
Setelah menyelesaikan ritual makan malam yang dipenuhi celotehan Viola, keempat orang itu kembali duduk diruang keluarga. Reno dan Viola masih penasaran dengan kisah Alex selama ini. Walaupun sedikit enggan untuk menanggapi setiap pertanyaan dari Viola, namun tak urung Alex menceritakan sepenggal kisah perjalanannya.
Viola dan Reno nampak antusias mendengarkan sampai akhirnya mereka kembali membahas tentang kelakuan Bisma yang sangat jauh dari perkiraan mereka.
Ditengah pembicaraan mereka, deringan dihandphone Reno mengalihkan perhatian semua orang.
Reno mengambil handphonenya dan melihat siapa yang menelepon.
"Permisi.." Katanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia kemudian keluar dari ruangan itu dari pintu samping yang langsung mengarah ke sebuah taman. Gerak-geriknya tak luput dari perhatian Denis. Dia bahkan kemudian ikut bangkit dari tempat duduknya dan pamit untuk pergi ke toilet kepada Alex dan Viola. Sebenarnya hal itu hanya alasannya saja. Diam-diam dia mendekati tempat Reno berbicara dengan handphonenya.
Nampak pria yang merupakan adik tiri dari Alex itu sedang serius bicara ditelepon. Tempatnya berdiri agak jauh dari jangkauan pendengaran Denis sehingga dia tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Reno. Denispun tidak bisa mendekat tanpa dilihat oleh Reno karena tempat Reno berdiri ada ditempat yang lapang dan sangat terang benderang oleh lampu. Dia hanya memperhatikan dari kejauhan sambil mencari cara untuk bisa mendekat ketempat Reno berada.
Namun hingga Reno selesai bicara, Denis masih belum bisa mendekati cowok itu. Akhirnya dia segera beranjak dari tempatnya berdiri sebelum Reno menyadari bahwa ada orang yang sedang berusaha mendengarkan pembicaraannya.
"Siapa?" Tanya Alex ketika Reno kembali duduk ditempatnya semula.
"Dari pak Yunus."
"Ada info tentang mama?" Pak Yunus adalah pengacara pribadi keluarga mereka.
Reno menghela nafas. Kepalanya menggeleng pelan.
"Aku minta maaf banget untuk semua yang mama lakukan sama kamu dan papa. Sepertinya mama memang menghubungi pak Yunus. Besok pagi pak Yunus akan datang kemari dan membicarakan masalah ini sama kak Alex."
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Sekarang sudah terlalu malam. Besok saja. Sebaiknya sekarang kita istirahat."
"Reno benar. Sebaiknya kamu istirahat. Aku yakin, selama ini kamu tidak bisa istirahat dengan benar. Kamu butuh istirahat, Lex." Viola menimpali ucapan Reno. Jemari lentiknya menyentuh punggung tangan Alex.
"Baiklah. Aku akan menunggunya besok." Alex bangkit dari tempat duduknya, sekaligus melepaskan tangannya dari tangan Viola. "Kalau begitu, aku permisi."
Tanpa menunggu jawaban dari Viola dan Reno, Alex beranjak meninggalkan ruangan itu. Matanya beredar melihat keberadaan Denis yang sejak tadi tidak kembali bergabung bersama mereka. Tiba dilantai atas, Alex melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditempati Denis. Diketuknya pintu itu untuk memastikan Denis sudah berada didalamnya.
Pintu terbuka tidak lama kemudian. Denis muncul dari balik pintu. Tanpa meminta ijin dulu, Alex melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. Denis mengernyitkan keningnya melihat Alex yang sudah berada didalam kamarnya. Dia menutup pintu dan berbalik mengikuti langkah Alex.
"Tadi Pak Yunus menelepon Reno. Dia bilang ada informasi tentang ibu tiriku." Alex berdiri didekat jendela. Tangannya masuk kedalam saku celananya.
"Kenapa pak Yunus tidak menelepon lo secara langsung? Atau setidaknya dia bicara sama lo." Denis bersandar dimeja rias yang ada didalam kamar itu. Matanya lekat menatap Alex.
"Aku tidak tahu. Tapi besok pagi dia mau datang kesini untuk membicarakan masalah ini."
"Kenapa tidak sekarang saja. Masalah papa lo adalah masalah yang sangat penting. Seharusnya dia tahu, tidak boleh menunda-nunda untuk membahas masalah papa lo. Informasi sekecil apapun, pasti itu sangat berarti."
"Kamu mencurigai sesuatu?"
Denis menghela napas. Dia melipat kedua tangan didepan dadanya. Matanya saling beradu tatap dengan mata Alex.
"Gue pernah bilang, kalau kita harus selalu waspada. Siapapun itu, patut kita curigai. Bahkan adik lo sekalipun."
"Aku tidak mungkin curiga sama adik aku sendiri."
__ADS_1
Denis mendengus kasar.
"Bahkan perempuan yang lo panggil mama itu berkhianat sama lo. Dan lo gak sadar sama sekali."
"Aku benar-benar gak nyangka untuk masalah itu. Tapi kalau Reno..."
