Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Lima


__ADS_3

Perkelahian tak dapat dihindari lagi. Kedua orang yang baru saja turun dari lantai atas bangunan itu akhirnya bisa menemukan keberadaan Denis dan Davin. Keduanya langsung menyerang Denis dan Davin begitu yakin kalau kedua orang itu merupakan penyusup.


Bahu membahu Denis dan Davin menghadapi kedua orang itu. Dan Denis sangat bersyukur, ternyata adiknya itu bisa diandalkan dalam hal berkelahi.


Namun kedua orang itupun tak bisa dianggap enteng. Mereka begitu lihai menyerang dan membalas serangan Denis. Walaupun begitu, beberapa kali hantaman tangan dan kaki Denis tak luput dari mengenai sasaran.


Kegaduhan dilantai bawah dapat diketahui oleh orang yang berada dilantai atas. Seorang pria tampan nampak terkulai pasrah dengan kedua tangan dan kakinya terikat erat.


"Kau lihat? Keberadaan kalian sudah diketahui oleh orangku. Cepat lepaskan aku!" Alex menyeringai dengan sisa darah disudut bibirnya. Dia sangat yakin kalau yang sekarang sedang berkelahi dengan anak buah Reno adalah orang yang akan menyelamatkannya. Atau, mungkinkah Denis?


Reno, orang yang telah menculiknya tadi malam sepulang dia dari rumah Denis dengan menyuruh anak buahnya. Malam tadi Alex keluar dari rumah Denis dan menyetir sendiri mobilnya karena sopir yang membawanya dari bandara sudah dia suruh pulang terlebih dahulu. Kenapa dia suruh pulang? Karena Alex tidak tahu akan berapa lama berada dirumah Denis. Dia tidak mau sopirnya itu merasa bosan karena terlalu lama menunggunya.


Tak disangka, belum begitu jauh dari rumah Denis, empat buah motor dengan masing-masing motor membawa dua orang pria telah memepetnya dan memaksanya menghentikan kendaraannya. Alex sempat melawan. Namun, mereka terlalu tangguh untuk dia hadapi seorang diri.


Akhirnya Alex berakhir dengan pasrah dibawa oleh mereka dengan menggunakan mobilnya sendiri yang dikemudikan oleh salah seorang dari mereka. Dan yang membuatnya miris adalah saat tangan dan kakinya berhasil diikat oleh mereka. Membuatnya semakin tidak berdaya.


Bayangan masa lalu yang pernah membuat dia berada diambang kematian sempat menghantuinya. Namun begitu tahu siapa dalang dari semua itu, amarah Alex menjadi tersulut. Reno, orang yang berada dibalik penculikan dirinya. Dan dia melakukan semua itu, semata-mata demi harta yang tidak sabar ingin segera dia kuasai.


"Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik, Reno. Kenapa kamu malah mengambil jalan ini?" Alex menatap tajam pria muda yang sedari kecil sudah dianggap sebagai adik kandungnya itu.


"Bicara baik-baik seperti apa, Alex? Sepertinya diantara kita berdua tidak akan pernah bisa bicara baik-baik." Reno menatap sinis pria yang tak berdaya dalam ikatan itu.


"Apa kamu pikir setelah apa yang kamu lakukan ini semuanya akan baik-baik saja? Kau bahkan tidak akan mendapatkan apa-apa."


"Memang itu tujuan utamamu kan? Kau tidak ingin memberiku apapun padaku. Bahkan mamaku kamu penjarakan. Aku tidak rela dengan semua yang kamu lakukan kepadaku dan juga kepada mamaku."


"Semua itu setimpal dengan apa yang telah mamamu lakukan kepadaku dan juga kepada papaku. Dia pantas untuk mendekam dipenjara seumur hidupnya."


"Tidak akan aku biarkan itu terjadi, Alex. Akan kupastikan, kau sendiri yang akan melepaskan mamaku dari tahanan, dan juga, kamu harus memberikan semua yang sudah menjadi milik mamaku."


"Jangan pernah bermimpi, Reno. Dan satu hal, aku tahu siapa kamu sebenarnya." Alex tersenyum miris. Menatap Reno dengan tajam namun penuh luka.


"Apa maksudmu? Apa yang kamu ketahui?"


