Rahasia Denis

Rahasia Denis
Duabelas


__ADS_3

Gadis mungil itu menggeliat. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Dia berusaha menggerakkan kedua tangannya. Baru tersadar kalau ternyata kedua tangannya menyatu dalam satu ikatan yang sangat kuat.


Bola matanya bergerak liar. Panik melanda. Mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Airmatanya mulai menyeruak keluar dari kedua rongga matanya. Ingin berteriak tapi tak bisa. Mulutnya tertutup lakban.


Tubuhnya menggigil ketakutan. Bau pengap membuat napasnya semakin terasa sesak. Dia berada didalam sebuah mobil. Dikursi depan nampak dua orang pria bertubuh kekar duduk menyandar. Sepertinya mereka tidur. Diluar nampak dua orang lainnya. Satu diantaranya sedang melakukan panggilan telepon.


Gadis itu, Sisil, dia memperhatikan orang-orang itu dengan tatapan takut. Jantungnya berdebar tak menentu. Siapa orang-orang itu, pikirnya. Bagaimana ia bisa berada ditempat ini?


Hatinya menjerit memanggil papanya. Memanggil semua orang dengan bathinnya. Dia begitu takut.


Diluar mobil, salah seorang pria sedang sibuk dengan teleponnya.


"...iya. Tenang aja bos, kali ini tidak akan gagal..."


Lelaki itu mengakhiri panggilannya. Memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya.


"Apa kata bos?" temannya bertanya.


"Kita harus habisin dia. Bos gak mau tahu, dia marah banget." pria itu mendengus. Dia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Mengedarkan pandangannya disekitar tempat itu. Sebuah tempat yang sangat sepi. Jauh dari jalan raya dan keramaian. Ada sebuah menara Sutet yang menjadi penanda tempat itu ditempat yang datar tidak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil. Dihadapan mereka merupakan lembah yang dalam yang dibawahnya mengalir sungai berair deras. Dia menyuruh ayah dari gadis yang sedang disekapnya itu untuk menemui mereka disini jam delapan pagi.


Sekarang sudah hampir jam delapan. Matahari semakin naik. Lama-lama panasnya terasa semakin menyengat.


"Tunggu sebentar lagi. Pasti mereka datang." temannya berujar.


Suara mesin motor mengalihkan perhatian mereka. Dari kejauhan nampak Denis mengendarai motor bersama Alex dibelakangnya.


Kedua pria itu saling menatap. Mereka sudah mengenal Denis. Mereka bersiap menyambut tamu yang sedari tadi sudah ditunggunya. Dua orang yang berada didalam mobil juga tahu akan kedatangan Denis. Begitu juga dengan Sisil. Ingin sekali rasanya dia berteriak memanggil Denis. Tapi itu tak bisa dia lakukan karena mulutnya yang masih tertutup lakban.


Denis menghentikan motornya agak jauh dari kedua pria itu. Turun dari motornya dan berdiri berdampingan dengan Alex. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh dua pria yang berdiri didekat mobilnya. Mobil yang sama yang datang ke bengkel tempo hari.


Kedua orang itupun merupakan orang yang sama dengan yang membuat kekacauan di bengkel. Mereka tidak memakai penutup kepala. Rupanya mereka cukup percaya diri menghadapi Denis hari ini.


"Kamu sudah siap?" Denis bertanya pelan pada Alex tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua orang itu.


"Aku siap." Jawab Alex mantap.


"Itu orang yang sama yang datang ke bengkel."


"Ya."


Denis melangkahkan kakinya sedikit memangkas jarak antara dirinya dan para penjahat itu. Alex mengikuti di belakangnya.


"Berhenti disitu." Bentak salah satu dari mereka. Wajah sangarnya sangat mengintimidasi. Membuat kecut nyali siapapun yang melihatnya. Tapi tidak bagi Denis.


"Dimana gadis itu?" Denis tak terpengaruh sedikitpun dengan tampilan orang-orang itu. Orang itu memberi isyarat pada temannya. Dibukanya pintu mobil dan menarik keluar Sisil yang sejak tadi ingin berteriak memanggil Denis.


