
Suasana malam yang hingar bingar disuatu kawasan yang cukup jauh dari pemukiman penduduk. Jalanan yang lengang karena memang belum digunakan untuk umum telah dimanfaatkan oleh para anak muda untuk dijadikan arena balap liar. Tempat itu mereka rasa cukup aman dari intaian aparat yang selalu sedia untuk mengobrak-abrik dimanapun balapan liar diadakan. Tak ada rasa jera walaupun berulangkali mereka harus berhadapan langsung dengan aparat, seolah itu adalah suatu permainan yang menantang adrenalin yang harus mereka taklukan.
Balapan telah dimulai ketika Denis memarkirkan motornya bersama barisan motor lainnya milik para penonton malam itu. Sebelum turun dari motornya dia melepas helm yang melindungi kepalanya. Mengibaskan rambutnya yang berantakan dan menyisir dengan jarinya. Beberapa perempuan yang melintas didekatnya tak urung mencuri pandang ke arahnya. Tak ada satupun yang akan menyangka, dibalik tubuh yang macho itu ada jiwa perempuan bersemayam didalamnya.
Sesaat dia terdiam diatas motornya memerhatikan semua orang yang berada disana dalam keremangan malam. Mencari-cari keberadaan teman-temannya dengan pandangan matanya.
"Denis!" Seseorang mengenalinya dan menghampiri Denis.
"Mana yang lain?" tanya Denis setelah saling mengadu tinju tanda salam ciri khas mereka.
"Sebelah sana. Telat banget lo." Pria yang menyapa Denis menunjuk dengan dagunya. Kemudian mengajak Denis untuk menemui teman-teman mereka. Denis mengikuti langkah pria itu sambil memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya. Udara malam terasa cukup menusuk kulit.
"Siapa yang lagi turun?" Tanya Denis ketika sudah sampai ditempat kerumunan teman-temannya, sesama anak buah Jack.
"Nerrow." Jawab salah seorang dari mereka. "Lo gak mau turun, Den?"
"Gak lah. Gue mau nonton aja. Bang Jack mana?"
"Tadi sih sama ceweknya. Tuh disana." Denis mengikuti arah yang ditunjukkan temannya. Samar dia dapat melihat Jack yang sedang bicara dengan seorang wanita.
Suasana berubah riuh ketika nampak cahaya lampu motor semakin mendekat. Raungan suara mesin motor yang memekakkan telinga semakin jelas terdengar. Hingga akhirnya mereka sampai digaris finish yang telah ditentukan.
Teriakan para pendukung masing-masing pembalap terdengar membahana ditengah suasana malam yang semakin naik kejantungnya.
Motor Nerrow mendekat dengan suaranya yang meraung-raung. Berhenti diantara teman-temannya dan mendapat dukungan moril karena tidak bisa memenangi balapan kali ini. Beberapa tepukan dibahunya sebagai tanda pemberian semangat dari teman-temannya.
"Denis. Kapan lo datang?" Jack sudah berada diantara mereka. Seorang gadis cantik menempel disampingnya.
"Baru aja. Sorry gue telat."
Tiba-tiba terdengar keributan dari kerumunan orang yang sedang berpesta kemenangan. Perhatian semua orang terpusat kearah terjadinya keributan.
"Ada apa sih?" Denis dan teman-temannya penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kita pergi aja dari sini. Ayo!" Jack menarik tangan gadisnya dengan cepat menuju motornya. Yang lain segera mengikuti jejak ketua mereka menuju motor masing-masing. Segera pergi dari tempat itu untuk menghindar dari keributan yang sedang berlangsung.
Denis tak mau ketinggalan mengikuti konvoi motor teman-temannya. Ketika mereka memasuki jalan raya, mereka berpapasan dengan beberapa motor patroli polisi. Ternyata keputusan mereka untuk meninggalkan tempat itu merupakan keputusan yang tepat.
Mereka berpencar untuk menghilangkan jejak dari pantauan polisi. Setelah berputar arah dan merasa cukup aman, Denis mengarahkan motornya ke bengkel milik Jack. Langsung memasukkan motornya kedalam gudang yang juga berfungsi sebagai basecamp gangnya Jack.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Jack datang dengan membonceng pacarnya. Disusul oleh Nerrow yang juga bersama seorang gadis dipunggungnya.
Mereka mengambil tempat duduk masing-masing setelah menempatkan motornya dibalik tumpukan barang-barang yang memenuhi gudang itu. Nerrow mengambil beberapa kaleng minuman ringan dan membagikannya kepada semua yang ada disana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Denis setelah meneguk minumannya.
"Gue gak tahu. Tapi sepertinya ada yang sengaja bikin ribut disana. Untung aja kita gak terlibat dan langsung pergi. Kalau enggak, gak tahu deh gue." Jack meneguk minumannya. Wajahnya nampak cukup serius menanggapi masalah itu.
"Yang lain aman gak?"
"Semua aman. Gue udah cek." Nerrow mengangkat handphonenya. Jack nampak bernafas lega. Dia kemudian menoleh kearah gadis yang duduk disebelahnya.
"Nginap disini aja. Sudah terlalu telat buat pulang. Ceweknya Nerrow juga nginap." Gadis itu mengangguk setuju. Dia kemudian mengajak gadis yang bersama Nerrow menuju sebuah kamar yang berada disudut tempat itu. Disana ada sebuah matras lusuh yang bisa dijadikan tempat mereka berbaring. Tanpa memperdulikan para pria yang masih ngobrol, mereka membaringkan tubuhnya berdampingan dan mulai terlelap.