"Kamu..bukanlah anak papaku. Kamu...anak dari pria itu!!" Alex merapatkan gerahamnya setelah mengatakan itu. Reno terkejut. Namun kemudian dia terkekeh sesaat kemudian.


"Jadi kamu sudah tahu? Baguslah kalau begitu. Aku jadi tidak perlu berpura-pura kasihan padamu. Sekarang semuanya sudah jelas kan? Tapi semua orang tahu bahwa aku adalah anak dari Arga Dinata. Jadi aku harus mendapatkan warisan dari Arga Dinata. Diatas kertas aku memiliki hak yang sama sepertimu."


"Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan secuil saja harta peninggalan papaku. Anak haram." Alex menekankan kata itu.

__ADS_1


Prang!!


Reno membanting sesuatu ke atas lantai. Api amarah berkobar dimatanya saat menatap Alex. Tangannya yang berurat mencengkram leher Alex.


"Cepat suruh pengacaramu untuk membuat surat pengalihan hartamu atas namaku!! Atau nyawamu akan melayang saat ini juga!!" Reno menaikan suaranya. Dia berada dipuncak amarahnya.


"Lebih baik aku mati daripada aku menyerahkan harta peninggalan papa kepada orang-orang licik seperti kalian."


Bugh!!


Tinju Reno yang keras menghantam rahang Alex. Tak cukup sekali. Dengan membabi buta Reno menghajar Alex yang tidak berdaya.


Tiba-tiba bunyi deringan telepon terdengar dari area bagian bawah bangunan itu. Semua yang ada disana terkejut dan saling menatap satu sama lain. Semua sedang berada diruangan itu saat ini. Lalu telepon siapa yang berbunyi barusan?


Reno memberi isyarat kepada anak buahnya agar memeriksa kebagian bawah. Dua orang anak buah Reno dengan sigap keluar dari ruangan itu dan bergegas menuju lantai bawah. Tidak lama kemudian terdengar perkelahian dari arah bawah.


"Sepertinya ada tamu tak diundang." Reno menyeringai. "Cepat juga anak buahmu menemukan tempat ini."


Alex tersenyum kecut. Rasa sakit diwajahnya tak dia hiraukan. Kedatangan seseorang diruang bawah merupakan angin segar yang sedikit memberi dia harapan.


Reno memberi instruksi kepada anak buahnya yang lain agar membawa Alex keluar dari ruangan itu. Dengan menggunakan jalan yang berbeda mereka bergerak meninggalkan tempat penyekapan Alex. Keluar melaui jalan belakang menuruni tangga besi melingkar yang ada di bagian luar bangunan.


Namun belum sempat Reno membawa masuk Alex kedalam mobil itu, tiba-tiba beberapa orang langsung menyerang Reno dan anak buahnya. Perkelahian pun terjadi di bagian belakang gedung tua itu. Walau dalam keadaan remang-remang, namun tak membuat mereka keliru dalam menentukan lawan masing-masing.


Reno tak lepas dari serangan para pendatang itu. Jumlahnya yang banyak membuat dia dan anak buahnya kewalahan dalam menghadapi serangan yang tiba-tiba.


Alex terlepas dari pengawasan Reno karena Reno sendiri disibukkan dengan serangan dari orang-orang yang baru datang. Dengan tertatih dia segera menyingkir dan berusaha melepaskan diri dari ikatan ditangannya.


"Alex!" Sebuah suara yang sangat dikenalinya. Alex berbalik dan mencari sumber suara itu. Sesosok tubuh dalam keremangan cahaya malam sudah berada dihadapannya.


Orang yang baru datang itu segera membuka ikatan ditangan Alex. Dan saat ikatan itu terlepas, Alex langsung memeluk tubuh itu.


"Sayang." Desisnya sedikit bergetar.


"Diamlah. Aku akan membantu mereka." Denis mendorong tubuh Alex. Namun baru saja dia melangkah, tiba-tiba tubuh Alex ambruk tak sadarkan diri.


"Alex!!" Denis memekik. Diraihnya kepala Alex agar tidak terbentur ke tanah.


"Ayo kita bawa Alex pergi dari sini. Biarkan anak buah papa yang menangani mereka." Davin sudah ada disampingnya. Dengan sigap dia mengangkat tubuh Alex.

