
Seorang wanita yang berusia lebih dari setengah abad dengan penampilannya yang sangat terjaga dan gayanya yang angkuh. Duduk dikursi kebesaran didalam ruang kerjanya yang sangat nyaman.
Seorang pria berdiri dihadapannya dengan sangat sopan menunjukkan dimana status dia dihadapan wanita tua itu.
" Apa dia sudah lebih baik?"
"Saya lihat begitu. Dokter Irwan juga sudah memeriksanya dan beliau mengatakan kalau dia sudah lebih baik."
"Apa dokter Irwan mengatakan kapan dia bisa melakukan operasi?"
"Saat ini belum bisa. Mungkin beberapa hari kedepan. Dia baru saja mendapat luka dibahunya dan sebaiknya menunggu luka itu sembuh."
"Apa itu berpengaruh? Sebaiknya jangan menunda-nunda. Aku tidak mau kalau sampai rencanaku gagal." Wanita tua itu mendelikkan matanya tanda tidak suka dengan alasan yang diberikan oleh anak buahnya itu.
"Aku ingin bertemu dengannya." Katanya kemudian.
"Baik."
Pria itu menganggukkan kepalanya dengan patuh, tak ingin membantah lagi. Dengan sigap dia mendekatkan kursi roda kepada wanita itu. Hati-hati sekali wanita itu menaiki kursi rodanya dan segera didorong oleh pria itu keluar dari ruang kerjanya.
Tujuannya adalah sebuah kamar yang berada terpisah cukup jauh dari ruang kerja yang baru saja mereka tinggalkan. Luasnya rumah itu membuat jarak diantara ruangan cukup menyita waktu.
Seorang pria nampak berjaga didepan kamar itu. Dia mengangguk hormat kearah wanita tua itu. Dibukanya pintu kamar sebelum wanita itu menyuruhnya.
Wanita itu memasang ekspresi berbeda ketika memasuki kamar. Seseorang nampak sedang berdiri diambang jendela kamar yang berteralis besi.
"Icha, kamu belum makan?" Matanya melirik kearah makanan yang masih utuh diatas meja.
Orang yang dipanggil Icha itu tiada lain adalah Denis. Dia menoleh ke arah wanita tua yang baru saja memasuki kamar yang dia tempati sejak tadi malam.
"Makanlah. Bukankah kamu baru saja sembuh? Dokter juga menyuruh nenek agar mengawasi pola makanmu."
Wanita tua itu adalah Aryanti, ibunda dari Rania dan sekaligus adalah nenek dari Denis.
Denis menatap dingin wanita itu.
"Katakan saja apa yang nyonya inginkan dari saya?" Pertanyaannya bernada sinis. Sesinis tatapannya kepada wanita itu.
"Ayolah sayang. Apa kamu tidak kangen sama nenekmu ini? Nenek juga sangat kangen sama kamu. Satu tahun lebih kamu menghilang. Itu waktu yang cukup lama bukan?"
"Tapi pastinya tidak akan cukup membuat anda merasa kangen kepada saya, bukan?"
"Jangan bicara seperti itu. Nenek sangat menyesali semua yang telah nenek lakukan kepadamu dimasa lalu. Tapi percayalah, apapun yang nenek lakukan, itu adalah demi kebaikanmu. Hanya saja kamu telah menyalah artikan semua yang nenek lakukan. Kamu selalu berpikiran negatif tentang nenek." Wanita itu berbicara dengan lembut, namun sorot matanya menghunjam wajah Denis.
"Kenapa anda menyesal? Bukankah itu adalah yang seharusnya anda lakukan kepada saya."
"Icha.."
__ADS_1
"Denis."
"Baiklah, Denis. Bicaralah secara normal kepada nenek. Aku ini nenekmu. Kamu adalah cucuku. Begitulah seharusnya."
"Sejak kapan saya menjadi cucu anda?"
"Sayang, maafkan nenek yang selalu bersikap buruk kepadamu. Tapi mulai saat ini, kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan. Hak kamu akan nenek berikan. Tinggallah dirumah ini. Mintalah apa saja kepada nenek. Nenek akan memberikan semuanya."
Denis tersenyum miring.
"Dan, imbalan apa yang harus saya berikan kepada anda?"
Wanita itu menghela nafas.
