
Tanpa mempedulikan motornya yang terdampar hingga ke atas trotoar, Denis bergegas menghampiri seorang pria yang terduduk di pinggir jalan. Untunglah dia masih bisa mengendalikan motornya hingga tidak sampai mengalami kecelakaan fatal. Saat ini yang dia khawatirkan adalah orang yang baru saja tertabrak olehnya. Atau hanya terserempet saja, Denis harus meyakinkannya sekarang.
Pria itu nampak masih sangat shock dan hanya mampu terduduk di pinggir jalan. Tangannya yang sedikit gemetar menekan dadanya yang bergerak agak cepat. Sampah botol plastik nampak berhamburan ditengah jalan. Sepertinya pria itu seorang pemulung. Dan sepertinya, Denis sudah menyenggol barang bawaan pria itu, bukan orangnya.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Denis setelah dekat dengan pria itu. Dia bisa bernafas lega melihat pria itu sepertinya baik-baik saja.
"Saya enggak apa-apa." Pria itu bangkit tanpa menoleh kepada Denis. Denis membantunya berdiri.
"Saya yang tidak hati-hati karena sedang terburu-buru," ucap pria itu.
Tanpa menghiraukan Denis, pria itu bergegas meninggalkan tempat itu.
"Pak! Tunggu!" Denis memanggil pria itu. Namun pria itu tak menoleh sedikitpun. Malah dia setengah berlari saat sebuah mobil datang menghampiri dan berhenti tidak jauh darinya. Sesaat Denis hanya memperhatikan saja saat dua orang pria keluar dari mobil itu dan menarik pria yang baru saja tersenggol motornya.
Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Denis dapat melihat kalau pria pemulung itu ditarik masuk kedalam mobil oleh kedua pria tersebut.
"Hei!!" Denis berseru seraya mendekati orang-orang itu saat dilihatnya pria tua itu menolak untuk masuk kedalam mobil.
"Lepaskan pria itu!!" Denis berteriak lantang.
Kedua pria itu menoleh serentak ke arah Denis, seakan baru sadar kalau ada orang lain yang berada disana.
"Jangan ikut campur! Ini bukan urusan lo!" Salah seorang diantaranya balas membentak Denis dengan garang. Suasana tempat itu yang jauh dari lampu jalan membuat Denis tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang-orang itu.
"Gue ada disini! Jadi ini akan jadi urusan gue sekarang!" Denis berjalan mendekat. Nalurinya mengatakan kalau kedua pria itu memiliki niat tidak baik kepada pria tua yang baru saja tersenggol motornya.
"Lepaskan dia!!"
"Mau cari mati lo?" Pria yang satunya lagi sepertinya tidak bisa lagi bersabar. Dia melepaskan tangan pria pemulung yang sedang dipegangnya.
"Kalian mau apa dengan pria itu?" Denis tidak merasa gentar sedikitpun melihat kegarangan pria itu.
"Lo gak usah ikut campur. Atau Lo mati sekarang juga!!"
Tanpa basa-basi lagi pria itu meluru ke arah Denis dan melayangkan pukulan telak mengarah ke wajah Denis.
Secepat kilat Denis menghindar sekaligus menggerakkan tangannya untuk menepis serangan pria itu.
Pria itu cukup terkejut saat serangannya dapat dihindari oleh lawannya. Dia kembali menyerang Denis namun dengan tenang Denis dapat mengimbangi serangan pria tersebut. Bahkan dalam satu kesempatan Denis dapat mengait kaki pria itu hingga pria itu terjatuh menghujam tanah.
Temannya yang sedari tadi hanya menyaksikan perkelahian temannya dengan Denis, tak urung melepaskan tangan pria tua yang sedari tadi dia pegang dengan erat. Dia melompat menyerang Denis dengan kakinya yang bagaikan busur panah menghujam dada Denis. Namun dengan gesit Denis menghindar ke samping kanan dengan hanya mencondongkan kedua kakinya.
Teman pria itu yang terjerembab di tanah sudah bangkit. Dia bersiap menyambung serangan temannya kepada Denis. Sehingga sekarang perkelahian itu menjadi dua lawan satu.
__ADS_1
Dengan lincah Denis meladeni kedua orang itu yang dalam postur tubuhnya lebih besar dan lebih kekar dibandingkan dengan Denis. Namun rupanya postur tubuh tidak menjadi jaminan kedua orang itu untuk menang mudah melawan Denis. Pada kenyataannya mereka kesulitan dalam menghadapi Denis. Bahkan bukan sekali Denis berhasil mendaratkan pukulan dan tendangan kepada kedua pria tersebut.
Suasana hati Denis yang sedang tidak baik seakan mendapatkan pelampiasan yang tepat dengan melawan kedua orang itu. Kekesalannya akan perlakuan Alex dan teman Ricko tadi membuat Denis membabi buta menghajar kedua pria itu hingga akhirnya keduanya terkapar di jalanan.
Raungan motor yang datang menghentikan serangan Denis. Dia mengatur napasnya dengan tangan masih terkepal dan matanya tajam menatap kedua pria itu. Dengan susah payah kedua pria itu bangkit dan tertatih memasuki mobilnya. Tak dihiraukannya lagi pria tua yang tadi hendak mereka bawa bersama mereka.
