
Denis dan Alex membeli beberapa helai pakaian dan beberapa kebutuhan pribadi mereka. Mereka hanya membeli barang yang benar-benar mereka butuhkan. Mereka harus mengirit pengeluaran. Untuk pertama kalinya Alex membeli barang-barang dengan harga yang sangat murah, itupun menggunakan uang pemberian dari orang lain. Perjalanan mereka masih jauh, dan mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi nanti.
Setelah dirasa cukup dengan barang belanjaan mereka, mereka pun segera kembali ke desa. Waktu sudah lewat tengah hari ketika motor yang dikendarai Denis melaju dijalanan desa yang sepi dan berdebu.
"Apa mobil dibelakang itu sedang mengikuti kita?" tanya Alex sambil menoleh kearah belakang. Sebuah mobil berwarna hitam melaju dibelakang mereka. Alex baru menyadari kalau mobil itu sejak tadi berada dibelakang mereka.
Denis melirik kaca spion. Dia menambah kecepatan motornya untuk mengetahui apakah mobil itu mengikutinya atau tidak. Ternyata mobil itupun melajukan kendaraannya, mengejar motor yang dikendarai Denis.
"Hati-hati Den." Teriak Alex. Dia agak terkejut ketika Denis melajukan motornya diatas kecepatan standar dengan tiba-tiba. Angin terasa menerpa tubuh mereka dari arah depan dengan keras. Mobil dibelakang mereka terus mengimbangi kecepatan laju motor yang dikendarai Denis.
"Mereka mau main-main rupanya." Denis membelokkan motornya kejalan yang sempit hingga mobil dibelakangnya tidak bisa mengikuti. Namun begitu motor keluar dari jalan itu, rupanya mobil itu sudah menunggu mereka dimulut jalan.
"Sial." Umpatan keluar dari mulut Denis. Dia kembali melarikan motornya namun mobil itu telah lebih dulu bergerak kedepan motor Denis dan berhenti mendadak menghalangi jalan yang akan dilalui Denis.
Denis mengerem motornya sehingga motor itu sedikit berputar. Alex memegang bahu Denis untuk menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh. Keduanya kemudian turun dari motor dan menatap mobil yang berkaca gelap itu.
Pintu belakang mobil terbuka menampakan dua orang pria dengan wajah sangar. Tatapannya tajam memindai wajah Alex dan Denis. Dengan langkah yang tegap keduanya mendekati Alex dan Denis sehingga berada di jarak yang cukup untuk mereka saling mengukur keberanian masing-masing.
Alex dan Denis mengatur jarak mereka sehingga bisa saling menjaga jika terjadi serangan mendadak. Mata mereka waspada melihat pergerakan dua pria itu. Mereka masih belum mengeluarkan suara, menunggu dua pria itu yang memulai.
"Jadi kalian dua pria songong yang sudah bikin teman kita babak belur?" Salah satu dari pria itu mengeluarkan suaranya. Tangannya yang kekar nampak mengepal disisi tubuhnya.
"Siapa yang kalian maksud?" Tanya Denis dengan menegakkan wajahnya. Dia tidak mau kalah dari pria itu yang sudah menunjukkan kesangarannya untuk mengintimidasi.
Pria itu menoleh kearah mobil. Pintu depan terbuka dan memperlihatkan seorang pria bertatoo dibagian lehernya yang tadi malam mengantarkan Denis dan Alex, sekaligus mencoba merampok mereka.
Denis tersenyum miring melihat pria itu.
"Ooh.. Jadi kalian masih penasaran sama kita rupanya. Sekarang membawa teman buat ngeroyok kita? Haha..cemen banget jadi orang." Denis mendecih. Tatapan sinis dia tunjukan untuk merendahkan kemampuan pria-pria itu.
Pria yang bicara dengan Denis mengedikkan kepalanya sambil memberi kode kearah temannya melalui lirikan mata. Temannya langsung membuka serangan yang ditujukan kepada Denis. Kepalan tangannya melayang menuju wajah Denis. Dengan sigap Denis menarik mundur kepalanya sekaligus menepis lengan kokoh pria itu dengan tangan kanannya. Terasa tangan kekar pria itu begitu keras dan bertenaga.
