Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sembilan


__ADS_3

Hujan yang mengguyur bumi sejak sore tadi menyisakan dingin malam ini. Rintiknya masih terdengar bahkan sekali-kali kembali deras. Dingin yang menusuk membuat siapapun enggan untuk keluar dari dalam selimut.


Alex gelisah. Sebelumnya dia tidak pernah tidur dilantai seperti sekarang ini. Tidak masalah kalau keadaannya tidak sedingin malam ini. Kasur lantai yang tipis tidak cukup membuatnya terhindar dari gigil yang melanda. Ditambah angin yang menyelusup lewat celah dibawah pintu begitu terasa membelai kulit. Kaki dan tangannya terasa kaku.


Dia bangkit dan melihat keatas tempat tidur. Masih ada ruang disana untuk dia sekedar menghilangkan kekakuan tubuhnya karena kedinginan.


Denis tidur dengan pulas. Dia sepertinya tidak terganggu dengan gerakan tubuh Alex yang naik ke tempat tidur. Sekarang dia merasa nyaman. Sedikit demi sedikit kaku ditubuhnya menghilang. Alex kembali memejamkan matanya. Namun kembali terbuka ketika ia terpikirkan sesuatu.


Dia teringat orang-orang yang telah menyerangnya tempo hari. Siapa mereka? Wajahnya tertutup topeng. Bahkan mereka tidak mengeluarkan suara ketika menyerangnya. Alex juga tidak bisa menduga-duga dalang dibalik penyerangannya itu. Mereka bahkan membuangnya kedalam jurang. Hanya saja Tuhan masih melindunginya sehingga lewat tangan Denis dan bang Theo, dia masih bisa bernafas hingga saat ini. Kalau saja saat itu tidak ada Denis dan bang Theo yang menolongnya mungkin sekarang dia tinggal nama saja.


Berarti orang-orang itu memang telah berencana untuk membunuhnya.


Kemudian dia teringat papanya yang terbaring lemah dirumah sakit. Apa kabarnya sekarang? Apa beliau membaik atau tambah parah? Bagaimana dengan mama dan Reno? Mereka pasti sedang menghawatirkannya.


Kembali Alex gelisah. Dia merubah posisi tubuhnya berulangkali. Apa yang harus kulakukan? Pikirnya. Dia sangat ingin mengetahui kabar mereka, tapi bagaimana kalau para penjahat itu mengetahui keberadaannya? Dan siapa orang-orang yang mencari keributan dibengkel? Apa betul dugaan Denis bahwa mereka ada hubungannya dengan kejadian itu?


"Lo? Kenapa lo tidur disini?" Alex terkejut mendengar suara Denis. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Denis yang sudah terduduk sambil menatapnya. Tatapan yang sangat aneh.


"Aku kedinginan dibawah. Jadi aku pindah. Malam ini aja Den. Aku gak kuat dingin." Alex meringis. "Aku juga gak bisa tidur karena memikirkan papaku. Beliau sakit saat kutinggalkan. Aku khawatir dengan keadaannya sekarang."


Alex duduk dan bersandar dikepala pembaringan. Denis mengusap rambutnya yang acak-acakan. Ikut menyandarkan punggungnya.


"Kenapa lo gak pulang aja? Atau kalau enggak, lo telpon. Gak mungkin 'kan kalau lo gak ingat nomor telepon rumah lo sendiri?"


"Tentu saja aku ingat kalau nomor telepon rumah. Besok aku akan coba nelpon."


"Lo pakai aja handphone gue." Menunjuk ponselnya dengan dagu. Alex mengangguk. Dia melihat jam didinding. Pukul 01.45 dinihari. Jam segini semua orang sedang pulas-pulasnya tidur. Itupun kalau ada orang dirumah. Kalau papanya masih dirumah sakit, tentu mamanya dan Reno adiknya juga sedang menjaga papanya di rumah sakit. Jadi lebih baik besok saja meneleponnya.


"Terima kasih Denis. Besok aku akan coba nelpon ke rumah."