"Sepertinya kamu tidak ingin berbasa-basi dengan nenek. Baiklah. Nenek akan mengatakan terus terang kepadamu." Aryanti menjeda ucapannya. Mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Sejak kepergianmu, kesehatan nenek terus terganggu. Nenek menyadari kesalahan nenek kepadamu. Nenek berfikir, mungkin itu adalah karma atas perbuatan nenek kepadamu. Nenek menerimanya dengan sabar dan nenek terus berusaha mencarimu untuk meminta maaf. Namun pencarian nenek sia-sia."
Wanita itu mengatur nafasnya yang mulai tersengal. Entah karena faktor penyakitnya ataukah karena emosinya yang mulai menyesakkan dadanya.
"Dokter memvonis nenek gagal ginjal. Awalnya masih bisa diobati, namun sekarang, dokter menyarankan agar nenek mencari pendonor yang tepat untuk ginjal nenek. Dan, setelah melihat catatan medismu, dokter menyimpulkan kalau kamulah orang yang cocok untuk menjadi pendonor ginjal bagi nenek." Tidak ada keraguan sedikitpun ketika dia mengatakan itu.
Denis tertegun. Menatap wanita tua dihadapannya dengan rasa tidak percaya. Jadi ini maksud wanita itu membawa dirinya kerumah ini? Ternyata memang tidak ada perasaan sayang sedikitpun dari wanita itu untuk dirinya. Wanita itu hanya ingin mengambil sesuatu dari dirinya.
"Nenek mohon Denis, jadilah pendonor untuk nenek. Dan kamu akan mendapatkan nama besar Adiwijaya dibelakangmu. Kamu akan mendapatkan keluargamu. Kamu juga akan mendapatkan warisan apapun yang kamu inginkan. Rumah, perusahaan. Semuanya akan menjadi milik kamu."
"Kenapa anda tidak memintanya kepada cucu anda?"
"Kamulah cucu nenek, Denis."
"Anda memiliki dua orang cucu kesayangan kalau saya tidak salah."
"Hanya kamu yang cocok untuk donor ini. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan kalau kamu memanglah pewaris Adiwijaya yang sesungguhnya."
Denis menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana Denis? Kamu mau kan memberikan ginjalmu untuk nenek?"
"Nyonya yang terhormat, anda pernah mengatakan kalau saya adalah anak yang tidak berguna.."
"Nenek mengaku salah.."
"Dan saya tidak pantas hidup didunia ini apalagi menyandang nama besar Adiwijaya yang terhormat.."
"Nenek cabut kata-kata itu.."
"Jadi saya tidak peduli anda menginginkan ginjal saya ataupun nyawa saya sekalipun. Silakan lakukan apapun yang ingin anda lakukan."
__ADS_1
"Denis. Benarkah? Itu artinya kamu mengijinkan nenek untuk mengambil ginjal kamu?" Wajah wanita itu berbinar. Lagi-lagi Denis menggerakkan kepalanya. Merasa heran dengan kelakuan wanita tua itu.
"Ibu!! Apa maksud kata-kata ibu barusan?"
Sebuah pekikan dari arah pintu membuat Aryanti dan Denis menoleh ke arah sumber suara.
Rania berdiri diambang pintu dengan mata terbuka lebar. Tubuhnya bergetar menahan amarah.
"Rania?"
Rania melangkahkan kakinya dengan gusar mendekati Aryanti.
"Ibu ingin mengambil ginjal Icha? Apa betul bu?"
"Rania, ibu.."
"Kenapa ibu tega sekali berpikir untuk melakukan itu pada putriku? Apa belum cukup semua perlakuan buruk ibu kepadanya selama ini? Aku pikir ibu sudah benar-benar menyesali perbuatan ibu. Rupanya itu hanya untuk menutupi maksud ibu yang sebenarnya." Suara Rania memenuhi seluruh ruangan dimana dia berdiri menentang mata ibunya dengan sengit. Hatinya sangat sakit mengetahui fakta bahwa ibunya menginginkan ginjal Denis untuk dirinya.
"Kenapa ibu tidak pernah sekalipun bisa menyayangiku dengan tulus. Ibu tidak bisa menerima putriku dengan penuh kasih sayang. Kenapa bu?" Rania berteriak dengan airmata berderai.