Denis terperangah melihat keadaan gadis itu. Kedua tangannya diikat dengan mulut dilakban. Wajahnya nampak basah oleh airmata yang pastinya tak berhenti mengalir karena ketakutan.


"Aku harap kau tidak membuat rencana konyol yang akan merugikan dirimu sendiri." Pria itu memegang erat tangan Sisil. Sisil meronta. Dia ingin berlari kearah Denis. Matanya menyiratkan harapan yang penuh pada Denis.


"Yang kalian inginkan adalah aku. Jangan pernah mengganggu kehidupan bang Theo dan keluarganya." Alex bersuara.

__ADS_1


"Itu salahmu sendiri karena bersembunyi dirumah itu." Pria sangar itu mendecih. Dia ingin urusannya segera selesai. "Serahkan dirimu dan gadis ini akan kami kembalikan."


"Baiklah. Jangan pernah ingkari kata-katamu. Urusanmu hanyalah denganku. Jangan pernah mengusik kehidupan mereka." Alex melangkahkan kakinya. Orang yang memegangi Sisil kemudian melangkah maju. Seiring langkah Alex yang saling mendekat satu sama lain. Ketika berada dalam posisi sejajar, Alex menghentikan langkahnya. Menatap sekilas gadis itu dengan rasa iba. Kemudian menatap pria sangar yang sedang memeganginya dengan tatapan tajam.


"Katakan padaku. Siapa yang membayar kalian untuk membunuhku?"


"Itu bukan urusanmu. Jangan coba membuang waktu. Cepat!" Sentak orang itu. Alex kembali melangkahkan kakinya.


Denis bersiap untuk menyambut Sisil. Tangannya mengepal tak sabar untuk segera menghajar orang-orang yang telah membuat gadis itu begitu ketakutan. Mata Sisil yang terus menangis tak lepas dari memandang Denis. Seolah hanya Denis-lah harapan satu-satunya yang bisa membebaskan dia saat ini.


Orang yang membawa Sisil nampaknya tidak ingin terlalu dekat dengan Denis. Dia menghentikan langkahnya begitu Alex sudah cukup jauh maju mendekati orang yang sedang menunggunya. Tangannya mengeluarkan sebuah pisau dan mengarahkannya ke leher Sisil. Tatapannya waspada melihat Denis dan Alex bergantian.


Denis terkesiap. Ini sangat berbahaya. Gadis itu belum berada dalam jangkauannya dan sekarang sedang ditodong menggunakan senjata tajam. Diseberang sana Alex sudah sampai didekat orang yang satunya lagi. Diapun cukup terkejut melihat Sisil sedang dalam ancaman orang itu.


"Jangan pernah menyakiti gadis itu," geramnya. Tangannya terkepal sempurna.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Pikirkan saja dirimu sendiri." Pria itu tertawa penuh kemenangan. Suaranya menggema ditempat yang sunyi itu.


Sisil menggigil. Apalagi ketika terasa ada benda dingin menyentuh lehernya. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan ambruk menimpa bumi.


Denis yang terus mengawasi Sisil melihat pergerakan tubuh gadis itu. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang pria yang menodong Sisil. Lompatannya yang bertenaga dan sekaligus menendangkan kakinya ke bagian tangan pria itu untuk membuang pisau yang masih terhunus ditangannya.


Pria itu kehilangan fokusnya sesaat karena ambruknya tubuh Sisil. Dia belum siap menerima serangan Denis yang tiba-tiba. Pisaunya terlepas begitu saja ketika kaki Denis mengenai pergelangan tangannya. Dia mundur beberapa langkah untuk mengantisipasi serangan Denis berikutnya.


Denis terus memburu pria itu. Menyerangnya dan menjauhkannya dari tubuh Sisil yang masih tergeletak tak sadarkan diri.


