
Di rumah megah keluarga Wijaya, Rania baru saja memasuki kamar ibunya yang berada di lantai atas. Nyonya Aryanti sedang berdiri didekat jendela kamarnya ketika Rania masuk. Dia menatap sekilas putrinya yang datang menghampiri. Raut wajahnya datar dan kembali membuang tatapannya keluar jendela.
Rania mencium pipi kanan ibunya agak lama. Tersenyum menatap ibunya yang masih diam tak membalas perlakuannya.
"Ibu apa kabar?" Tanyanya lembut. Aryanti tidak segera menjawab. Dia malah menghela napas dan menghembuskannya perlahan.
"Seperti yang kamu lihat. Sekarang ibu sudah menjadi orang yang tidak berguna.." Ujarnya lebih kepada sebuah keluhan. Rania menggelengkan kepalanya pelan. Merasa miris mendengar ucapan ibunya yang nampak sangat putus asa.
"Kenapa ibu bicara seperti itu. Ibu masih sama seperti sebelumnya. Ibu adalah orang yang paling berpengaruh diperusahaan. Kata-kata ibu masih menjadi sebuah perintah untuk kami. Dan yang terpenting adalah, ibu tetaplah seorang ibu bagi kami. Orang yang paling penting dalam hidup kami."
"Jangan menghibur ibu. Kamu sendiri semakin jarang menemui ibu. Ibu sudah tidak dianggap lagi oleh kalian." Aryanti memalingkan wajahnya. Menyembunyikan gurat kekecewaan diwajahnya.
"Aku tidak bisa terlalu sering menemani ibu karena saat ini sedang fokus mencari Icha. Dia sudah berada semakin dekat dengan kita. Hanya saja saat ini Tuhan masih belum mengizinkan aku untuk bertemu dengannya." Mendengar nama cucunya disebut, Aryanti kembali menoleh dengan kilatan yang tajam.
"Kamu itu terlalu lambat dalam bertindak. Gak bisa diandalkan." Cetusnya sambil kembali memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku, bu. Aku janji, tidak lama lagi aku akan segera menemukan Icha." Lirih suara Rania menjawab cemoohan ibunya. Dia merasa bersalah karena tidak bisa secepatnya menemukan Icha.
"Tapi sepertinya dia baik-baik saja. Hanya saja, anak buahku kesulitan mendapatkan alamat pastinya karena dia terus berpindah-pindah. Itu menurut informasi dari orang-orang kita." Aryanti nampak terdiam. Matanya menatap kosong hamparan taman dibawah sana untuk beberapa saat.
"Sudahlah. Ibu sudah menyuruh orang untuk menyelidiki masalah ini. Kamu fokus saja dengan perusahaan."
"Jadi ibu sudah tidak percaya padaku untuk mencari anakku sendiri?"
"Ibu akan menangani sendiri masalah ini. Kalau kamu ingin mencari dengan caramu, silakan saja. Ibu tidak akan melarang. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menemukan Icha lebih dulu." Rania terdiam mencoba mencerna semua yang dikatakan oleh ibunya. Sepertinya wanita didepannya ini sudah kembali menjadi wanita yang tidak bisa dibantah. Memerintah dengan tegas dan menunjukkan kuasanya.
__ADS_1
"Baiklah kalau memang itu keinginan ibu. Tapi sebaiknya ibu fokus pada kesehatan ibu. Jangan berfikir terlalu keras. Ibu percayakan saja semuanya kepadaku. Aku juga sangat ingin segera bertemu dengan Icha. Aku sangat merindukannya. Sama seperti ibu.."
"Aku akan lebih keras lagi dalam mencari informasi tentang teman-teman Icha." Rania menghela napas pelan. "Ini semua salahku. Aku bahkan tidak tahu siapa saja teman Icha. Aku tidak tahu dia bergaul dengan siapa. Aku tidak tahu apa-apa tentang dia.." Matanya sudah mulai memanas dan digenangi cairan bening.
Aryanti masih terdiam dengan wajah datarnya. Bukan karena dia tidak merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putrinya. Namun itulah sifat aslinya. Dia tidak mudah menitikkan airmata. Dia adalah wanita tegar dan keras hati.
Aryanti mengeratkan lipatan tangan didadanya. Membiarkan Rania keluar dari kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi. Diliriknya bayangan putrinya dengan sudut matanya. Dan ketika pintu sudah tertutup membawa bayangan tubuh Rania dibaliknya, diam-diam ujung jarinya mengusap sudut matanya yang sedikit basah.
Dalam hatinya berharap, semoga Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bertemu dengan Icha dan menebus semua kesalahannya dimasa lalu.
*****
Pengintaian yang dilakukan Denis dan Jack tidak sia-sia. Sebuah mobil nampak keluar dari dalam garasi. Walaupun tidak kelihatan siapa dan berapa orang didalam mobil itu, namun itu cukup menunjukkan kepada Denis kalau rumah yang nampak kosong tidak terawat itu ternyata berpenghuni. Bukankah memang sangat aneh jika rumah yang kelihatan kotor dari luar itu ternyata ada yang menempati di bagian dalamnya.