"Apa lo sudah mendapatkan gambaran tentang akar masalah lo?" Denis memicingkan matanya menatap Alex. Alex menggeleng. Dia tidak punya gambaran sama sekali. Selama ini semua baik-baik saja. Hubungannya dengan orang-orang terdekatnya. Tidak ada yang bisa dikatakan sebagai pemicu kejadian itu. Dia merasa tidak punya musuh.


"Lo harus mulai cari tahu."


"Aku akan cari tahu secepatnya."


"Lo bisa ngandelin gue kalo lo mau."


Alex mengangguk. "Thanks."


Denis kembali membaringkan tubuhnya. Memejamkan matanya mencoba untuk kembali terlelap. Tapi kehadiran Alex di tempat tidur membuat ia kurang nyaman. Sehingga kantuk itu malah hilang begitu saja.


Denis memiringkan tubuhnya membelakangi Alex. Menajamkan telinganya mendengar pergerakan pria yang berada dibalik punggungnya. Tidak ada pergerakan. Mungkin Alex sudah tidur.


Denis turun dari tempat tidur. Pelan dia membuka pintu kamar dan menutupnya dengan cara yang sama.


Gerimis masih tersisa dan sepertinya akan terus begitu sepanjang malam. Angin berhembus membawa tempias air hujan membuat dingin menusuk kulit hampir tak tertahankan. Denis berjalan menuju dapur. Menyeduh kopi instant yang selalu tersedia didalam kitchen set.


Denis membawa kopi bikinannya dan duduk disofa. Menyesapnya perlahan sambil matanya tertuju pada rintik air hujan yang tak berhenti turun. Menyimpan cangkir kopinya diatas meja dihadapannya. Mengusap lengannya yang tak tertutup apapun. Harusnya tadi dia mengambil jaket kalau mau duduk diluar. Tapi tadi dia tak berniat untuk duduk lama disini.


Sudut matanya tiba-tiba melihat sebuah pergerakan yang mencurigakan disudut halaman. Denis menajamkan tatapannya. Dalam diam dia mengedarkan pandangannya.


Ini sudah melewati tengah malam. Hujan yang terus turun membuat suasana semakin sepi. Kendaraan yang lewat dijalan depan rumah bang Theo semakin jarang terdengar. Jalan itu bukanlah jalan utama. Hanya jalan yang ada didalam kompleks perumahan tempat tinggal bang Theo. Sehingga jarang kendaraan yang lewat ketika malam sudah selarut ini.


Denis menajamkan pendengarannya. Dia yakin tadi dia melihat bayangan. Tapi mungkin saja itu hanya bayangan daun yang bergerak karena tertiup angin.


"Kenapa kamu malah duduk diluar, Den? Ini dingin banget." Denis menoleh. Alex sudah berdiri disampingnya.


"Kenapa lo keluar?" Denis menyesap lagi kopinya. Sambil matanya kembali memerhatikan keadaan disekitar halaman belakang rumah bang Theo yang sebagian rimbun oleh pepohonan dan rumpun bunga. Lampu taman yang temaram tak cukup untuk membuat setiap tempat terlihat dengan jelas. Apalagi bayangan pepohonan membuat beberapa tempat menjadi samar.

__ADS_1


Alex menutup mulutnya yang terbuka lebar karena menguap. Kantuk sudah menyerangnya tapi ia penasaran dengan apa yang dilakukan Denis sehingga tak kunjung kembali kedalam kamar. Dia belum tidur ketika Denis keluar kamar diam-diam. Dia pikir Denis mau ke toilet atau sekedar ambil air minum di dapur. Ternyata teman sekamarnya itu sedang asik duduk sambil minum kopi.


"Lo mau kopi?" Denis mengangkat cangkir kopinya. Alex masih berdiri di samping Denis.


"Kalau mau nyeduh aja sendiri."


Denis menghabiskan kopinya. Menyimpan cangkir didapur kemudian berlalu masuk ke kamar. Meninggalkan Alex yang garuk-garuk kepala melihat tingkah Denis. Bahkan dia belum menjawab pertanyaan cowok itu.


