Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Sembilan


__ADS_3

Semakin mendekati hari H jantung Denis semakin berdebar. Dia merasa gugup menghadapi hari yang paling bersejarah dalam hidupnya. Membayangkan apa saja yang akan dia hadapi dihari itu. Dan yang paling membuat dia tidak bisa tenang adalah gaun pengantin itu. Argh! Kenapa memangnya kalau menikah tanpa memakai gaun pengantin?


Davin paling tahu saat kakaknya itu terlihat gelisah. Namun seperti biasa, dia malah makin senang menggoda kakaknya. Meledeknya ataupun mengucapkan kata-kata yang memprovokasi kakaknya itu. Rania sampai pusing melihat tingkah Davin yang bertolak belakang dengan Denis. Denis yang sedikit bicara sedangkan Davin terlalu banyak bicara. Namun yang membuat Rania bahagia adalah, keduanya nampak semakin akrab. Denis dan Davin kelihatan saling menyayangi satu sama lain.


"Lo harusnya mulai perawatan ke salon. Calon pengantin biasanya seperti itu, 'kan. Gue rela kok nganter lo." Pagi itu di meja makan setelah sarapan.


"Dalam mimpi lo." Denis mencibir adiknya.


"Serius. Tanya mama. Lo harusnya mulai merawat diri lo. Cewek biasanya kan suka kelihatan cantik. Entar suami lo suka sama cewek lain, mewek lo."


"Davin, kakak kamu ini berbeda. Dia gak butuh semua itu. Lagian Alex juga cinta kakakmu apa adanya." Rania tersenyum menatap putra putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ya, ya..mereka berdua memang sangat cocok. Yang cewek gak suka dandan, yang cowok alergi sama cewek yang suka dandan." Davin tertawa lucu dengan ucapannya sendiri.


"Makanya, jangan menyuruh kakakmu buat dandan cantik, nanti Alex malah nyari yang lebih maskulin lagi." Andres menimpali diiringi tawanya yang disahuti tawa Davin. Denis hanya menanggapi kedua orang itu dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. Dia tidak marah sama sekali dengan ucapan dari papa tirinya.


"Kalian ini." Rania menggelengkan kepalanya melihat kekompakkan ayah dan anak dalam menggoda Denis.


Selesai sarapan bersama, Rania pamit untuk masuk kedalam kamarnya. Duduk ditepi pembaringan dan dia termenung hingga Andres mengejutkannya.


"Ada apa? Kenapa melamun seperti ini? Bukannya kamu bahagia karena sebentar lagi Denis akan segera menikah?" Andres duduk disebelah istrinya. Mengambil tangan Rania dan menggenggamnya dengan lembut.


"Aku sedang berpikir, Denis itu kan perempuan. Saat menikah, seharusnya walinya adalah ayah kandungnya. Bagaimana menurutmu?" Ujar Rania sedikit ragu. Andres terdiam sesaat.


"Kamu benar. Aku bahkan tidak memikirkan itu karena terlalu fokus dengan hal yang lain."


"Hari ini aku ingin menemui Bisma. Bagaimanapun juga, dia ayah kandung Denis. Sebenci apapun aku pada dia, tapi darahnya mengalir pada tubuh putriku." Lirih Rania berkata. " Apa boleh aku menemuinya?" Tanyanya kemudian.


"Tentu saja. Aku akan menemanimu." Andres mengelus lembut tangan istrinya. Rania tersenyum lega. Dia sangat bersyukur karena memiliki suami sebaik Andres. Pria yang selalu memberi dia dukungan dan selalu ada dalam keadaan apapun juga.


"Terima kasih. Aku sangat mencintaimu." Bibirnya berucap tulus.


"Aku lebih mencintaimu." Andres mengecup punggung tangan Rania. Keduanya saling melemparkan senyuman sebelum keluar dari kamar untuk menuju ke tempat Bisma berada.


*****


Bisma menunduk malu berada dihadapan Rania yang begitu cantik dan elegan. Aura kebahagiaan terpancar jelas diwajahnya yang semakin jelita diusianya yang sudah menjejak empat puluh tahun. Justru di usianya sekarang, Rania kelihatan lebih dewasa dan matang. Sangat berbeda dengan Rania yang dulu dia tinggalkan diusianya yang belum genap dua puluh tahun.