Denis membiarkan kedua pria itu pergi begitu saja dari hadapannya.
"Denis? Ada masalah apa?"
Pengendara motor yang baru datang ternyata Ricko. Matanya mengikuti jejak mobil kedua pria itu yang dalam sekejap sudah pergi menjauh. Maryana membonceng di belakang tubuhnya dan menatap Denis dengan penuh khawatir.
Belum sempat menjawab pertanyaan Ricko, Denis teringat dengan pria tua tadi yang hendak dibawa paksa oleh kedua orang itu. Dia segera mencari pria tua itu dengan mengedarkan pandangannya disekitar tempat itu.
Dalam keremangan lampu jalan dia dapat melihat pria itu berjalan menjauh dari sana.
"Pak! Tunggu!" Denis segera menyusul langkah pria itu.
Ragu pria itu menghentikan langkahnya. Menunggu Denis hingga Denis berjarak cukup dekat dengannya.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Denis saat sudah cukup dekat dengan pria itu.
"Saya baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolong saya," pria itu menundukkan wajahnya. Menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Denis.
"Bapak ini ... ?"
Pria tua itu mendongak dan menatap Denis. Saat itu motor Ricko mendekat dan menyorot wajah pria itu. Denis terkejut bukan main saat melihat siapa pria tua yang sekarang ada di hadapannya.
"Pak Darman?? Ini betul Pak Darman?" Setengah tak percaya dengan penglihatannya, Denis terpana melihat pria itu.
"Denis??" Pria itu sama terkejutnya dengan Denis.
Denis segera meraup tangan pria itu dan mencium punggung tangannya dengan bahagia.
"Denis, Lo kenal sama dia?" Ricko melongo melihat pemandangan di hadapannya.
*****
Malam yang semakin larut diselimuti udara yang semakin dingin menusuk kulit. Denis membawa Pak Darman pulang ke rumahnya. Sedangkan Ricko, dia mengantarkan Mariana pulang ke rumah kost-nya.
Saat Denis tiba dirumah, ternyata Alex tidak ada. Penjaga rumah mengatakan kalau Alex sempat pulang namun kembali pergi untuk mencari dirinya. Denis hanya menganggukkan kepalanya dan tak begitu menghiraukan hal itu. Saat ini dia lebih mengutamakan Pak Darman.
Denis menempatkan Pak Darman disebuah kamar di lantai bawah. Memberinya pakaian untuk ganti dan menunjukkan kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Dia kemudian membangunkan Bi Yati dan menyuruhnya untuk menyiapkan makanan untuk Pak Darman.
__ADS_1
"Bagaimana bapak bisa ada di kota ini? Apa yang terjadi? Siapa orang-orang tadi? Apa bapak mengenal mereka?" Runtutan pertanyaan Denis saat Pak Darman sudah selesai makan. Denis menemaninya di meja makan dengan beragam pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Matanya tak pernah lepas sedikitpun dari pria itu yang nampak lebih segar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Ceritanya panjang." Pak Darman menarik napas berat. "Jadi ini rumah kamu?" Dia mengalihkan pandangannya mengitari seluruh ruangan.
"Sebenarnya, ini rumah Alex." Jawaban Denis membuat Pak Darman kembali menatap Denis dengan antusias.
"Alex? Mana dia sekarang? Bapak juga ingin bertemu dengannya."
"Dia sedang keluar. Mungkin sebentar lagi pulang." Sahut Denis. "Sebaiknya bapak istirahat dulu. Besok saja bapak cerita bagaimana bapak bisa ada di kota ini. Saya sangat penasaran sebenarnya. Tapi bapak pasti sangat lelah."
"Terima kasih, Denis. Kamu sudah menolong bapak." Ujar Pak Darman dengan suara penuh rasa haru.
"Bapak tidak perlu berterima kasih. Saya bersyukur karena saya bertemu dengan bapak."
Setelah itu Denis mengantar Pak Darman ke kamarnya. Menutup pintunya setelah mengucapkan selamat malam. Senyum bahagia nampak tersungging dari bibir pria tua itu sebelum pintu tertutup.
Denis menjatuhkan tubuhnya di sofa. Mengeluarkan ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang dikirimkan Alex. Puluhan panggilan telepon yang dia abaikan hampir semuanya dari Alex.
Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Denis mulai merasa resah. Bagaimanapun juga Alex adalah suaminya. Dia juga sangat mencintai pria itu. Kekesalannya pada Alex berganti dengan perasaan khawatir karena pria itu belum juga pulang.
'Atau dia malah sedang bersama Viola sekarang?' Tiba-tiba terlintas pikiran itu. Namun Denis segera mengenyahkan bisikan itu. Penjaga rumah mengatakan Alex pulang sendirian dan pergi untuk mencari dirinya.
Denis bermaksud untuk menelepon Alex saat sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumah. Denis dapat mengenali itu sebagai mobil Alex. Dia bernafas lega saat mengetahui Alex akhirnya pulang.
Tanpa menunggu pria itu, Denis segera berlalu dari ruangan itu menuju kamarnya. Membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Baru disadarinya ternyata dia merasa cukup letih setelah perkelahiannya yang terjadi tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1