Dia tidak mengerti dengan sikap Denis yang selalu menghindarinya. Berbicara hanya hal penting saja. Cowok yang sangat kaku dan tertutup. Walau diakuinya Denis punya sisi positif. Ternyata dia cukup menaruh perhatian pada masalah yang dihadapinya. Atau mungkin karena Denis ingin dia cepat pergi dari tempat itu dan tidak mengganggu privasinya dengan tinggal satu kamar dengannya.


Alex tersenyum dan melangkahkan kakinya hendak menyusul Denis. Langkahnya tertahan ketika tiba-tiba dia melihat sebuah bayangan disudut matanya. Dia menoleh untuk memastikan apa yang dilihatnya.


Namun terlambat. Sebuah pukulan yang sangat keras menghantam tengkuknya. Pekikan kesakitan keluar dari mulutnya namun langsung dibekap oleh sebuah tangan kasar dan lebar. Tubuhnya limbung dan tanpa dapat ditahan lagi terjatuh menimpa lantai. Kesadarannya belum hilang sepenuhnya ketika dia melihat bayangan dua pria bertubuh kekar menyeretnya dari tempat itu dengan terburu-buru.


Denis baru saja membaringkan tubuhnya diatas kasur ketika samar mendengar pekikan suara Alex yang tertahan. Instingnya yang sangat peka terhadap keadaan membuat dia segera melompat dari tempat tidur dan meluru keluar. Apalagi jika diingatnya tadi ada yang mencurigakan disudut halaman dia semakin mempercepat langkahnya.


Dilihatnya dua orang pria bertopeng sedang berusaha menarik tubuh Alex yang tak sadarkan diri. Denis berlari mendekati mereka.


"Lepaskan dia!!" Denis melompat dan mengirimkan tendangan ke arah satu pria yang jarak jangkaunya paling dekat. Pria itu terhuyung. Pegangannya pada tubuh Alex terlepas. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Denis. Memasang kuda-kuda siap menyerang Denis. Matanya berkilat menahan amarah memandang Denis yang telah menggagalkan rencananya membawa Alex pergi dari rumah itu. Seorang pria lainnya melepaskan Alex dan ikut bersiap untuk menyerang Denis.


Denis membagi perhatiannya kepada dua orang pria bertopeng itu.


"Siapa kalian?" Tanyanya dengan suara dikeraskan. Berharap Lukman atau yang lainnya ada yang terbangun dan bisa membantunya.


Kedua orang pria itu saling melempar pandangan. Anggukan kecil yang hampir tidak terlihat mereka lakukan. Ternyata itu kode untuk sebuah serangan yang kemudian mereka lakukan bersama-sama. Dengan gesit Denis menghindari serangan serentak dua orang itu. Dia melompat ke halaman yang lebih luas agar leluasa menghadapi kedua orang itu. Dua orang pria itu mengejar Denis dan terus menyerangnya dengan saling bergantian. Mereka berharap Denis akan terpojok dan cepat dapat mereka kalahkan.


Harapan mereka sia-sia. Ternyata Denis sangat tangguh. Selain piawai dalam menghindar, berulangkali Denis berhasil mendaratkan pukulan dan tendangannya kearah lawan. Seorang dari mereka akhirnya terhuyung sambil memegangi perutnya yang baru saja mendapat sodokan lutut Denis. Tak lama kemudian temannya yang satu lagi mendapat tendangan pelak dari kaki kanan Denis.


Suara pintu rumah utama yang terbuka membuat perhatian dua orang pria bertopeng itu teralihkan. Sekilas mereka melihat bang Theo yang bergegas mendatangi tempat perkelahian yang tidak seimbang itu.


Salah satu dari mereka memanfaatkan kelengahan Denis untuk memberi satu pukulan sebelum kemudian keduanya mengambil langkah seribu. Denis yang terhuyung karena serangan itu segera menyadari kalau dua orang itu berusaha kabur.


"Jangan lari lo!!" Denis berlari mengejar dua orang itu. Sebuah mobil berwarna silver sudah menunggu didepan gerbang rumah bang Theo. Tanpa menunggu pintunya tertutup sempurna mobil itu langsung melesat meninggalkan tempat itu tepat ketika Denis tiba di pintu gerbang.