"Sudahlah. Lo gak akan bisa terpengaruh kata-kata gue, kecuali ada bukti nyata." Denis mengibaskan tangannya. Dia rasa tak akan ada habisnya kalau harus berdebat dengan Alex mengenai Reno. Pria itu terlalu naif.
Alex menghela napas. Dia tidak bisa menyalahkan Denis kalau dia curiga pada adiknya. Tapi dia tidak punya alasan yang jelas untuk mencurigai Reno. Dia sama seperti dirinya. Sama-sama anak Arga Dinata. Jadi rasanya sangat tidak mungkin kalau sampai Reno bersekongkol dengan Tania untuk mencelakakan Arga Dinata.
Alex menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Mengganjal kepalanya dengan lengannya dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.
"Apa mereka memperlakukan papa dengan baik?" Dia kembali bangkit. Duduk diatas kasur dan meremas rambutnya dengan frustasi. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Arga Dinata.
"Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang sementara papa berada ditangan orang jahat. Kamu tahu sendiri bagaimana orang yang bernama Bisma itu."
"Gue rasa dia gak akan ngelakuin apa-apa sekarang ini. Papa lo sangat berarti buat dia. Dia pastinya akan meminta sesuatu sebagai syarat melepaskan papa lo. Dan selama itu, kita akan terus cari tahu posisi mereka."
"Tapi papa butuh perawatan khusus untuk kesehatannya. Bagaimana kalau kesehatannya semakin memburuk selama berada di tangan mereka?"
"Lo banyak berdoa aja. Semoga mereka masih punya rasa kemanusiaan dan memperlakukan papa lo dengan baik."
Alex kembali menjatuhkan punggungnya diatas kasur. Memejamkan matanya rapat-rapat. Telapak tangannya menangkup wajahnya. Keresahan terlihat jelas dari gerak tubuhnya.
Denis hanya menatap Alex yang terbujur diam di atas pembaringan. Ikut merasakan apa yang pria itu rasakan.
Tidak lama kemudian tangan Alex luruh pelahan disisi tubuhnya. Nafas halusnya terdengar teratur menandakan dia sudah terlelap dalam tidurnya.
Suara notifikasi pesan dari handphone miliknya berbunyi. Alex memang memberinya sebuah handphone untuk memudahkannya komunikasi dengan orang-orang suruhannya. Terutama Jack dan Nerrow yang dia percaya untuk mengawasi pergerakan orang-orang yang mencurigakan disekitar kediaman Alex.
Denis memeriksa handphonenya. Sebuah pesan dari Jack yang mengatakan bahwa ada yang keluar dari dalam rumah dengan menggunakan sebuah mobil. Denis membalas pesan itu dengan menyuruh anak buah Jack untuk terus mengikuti orang yang baru saja keluar dari dalam rumah. Dia sendiri kemudian beranjak dari tempat tidur dan keluar dari dalam kamarnya.
Dengan langkah hati-hati dia memeriksa keadaan didalam rumah. Kalau tidak salah perkiraannya, maka yang keluar barusan adalah Reno. Mengingat penghuni rumah saat ini selain dirinya dan Alex, hanya ada Reno dan Viola. Rasanya tidak mungkin kalau Viola keluar ditengah malam seperti ini. Bahkan dia setengah memaksa agar diijinkan tetap tinggal dan menginap dirumah ini.
Dentingan di handphonenya mengalihkan perhatian Denis. Segera dia memeriksa pesan yang baru saja masuk. Dia kemudian memanggil nomor yang baru saja mengiriminya pesan.
"Gimana bang?" Tanyanya dengan suara pelan. Matanya beredar melihat disekelilingnya. Tidak mau kalau sampai ada orang lain yang mendengar dia bicara ditelepon.
"Gue lagi ngikutin orang itu..." Jack menyebutkan ciri-ciri fisik orang yang sedang diikutinya. Menyebutkan tempat yang sekarang sedang didatangi orang itu.
Denis sangat yakin kalau orang yang sedang di perhatikan oleh Jack adalah Reno. Ciri-cirinya sangat cocok dengan ciri fisik Reno. Ternyata Reno mendatangi sebuah club malam. Denis menyuruh Jack untuk terus memantau aktifitas Reno.
Denis kembali kedalam kamar. Rasa kantuk sudah menderanya. Dia tertegun ketika melihat ada Alex yang tidur dipembaringannya. Sebenarnya masih ada tempat yang luas untuk dia ikut berbaring disana. Tapi Denis lebih memilih sebuah sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dia berbaring disana. Sesaat menatap Alex yang berada di seberangnya. Pria itu nampak sangat lelap dalam tidurnya. Perlahan mata Denis mengatup menandakan dia sudah tidak bisa lagi menahan kantuk.
*****
Pagi menjelang. Viola mengetuk kamar Alex untuk mengajaknya sarapan. Beberapa kali dia mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Alex, namun yang dipanggil tak kunjung keluar. Akhirnya dia memutar handle pintu dan mendorongnya pelan.
