Rahasia Denis

Rahasia Denis
Enam


__ADS_3

Dirumah belakang. Denis masih duduk disofa. Tangannya sibuk memainkan game di ponselnya. Lukman sudah berada dikamarnya setelah mereka makan malam tadi. Bi Nani dan mang Jana sudah tidak kelihatan batang hidungnya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ini memang sudah malam. Seharusnya dia pun sudah berada dikamarnya di jam seperti ini. Tapi sekarang di kamarnya ada orang lain. Denis sebenarnya tidak suka berbagi kamar dengan pria asing itu. Tapi mau bagaimana lagi kalau bang Theo sudah menitahkan. Dia juga merupakan orang yang tidak suka berdebat. Jangankan untuk berdebat. Dia bahkan bicara hanya seperlunya saja.


Alex datang dan duduk tidak jauh dari Denis.


"Kamu belum tidur?" tanyanya pada Denis. Denis melirik dengan sudut matanya.


"Belum ngantuk," jawabnya singkat.


"Malam ini aku tidur disini," kata Alex merujuk ke sofa yang sedang mereka duduki sekarang.


"Dikamar saja ga papa."


"Itu kamar kamu."


"Gue bisa tidur dimana saja." Denis masih fokus dengan ponselnya. Alex memperhatikan cowok didepannya itu. Sangat berbeda dengan tampilannya yang berbalut baju kerja siang tadi. Celana jeans yang robek dibagian lutut. Baju kaos gombrong warna putih. Ditangan kirinya ada gelang rantai perak dan gelang etnik bertumpuk. Alex juga dapat melihat tatoo kecil dipunggung tangan kanan Denis dengan inisial 'D'. Mungkin D untuk Denis.


Tak kalah menarik perhatiannya tindikan ditelinga kiri Denis. Ada dua. Bagian bawah dan di bagian atas cuping telinganya. Untunglah rambutnya dipotong super pendek. Jadi penampilan Denis masih kelihatan rapi dengan gayanya yang badboy begitu. Dia kelihatan segar dengan sisa basah dirambutnya.


"Kamu dan bang Theo selalu bicara lo-gue?"


"Hmm."


"Bukan asli orang sini?"


"Bang Theo aslinya dari Jakarta. Istrinya orang asli sini." Denis merubah gaya duduknya. Dengan dua kakinya melebar dia menyimpan siku dikedua lututnya. Jarinya terus memainkan game tanpa terganggu dengan kehadiran Alex.


"Kamu?"


"Apa?"


"Kamu orang mana?"


Denis tidak segera menjawab. Alex sabar menunggu apa jawaban yang akan diberikan cowok itu.


"Jakarta."


"Oya? Daerah mana?" Alex terdengar antusias. Dia juga dari Jakarta kan. Mungkin ada sedikit harapan dari jawaban yang akan Denis berikan. Denis menyebutkan satu daerah dengan asal.


"Oh. Aku tahu daerah situ. Temanku ada yang disana." Alex merapatkan punggungnya disandaran sofa. Denis tidak menyahut. Dia sepertinya tidak tertarik untuk terlibat pembicaraan dengan Alex.


Alex diam sesaat.


"Kapan kamu pulang ke Jakarta?" tanya Alex setelah sesaat kemudian. Denis mengedikan bahunya. Matanya tidak sedikitpun terlepas dari ponselnya.


"Gue gak pulang."


"Kenapa? Kamu masih punya keluarga kan?"


"Gak."


"Gak ada satupun?"


"Gak ada."


Alex menganggukan kepalanya. Matanya menatap Denis. Cowok yang benar-benar susah untuk diajak ngobrol. Jawabannya yang singkat dan tidak ada inisiatif untuk bertanya balik. Jangankan balik bertanya. Bahkan matanya dari tadi hanya fokus pada ponsel tidak sedikitpun melihat kearahnya. Dia benar-benar pendiam dan tertutup.


Alex merebahkan tubuhnya disofa. Hanya menyisakan sedikit hingga ujung kakinya hampir menyentuh Denis. Denis menggeser duduknya.


"Tidur dikamar saja," kata Denis dengan sedikit lirikan diujung matanya.


"Ga apa, mau disini saja."


"Gak enak sama bang Theo. Disangkanya gue gak ngasih lo tidur di kamar." Itu kalimat terpanjang sejauh ini. Alex tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Aku mau tidur dikamar kalau kamu juga tidur dikamar."


"Ck. Rese lo. Kayak cewek aja."


Denis mendengus. Dengan terpaksa dia menyudahi permainan game di ponselnya. Dia beranjak dari tempat duduk menuju kamar karena sebenarnya dia pun sudah merasa mengantuk.