Alex tak tinggal diam. Melihat Denis memulai serangan, diapun segera memasang kuda-kuda. Siap menantang pria yang satunya lagi. Pria itu segera menyerang Alex. Melakukan pukulan dan tendangan yang dengan sigap dilayani Alex dengan gesit. Dua orang pria yang berada didalam mobil segera turun. Salah satu dari mereka mengacungkan pistol dan menembakannya ke udara.


Orang yang memegang senjata api itu mengarahkan senjatanya pada Alex.


"Hanya pria ini yang kami inginkan. Nyawanya sangat berharga untuk kami. Kau sebaiknya jangan ikut campur."


Denis terpaku ditempatnya. Ia menatap Alex yang sekarang sedang ditodong senjata api. Denis dapat melihat kemampuan Alex dalam menghadapi penjahat itu tadi dengan tangan kosong. Tapi menghadapi senjata api, siapapun tidak akan berkutik.


Pria itu mengarahkan Alex untuk berjalan terus mendekati jurang yang dibawahnya ada sungai yang mengalir deras. Pelan Alex mengikuti perintah orang itu. Sesekali ia menatap ke arah Denis seolah masih mengharapkan satu keajaiban lagi yang bisa menghindarkannya dari kematian.


Denis terpaku ditempatnya. Dari sudut matanya dia dapat melihat satu pergerakan dibalik sebuah pohon. Denis merasa sedikit lega. Dia tidak melihat jelas siapa itu, tapi dia yakin kalau itu adalah bang Theo.


Dia melangkahkan kakinya mengikuti orang-orang itu meninggalkan tubuh Sisil jauh dibelakang. Prioritas utamanya sekarang adalah menjauhkan Sisil dari jangkauan orang-orang itu.


Pria yang tadi menjadi lawan Denis segera menghadang langkahnya.


"Jangan coba-coba atau kau juga akan mati." Ancamnya dengan suara berat. Tatapan tajam menyorot kearah Denis. Denis menghentikan langkahnya dengan tetap waspada.


Didepan sana Alex sudah berada ditepi jurang. Dia menatap orang yang mengancamnya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Sebelum aku mati, katakan padaku siapa orang yang menginginkan kematianku. Aku mohon katakan. Anggap ini permintaanku yang terakhir."


Orang itu menyeringai. Matanya beradu tatap dengan temannya.


"Katakan saja. Toh dia mau mati juga." Temannya terkekeh. Dia seolah sedang mentertawakan nasib Alex yang sebentar lagi akan berakhir.

__ADS_1


"Kau bisa menanyakannya pada ibumu yang sudah berada dineraka. Haha.." orang-orang itu tertawa bersahutan. Seolah itu merupakan hal yang lucu bagi mereka.


"Apa maksudmu?" Alex menggigil. Mendengar kata-kata orang itu membuat darahnya mendidih. Apa maksud orang itu? Apakah ibunya sudah meninggal?


"Ibumu sudah mati 'kan? Haha..," Tubuh orang itu terguncang karena tertawa. Namun tawanya terhenti ketika Alex melompat menerjangnya. Memberikan pukulan dari bawah ketangannya yang memgang senjata api sehingga benda itu terlontar jauh jatuh kejurang. Pria itu terkejut. Tapi serangan Alex yang saling menyusul membuat dia tidak memiliki kesempatan untuk melawan.


Temannya tidak tinggal diam. Dia membantu temannya melawan Alex. Pun temannya yang seorang lagi. Sekarang terjadi perkelahian tiga lawan satu.


Tidak jauh dari perkelahian tak seimbang itu, Denis kembali menyerang penjahat yang seorang lagi. Dia melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi kearah orang itu. Diperkelahian sebelumnya dia sudah kewalahan menghadapi Denis. Sekarang disisa tenaganya, dia harus kembali melawan Denis yang tenaganya masih belum berkurang sedikitpun.


Sisil yang masih terkapar tak sadarkan diri berada jauh dari dua perkelahian itu. Bang Theo yang datang mengendap-endap melalui hutan akhirnya memiliki kesempatan untuk segera menolong putrinya. Dia segera mengangkat tubuh Sisil dan membawanya masuk kedalam hutan melalui jalan yang ia lewati tadi. Lukman yang melihat dari balik pohon segera mendekati bang Theo.


