
Gadis cantik itu berdiri termangu di dekat jendela kamarnya. Menatap rerimbunan pohon perdu yang ada ditaman belakang rumahnya. Tapi pikiran melayang jauh dari sekedar tatapan lahirnya. Memikirkan takdir dirinya yang harus mencinta tanpa pernah bisa mendapatkan balasan dari semua rasanya.
Sekian tahun dia menyempurnakan dirinya hanya untuk menarik perhatian pria itu. Pria yang sangat dia sukai dan menjadi cinta pertama baginya. Semua godaan telah dilaluinya bahkan ada yang hampir saja menggoyahkannya. Namun rasa yang begitu kuat dan nyata membuatnya tidak bisa mengalihkan perasaan cintanya. Hatinya akan berbalik arah kepada pria itu. Sejauh apapun kakinya melangkah.
Mungkin dia hampir menyerah namun jalan yang telah dibuka oleh pria itu membuatnya kembali memiliki keyakinan yang kuat. Dia harus mendapatkan apa yang selama ini dia idamkan.
Namun disaat semua hampir menjadi nyata, sesuatu telah merenggut mimpi manisnya. Menjatuhkannya kedasar jurang kekecewaan yang dalam.
Viola mendesah. Matanya terpejam, memeras air yang terbendung dikedua matanya.
"Sayang, kamu belum makan sejak pagi tadi. Bahkan tadi malam kamu melewatkan makan malam."
Makan malam yang berantakan. Tidak ada yang bisa makan setelah kejadian yang mengerikan tadi malam. Bagaimana mungkin bisa.
"Vio tidak lapar, Ma."
"Jangan menyiksa diri kamu sendiri sayang. Kamu perlu tenaga untuk menghadapi kehidupan ini. Hmm." Utami terus membujuk putrinya. Dia sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa putrinya. Sebagai seorang ibu dan juga sebagai seorang wanita, Utami sangat mengerti dengan yang dirasakan oleh putrinya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentu akan terasa sangat menyakitkan. Ditambah lagi pertunangan yang gagal. Sebagai seorang ibu dia juga merasa sangat kecewa. Namun apa yang bisa dia lakukan. Mungkin inilah takdir cinta Viola. Utami bahkan tidak bisa membayangkan jika sampai putrinya berjodoh dengan Alex. Akankah dia bahagia hidup bersama seorang pria yang tidak pernah mencintainya. Walaupun Alex sendiri yang mengajukan lamaran kemarin, tapi Utami tahu ada sesuatu yang membuat Alex melakukan itu. Dia tahu bagaimana perasaan Alex terhadap Viola.
"Jangan bersedih terus, sayang. Sebaiknya kamu hubungi Alex dan bicarakan masalahmu dengannya. Dan apapun hasil dari pembicaraan kalian, sebaiknya kamu menerimanya dengan berlapang dada. Mama tidak mau kamu terus menerus memendam kesedihan. Kamu pantas untuk bahagia, sayang."
Utami mengelus lembut rambut putrinya.
"Mama, apa menurut mama, Alex akan melanjutkan pertunangan kami yang tertunda tadi malam? Atau dia akan membatalkannya?"
"Apapun yang dia putuskan, itu pasti yang terbaik untuk kalian berdua."
"Jadi mama setuju kalau sampai Alex tidak jadi melamarku?"
"Bukan seperti itu, sayang. Mama hanya memikirkan kebahagiaanmu. Apa kamu berpikir bisa bahagia dengan memiliki orang yang tidak menginginkan kita? Kau akan tersiksa seumur hidupmu, sayang. Tapi jika kamu menerima keputusannya untuk tidak melanjutkan pertunangan, mungkin kamu akan merasa kecewa sekarang. Tapi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lain. Mama percaya itu."
"Kenapa dia tidak menginginkanku, Ma? Apa yang kurang dariku? Aku memiliki segalanya kan? Kenapa dia tidak pernah mau membalas perasaanku?" Viola tak dapat menahan isakannya lagi. Hatinya perih dan kecewa. Lebih kecewa dari mendapatkan penolakan dari pria itu sebelumnya.
"Tidak ada yang salah dengan diri kamu, sayang. Mungkin Alex hanya tidak sama seperti pria pada umumnya. Percayalah, awalnya mama pikir dia itu tidak menyukai wanita sedikitpun. Sebab itu mama tidak terlalu mendukung keinginanmu untuk mendapatkan dia. Kamu ingat kan? Mama tidak begitu suka kalau kamu terus mendekati dia."
Viola menunduk. Menyesali kebodohannya yang terus memupuk rasa kasih untuk pria itu. Ya. Dia ingat mamanya memang tidak pernah mendukungnya untuk dekat dengan Alex. Namun juga tidak pernah melarangnya secara langsung. Hubungan baik papanya dan Arga Dinata membuat mamanya tidak masalah kalau Viola berteman dengan Alex dan Reno.
