagi. Jeritan beberapa wanita pengunjung pesta terdengar membuat suasana menjadi kacau.
Beberapa petugas keamanan langsung berlarian mendatangi tempat terjadinya keributan. Davin yang terkejut karena anak buah Jack berhasil mendaratkan pukulannya pada Damian tanpa dia prediksi sebelumnya. Dia segera merangkul Damian mencegahnya dari membalas pukulan anak buah Jack.
"Tangkap mereka semua! Jangan biarkan mereka lepas!" Wajah Damian nampak memerah. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Davin yang menahannya.
__ADS_1
Denis dan Alex yang melihat keributan dari kejauhan, tak urung merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka segera turun dari pelaminan dan mendekati tempat kejadian.
"Bang Jack?" Denis terkejut melihat siapa yang berada disana.
"Ada apa ini?" tanya Alex menimpali.
"Lo tanya sama pria itu," Jack menunjuk Damian yang nampak wajahnya sudah merah padam menahan amarah.
"Cepat bawa mereka pergi dari sini!" Damian memberi perintah pada para perugas keamanan tanpa mempedulikan Denis dan Alex.
"Tunggu! Dia teman saya, Om," Denis segera menghalangi langkah petugas keamanan yang sedang menarik tangan Jack untuk keluar dari ruangan itu.
"Oo, dia teman kamu?" Tatapan sinis Damian dengan seringai di sudut bibirnya. "Kamu memang pantas berteman dengan mereka."
"Apa maksud Om?"
"Sudahlah. Biarkan mereka pergi sekarang juga. Kehadiran mereka sangat mengganggu acara malam ini."
"Om jangan pernah menghina mereka! Mereka datang kesini karena saya yang mengundangnya!"
"Oo, jadi kamu mau membela mereka?"
"Ada apa ini?" Rania datang ditengah perdebatan antara Denis dan Damian. Semua mata pengunjung pesta tertuju pada mereka sekarang. Aryanti yang merasa penasaran pun tak urung melangkahkan kakinya mendekati tempat keributan terjadi dengan tergesa.
"Kamu lihat siapa yang diundang oleh anak kesayanganmu ini? Para gembel.."
"Om Damian!"
Alex merengkuh bahu Denis saat gadis itu meninggikan suaranya dengan mata tersorot tajam kearah pamannya itu.
"Sudahlah, Denis. Gue akan pergi dari sini. Gue gak mau ada masalah disini." Jack membuka suara. Jelas sekali dia sangat tersinggung dengan sikap Damian kepada dirinya dan teman-temannya.
"Gue gak akan pernah lupa perlakuan lo sama gue." Ucapan itu dia tujukan kepada Damian yang menegakkan wajahnya dengan angkuh.
"Bang Jack .. " Denis berusaha mencegah kepergian teman-temannya. Namun Jack dan anak buahnya tak menoleh lagi setelah mengucapkan kata-kata itu. Mereka meninggalkan ruangan pesta disertai dengan amarah yang mereka tahan dengan sekuat hati.
"Maaf semuanya. Silakan untuk menikmati hidangan yang ada." Damian memamerkan senyumannya kepada para tamu yang masih ada ditempat itu.
"Om benar-benar kelewatan! Aku gak menyangka om akan melakukan itu padaku!" Denis mendengus kesal. Namun Damian berpura-pura tidak mendengar ucapan Denis. Dia segera menyapa tamu yang lain seolah tidak ada apa-apa yang terjadi disana.
"Mama lihat kelakuan Om Damian? Dia sudah mempermalukan temanku disini!" Denis masih belum bisa menerima perlakuan omnya tadi.
"Ya. Dia memang sangat keterlaluan. Maafkan mama karena tidak bisa membela temanmu tadi."
"Hhh! Aku juga mau pergi dari sini. Ini bukan tempat untukku."
Tanpa menunggu reaksi dari Rania, Denis bergegas meninggalkan tempat itu. Rania sangat terkejut melihat tingkah putrinya itu. Begitu juga dengan Alex. Segera dia mengikuti langkah wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Denis! Tunggu!" Seru Alex sambil mengejar langkah Denis. Gadis itu tidak menghiraukan panggilan Alex. Kakinya semakin lebar melangkah meninggalkan Alex jauh dibelakangnya.
Denis memasuki sebuah lift terdekat. Pintu lift menutup disaat Alex hampir dapat mengejar istrinya itu.
"Denis!" Panggilan Alex seiring dengan bergeraknya lift menuju ke lantai bawah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***