Merasa berada ditempat yang cukup aman, bang Theo segera menurunkan tubuh Sisil. Membuka lakban yang menutup mulutnya dan membuka ikatan ditangannya.


Mata bang Theo basah ketika tangannya menepuk pipi Sisil dengan lembut.


"Bangun sayang. Ini papa." ia memanggil Sisil dengan suara bergetar. Sakit sekali melihat putri kesayangannya dalam keadaan seperti itu. Tapi dia sangat bersyukur karena sekarang Sisil sudah berada ditangannya.


"Kita bawa pulang aja bang. Takutnya kenapa-napa." Lukman mengusulkan. Suaranya pelan. Walaupun jarak mereka dari perkelahian itu jauh tapi mereka harus tetap waspada jangan sampai ketahuan oleh para penjahat itu.


"Bagaimana Denis dan Alex?" Bang Theo nampak bimbang. Dia sangat mengkhawatirkan putrinya. Tapi dia juga ingin membantu Denis dan Alex melawan para penjahat itu.


"Bagaimana kalau aku bawa Sisil pulang, bang. Aku nanti bawa yang lain buat bantu melawan para penjahat itu." Lukman menatap wajah Sisil yang begitu pucat. Bang Theo mengangguk setuju. Usul Lukman memang yang paling masuk akal sekarang.


"Bawa langsung kerumah sakit. Telpon mbak Fani buat siap-siap disana." bang Theo memberi arahan pada Lukman. Lukman mengangguk. Bang Theo kemudian kembali mengangkat tubuh Sisil dan membawanya ke tempat dia dan Lukman memarkirkan mobil mereka. Jaraknya lumayan jauh. Menaiki dan menuruni bukit kecil. Setelah melewati hutan dan semak belukar yang ada dibukit itu, mereka sampai di mobil milik bang Theo.


Bang Theo segera memasukkan tubuh Sisil di kursi belakang. Lukman segera menyalakan mesin mobil dan setelah mendapat anggukan dari bang Theo ia segera menjalankan mobil meninggalkan tempat itu.


Bang Theo mengeluarkan handphonenya. Menghubungi mbak Fani untuk mengabarkan tentang Sisil. Namun sayang, sinyal ditempat itu sangat buruk. Berkali-kali dia mencoba menelepon tapi tidak tersambung sedikitpun. Dengan gusar bang Theo memasukkan lagi handphonenya kedalam saku celananya. Bergegas kembali ketempat Denis dan Alex melawan para penjahat.


Ditepi hutan dia tertegun. Keadaan disana sudah sepi. Nampak dua buah mobil meninggalkan tempat itu. Kenapa jadi dua? Bukankah tadi hanya ada satu mobil? Bang Theo terpana menatap bayangan dua mobil yang semakin jauh dan menghilang dari penglihatannya.


Satu-satunya yang berada disana adalah motor Denis. Tapi dimana pemiliknya?


Bang Theo segera berlari kearah tempat perkelahian sengit antara Alex dan para penjahat itu. Dia berteriak memanggil nama Denis dan Alex bergantian. Dia menjulurkan kepalanya kearah jurang. Melihat barangkali dua orang yang dicarinya berada dibawah sana. Tapi dia tidak melihat apa-apa. Mungkinkah Denis dan Alex dibawa pergi menggunakan kedua mobil itu?


Bang Theo terus berusaha mencari jejak Denis dan Alex sambil memanggil nama mereka dalam teriakan.


Hampir dua jam bang Theo mengitari tempat itu. Akhirnya dia terduduk dengan wajah putus asa. Lukman datang bersama beberapa orang. Mereka menghabiskan rasa penasaran mereka dengan ikut mencari disekitar tempat itu. Namun tidak ada hasil yang didapatkan. Mereka akhirnya meninggalkan tempat itu setelah yakin tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaan Denis dan Alex.


.


.


.


.


.


*****

__ADS_1


__ADS_2