Bisma mendesah pelan. Rasa sesal menyelusup ke dalam sanubarinya. Menyesali dirinya sendiri yang telah tersesat dan memilih jalan yang salah. Teringat lagi bagaimana dulu dia menikahi Rania dengan mendapat penolakan dari kedua keluarga besar mereka. Saat itu pernikahan dilaksanakan hanya untuk menutupi aib keluarga karena Rania sudah hamil saat masih berstatus sebagai pelajar. Tidak ada niat dirinya sedikitpun untuk membina rumah tangga diusianya yang masih terlalu muda saat itu. Yang dia tahu saat itu hanyalah bersenang-senang.


Dan sayangnya, bahkan setelah itu dia tidak berniat membangun rumah tangga dengan siapapun. Dia adalah pria brengsek yang tidak pernah memikirkan tanggung jawab. Dia hanya mengikuti arus hasratnya yang tidak pernah berujung. Bahkan dia tak pernah ingin tahu kabar tentang putri yang ditinggalkannya bersama Rania. Sampai semua tragedi yang terjadi antara dirinya dan Alex membawa dia pada satu sisi lain kehidupannya.


"Apa kabar?" Rania membuka suara. Dia tidak ingin terlalu lama berada disana. Tujuan utamanya sudah jelas untuk membicarakan masalah Denis, putri mereka. Bukan untuk mengenang masa lalu mereka.

__ADS_1


"Aku baik. Terima kasih sudah menanyakan kabarku. Bagaimana denganmu?" Tanya Bisma dengan suara lemah. Matanya sayu menatap Rania. Tidak ada lagi rasa percaya diri dan kesombongan dihadapan wanita itu.


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik."


"Bagaimana kabar..Denis?" Dia menunduk saat menanyakan itu.


"Dia sangat baik. Aku kesini juga untuk membicarakan masalah Denis." Bisma mendongak. Nampak sedikit terkejut.


"Ada apa dengan Denis?"


"Dia akan segera menikah. Dalam seminggu lagi dia akan menikah."


"Dia akan menikah?" Seolah yang dikatakan Rania kurang jelas dipendengarannya.


"Ya. Dan kamu tahu dengan siapa dia akan menikah?"


"Alex?"


"Ya."


Bisma terdiam. Hatinya perih. Teringat lagi semua yang sudah dia lakukan kepada Alex dan mendiang Arga Dinata. Dia tahu semua itu tak akan pernah bisa termaafkan. Dia pasrah jika Alex akan membencinya seumur hidupnya. Namun kini, Alex malah berniat untuk menikah dengan putrinya. Putri dari pria yang sudah menghancurkan hidup Alex sendiri.


Bisma merasa sangat tertampar dengan kenyataan itu. Dua kali sudah dia merasa dirinya jatuh kedalam jurang yang paling dalam dan tak ingin muncul lagi ke permukaan. Pertama adalah saat dia mengetahui Denis adalah putrinya. Saat itu dia merasa dunianya telah tebalik. Saat dia teringat bagaimana dengan kedua tangannya telah membuat tubuh itu melayang kedalam jurang didepan matanya sendiri dengan tanpa penyesalan sedikitpun. Juga saat peluru yang dimuntahkan oleh pistol yang dipegang oleh tangannya menembus tubuh itu dan menumpahkan darahnya. Saat itu Bisma merasa tidak pantas untuk dipanggil papa oleh gadis itu. Hatinya sangat remuk.


"Aku kesini hanya untuk memberi tahumu. Bagaimanapun juga, pernikahan Denis harus sesuai dengan aturan agama dan negara. Kamu adalah ayah kandungnya. Kamu berhak tahu akan hal ini dan mengijinkan Denis untuk diwalikan oleh wali hakim." Ucapan Rania memutus slide memori yang dengan gamblang memenuhi pikiran Bisma.


"Terima kasih karena memberitahuku. Kamu adalah wanita yang sangat baik. Kamu berubah menjadi wanita yang sangat dewasa. Aku berdoa semoga kamu dan Denis selalu bahagia."


"Baiklah. Hanya itu saja keperluanku ke sini." Tanpa menunggu jawaban Bisma, Rania bangkit dari tempat duduknya. " Semoga kamu bisa menjalani semua ini dengan baik." Ucapnya kemudian dan segera beranjak dari tempat itu. Tak dihiraukannya wajah Bisma yang seakan belum rela mengakhiri percakapan mereka.


"Rania.." Panggilan dari Bisma menghentikan langkah Rania. Dia membalikkan tubuhnya menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria itu.