__ADS_1


"Bawa saja mobilnya kesini. Berat kalau harus dibawa kesana." Kata Denis. Davin menurut. Setengah berlari dia menuju mobil yang terparkir agak jauh dari tempat itu. Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan mengendarai mobilnya. Dengan susah payah keduanya memasukkan tubuh Alex kedalam mobil. Davin segera melarikan mobilnya, membelah kegelapan malam untuk mencari rumah sakit terdekat.


Perkelahian dibelakang mereka sepertinya akan segera berakhir. Anak buah Reno satu persatu melarikan diri, menghilang dibalik kegelapan malam.


Melihat anak buahnya satu persatu menghilang, Reno pun mencari celah untuk kabur. Namun anak buah Andres tidak memberi dia kesempatan sedikitpun. Mereka harus bisa menangkap Reno dan membawanya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


*****


Di dalam mobil Denis sangat panik. Dia memeluk kepala Alex yang ada dipangkuannya.


"Alex! Sadarlah! " Dia menepuk pipi Alex pelan. Davin hanya melirik sekilas ke kursi belakang. Dia fokus untuk membawa mobilnya secepat mungkin pergi dari kawasan itu.


"Alex!" Denis menunduk. Menempelkan bibirnya dikening pria itu. Hatinya begitu sakit melihat keadaan Alex yang tidak berdaya.


"Bangunlah. Kau bilang mau mengajakku mencari gaun pengantin. Aku mau memakai gaun apapun yang kamu pilihkan untukku asalkan kamu membuka matamu saat ini." Bisiknya ditelinga pria itu. Suaranya serak menahan tangis yang mungkin sudah diraungkan oleh gadis lain jika berada dalam posisinya saat ini.


"Buka matamu. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu, Alex!" Dan jatuhlah setetes airmata Denis menimpa pipi Alex yang masih diam tak bergerak.


"Aku juga mencintaimu, Denis." Bisik Alex dengan suara lemah. Denis terkejut. Dia tak menyangka kalau pria itu sudah sadar dari pingsannya. Denis salah tingkah. Namun melihat mata pria itu yang masih terpejam rapat, Denis berpikir mungkin dia telah salah dengar tadi. Atau mungkin Alex telah mengigau.


"Cepatlah Davin! Lambat banget lo bawa mobil!!" Dia mengalihkan perhatiannya pada sang adik.


"Ini sudah cepat. Tenanglah. Dia pasti baik-baik aja." Davin menambah kecepatan kendaraannya. Diliriknya kakaknya yang nampak sangat gugup dikursi belakang.


Untunglah tidak lama kemudian mereka menemukan sebuah klinik. Tanpa pikir panjang Davin langsung memarkirkan mobilnya didepan pintu IGD. Perawat yang berjaga dengan sigap membawa brangkar dan menyongsong tubuh Alex yang sepertinya masih tak sadarkan diri di dalam mobil.


Dengan cepat Alex segera mendapat penanganan dari petugas kesehatan malam itu.


Sementara Denis menemani Alex di ruang perawatan, Davin menelepon papanya dan mengabarkan keadaan mereka saat ini. Dia memberitahukan keadaan Alex yang masuk klinik dan mungkin malam ini akan bermalam disana. Sementara Andres bisa bernafas lega mengetahui keadaan Denis dan Davin yang baik-baik saja. Juga Alex yang bisa mereka selamatkan walaupun ada dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan.


Selama dokter memeriksa Alex, Denis tak pernah jauh sedikitpun dari pria itu. Kalau boleh dia ingin terus memegang tangan pria itu. Namun dia memiliki rasa malu yang tinggi sehingga dia hanya diam agak jauh dari brankar.


Tidak lama kemudian nampak mata Alex mulai terbuka. Dia langsung mencari wajah Denis dan sedikit menarik sudut bibirnya saat melihat kekhawatiran diwajah Denis.


Melihat Alex sudah sadar, perawat segera menanyakan beberapa hal kepada Alex. Setelah itu mereka membawa Alex ke ruang USG untuk melihat luka dalam yang mungkin terjadi di bagian tubuh Alex terutamanya dibagian kepala.


Sementara menunggu hasil pemeriksaan, Alex dipindah keruang perawatan. Untuk ke sekian kalinya, Denis mendampingi Alex dalam kondisi yang nyaris sama seperti saat awal mereka bertemu.


*****

__ADS_1


__ADS_2