Pria itu nampak terkejut serangannya tidak membuahkan hasil. Dia kembali menyerang Denis dan kembali Denis berhasil menghindar.
"Lawan gue *******!! Jangan cuma menghindar kayak perempuan!!" pria itu menggeram dengan amarah yang mulai meningkat.
"Tenang dulu mas. Kita bisa bicarakan ini." Alex mencoba untuk bernegosiasi. Dia melangkah sedikit mendekati pria itu.
"Kita datang kesini gak cari masalah. Kita gak mau punya musuh." Alex berusaha untuk tetap bicara pada ketiga pria dihadapannya.
"Eleh..jangan banyak omong kamu. Lawan kita kalau memang kalian jagoan." Pria sangar itu melancarkan serangannya terhadap Alex, diikuti pria lainnya yang kembali menyerang Denis. Sedang pria yang tadi malam mengantar Denis hanya memperhatikan perkelahian dari dekat mobil. Seorang lagi yang menjadi sopir tetap berada didalam mobil sambil memperhatikan situasi. Dia orang yang sama yang mengendarai mobil itu tadi malam. Namanya Slamet.
Pria yang menjadi lawan Denis terhuyung kebelakang ketika sebuah pukulan telak menghantam hidungnya. Tapi bukannya jera, pria itu malah kian bernapsu untuk membalas pukulan Denis. Dia semakin menggencarkan serangannya, namun dengan sigap Denis dapat mengantisipasinya dengan baik. Bahkan sebuah tendangan penuh tenaga dari Denis membuat pria itu terjatuh ke tanah untuk pertama kalinya.
Pria itu segera bangkit dan menatap Denis penuh amarah. Dia kembali menerjang Denis diiringi teriakan keras untuk menggetarkan hati lawan. Tinjunya yang bulat dan keras hampir mengenai Denis, namun Denis masih mampu menghindar sambil tangannya masuk menyodok rahang pria itu diikuti lututnya yang menghantam perut pria itu.
Tak ingin berlama-lama, Denis terus menyerang pria itu bertubi-tubi hingga pria itu terkapar ditanah. Begitu juga pria yang melawan Alex. Dalam sekejap keduanya meringis diatas tanah dengan wajah yang babak belur.
Alex dan Denis saling menatap dengan posisi masih waspada. Matanya melihat kearah pria lain yang ada didekat mobil. Pria bertato yang tadi malam sudah merasakan terlebih dahulu bagaimana ganasnya Alex dan Denis.
Pria itu meringis sambil berjalan mendekat.
"Maaf mas. Aku gak nyuruh mereka. Mereka cuma penasaran aja sama yang bisa ngalahin aku tadi malam." Takut-takut pria itu bicara pada Alex dan Denis. Gestur tubuhnya menunjukan ketakutan dan penghormatan untuk kedua pria tampan dihadapannya.
"Siapa yang nyuruh kalian?" Bentak Denis dengan sorot mata tajam.
"Kita gak ada yang nyuruh mas. Beneran. Teman kita cuma pengen membuktikan aja kalau kalian itu lebih jago dari kita." Pria bertatoo yang bernama Jarwo berkata dengan nada sopan. Sangat jauh berbeda dengan ketika dia sedang mengancam Denis tadi malam.
Kedua pria yang baru saja dijatuhkan Denis dan Alex berdiri sambil memegangi rahang mereka yang pastinya terasa sakit. Tidak ada lagi kegarangan di mata mereka.
"Kalau aku tahu kalian bohong, kalian bakalan tahu akibatnya." Denis menatap bergantian pria-pria itu. Tangannya mengepal sempurna disisi tubuhnya.
"Pergilah dari sini. Jangan pernah mengganggu kami lagi. Kalau sampai kita ketemu lagi, jangan harap kalian bisa selamat." Denis menatap tajam pria-pria sangar itu.