"Bolehkah aku..bertemu..Denis?" Ragu Bisma mengatakan itu.


Rania terdiam sesaat.


"Akan aku sampaikan pada Denis. Tapi aku tidak tahu apa dia mau menemuimu atau tidak."


"Terima kasih."


Setelah itu Rania benar-benar melangkahkan kakinya meninggalkan Bisma. Dibelakang punggungnya, Bisma menatap kepergian mantan istrinya itu dengan tatapan sendu.


Andres yang menunggu Rania ditempat parkir menatap istrinya yang berjalan keluar dari dalam Lapas tempat Bisma berada.

__ADS_1


"Sudah?" Tanyanya sambil membukakan pintu mobil untuk Rania.


"Ya."


Andres menutup pintu mobil dan berjalan memutar untuk masuk ke bagian lain mobil itu.


"Bagaimana? Apa kalian bicara dengan baik?" Tanyanya seraya menghidupkan mesin mobil.


"Ya. Dia juga ingin bertemu Denis." Ujar Rania dengan sedikit enggan.


Mobil bergerak perlahan meninggalkan tempat parkir.


"Apa menurutmu, Denis mau menemuinya?" Tanya Rania setelah beberapa saat.


"Bicarakan saja dengan Denis. Aku yakin, dia punya pemikiran yang bijaksana. Sama seperti kamu." Andres meraih tangan istrinya dan mengecupnya singkat.


"Dan semoga, suaminya nanti sebaik kamu dan mencintainya sebesar kamu mencintaiku." Rania balas melemparkan pujian. Senyuman keduanya mengembang sepanjang perjalanan dengan sebelah tangan Andres memegangi tangan istrinya.


*****


Rania sudah mengatakan keinginan Bisma kepada Denis. Dia menceritakan pertemuan singkatnya dengan pria itu dan mengatakan apa yang dikatakan Bisma padanya.


Seperti biasa gadis itu hanya diam menyimak apa yang diucapkan mamanya. Namun sesungguhnya didalam hatinya, dia mencerna baik semuanya dan dia memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan.


"Bagaimana? Apa kamu bersedia untuk bertemu dengannya?" Tanya Rania dengan sangat hati-hati. Dia bisa memahami jika Denis tidak mau menemui pria itu. Tapi sebagai ibu yang baik, dia harus menunjukkan satu jalan kebaikan kepada putrinya. Dia tidak ingin putrinya menjadi seorang pendendam. Dia juga sangat tahu, dibalik sikap Denis yang dingin dan acuh, dia memiliki hati yang lembut dan baik.


"Alex juga mengajakku untuk bertemu pria itu. Mungkin aku akan pergi bersamanya." Sahut Denis pelan. Saat itu mereka sedang berada didalam kamar Denis.


Rania menghela nafas lega. Senyuman lembut mengulas dibibirnya.


"Mama sangat senang mendengarnya." Rania mengusap tangan Denis menunjukkan kebahagiaannya akan putrinya yang memilki hati yang besar.


"Tapi aku belum bisa memaafkannya." Cetus Denis kemudian.


"Biarlah waktu yang akan melakukannya. Mama tidak bisa memaksamu. Mama yakin, suatu hari nanti kamu akan bisa memaafkan dia. Seperti mama yang kini tidak memiliki perasaan dendam apapun padanya. Mama sudah cukup bahagia dengan memilikimu dan mendapatkan kasih sayangmu. Mama memiliki papa Andres yang selalu mendukung mama dan juga Davin yang sangat menyayangimu. Itu semua lebih dari cukup. Mama bersyukur pada Tuhan karena kini mama memiliki kalian semua."


"Mama.." Denis merangkul mamanya. Menjatuhkan kepalanya dibahu sang mama, persis seperti seorang anak gadis yang bermanja kepada ibunya.


Rania menarik kepala gadisnya itu dan menghujani dengan ciuman.


"Sekarang kamu akan meninggalkan mama lagi. Tapi mama bahagia. Kamu akan pergi untuk membina keluarga kamu sendiri. Mama selalu mendoakan kebahagiaanmu. Mama yakin, Alex adalah pria yang terbaik untukmu. Dia akan menyayangimu dan pastinya bisa membahagiakanmu."


Denis mengeratkan pelukan ditubuh Rania. Keduanya larut dalam keharuan.

__ADS_1


*****


__ADS_2