Rahasia Denis

Rahasia Denis
Limabelas


__ADS_3

Disebuah ruangan rumah sakit, Sisil sedang menangis dipelukan Gina. Anggi dan Rani duduk disebelahnya dengan raut kesedihan dan perasaan khawatir yang teramat sangat untuk sahabat mereka.


"Gimana ceritanya kamu bisa sampai begini?" Anggi menggenggam jemari Sisil. Matanya menatap Sisil yang masih berurai air mata. Tangan Gina mengelus-elus punggung Sisil. Mencoba meredakan tangisan sahabatnya itu yang tiada henti sejak mereka tiba dirumah sakit ini.


Gina menelepon Sisil untuk menanyakan tentang rencana mereka yang akan pergi mengajak Denis hari ini. Berulang kali menelepon tapi tidak diangkat, sehingga dengan terpaksa Gina menelepon mamanya Sisil. Begitu terkejutnya Gina ketika mendapat kabar bahwa Sisil sedang berada di rumah sakit.


Tanpa pikir panjang dia memberitahu Anggi dan Rani kabar itu. Secepatnya mereka berangkat menuju rumah sakit tempat Sisil dirawat. Disinilah mereka berada sekarang. Menemani Sisil yang tak berhenti menangis karena masih trauma dengan kejadian yang menimpanya.


"Aku gak tahu. Malam itu aku lagi tidur, tiba-tiba aja ada orang masuk ke kamarku. Wajah aku dibekap kemudian aku gak ingat apa-apa." Sisil terisak. Nampak raut ketakutan masih tersirat diwajahnya. Rani dan Anggi bahkan menitiskan air mata karena ikut merasakan ketakutan yang dialami oleh sahabat mereka.


"Pas aku bangun, ternyata aku berada didalam mobil bersama orang-orang yang sangat menakutkan." Masih terbayang jelas diingatan Sisil bagaimana sangarnya wajah-wajah orang yang telah menculiknya.


Sisil terus menceritakan pengalamannya yang membuat dia trauma. Betapa dia sangat ketakutan ketika bersama orang-orang yang tidak dikenalinya. Terlebih lagi mereka berwajah sangar. Rasanya dia tak pernah bertemu dengan orang seperti itu sebelumnya. Dan dia berharap semoga dia tidak dipertemukan lagi dengan orang-orang seperti itu.


Pintu kamar rawatnya terbuka. Mamanya dan papanya masuk kedalam kamar. Bang Theo yang masuk belakangan kemudian menutup pintu dibelakangnya.


Mbak Fani tersenyum kepada teman-teman dari putrinya yang dengan setia menemani Sisil. Mereka langsung datang ke rumah sakit begitu diberitahu kalau Sisil sedang dirawat.


"Terima kasih ya kalian udah datang kesini. Tante senang kalian udah mau menemani Sisil dalam keadaan seperti ini."


"Kami minta maaf karena baru tahu kejadian yang menimpa Sisil, tante." Rani berujar dengan penuh penyesalan. Dia merasa tidak berguna sebagai teman karena tidak ada saat Sisil sedang membutuhkan. Mereka malah asik memikirkan rencana bersenang-senang menghabiskan hari Minggu bersama Denis. Ternyata disaat yang bersamaan, justru Sisil sedang dalam bahaya.


"Gak apa. Yang penting kan sekarang Sisil udah selamat dan bisa berkumpul lagi bersama kita."


"Tapi bagaimana nasibnya kak Denis dan orang itu, tan?" Anggi menatap penuh penasaran. Yang lain ikut melemparkan tatapan pada mbak Fani. Sama-sama ingin tahu bagaimana keadaan Denis. Sedangkan 'orang itu' yang dimaksudnya adalah Alex.


Mbak Fani menoleh ke arah suaminya. Minta bantuan untuk menjawab pertanyaan yang dia tak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


Bang Theo terdiam sesaat. Menatap Sisil dengan perasaan bersalah. Dia tidak bisa membawa pulang Denis.


"Pah. Gimana dengan kak Denis, pah?" Sisil menatap papanya dengan tatapan yang nyalang. Kekhawatirannya pada Denis tak bisa disembunyikan. Dia teringat bagaimana para penjahat itu tidak main-main ketika menodongkan pisau ke lehernya. Saat itu dia sampai menggeletar dan bahkan langsung pingsan. Setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi padanya sehingga dia tersadar sudah berada di rumah sakit. Yang dia ingat adalah saat itu Denis berada tidak jauh dari dia yang sedang berada dalam ancaman penjahat itu.


"Dia baik-baik aja kan, pah?" pekiknya ketika dilihatnya papanya hanya terdiam. Napas bang Theo terasa sesak. Memikirkan apa yang terjadi pada Denis dan Alex sebenarnya. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan dua orang yang sudah dianggap sebagai keluarganya. Terutama Denis yang sudah hampir setahun ini selalu ada bersama dengannya. Dia sudah begitu dekat dengan putrinya. Walaupun Denis bersikap dingin dan pendiam, tapi bang Theo tahu, Denis selalu bersikap baik dan selalu berusaha melindungi Sisil. Denis merupakan orang yang bisa diandalkan dalam keadaan apapun. Bang Theo juga sangat mempercayainya.


"Maafkan papa, Sayang.." ujarnya pelan.