"Kami janji gak akan ganggu lagi. Terima kasih sudah melepaskan kami." Jarwo merundukkan tubuhnya sebelum memberi isyarat kepada dua temannya untuk pergi dari sana.
Tanpa bicara kedua pria itu bergegas masuk kedalam mobil diikuti pria bertato yang sebelumnya masih memperlihatkan ringisannya pada Alex dan Denis.
Mobil itu melesat pergi meninggalkan Alex dan Denis yang masih berdiri ditempat semula. Alex menggelengkan kepalanya.
"Ada-ada saja. Menyerang kita lalu pergi begitu saja."
Denis mendengus sambil kembali ke motornya. Menyalakan mesinnya dan menunggu Alex naik dibelakangnya.
Motor kemudian melaju meninggalkan tempat itu diiringi angin yang menerpa tubuh mereka mengeringkan keringat yang tadi membanjiri tubuh dua orang diatasnya.
__ADS_1
"Apa menurutmu mereka berbahaya untuk kita?" Tanya Alex ketika motor mulai melaju. Bagaimanapun juga, serangan pria sangar itu tidak bisa dianggap remeh. Mereka harus lebih waspada atas insiden yang mereka alami.
"Kayaknya mereka hanya preman terminal biasa. Gak ada hubungannya sama orang yang nyari lo."
"Aku harap begitu." Alex berujar pelan. Dia merasa heran kenapa masalah yang sama menghampiri dirinya.
"Kamu tahu semua daerah sini?" Tanya Alex dari belakang punggung Denis setelah agak lama mereka terdiam.
"Tidak juga. Dulu aku hanya duduk dikursi belakang dan gak tahu arah jalan." Sahut Denis.
"Kamu sangat dekat dengan keluarga pembantu kamu."
"Mereka bukan hanya pembantu, mereka adalah orangtuaku yang sesungguhnya."
Alex menganggukkan kepalanya. Matanya menatap hamparan sawah yang ada disebelah kanan dan kiri jalan.
"Apa tadi malam kita melewati tempat ini?"
"Entahlah."
Alex menyuruh Denis berhenti ketika melihat sebuah pohon yang rindang dipinggir jalan. Denis menepikan motornya tepat dibawah pohon itu.
Keduanya tidak turun dari motor. Hanya duduk diam menikmati pemandangan alam yang terhampar sejauh mata memandang.
"Aku pernah dibawa pak Mijan kesawahnya. Selama bekerja dikeluargaku, dia bisa membeli sawah dan tanah kebun disini." Mata Denis menerawang.
"Orangtuamu mengijinkanmu pergi bersama pembantu?"
"Mereka tidak peduli padaku. Aku bisa pergi kemana saja aku mau." Seringai tipis menghiasi wajah Denis.
Denis kembali melajukan motornya meninggalkan tempat itu menuju rumah pak Mijan.
Tiba dirumah pak Mijan, nampak sebuah motor sudah terparkir dihalaman depan. Denis memarkirkan motor yang dikendarainya disebelah motor itu.
Mereka masuk kedalam rumah dan disambut bu Darmini.
"Kalian lama sekali. Ibu sampai khawatir takut kalian kenapa-napa." Suaranya yang khas menyambut kedatangan Alex dan Denis.
"Kami baik-baik saja bu." Alex yang menyahut. Denis hanya tersenyum tipis.
"Oh iya. Ada Anwar dibelakang. Asih ngasih tahu dia kalau ada nak Denis disini. Jadi dia langsung datang kesini."
"Oya? Mana dia?"
"Itu lagi ngambil ikan di kolam. Ayo kita lihat dibelakang." Bu Darmini beranjak menuju bagian belakang rumah diikuti Alex dan Denis yang terlebih dahulu menyimpan barang bawaan mereka kedalam kamar.
Dihalaman belakang nampak pak Mijan dan seorang pria sedang ada didalam kolam.
"Mas Anwar!"