"Alex?" Kakinya melangkah kedalam kamar. Matanya mengernyit melihat tempat tidur yang kosong dan rapi. Apa Alex sudah bangun dan merapikan sendiri tempat tidurnya? Viola kembali memanggil Alex sambil melangkahkan kakinya mendekati kamar mandi. Mungkin Alex sedang mandi, sehingga dia tidak mendengar panggilannya. Namun dia tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar mandi itu. Tidak ada suara gemericik air dari dalam sana.
Viola kembali keluar dari kamar Alex setelah yakin pria itu tidak berada didalam kamarnya. Ketika dia menutup pintu kamar Alex, seseorang membuka pintu kamar sebelahnya. Viola menoleh. Dia terkejut melihat siapa yang baru saja muncul dari balik pintu itu. Alex nampak keluar dari sana dengan rambut yang berantakan. Nampak sekali kalau dia baru saja bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Alex? Kamu...?"
"Selamat pagi, Vio.."
Alex langsung masuk kedalam kamarnya. Menyisakan Viola yang termangu menatap pria itu menghilang dibalik pintu. Dia menggelengkan kepalanya sebelum berlalu dari depan pintu kamar Alex.
Tiga puluh menit kemudian Alex turun menuju meja makan. Denis berjalan disampingnya dengan wajah dinginnya yang khas. Viola yang sudah terlebih dahulu duduk dimeja makan, memerhatikan dua orang itu diam-diam. Tak bisa dia pungkiri kalau dua orang yang baru datang itu memiliki pesona masing-masing. Walaupun nampak sangat bertolak belakang.
Alex memiliki wajah yang tampan dan memancarkan kehangatan. Matanya lembut dengan keramahan yang terpancar walau dia tidak tersenyum. Sedangkan Denis berwajah keras dengan tatapan dalam dan dingin. Cara berpakain mereka juga berbeda.
"Selamat pagi, Vio.."
Alex menarik kursi diujung meja. Diikuti Denis duduk dikursi didekatnya, berhadapan dengan Viola.
"Selamat pagi, Alex. Selamat pagi, Denis." Viola melemparkan senyum manisnya menyapa dua orang yang baru saja bergabung dimeja makan. Denis hanya mengangkat tatapannya sekilas. Kemudian mengambil piring didepannya dan mulai mengisinya dengan nasi goreng.
"Dimana Reno?" Tanya Alex.
"Dia masih dikamarnya. Oh, itu dia..." Viola yang menjawab. Senyumnya mengembang ketika melihat orang yang ditanyakan oleh Alex sedang berjalan menuju meja makan.
Semua menoleh kearah Reno yang baru saja datang. Pakaiannya sudah rapi sempurna dengan jas dan rambutnya yang tertata rapi.
Reno menyapa semua orang dan duduk disebelah Viola.
"Kamu mau ke kantor?" Alex menatap adiknya itu sesaat.
"Iya. Apa kak Alex akan ikut denganku?" Reno mengambil roti dan mengolesnya dengan selai kacang.
"Jam berapa pak Yunus kesini?" Alex malah balik bertanya. Dia menyendok nasi goreng ke piringnya. Semenjak dia tinggal diluar dan hidup bersama Denis, dia mulai terbiasa sarapan dengan sesuatu yang lebih berat. Dia mengambil menu yang sama dengan yang yang Denis makan.
"O iya. Aku hampir lupa. Mungkin sebentar lagi dia datang. Katanya dia akan datang pagi-pagi."
Alex mengangguk tanda mengerti. Mereka kemudian makan dalam diam. Sesekali Viola memandang Alex disela suapan kemulutnya.
"Oya, Reno. Sebisa mungkin jangan sampai kejadian yang menimpa papa menyebar diluar sana. Sangat penting kita menjaga berita ini agar tidak diketahui oleh banyak orang. Aku tidak mau keselamatan papa sampai terancam gara-gara hal itu." Alex menatap adiknya dengan serius.
"Tentu saja, kak. Aku juga sudah mengerti akan hal itu." Reno mengangguk. Keheningan melanda untuk beberapa saat. Sampai kemudian terdengar suara Viola yang ditujukan kepada Alex.
"Alex..Apa malam nanti kita bisa makan malam berdua?" Tanyanya ragu. Reno memelankan kunyahan dimulutnya. Matanya melihat roti yang sedang dipegangnya, tapi telinganya tajam mendengar apa yang akan dikatakan Alex.
Alex menatap Viola sesaat.
"Maaf Vio. Ini bukan waktunya untuk hal seperti itu. Kamu tahu masalah yang sedang aku hadapi. Dan aku cukup terkejut jika kamu menanyakan hal seperti itu pada saat seperti ini."
"Maaf. Tapi aku tidak bermaksud menyepelekan masalah kamu. Hanya saja, aku...."
"Selamat pagi.." Sebuah suara memotong ucapan Viola. Semua orang menoleh kearah sumber suara.
"Pak Yunus..selamat pagi. Ayo silakan duduk." Alex memberi isyarat agar pria yang baru saja datang itu mengambil tempat dimeja makan. Namun pak Yunus menolak dengan sopan. Dia lebih memilih untuk menunggu di ruang kerja sampai Alex menyelesaikan sarapannya.
*****
__ADS_1