Alex bangkit dan mengikuti langkah Denis sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


Didalam kamar, Denis mengambil sebuah kasur lantai yang menggulung disudut kamar. Menghamparkannya dilantai dan melemparkan sebuah bantal diatasnya. Alex segera membaringkan dirinya disana tanpa menunggu disuruh.

__ADS_1


Denis sendiri merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Diliriknya pria yang terbaring dibawah tempat tidur. Pria itu nampak sudah memejamkan mata. Denis menatapnya diam-diam. Memperhatikan betapa pria itu punya garis wajah yang sempurna. Rahang yang kekar dan tegas. Hidung mancung dan bibir seksi. Alisnya tebal menaungi mata yang indah jika sedang terbuka. Dia pasti banyak dipuja wanita di tempat asalnya.


"Bagaimana kamu bisa ada ditempat ini?"


Denis menghenyakkan kepalanya ke bantal ketika mendengar suara Alex. Ternyata pria itu belum tidur. Hanya matanya saja yang terpejam. Jantungnya tiba-tiba berdegub keras. Apa pria itu tahu dirinya sedang diperhatikan? Denis segera memejamkan matanya.


"Denis?" Alex membuka matanya. Setengah bangkit dia melihat keatas pembaringan.


"Ya?"


"Bagaimana kamu bisa ditempat ini? Kamu masih sodara bang Theo?" tanyanya.


"Bukan."


"Lalu?"


Hening tiada jawaban. Alex berdecak pelan. Benar-benar susah mengajak Denis bicara.


Alex merebahkan lagi kepalanya. Matanya tidak segera menutup. Dia masih memandangi langit-langit kamar sampai terdengar hembusan nafas Denis yang teratur menandakan dia sudah tidur. Dia tidak menjawab pertanyaan Alex sama sekali. Alex pun akhirnya memejamkan matanya dan terlelap di alam mimpi.


*****


Aktifitas pagi seperti biasa. Semua sibuk dengan rutinitas masing-masing. Denis bersiap mengantar putri semata wayang bang Theo ke sekolah.


"Kak Denis. Ayo."


Seperti biasa gadis cantik itu memanggil Denis dengan suara manjanya. Denis segera mendekatkan motornya pada Sisil dan menyerahkan helm yang biasa dipakai oleh Sisil.


"Papa udah bilang belum sama kak Denis?" Tanya Sisil sambil memasang helmnya. Matanya yang bulat dan bening menatap Denis.


"Bilang apa?" tanya Denis.


"Bilang kalau hari Minggu kak Denis harus nemenin Sisil ke mall X buat beli buku."


"Jauh banget ke mall X disini juga banyak toko buku," gumam Denis. Dia memainkan gas motornya hingga bunyinya meraung dan asap knalpotnya mengepul.


"Ih, kak Denis, berisik tahu." Sisil merengut manja. Bibirnya yang berwarna pink alami manyun menggemaskan.


"Ya udah cepet naik."


"Iya, iya." Tak ada pilihan lain kalau sudah melibatkan bang Theo.


"Yeaayyy!" Sisil berseru senang. Ia segera naik membonceng di belakang Denis. Wajahnya berseri setelah mendapat jawaban dari Denis.


Denis segera menjalankan motornya meninggalkan halaman rumah itu. Motornya langsung bergabung dengan puluhan kendaraan lain yang mengular dijalanan. Meliuk-liuk dan berpacu dengan kendaraan lain. Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk sampai di sekolah Sisil. Motornya berhenti tepat di depan gerbang sekolah Sisil.


Desti yang pagi ini bersemangat mengantar adiknya nampak sudah tiba terlebih dahulu. Denis pura-pura tidak melihat cewek itu yang sudah melebarkan senyumnya. Dia memutar motornya untuk berlalu dari sana secepatnya. Dia sudah merasa beruntung karena tidak bertemu dengan teman-teman Sisil yang selalu heboh. Tapi disana ada makhluk lain yang sedang tersenyum padanya dan menghampirinya.


"Hai, Denis." Desti menyapanya terlebih dahulu. Denis hanya menjawab dengan senyum tipis. Dia bersiap untuk melajukan motornya.


"Buru-buru amat. Ini masih pagi lho."


"Iya. Permisi." Dan, Desti hanya terbengong ketika Denis pergi begitu saja dari hadapannya. Padahal dia sengaja turun dari motornya dan menghampiri Denis. Tapi cowok itu..Ya ampun. Gak sopan!


Desti merutuk dalam hati. Dia kembali menaiki motornya dan berlalu dari tempat itu. Malu juga kalau ada yang melihatnya diacuhkan oleh seorang cowok. Uph!