"Denis! Turun sini ngambil ikan!" Pria yang dipanggil Anwar melambaikan tangannya pada Denis. Denis hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Waktu kecil dia ini bandel banget lho. Gak boleh dilarang sama ibu sama bapak. Maunya turun kekolam ikan terus. Ngambil ikan suka-suka dia." Bu Darmini terkekeh disamping Alex mengenang masa kecil Denis. Alex ikut tertawa membayangkan Denis kecil yang nakal.
"Masa kecilnya pasti bahagia banget bisa melakukan banyak hal." Gumam Alex. Dilihatnya Denis yang berjongkok ditepi kolam melihat Anwar dan pak Mijan dari dekat.
"Ikannya mau diapain mas?"
"Kamu maunya diapain? Bakar aja ya?"
"Wah, boleh tuh. Lama banget gak makan ikan bakar buatan mas Anwar." Denis nampak antusias.
"Nak Alex salah. Dia gak pernah bahagia. Kasihan sekali nak Denis itu." Bu Darmini berkata pelan disamping Alex. Matanya menatap sendu wajah Denis yang nampak sumringah disana.
"Kasihan kenapa?" Alex mengerutkan keningnya. Matanya menatap bu Darmini penuh rasa penasaran.
"Dia itu..."
"Mak'e, ambil wadah buat ikannya!" Pak Mijan berteriak dari arah kolam. Bu Darmini segera beredar dari hadapan Alex untuk mengambil benda yang dimaksud pak Mijan.
Alex mendekati Denis yang sedang memperhatikan pak Mijan dan Anwar.
"Beneran nih kamu gak mau turun?" Tanya Anwar dari dalam kolam. Tangannya sibuk menyiduk ikan menggunakan alat yang berbentuk jaring tapi berukuran kecil.
"Enggak deh mas. Aku lihatin dari sini aja."
__ADS_1
"Ahh cemen sekarang ya. Takut lumpur. Atau malu ya ada yang lihat kamu kotor-kotoran?"
Denis tertawa kecil. Dia tidak terprovokasi dengan ucapan Anwar yang meremehkannya.
Asih nampak sibuk membantu Bu Darmini menyiapkan arang untuk membakar ikan. Seorang gadis keluar dari dalam rumah membawa alat-alat lain yang dibutuhkan. Kemudian membantu bu Darmini menyiangi ikan yang sudah didapat.
Pak Mijan dan Anwar sudah naik dari kolam. Mereka pergi untuk membersihkan diri dari lumpur yang mengotori seluruh tubuh mereka.
"Apa kabar Denis?" Anwar datang dengan pakaiannya yang sudah diganti. Tubuhnya nampak segar setelah membersihkan diri. Tangannya terulur kearah Denis yang disambut hangat oleh Denis. Mereka berjabat tangan dengan erat.
"Baik mas. Pak Mijan bilang mas Anwar sudah nikah ya?"
"Iya. Kamu kapan?" Anwar melirik Alex dengan senyuman penuh arti. "Ini siapa?"
"Teman. Namanya Alex." Alex mengulurkan tangannya menyalami Anwar.
"Teman apa teman nih?" Anwar terkekeh sambil menyalami Alex. Alex mengerutkan keningnya tidak mengerti arah candaan Anwar. Denis tidak menanggapi ucapan Anwar. Matanya justru sedang melihat kearah gadis yang bersama Asih.
"Itu siapa mas?"
Anwar menoleh kearah gadis yang ditunjuk Denis.
"Itu Mariana, adik ipar saya. Dia baru datang dari Jakarta kemarin."
"Oya? Istri mas Anwarnya mana?"
"Nanti sore baru bisa kesini. Nunggu sampai anak saya pulang dari sekolah."
Gadis yang bernama Mariana nampak menoleh kearah Denis dan Alex. Matanya terbelalak demi melihat dua orang itu. Bergegas dia berjalan mendekat dengan mata yang terus mengawasi Denis dan Alex.
