
Alex benar-benar kembali ke kantor. Dia kembali berkutat dengan pekerjaannya yang seakan tidak ada habisnya. Wajahnya yang kusut menandakan betapa beratnya pekerjaan yang harus dia selesaikan. Namun Faisal tahu, bukan itu yang menjadi penyebab hilangnya aura kebahagiaan dari wajah atasannya itu.
Faisal terus memperhatikan atasannya itu semenjak datang dari pertemuannya dengan Viola. Tak ada kata yang terucap dari bibir atasannya itu. Wajahnya datar dengan mulut terkatup rapat. Dia hanya diam dan menekuri pekerjaannya dengan sangat serius.
"Anda tidak pulang, Pak? Ini sudah lewat jam pulang kantor." Faisal mengingatkan dengan sangat hati-hati. Alex melihat jam yang melingkar ditangan kirinya.
"Anda mungkin akan terlambat kalau tidak segera pulang." Faisal menambahkan ketika Alex tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku akan berangkat dari sini." Sahut Alex singkat. Dia hanya perlu mengganti bajunya dan tidak membutuhkan persiapan seperti halnya perempuan. Dan pakaian yang dia butuhkan sudah tersedia diruangan khusus miliknya yang berada di ruang kerjanya.
Faisal mengangguk mengerti dengan maksud dari ucapan Alex. Dia juga tidak banyak bertanya. Tahu kalau suasana hati atasannya sedang tidak baik.
Menjelang pukul tujuh malam, Alex merapikan meja kerjanya. Berjalan menuju ruang pribadinya yang akhir-akhir ini sering dia tempati semenjak Denis tidak kembali ke kediamannya.
Faisal menunggu sambil memainkan ponselnya membaca beberapa informasi tentang bisnis dan saham. Sesekali dia menatap pintu ruangan Alex yang masih tertutup. Dia menggerakkan kepalanya pelan ketika mengingat ekspresi Alex yang sangat jauh dari rona bahagia menjelang pertunangannya. Justru yang dia lihat adalah, Alex sangat tersiksa dengan rencananya untuk melamar Viola.
Faisal tidak mengerti kenapa Alex begitu memaksakan dirinya untuk melamar Viola sedangkan hatinya sendiri tidak menghendaki hal itu. Dapat dibayangkan, bagaimana ketika mulut dan hati tidak sejalan.
"Bagaimana?" Alex sudah berdiri dihadapan Faisal meminta asistennya itu untuk menilai penampilannya.
"Anda sangat menawan, Pak." Faisal tersenyum genit sambil menatap Alex. Alex mendecih sambil menampilkan ringisan diwajahnya.
"Sangat menjijikan."
Faisal terkekeh pelan.
__ADS_1
*****
Baru saja Alex memasuki mobil, Viola sudah meneleponnya menanyakan posisinya berada dimana.
"Aku sudah mau berangkat. Aku pasti datang, Vio." Alex menutup panggilan telepon dengan sedikit kesal dan menyimpannya kembali didalam saku jasnya.
Dia tidak mau memikirkan apa-apa lagi sekarang. Betul atau tidak keputusannya meminang Viola, itu sudah tidak penting lagi. Biarlah dia menjalani ini dengan begitu saja. Apapun yang akan terjadi nanti, dia akan menghadapinya. Walaupun mungkin rasa penyesalan yang akan dia dapatkan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah hotel mewah yang sangat terkenal.
Disebuah ruangan restoran diarea hotel itu, Viola dan kedua orang tuanya sudah duduk manis di meja yang telah dipesan oleh Faisal atas nama Alex tentunya.
Viola sudah kelihatan hampir kehabisan kesabarannya menunggu Alex datang. Ibunya terus memberikan wejangan-wejangan kepada Viola seraya menunggu Alex datang.
Viola tersenyum lebar menatap Alex yang berjalan dengan gagah dibalut pakaian yang sangat pas dengan tubuhnya. Dia berdiri menyambut Alex yang hanya ditemani oleh Faisal. Kedua orang tua Viola pun ikut berdiri menyambut sang calon menantu yang nampak sangat memukau siapa saja.
"Maaf sudah membuat menunggu." Alex sedikit membungkukkan tubuhnya dan menarik sedikit bibirnya.