"Lo gak pulang, Den?" Tanya Jack yang melihat Denis mengotak-atik ponselnya. Sedangkan Nerrow tanpa permisi segera menghilang dari tempat itu.
"Gak bang. Gue tidur disini aja." Denis menjawab sambil terus memeriksa beberapa pesan yang masuk. Salah satunya dari Andre yang merupakan anak buah Alex yang bertugas menjaga rumah Alex. Pria itu menanyakan keberadaannya karena dari pagi tidak ada dirumah. Pria itu mengatakan kalau Alex mengamuk dikamarnya dan semua barang-barang dikamarnya dia hancurkan.
Hanya membaca pesan itu tanpa ada keinginan untuk membalasnya.
Melihat waktu kirim pesan itu dikirimkan jam delapan malam. Beberapa pesan juga Andre kirim sejak pagi. Tapi Denis memang telah mematikan ponselnya sejak pagi dengan sengaja.
"Lo dimana Den? Kenapa handphone lo mati?"
Suara Andre langsung menyambar telinganya membuat Denis sedikit meringis.
"Boss nanyain lo terus. Gue harus bilang apa? Hallo, Denis!"
" Gue lagi dirumah teman. Besok pulang." Denis langsung memutuskan sambungan telepon. Meletakkan handphone diatas meja dan dia merebahkan punggungnya disandaran sofa. Matanya terpejam dan menghembuskan nafasnga perlahan.
"Lo gak lagi bermasalah sama Alex kan?" Jack yang memperhatikan Denis tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Denis tak merubah posisinya.
"Gak ada. Gue cuma males aja lihat dia sedih kayak gitu. Gue gak tahu harus berbuat apa buat nenangin dia." Ujarnya pelan.
"Ya..lo seenggaknya ada didekat dia."
"Bang.." Denis menegakkan tubuhnya. Matanya terbuka dan menatap Jack. "Anak buah lo masih kan nyari dua buronan Alex?"
"Masih. Lo tahu kan. Anak buah gue ada dimana-mana. Menyebar disemua tempat. Mereka pasti bisa melacak keberadaan Bisma sama Tania kecuali kalau mereka menyamar. Mungkin agak sulit dikenali, karena kan anak buah gue cuma lihat foto yang lo kasih." Ujar Jack panjang lebar.
__ADS_1
Mendengar hal itu Denis kembali menyandarkan punggungnya.
Nerrow datang dengan membawa kantong berisi makanan. Berbagai macam gorengan yang masih panas dia beli dari pedagang gerobak yang mangkal tidak jauh dari bengkel mereka. Para pedagang itu berjualan sampai dini hari. Dia meletakan makanan itu di atas meja dan mulai menyantapnya.
"Lapar gue.." Ujarnya tanpa ditanya. Denis dan Jack mengambil makanan yang disukainya dan mulai menyantapnya.
"Pacar lo berdua gak dipanggil tuh." Kata Denis sambil melirik ke arah kamar kecil tempat dua gadis berada.
"Gak usah. Mereka udah pada tidur. Kasihan kalau dibangunin." Jam sudah menunjukkan angka lewat dari jam satu dinihari.
Sedangkan tidak jauh dari bengkel Jack, dua orang pria didalam mobil sedang mengawasi bangunan tempat Denis berada. Seorang diantaranya sedang melakukan panggilan telepon.
"......"
"Saya sedang menunggu didepan bengkel, pak."
"......"
"Baik, Pak. Saya akan terus mengawasi dia."
Pria itu menutup panggilannya setelah mendengarkan instruksi dari ujung telepon. Melirik ke arah temannya yang menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Ditepuknya bahu temannya itu hingga pria itu melonjak karena terkejut.
"Jangan tidur woi..Bos nyuruh kita terus mengawasi tempat ini. Jangan sampai kita kehilangan jejak lagi."
"Lo yakin tadi itu Icha anaknya bu bos?"
"Gue yakin. Gue kenal wajahnya."
"Yang mana satu? Cewek yang masuk kesana tadi kan ada dua orang. Yang namanya Icha itu yang mana?" Tanya temannya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Pria yang tadi menelepon memukul kepala temannya pelan.
"Bukan itu ****. Icha itu yang bawa motor gede warna merah, bukan yang dibonceng sama cowok."
"Hah? Masa sih? Bukannya itu cowok ya?"
"Gue lupa lo baru beberapa bulan kerja sama bos. Yang namanya Icha itu, cewek dengan tampilan cowok. Gue juga gak yakin sih, dia itu cewek apa cowok ya?" Pria yang bernama Ferdi itu garuk-garuk kepala sambil terkekeh. Dia sendiri bingung. Walaupun dia tahu Icha itu perempuan, tapi dia merasa berhadapan dengan seorang lelaki ketika bertemu langsung dengan anak dari bosnya itu.
Ferdi melihat jam yang melingkar ditangannya. Sudah hampir dua jam dia menunggu didalam mobil. Orang yang sedang dia awasi tidak ada tanda-tanda akan segera keluar dari dalam bangunan itu. Tadi memang sempat ada yang keluar dari bangunan itu, tapi bukan orang yang dia maksud.
Kantuk mulai menyerangnya. Beberapa kali dia menguap dan kelopak matanya semakin terasa berat. Kepala temannya bahkan sudah terkulai tak kuasa menahan kantuk. Dia pun akhirnya tumbang juga. Ternyata hukum alam lebih berkuasa dibanding dengan tekadnya untuk tetap terjaga sepanjang malam.
__ADS_1
******