*****


Dirumah belakang yang baru saja ditinggalkan oleh Denis, Alex masih menghabiskan sarapannya. Ruang makan yang terbuka menghadap langsung kehalaman belakang membuat suasana begitu alami. Hembusan angin pagi yang lembut dan menyisakan dingin semalam. Alex mengunyah nasi gorengnya sambil menikmati suasana pagi yang damai.


"Sendiri aja lo. Yang lain mana?" bang Theo datang. Dibelakangnya, mbak Fani istrinya, mengikuti langkahnya. Alex bangkit dari duduknya dan tersenyum kearah Fani. Ini pertama kali ia bertatap muka dengan istri dari bang Theo itu.


"Selamat pagi, mbak." dia menyapa Fani terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan bang Theo.


"Selamat pagi. Habiskan sarapannya." Fani tersenyum membalas senyuman Alex. Dia kemudian duduk disamping bang Theo yang sudah duduk terlebih dulu.


"Denis mengantar Sisil. Lukman baru saja berangkat ke bengkel. Katanya ada pelanggan yang mau ambil mobil pagi ini." Ujar Alex menjelaskan apa yang dia tahu terkait pertanyaan bang Theo tadi.


"Oh. Lo sendiri gimana?" bang Theo menatap Alex.


"Kalau diijinkan saya mau ikut lagi ke bengkel." Kata Alex.


"Mmm..begini Alex." Fani menjeda ucapan Alex. Sepertinya sejak tadi dia menunggu kesempatan untuk bisa bicara pada Alex.

__ADS_1


"Apa gak sebaiknya kamu lapor sama polisi atas apa yang sudah terjadi sama kamu? Bukannya mbak gak mau kamu tinggal disini, tapi kamu pasti punya keluarga yang sekarang mungkin sedang mengkhawatirkan kamu." hati-hati Fani mengeluarkan pendapatnya. Bagaimanapun dia tidak mau pria dihadapannya itu salah faham padanya.


Alex menghela nafas perlahan. Dia menunduk menatap jari tangannya yang berada di atas meja. Kemudian menaikan tatapannya kepada dua orang suami istri yang sekarang berada dihadapannya itu, seolah sedang menginterogasi dirinya.


"Saya ingin sekali melakukan itu. Tapi kalau saya melakukan itu, maka orang yang telah mencoba membunuh saya pasti akan tahu kalau saya masih hidup. Saya tidak ingin mereka tahu kalau saya masih hidup dan diselamatkan oleh abang dan mbak." Dia diam sesaat. Menyusun kata-kata yang akan diucapkan kemudian.


"Saya janji. Setelah urusan saya selesai saya akan segera pergi dari sini dan tidak akan merepotkan abang dan mbak lagi." Dia menatap lekat kedua orang didepannya itu bergantian. Fani agak terkesiap mendengar penuturan Alex.


"Maaf, Alex. Mbak tidak bermaksud mengusir kamu. Mbak juga tidak merasa direpotkan sama sekali dengan keberadaan kamu disini. Hanya saja, mbak berpikir mungkin keluarga kamu merasa kehilangan kamu." Terdengar sekali kalau suara Fani agak kikuk. Dia tidak mau Alex berpikir dia tidak suka dengan kehadiran pria itu di rumahnya. "Itu saja."


"Saya mengerti dengan maksud mbak. Saya sangat berterima kasih pada abang dan mbak yang telah mengijinkan saya tinggal disini. Saya juga akan sangat berterima kasih kalau abang dan mbak mau membantu saya dengan tidak melaporkan saya kepada polisi."


Fani dan Bang Theo saling melempar tatap. Seolah saling menanyakan pendapat masing-masing melalui tatapan mata. Bang Theo menghembuskan nafas pelan melalui mulutnya.


"Gue ngerti maksud lo." Kepalanya mengangguk beberapa kali.


"Sekarang rencana lo gimana?"


"Saya masih memikirkan rencana saya bang."


"Lo bisa ngandelin gue kalau lo butuh bantuan. Atau kalau enggak, lo bisa minta bantuan Denis."


"Denis?" serunya pelan. Dia meragukan nama yang baru disebutkan oleh bang Theo. "Saya kesulitan berkomunikasi sama dia."


Jawabannya mengundang kekehan dari mulut Fani.


"Dia memang seperti itu. Kalau gak ditanya dia itu gak ngomong. Sekali ngomong paling satu kata saja." Ujar mbak Fani. Dia juga sebenarnya merasa heran dengan Denis yang sangat tertutup orangnya.


"Bahkan saya juga gak tahu dia itu siapa sebenarnya. Apa betul namanya Denis. Asalnya dari mana. Siapa orang tuanya. Semuanya saya gak tahu." Fani tersenyum miris. Alex cukup terkejut mendengarnya.