"Kalian kan yang kemaren di bus itu ya?" Matanya bergerak lincah menatap Denis dan Alex bergantian. Denis dan Alex saling melempar pandang. Kemudian Alex yang mengangguk dan sedikit tersenyum kepada gadis itu.
"Ya."
"Ya ampun. Dunia ini ternyata sempit banget ya. Kalian ternyata tamu dirumah pak Mijan. Coba kalau kalian bilang kemaren mau kesini, kita kan bisa pulang sama-sama. Kemaren kan aku dijemput sama mas Anwar." Gadis itu nyerocos panjang lebar. Namun cukup membuat semua orang terperangah mendengar penuturannya.
"Jadi kalian satu bus kemarin?" Mata Anwar terbelalak. "Saya kemarin jemput Mariana ke terminal lho. Kok gak nyadar ada kalian ya?"
"Mereka ini kan sombong banget mas. Aku ajak ngobrol aja mereka cuek gitu." Mariana mengerucutkan bibirnya. Matanya nampak mendelik kearah Alex dan Denis.
"Hush kamu ini. Bicara yang sopan." Bu Darmini menepuk tangan Mariana. "Kamu tahu siapa tamu mak'e ini?"
Mariana menggeleng.
"Nak Denis ini anak dari majikan mak'e waktu dulu kerja di Jakarta." Bu Darmini mengusap bahu Denis.
"Dan yang itu nak Alex, teman nak Denis. Kamu harus sopan sama mereka. Gak boleh asal kalau bicara."
"Iya deh. Saya minta maaf." Mariana tersenyum kearah Alex dan Denis. Matanya mengerjap melihat dua cowok ganteng yang kemarin menarik perhatiannya selama perjalanan. Sungguh tak disangka sekarang dia bisa bertemu kembali dengan dua orang itu. Apa ini yang dinamakan jodoh ya? Batin gadis itu.
"Kalau saja kalian bertemu dengan Anwar di terminal, pasti kejadian tadi malam gak akan kalian alami." Pak Mijan menyela obrolan mereka.
"Kejadian apa pak'e?" Anwar menatap ayahnya. Pak Mijan kemudian menceritakan kejadian tadi malam yang menimpa Denis dan Alex sesuai dengan yang diceritakan oleh Denis. Anwar nampak terperangah mendengar penuturan ayahnya.
"Wah. Jadi kalian datang kesini disambut sama preman terminal? Hebat banget kamu Den, bisa mengalahkan para preman itu. Kalau orang-orang tahu, bisa heboh satu kota nih. Turun sudah harkat martabat para preman itu." Anwar geleng-geleng kepala sambil menatap takjub Denis.
"Kamu dari kecil emang sudah hebat. Ingat gak waktu kamu berkelahi sama si Candra anaknya pak Kades waktu itu? Tubuhnya lebih besar dari kamu, tapi bisa kamu kalahkan dengan mudah." Anwar terkekeh mengingat masa kecil Denis.
"Iya. Terus pak Kadesnya datang marah-marah sama bapak." Bu Darmini menimpali. Denis nyengir kuda mengingat kenakalannya ketika ikut pulang kampung sama pak Mijan.
"Terus gimana bu ceritanya?" Alex antusias mendengar cerita tentang Denis kecil.
"Yaa..waktu itu, kita kasih ganti rugi aja. Kasih limapuluh ribu aja waktu itu si Candra udah seneng. Haha.." Pak Mijan yang menjawab sambil terbahak.
"Yo wes. Ceritanya nanti lagi. Sekarang kita makan dulu. Ayo Asih, Ana, makanannya sudah siap 'kan?" Bu Darmini menyuruh Asih dan Mariana untuk menghidangkan makan siang mereka. Nasi dan ikan bakar, ditambah sambal khas pedesaan dan lalapan yang menjadi menu makan siang mereka hari ini. Mereka makan siang disaung yang ada diatas kolam ikan pak Mijan. Angin sepoi-sepoi menemani santap siang mereka. Nampak rona kebahagiaan terukir diwajah mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*****