Masalah yang sesungguhnya adalah saat Viola menunjukkan ketertarikannya pada Alex secara berlebihan sedangkan Alex menanggapi biasa saja kehadiran Viola. Itu cukup membuat Utami merasa heran. Disaat semua pria berlomba untuk mendapatkan perhatian putrinya, justru Alex selalu menghindari Viola.
"Kalian berada disini rupanya." Rahman muncul dari balik pintu. Mendekati kedua orang wanita dalam hidupnya.
"Apa kabar sayang? Apa kamu baik-baik saja?"
Rahman mengusap lembut kepala putrinya. Memberikan ciuman penuh kasih sayang dipelipis Viola.
"Seperti yang papa lihat. Dia tidak baik-baik saja." Utami yang menjawab.
Rahman mendudukkan dirinya disofa diikuti oleh Utami dan Viola.
"Tadi Alex menemui papa." Pria itu menjeda ucapannya, melihat reaksi dari istri dan putrinya.
__ADS_1
"Dia bilang apa?" Utami cepat menyela.
"Dia minta maaf karena kejadian tadi malam, acara lamarannya tidak bisa dilanjutkan." Pria itu nampak sedikit berat untuk melanjutkan ucapannya.
"Lalu papa bilang apa?"
"Papa bilang kita bisa mengatur waktu di kesempatan yang lain." Pria itu mengambil nafas dalam-dalam. "Bersabarlah Vio. Papa tahu kamu kecewa, tapi pasti semua ada kebaikan dalam setiap peristiwa yang terjadi."
"Vio akan mengembalikan cincin yang ditinggalkan Alex. Mungkin tidak akan ada kesempatan yang lain, Pa." Viola menunduk.
"Apa kamu akan menyerah? Kalian hampir bertunangan lho."
"Sebaiknya kamu bicara dulu dengan Alex."
"Vio sadar sekarang, ma, pa. Selama ini Vio terlalu memaksa Alex, dan itu tidak akan baik. Sekarang saja Vio merasa sakit hati saat diabaikan, apalah lagi nanti kalau kami sudah punya ikatan. Lebih baik, Vio mundur saja."
Viola menyeka ujung matanya yang basah. Namun tangisannya tidak bisa lagi dia tahan ketika mamanya memeluknya dan menciuminya bertubi-tubi. Awalnya dia pikir tidak apa-apa kalau dia bertungan terlebih dahulu dengan Alex. Perasaan Alex mungkin akan berubah seiring berjalannya waktu. Namun sekarang dia tidak yakin akan hal itu. Terlalu banyak waktu yang telah dia berikan kepada Alex. Namun ternyata perasaan pria itu tak pernah berubah.
"Mama bangga sekali padamu, sayang. Apapun keputusan kamu, mama akan selalu mendukungmu. Kamu tahu, kamu adalah gadis yang sangat sempurna dengan hatimu yang baik dan tulus. Mama yakin, kamu akan mendapatkan seseorang yang akan membuatmu bahagia."
Rahman tersenyum dan mengusap kepala putrinya disela pelukan dari istrinya untuk Viola. Walau tidak tega melihat kesedihan putrinya, namun dia merasa inilah yang terbaik untuk putrinya.
*****
Alex melangkahkan kakinya memasuki sebuah rumah makan tempat yang ia janjikan kepada Viola untuk bertemu. Hari ini dia pergi sendirian. Faisal dia tugaskan untuk menangani beberapa pekerjaan karena dia ingin membereskan masalahnya sendiri secepatnya. Tidak ingin membuang waktu, Alex menghubungi Viola dan memintanya untuk bertemu siang ini. Tadi pagi dia juga sudah bicara dengan Rahman, papanya Viola. Sejauh ini dia mendapat perlakuan baik dari papanya Viola. Dia berharap, pertemuan dengan Viola akan berjalan dengan baik.
Disebuah meja yang sudah dia pesan nampak Viola sudah duduk menunggu. Gadis itu tersenyum manis melihat kedatangannya.
"Aku juga baru sampai. Aku sudah memesan minuman untukmu. Maaf kalau kamu tidak suka."
"Kamu tahu apa minuman yang aku suka."
"Ya. Aku tahu semuanya tentang dirimu." Viola mendesah. Sangat miris mendengar ucapannya sendiri.
"Aku minta maaf, Vio. Sudah membuatmu berada dalam situasi ini."