"Siapa mereka?" matanya masih menyorot kearah mobil yang kemudian menghilang di sebuah tikungan menuju jalan raya.


"Gue gak tahu. Yang jelas, mereka sepertinya mengincar Alex." Denis mendengus. Dia kemudian menutup rapat pintu gerbang yang terbuka. Gemboknya sudah rusak. Pasti orang-orang itu yang melakukannya.


"Gue rasa itu orang yang sama yang mengacau dibengkel kemaren." ujar Denis. Mobil berwarna silver itu sama persis dengan yang membawa empat pria sangar yang kemarin mencari gara-gara dengannya di bengkel. Kalau memang itu mereka, berarti dugaan Denis benar kalau mereka sebenarnya mengincar Alex. Hari ini mereka menggunakan topeng, tapi dari postur tubuhnya sepertinya dugaan Denis tidak salah.


Bang Theo mengajak Denis untuk kembali ke dalam rumah. Keduanya berjalan tergesa kembali masuk ke halaman belakang. Alex masih tergeletak di lantai. Sudah ada Lukman dan mang Jana disana. Bi Nani nampak sangat panik melihat keadaan Alex yang masih tak sadarkan diri.


"Pindahin ke kamar." Perintah bang Theo. Lukman dan mang Jana kemudian mencoba mengangkat tubuh Alex. Tapi keduanya kewalahan karena tubuh Alex yang tinggi besar tidak seimbang dengan fisik mereka. Bang Theo dan Denis membantu dua orang itu.


Dengan susah payah mereka bisa memindahkan tubuh Alex ke dalam kamar Denis.


"Gue malah berdua aja sama Denis waktu ngangkat dia dari dalam jurang." Gerutu bang Theo sambil menggotong tubuh Alex yang memang sangat berat itu. Lukman dan mang Jana hanya meringis menanggapi ucapan bang Theo.


Mbak Fani datang dengan raut wajah cemas. Tatapannya jelas sangat khawatir ketika menatap semua orang yang ada disitu.


"Siapa orang-orang tadi?" tanyanya dengan suara agak gemetar. "Mereka sudah pergi?"


"Mereka kabur." Bang Theo menyahut.


"Bagaimana keadaannya?" matanya tertuju pada Alex. Dia tidak pernah sepanik ini ketika menghadapi pasien dirumah sakit. Dia merasa panik karena tahu ada penjahat masuk kedalam rumahnya dan mencoba mencelakai salah satu penghuni rumah. Ini adalah pertama kalinya terjadi padanya dan semoga tidak akan terjadi lagi.


Mbak Fani kemudian mendekat dan memegang pergelangan tangan Alex. Dia menoleh ke arah bi Nani yang sedang berdiri dengan gelisah. Mbak Fani meminta minyak kayu putih pada bi Nani.


Bi Nani segera mencari apa yang diminta oleh mbak Fani di dalam kamarnya. Segera memberikannya setelah dia mendapatkan apa yang di carinya.

__ADS_1


Mbak Fani membuka penutup minyak itu dan mendekatkannya ke hidung Alex. Beberapa saat kemudian Alex bergerak. Matanya mengerjap disertai ringisan dari mulutnya.


Alex menatap satu persatu orang yang mengerubunginya. Perlahan dia bangkit dan meraba tengkuknya yang terasa sangat sakit akibat hantaman benda tumpul.


Bi Nani menyodorkan air minum dalam gelas. Alex mengambilnya dan meneguknya sampai habis.


"Maaf sudah merepotkan kalian semua." Katanya disela desisannya karena rasa sakit ditengkuknya.


"Lo berhutang nyawa sama Denis." ujar bang Theo membuat Alex menoleh ke arah Denis yang berdiri di dekat pintu. "Dia yang sudah nyelametin lo."


Alex tersenyum tipis menatap Denis.


"Terima kasih Denis. Untuk kedua kalinya kamu menolongku."


"Gue hanya ngelakuin apa yang bisa gue lakuin." Denis merendah." Kalau bang Theo gak datang gue juga gak tahu apa yang akan terjadi sama gue."