"Kau pun tidak bisa menerima dia karena dia anak dari lelaki bejat itu kan? Dari lelaki yang bahkan tidak menginginkannya ada didunia ini? Kaupun mengabaikannya. Kau adalah ibu kandungnya. Menurutmu apa aku bisa menerima dia sedangkan kau saja tidak bisa menerima dia?" Aryanti membalas tak kalah kerasnya dari suara putrinya. Tangannya berulangkali menunjuk ke arah Rania dan Denis bergantian.
Ditempatnya berdiri, Denis hampir kehilangan kekuatannya. Tubuhnya terasa lemas dan hatinya berdenyut sakit. Ada rasa panas menyeruak didalam kelopak matanya. Tangannya mencengkeram teralis besi jendela kamar didekat dia berdiri. Menahan agar dia tetap bisa berdiri melihat perdebatan sengit antara dua wanita berbeda usia itu.
"Aku menyayangi putriku, bu. Hanya keegoisanku telah menenggelamkan perasaan sayangku padanya. Diluar semua itu, dia tetaplah anakku, yang telah aku kandung selama sembilan bulan dan aku melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawaku. Aku hanya benci kepada ayahnya, bukan kepada dirinya." Tangisan Rania tidak bisa dibendung lagi.
"Ya. Dan akulah yang sudah mengandung dan melahirkanmu. Kau harusnya berbakti kepadaku. Bukan terus menerus menentangku. Sekarang tunjukkan baktimu kepadaku. Biarkan dia memberikan ginjalnya padaku. Dia tidak akan mati hanya karena memberikan satu ginjalnya padaku. Bahkan dia tidak mati saat ayah kandungnya sendiri menembaknya. Benarkan?"
Ucapan Aryanti bagaikan petir yang menyambar tepat dikepala Denis. Denis terpana dengan tubuhnya terpaku namun percayalah, dia seolah telah kehilangan tempat pijakannya. Jantungnya seakan dicabut dari tempatnya bersemayam saat ini.
"Apa maksud kata-katamu nyonya?" Suara Denis menggeram. Hampir tidak lolos dari tenggorokannya.
"Jangan dengarkan kata-kata dia, sayang." Rania mendekati Denis dengan langkah lebar. Namun gerakan tangan Denis yang memberi isyarat agar dia berhenti, membuatnya menyurutkan langkahnya. Matanya yang berkabut menatap penuh sesal putrinya itu.
"Apa yang aku katakan adalah kenyataan yang harus kamu terima. Nama ayahmu adalah Bisma, orang yang sama yang sudah menembakmu. Ya, sebrengsek itulah ayahmu. Sekarang kamu mengerti kenapa kami tidak bisa menerimanya dan juga dirimu? Seharusnya kamu tahu diri, kalau bukan keluarga ini yang telah merawat dan membesarkanmu, tidak mungkin kamu ada didunia ini."
"Hentikan ibu!! Apa yang ibu katakan? Bisa-bisanya kata-kata itu keluar dari mulut ibu. Aku benar-benar kecewa sama ibu. Aku benci ibu!!" Rania menjeritkan kata-kata itu. Bersamaan dengan itu tubuhnya limbung, tak kuasa menahan beban perasaan yang begitu berat ia rasakan.
Sebuah tangan kokoh menahan tubuh Rania dari arah belakang. Andres dengan sigap memeluk tubuh istrinya. Matanya tajam menatap ibu mertuanya.
"Anda tidak pantas mendapat kasih sayang seorang putri seperti Rania. Saya tidak akan membiarkan dia menginjakkan kakinya dirumah ini, walau anda mati sekalipun." Dia menekan kata-katanya dalam sebuah geraman.
Dengan satu gerakan dia membopong tubuh lemah istrinya yang tak berdaya dalam tangisan. Dibawanya dengan cepat keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Alex yang sejak awal telah berada diluar ruangan bersama Andres, segera masuk dan menarik tubuh Denis yang sama lemahnya seperti Rania. Dia begitu shock menerima kenyataan yang begitu menghantam jiwanya. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya yang menggeletar. Dia tidak menolak sedikitpun ketika Alex membawanya keluar dari dari rumah itu. Memasukannya kedalam mobilnya dan segera berlalu dari dalam rumah megah itu.
*****
__ADS_1