"Apa maksud papa?" Sisil semakin histeris. Mbak Fani menyentuh bahu Sisil. Merengkuh tubuh mungil putrinya kedalam pelukannya. Anggi, Rani dan Gina nampak ikut terpukul melihat ekspresi dari papanya Sisil. Mereka sudah bisa menduga, kalau sesuatu yang buruk telah terjadi pada Denis.


"Papa gak tahu apa yang terjadi pada Denis. Papa pergi membawa kamu dari sana. Dan ketika kembali, mereka sudah gak ada disana." Bang Theo menghela napas. Menghembuskannya dengan berat. Dadanya terasa sesak. Denis sudah berbuat banyak hal untuk membantunya. Tapi sekarang, dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Denis membutuhkan bantuannya. Bahkan dia tidak tahu dengan nasibnya sekarang.


"Papa gak tahu, apa dia selamat atau..."


"Kita doakan saja semoga dia baik-baik aja." mbak Fani menyela perkataan suaminya. "Semoga dia selamat dan ada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin." Ucapannya diaminkan yang semua yang ada diruangan itu.


"Kita udah punya rencana untuk menghabiskan hari ini bersama kak Denis." Gina menimpali.


"Kita manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Kita doakan kebaikan buat kak Denis, ya. Semoga dia dan Alex baik-baik aja." mbak Fani menyapukan tatapannya kepada empat gadis yang sedang berpelukan saling menguatkan satu sama lain. Gadis-gadis itu mengangguk. Setuju dengan yang diucapkan mamanya Sisil.


"Kita juga mau mendoakan keselamatan buat Sisil. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi." Anggi menyandarkan kepalanya dibahu Sisil.


"Terima kasih, sayang." sahut mbak Fani dengan suara lirih.


*****


"Apa kita tidak akan melaporkan ini pada polisi?" mbak Fani bertanya pada suaminya. Tapi matanya menatap Sisil yang baru saja terlelap setelah teman-temannya pamit untuk pulang. Sebenarnya ketiga teman Sisil berkeras ingin terus menemani Sisil di rumah sakit. Tapi mbak Fani memaksa mereka untuk pulang karena tidak mau membuat orang tua mereka merasa khawatir. Lagipula Sisil kelihatan sudah lebih baik setelah dijenguk oleh ketiga temannya itu. Mbak Fani menyuruh Lukman untuk mengantarkan gadis-gadis itu pulang ke rumahnya masing-masing. Mbak Fani mengingatkan mereka kalau besok mereka harus sekolah.

__ADS_1


"Aku harus melaporkan apa? Yang kita laporkan enggak jelas.Malah akan banyak pertanyaan yang nanti susah buat abang jawab. Malas abang harus berurusan sama polisi." bang Theo menghempaskan tubuhnya disofa yang ada didekat pembaringan Sisil. Matanya nanar menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Mbak Fani mendekati suaminya. Duduk disamping Bang Theo.


"Abang tahu apa yang terjadi sebenarnya?" dia menatap suaminya dari samping. Wajah lelah menyelimuti raut muka suaminya. Rambutnya nampak acak-acakan. Kelihatan sangat kacau.


"Abang gak tahu apa-apa. Bahkan Alex pun tidak mengerti semua yang menimpa dirinya. Dia tidak tahu siapa orang yang sangat menginginkan kematiannya." Ujar bang Theo dengan mata terpejam.


"Apa abang yakin dia berkata jujur?"


"Abang rasa dia jujur." Bang Theo meremas rambutnya. Kemudian menoleh kearah iatrinya dan menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Maafkan abang." Ucapnya pelan. "Maafkan karena sudah membuat kalian berada dalam masalah. Gara-gara abang membawa Alex pulang dan tinggal bersama kita, Sisil berada dalam bahaya. Abang gak bisa memaafkan diri abang sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada anak kita." Suaranya parau penuh penyesalan. Mbak Fani menggenggam tangan kekar suaminya. Membalas tatapan pria yang sangat dicintainya itu dengan sorot mata yang lembut. Tidak ada kemarahan disana.


"Abang tidak perlu meminta maaf. Abang juga jangan menyesali semua kebaikan yang telah abang lakukan. Semua ini bukan salah abang. Ingat kata-kata abang, semua yang terjadi didunia ini gak ada yang kebetulan. Semua terjadi atas kehendak-Nya. Pasti ada kebaikan dibalik semua kejadian." Kata-katanya begitu lembut menenangkan perasaan suaminya yang sedang kalut. Bagaikan air dingin yang meresap menyiram kalbunya.


Bang Theo menarik bahu istrinya. Memeluknya dan membenamkan wajahnya diceruk leher istrinya. Dia merasa sangat bersyukur karena memiliki istri yang sangat baik hati dan bijaksana. Selalu memahami dirinya dan selalu memberi dukungan dalam keadaan apapun. Dipejamkannya matanya. Menikmati kedamaian dalam pelukan istrinya.


Dalam hatinya dia sangat berharap, semoga Denis dan Alex ada dalam keadaan selamat. Dan suatu hari nanti, semoga dia dapat dipertemukan kembali dengan dua orang asing yang telah datang dalam kehidupannya itu.


.


.


.


.


*****

__ADS_1


__ADS_2