Dia kemudian duduk disamping Rahman, papanya Viola, berseberangan dengan Viola. Faisal mengambil tempat duduk disamping atasannya setelah memberikan salam hormat kepada semua yang ada disana.
Seorang pelayan membawa buku menu dan mulai menulis pesanan makanan dan minuman.
Viola tak hentinya menatap Alex dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
"Alex, terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan om sekeluarga. Awalnya om ingin mengundangmu ke rumah. Tapi om tahu kamu memiliki banyak kesibukan yang tidak bisa kamu tinggalkan. Setelah kepergian papamu, semua beban ada dipundakmu. Om sangat bisa memahami keadaanmu. Apalagi kamu menangani semua hal sendirian." Rahman membuka percakapan setelah pelayan itu pergi dari sana.
__ADS_1
"Terima kasih atas kepedulian om pada saya. Karena itulah juga saya terpikir untuk segera memiliki pendamping hidup saya agar ada orang yang bisa saya ajak berbagi. Berbagi segala hal dalam hidup saya. Kebahagiaan, kesedihan. Dan setelah sekian lama, saya meyakini bahwa, orang yang tepat untuk saya ajak hidup bersama saya adalah Viola, putri om. Untuk itu, pada kesempatan kali ini, saya ingin meminta restu dari om dan tante, agar mengijinkan saya melamar Viola untuk dijadikan teman hidup saya dimasa depan." Ujar Alex langsung ke inti dari maksud pertemuan itu. Rahman dan istrinya saling menatap dengan senyum kebahagiaan terlihat mengembang sempurna dibibir mereka.
Terlebih lagi Viola. Rasanya dia kehabisan nafas karena kebahagiaan yang tiada taranya. Impian sejak bertahun-tahun yang lalu kini mendekati kenyataan. Pria yang sangat diinginkannya kini sedang melamarnya kepada kedua orang tuanya.
"Om sangat senang mendengar semua maksudmu yang sangat baik ini. Sejak lama, sejak papamu masih ada, Om sangat berharap bisa menyatukan keluarga kita. Tapi om tidak bisa memaksakan kehendak om sendiri. Sekarang kamu telah menyatakan keinginan kamu untuk mempersunting Viola, tentu om dengan senang hati dan dengan tangan terbuka menerima maksud baikmu itu. Hanya saja sebagai orang tua, tentu keputusan ada ditangan Viola. Om akan ikut apapun keputusan dia. Begitu kan, ma?" Rahman menoleh kepada istrinya meminta dukungan atas apa yang baru saja dia ucapkan.
"Iya. Mama juga dengan senang hati mengijinkan kamu buat mempersunting Viola." Utami, mamanya Viola tersenyum menatap putrinya yang nampak begitu bahagia. Tentu tak perlu lagi ditanya keputusan apa yang akan Viola berikan. Jawabannya sudah sangat jelas tersirat.
"Walaupun papa sudah tahu jawaban kamu, Vio. Tapi disini semuanya harus jelas. Apa kamu mau menerima lamarannya Alex atau tidak? Hmm?" Rahman menatap putrinya dengan sedikit menggodanya. Tentu dia tahu bagaimana perasaan putrinya terhadap Alex. Hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Bukannya dia tidak mau membantu putrinya untuk mendapatkan Alex. Namun dia juga tahu bagaimana perasaan Alex terhadap putrinya. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya kepada Alex. Karena baginya, pernikahan itu harus atas dasar saling mencintai.
Dia juga sangat terkejut ketika Alex menyatakan niatnya untuk melamar Viola. Namun setelah dilihatnya putrinya begitu bahagia atas keinginan Alex itu, Rahman tidak ingin menunda niat baik Alex itu. Bahkan rencananya, dia akan segera meminta Alex untuk menikahi Viola secepatnya setelah acara pertunangan ini.
Viola tersenyum malu-malu mendapat pertanyaan dari papanya. Matanya yang indah menatap Alex.
"Vio menerima, Pa."
Ucapan syukur terdengar dari mulut Rahman dan Utami.
Faisal segera membuka kotak cincin dan menyerahkannya kepada Alex untuk disematkan di jari manis Viola. Alex bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Viola.
"Alex!! Awas!!.."
Dorr!!
*****
__ADS_1