Bang Theo menepuk bahu Denis.


"Kalau gak ada lo, gak tahu nasibnya Alex sekarang."


Semua mengangguk setuju. Bang Theo kemudian menyuruh semua orang untuk bubar setelah memastikan Alex tidak terluka parah. Mbak Fani menyuruh bi Nani untuk mengambil air hangat dan handuk kecil.


"Tolong kompres luka memarnya pakai air hangat." kata mbak Fani ditujukan pada Denis.


"Mang Jana. Besok cari orang buat jaga didepan. Kita harus hati-hati. Siapa tahu orang itu akan kembali kemari." Giliran bang Theo memberi arahan pada mang Jana. "Cari orang yang bisa diandelin. Terutama buat jaga malam."


Mang Jana mengangguk sambil memikirkan siapa kira-kira orang yang bisa diberi tugas sebagai penjaga rumah seperti yang bang Theo harapkan.


"Syukur kalau yang bisa bela diri kayak Denis." sambung bang Theo.


Mang Jana menggaruk alisnya ketika keluar dari kamar Denis. Tugas berat yang diberikan bang Theo padanya harus dia lakukan dengan penuh tanggung jawab. Dia harus mencari orang yang dapat dipercaya dan juga dapat diandalkan.


"Siapa ya kira-kira?" gumamnya ketika menghampiri bi Nani yang berada di kursi dapur. Bi Nani menguap tidak kuasa untuk menanggapi pertanyaan suaminya yang lebih tertuju ke dirinya sendiri.


"Masih ngantuk mak? Tidur lagi sana. Subuh masih lama." dia kasihan melihat istrinya yang merem melek menahan kantuk. Udara yang sangat dingin membuat tubuh lebih memihak keatas kasur yang masih menunggu dengan segala kehangatannya.


"Takut penjahatnya datang lagi pak."


"Enggak bakalan. Lagian kalau balik lagi juga bukan nyari emak." dengus mang Jana. Bi Nani mendelikkan matanya. Kemudian beranjak menuju kamarnya dengan langkah yang tersaruk-saruk.


Mang Jana terkekeh melihat istrinya yang berjalan seperti orang mabuk. Lukman menggulung tubuhnya dengan sarung diatas sofa. Mang Jana mendudukan dirinya diujung kaki Lukman. Menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya.


"Kamu diem aja dari tadi, Man." mang Jana melirik kearah Lukman yang mengeratkan lengkungan tubuhnya.


"Jangan salah mang. Aku yang nelepon bang Theo ngasih tahu ada penyusup masuk ke dalam rumah." Lukman menjawab dari dalam sarung.


"Jadi kamu melihat pertarungan mereka?" Mang Jana antusias. Dia membetulkan posisi duduknya jadi menghadap Lukman.


Lukman akhirnya duduk, siap untuk bercerita pada mang Jana. Memulai ceritanya sejak saat mendengar teriakan Denis pada dua orang pria bertopeng. Dia terbangun dan menajamkan telinganya untuk mendengar keributan dihalaman rumah belakang. Dia tidak berani membuka pintu kamarnya apalagi mendekati perkelahian itu karena dia tidak bisa berkelahi. Yang dia lakukan adalah menelepon bang Theo melalui ponselnya, memberitahu apa yang terjadi. Awalnya teleponnya tidak diangkat. Baru setelah beberapa kali panggilan Bang Theo menjawab telpon dari Lukman. Itupun dengan suara yang sangat mengantuk.


Mang Jana kecewa karena Lukman tidak melihat langsung bagaimana Denis melawan para penjahat itu. Bagi mang Jana yang sangat serius mendengar cerita Lukman, bagian perkelahian itu merupakan bagian yang paling seru dan harusnya tidak terlewatkan untuk ditonton.


"Harusnya kamu rekam bagian itu, Man. Pasti seru." ujarnya dengan sedikit kecewa. Lukman menggelengkan kepalanya. Dasar mang Jana!


.


.


.

__ADS_1


.


*****^.^*****


__ADS_2