"Maksudnya mbak?" perhatiannya tertuju pada istri bang Theo itu. Fani menatap suaminya sekilas seolah meminta persetujuan suaminya untuk memberitahu Alex tentang siapa Denis sebenarnya. Bang Theo malah melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Sudah siang. Kamu harus segera berangkat kerja. Aku juga mau ke bengkel. Kasihan anak-anak kalau aku gak ada disana," katanya pada Fani. Alex menatap bang Theo masih menuntut untuk menceritakan tentang Denis yang malah terputus begitu saja.


"Kita cerita dijalan saja." Rupanya bang Theo memahami arti tatapan Alex. Alex mengangguk.


Fani berangkat terlebih dahulu menggunakan mobil yang dikendarainya sendiri. Bang Theo kemudian mengajak Alex untuk segera meninggalkan rumah itu sesaat setelah istrinya berangkat. Dijalan, mobilnya masih beriringan dengan mobil istrinya hingga dipersimpangan, mobil mereka baru terpisah.


Bang Theo mulai menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Denis sehingga anak itu bisa hidup bersamanya dan bekerja di bengkelnya. Alex mendengarkan tanpa menyela semua yang dikatakan oleh bang Theo.


"Dia datang tanpa identitas diri. Dia bilang hilang ada yang nyopet." Bang Theo memutar kemudi mobilnya berbelok masuk ke area bengkelnya. "Dia juga menolak pulang ke tempat asalnya. Dia bilang sudah gak punya keluarga sama sekali."


"Jadi maksudnya dia sebatangkara?" Pandangan Alex tertuju pada objek yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka. Bang Theo memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Mengedarkan pandangannya sesaat ke sekitar bengkel yang mulai ramai dikunjungi pelanggan. Anak buahnya nampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Saya mau coba membantu mereka," kata Alex sambil turun dari mobil. Bang Theo mengikuti langkahnya menuruni mobil dan langsung masuk ke ruangannya. Alex lebih memilih untuk mendekati Andi. Menurutnya Andi akan lebih mudah untuk ditanyai dan lebih mudah diajak komunikasi dibanding dengan Denis.


Benar saja dugaannya. Dengan cepat ia akrab dengan Andi. Dia tidak sungkan untuk bertanya semua hal yang ingin dia ketahui mengenai perbengkelan. Andi juga dengan senang hati mengajarkan beberapa hal kepada Alex. Dia anaknya banyak bicara dan tidak pelit ilmu. Sangat jauh berbeda dengan cowok yang tadi malam tidur satu kamar dengannya. Siapa lagi kalau bukan Denis.


*****


Di sekolah, Sisil langsung dikerubungi oleh ketiga temannya begitu masuk kedalam kelas. Mereka ternyata telah datang terlebih dahulu. Hari ini mereka datang lebih pagi karena akan ada ulangan di jam pertama.


"Sisil!" Pekik Rina heboh. Dia langsung memeluk bahu Sisil diikuti Gina dan Anggi yang langsung datang ke bangku Sisil.


"Gimana, gimana? Jadi bener papa kamu ngasih ijin buat kita jalan hari Minggu nanti?" Rina langsung memberondongnya dengan pertanyaan. Tadi malam Sisil langsung mengabarkan tentang ijin dari papanya yang telah ia dapatkan melalui pesan grup. Mereka sudah membahasnya tadi malam. Tapi rasanya tidak puas kalau tidak membahasnya secara langsung.


"Beres pokoknya. Kak Denis juga udah setuju. Tinggal nunggu hari Minggu." Wajah gadis itu begitu semringah.


"Kak Denis setuju begitu saja?" tanya Gina setengah tak percaya.


"Ya, setelah bilang kalau papa yang nyuruh." Sisil tertawa mengikik. Geli sendiri dengan ulahnya yang telah setengah memaksa Denis. Dia telah membohongi Denis, walau tak seluruhnya bohong sih.


"Ga papa deh. Yang penting 'kan kak Denis mau." Anggi menimpali.


"Jadi gak sabar nunggu hari Minggu." Rani mendekapkan kedua tangan didadanya. Matanya mengerjap-ngerjap lucu.


"Aku juga. Gak sabar pengen jalan sama kak Denis."


"Yang penting hari Minggu kita jalan."


"Yeaayy!" Heboh sekali. Mereka seperti anak kecil yang baru saja diberi permen. Mereka kemudian membuat rencana apa saja yang akan mereka lakukan di hari Minggu mendatang.


Kehebohan mereka tidak berlangsung lama karena bell masuk pelajaran pertama sudah terdengar. Mereka membubarkan diri dan duduk di meja masing-masing. Senyum diwajah mereka langsung memudar karena guru masuk dengan membawa kertas ulangan.

__ADS_1


Yeaayyy!!


*****


__ADS_2