"Ini semua salahku. Harusnya aku berhenti saat penolakanmu yang pertama. Tapi aku terus berharap dan malah memupuk rasa cintaku hingga semakin besar dan aku tak bisa mengendalikannya. Aku pikir aku adalah wanita yang bisa diterima oleh siapa saja. Tapi rupanya, hatimu benar-benar tertutup untukku."
Alex menyentuh tangan Viola yang terlipat diatas meja.
"Kamu adalah gadis yang sangat sempurna. Aku yakin kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku."
"Apa aku benar-benar tidak punya kesempatan?" Alex menghela nafas. Memikirkan kata yang tepat agar tidak lagi menyakiti gadis yang selalu mengharapkannya itu.
"Apa kamu sangat mencintai Denis?" Sedikit bergetar Viola mengeluarkan kalimat itu. Tapi dia harus memastikan semuanya.
Alex terhenyak seketika. Belum dia menjawab, seorang pramusaji datang membawa minuman dan makanan ringan untuk mereka. Menunggu sampai pramusaji itu selesai dengan pekerjaannya, Alex kembali menatap Viola.
"Katakan Alex. Kamu benar mencintai Denis, kan?"
"Aku minta maaf, Vio."
__ADS_1
Viola memejamkan matanya. Dia tidak perlu jawaban karena semuanya sudah terlihat dengan jelas.
"Aku mengira dia itu laki-laki. Apa kamu tahu sejak awal kalau dia itu seorang perempuan?" Masih belum puas dengan jawaban Alex.
Alex menggeleng.
"Aku juga tidak tahu kalau dia itu seorang wanita sepertimu. Kamu tahu, aku mengira diriku sudah tidak waras dengan menyukai dia. Sebab itulah aku..."
"Sebab itu kamu mengajakku untuk bertunangan? Kamu ingin mengalihkan rasamu pada dia?" Viola menatap nanar mata Alex. "Usaha yang bagus, Alex."
"Maafkan aku, Vio."
Viola tertawa sumbang.
"Kamu terlalu banyak minta maaf padaku."
"Aku pasti sangat menyakitimu."
"Ya. Begitulah." Viola terkekeh pelan. Menertawakan kebodohannya sendiri.
"Beruntung sekali Denis. Dia mendapatkan cinta pertamamu. Kamu tidak pernah mencintai siapapun sebelumnya. Aku tidak tahu, apa yang membuatmu jatuh cinta kepadanya."
"Cinta itu tidak memerlukan alasan. Dia datang begitu saja. Bahkan aku berusaha menolak perasaanku sendiri. Aku tidak ingin ada rasa ini untuknya. Namun dia muncul begitu saja dalam hatiku." Alex berkata lirih.
"Aku juga tidak pernah ada niat untuk menyakitimu. Namun yang aku lakukan malah selalu membuatmu terluka dan kecewa. Ini diluar keinginanku. Aku benar-benar minta maaf."
"Cukup, Alex. Jangan meminta maaf lagi padaku." Viola merapatkan bibirnya. Menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan yang sangat pahit ini.
"Aku mau mengembalikan ini padamu." Dikeluarkannya kotak beludru berwarna merah dari dalam tasnya.
"Kamu meninggalkannya tadi malam." Disodorkannya kotak itu kehadapan Alex. Pria itu tertegun menatap benda yang kini berada ditangan Viola.
"Vio, aku.."
"Jangan meminta maaf lagi padaku. Ini adalah milikmu." Viola memasukan benda itu kedalam genggaman tangan Alex. Menutupkan jari Alex pada benda itu. Alex menahan tangan Viola.
"Ambillah. Ini untukmu. Anggaplah ini sebagai barang kenang-kenangan dariku." Alex melakukan hal yang sama yang dilakukan Viola. Meletakkan benda itu ditelapak tangan gadis itu.
"Tidak Alex. Jangan membuatku terus mengenangmu. Itu akan semakin menyakitiku. Ambillah. Berikan pada orang yang pantas untuk menerimanya."
"Jangan meminta maaf lagi. Aku tidak apa-apa." Viola tersenyum. Senyum yang sangat dia paksakan.
"Kenapa aku tidak bisa jatuh cinta pada gadis sebaik kamu, Vio?" Alex menatap lekat mata gadis itu. Viola tertawa pelan. Didorongnya wajah Alex agar berpaling dari tatapannya.
"Jangan menatapku begitu. Aku akan semakin jatuh cinta padamu."
Alex terkekeh. Dia mengangkat kotak kecil ditangannya.
"Jadi kamu tidak mau benda ini? Penawaran terakhir sebelum aku memasukan kedalam saku bajuku. Ini harganya mahal lho."
"Aku masih punya uang untuk membeli barang seperti itu. Tidak perlu mengharap pemberian darimu." Viola mencibir. Membuat Alex tertawa. Dan keduanyapun tertawa bersama.
__ADS_1
*****