"Gue akan cari tahu kesana." Denis menunjuk rumah itu dengan dagunya. Jack dan Nerrow saling memandang.
Tanpa menunggu lama, Denis bergerak menuju rumah itu dengan Nerrow mengikutinya dari belakang.
"Hati-hati Den. Kita gak tahu orang-orang yang ada didalam sana." Bisik Nerrow. Denis mengangguk paham. Mereka langsung menuju pintu garasi yang tadi sempat terbuka karena mengeluarkan mobil dari dalamnya. Pintu garasi itu sudah tertutup. Hanya menyisakan sedikit celah disalah satu sisinya.
Dua orang berbadan besar langsung menghadang Denis dan Nerrow yang sedang mengendap didekat pintu garasi. Menatap penuh curiga dua orang tamu tak diundang dihadapan mereka. Mereka berusaha mengusir Denis dan Nerrow dari tempat itu. Namun tentu saja Denis tidak mengindahkan kata-kata orang itu. Dia bersikeras untuk masuk kedalam rumah itu walau dua orang penjaga itu nampak sangar dan tidak bisa dianggap enteng.
Perkelahian tak dapat dihindari. Denis dan Nerrow tidak diberi kesempatan untuk berkelit lagi karena dua orang itu yakin kehadiran Denis dan Nerrow disekitar rumah itu pastinya sangat mengancam keberadaan mereka disana. Sedangkan Denis semakin yakin, rumah itu merupakan tempat persembunyian orang yang sedang dicarinya. Terlihat dari cara orang-orang itu melindungi rumah itu dan langsung menyerang Denis.
Kemampuan Nerrow dalam berkelahi ternyata cukup lumayan juga. Denis hanya fokus pada satu orang pria tegap dan satunya lagi dihadapi oleh Nerrow. Rupanya lawan mereka sangat terlatih dan ahli dalam bela diri. Pastinya mereka orang-orang bayaran yang profesional yang sengaja disewa untuk menjaga tempat itu.
__ADS_1
Namun kemampuan Denis masih berada diatas orang-orang itu. Walaupun memerlukan waktu yang cukup lama, namun akhirnya dia dan Nerrow berhasil menumbangkan dua orang penjaga itu. Tangan Denis melambai kearah Jack yang memperhatikan dari kejauhan. Dengan sigap Jack datang menghampiri dan bertindak sesuai dengan arahan Denis.
Dia mengikat dua orang itu dan membawanya kedalam ruangan garasi yang sudah mereka tutup dengan rapat. Setelah mengamankan dua orang itu, barulah Denis dan Nerrow memasuki rumah yang ternyata lebih luas dari kelihatannya dari luar.
Menyusuri ruang demi ruang dengan teliti, mencari keberadaan penghuni rumah itu. Namun mereka tidak menemukan apa yang mereka cari di lantai bawah. Merekapun bergerak ke lantai atas. Dilantai ataspun mereka kembali harus menelan kecewa karena tidak menemukan apa-apa. Semua ruangan tidak berpenghuni dan nampaknya tidak pernah ditinggali dalam waktu yang cukup lama.
Denis menghela napas kecewa. Dengan berat hati dia mengajak Nerrow untuk segera meninggalkan tempat itu.
*****
Dua orang pria yang masih diikat tangan dan kakinya meringis ketika mendapat tendangan dari Jack. Mereka sedang diinterogasi tentang keberadaan pemilik rumah itu. Namun tentu saja mereka lebih memilih mendapat tendangan dari Jack daripada harus mengatakan yang sebenarnya.
"Kami tidak tahu apa-apa. Kami hanya dibayar untuk menjaga rumah ini. Selain itu kami tidak tahu apa-apa." Ucap salah satu dari mereka.
Denis dan Nerrow keluar dari dalam rumah. Melihat kedua temannya yang datang dengan tangan hampa membuat Jack menduga bahwa mereka tidak menemukan apapun didalam rumah itu.
"Gak ada apa-apa didalam. Lepasin aja mereka. Kayaknya kita udah salah." Kata Denis sambil menatap dua orang pria yang meringkuk disudut ruangan. Nampak dua pria itu bernapas lega mendengar penuturan Denis. Mata mereka saling menatap dan ada seulas senyum tipis yang nyaris tidak kelihatan tercetak dibibir mereka.
"Lo yakin gak ada apa-apa didalam sana?" Jack menatap Denis seolah tak percaya dengan yang baru saja dikatakan sahabatnya itu.
"Gue sama Nerrow sudah memeriksa semua tempat. Tapi gak ada hal yang mencurigakan. Gak ada ruangan yang terlewatkan. Semua kita periksa." Ucapan Denis diangguki oleh Nerrow. Dia merasa yakin kalau dia dan Denis sudah memeriksa seluruh rumah itu.
"Jadi, kita lepasin mereka nih?" Jack meyakinkan sebelum dia benar-benar melepaskan ikatan dua orang tawanannya.
"Lepasin aja." Denis memberi isyarat kepada Nerrow agar melepaskan ikatan kedua orang itu. Namun sebelum mereka menyentuh ikatan untuk dilepas, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah itu. Suara klakson terdengar meminta agar pintu garasi segera dibuka. Semua orang yang berada didalam saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
*****